Bisikan Pembalasan
Mega, Si Rambut Lurus
Di kelas, Dedi tengah duduk di kursinya, memegang sebuah buku yang kemarin dipinjamkan pak Mahfudz padanya. Buku motivasi diri. Dedi membacanya dengan konsentrasi penuh, tak peduli teman-temannya yang hilir mudik keluar-masuk kelas. Guru pelajaran pertama belum datang.
Mata Dedi tertancap pada kata mutiara yang tercantum dalam alenia awal buku itu.
”Kepiting tidak mungkin mengajari anak-anaknya berjalan ke depan, karena ia sendiri hanya bisa melangkah ke kiri dan kanan saja. Maka, tanyalah orang yang tepat, pasti akan dapat jawaban yang tepat.”
Dedi meneruskan membacanya, karena memang baginya, tak ada yang diajarkan ayahnya, kecuali kekerasan dan penindasan.
’Zaman dahulu kala, ada seorang yang kaya raya dan ia memiliki dua orang anak yang memiliki IQ rendah. Namun, di mata orang kaya tersebut, kedua anaknya sangat cerdas dan lincah. Setiap hari, setiap saat, sang ayah selalu memuji-muji kedua anaknya kepada siapapun bahwa keduanya benar-benar cerdas.
Pada suatu hari, seorang temannya dari jauh datang berkunjung ke rumahnya. Saat berbincang-bincang, temannya berkata, ”Menurut pengamatan saya, penampilan kedua anakmu cukup baik. Namun, sepertinya kemampuan berpikir mereka kurang! Nanti saat kamu tua, bagaimana mereka dapat memikul tanggung-jawab untuk mengurus usahamu?”
Mendengar pernyataan itu, si orang kaya berkata dengan tidak senang, ”Setiap orang yang melihat anak saya, pasti memuji mereka cerdas. Hanya kamu yang mengatakan demikian berlawanan! Menyebalkan sekali!”
Spontan teman si kaya berkata, ”Jangan marah dulu, bagaimana kalau kita buktikan pernyataan kita?”
”Boleh!” sahut si orang kaya, ”Emas asli tidak takut dengan api yang akan membuatnya semakin cemerlang. Apa yang tidak bisa diuji?” si kaya menantang.
Orang kaya itu menyuruh pelayan memanggilkan kedua anaknya ke ruang tamu. Orang kaya itu bertanya kepada kedua puteranya, dengan pertanyaannya sendiri, ”Coba kalian beritahu paman ini, darimana beras putih berasal?”
Puteranya yang sulung tertawa dan berkata, ”Pertanyaan bodoh! Alangkah mudahnya. Siapa yang tidak tahu kalau beras putih itu datangnya dari dapur!”
Mendengar jawaban itu, si orang kaya mengernyitkan dahinya, hingga berkerut. Pandangannya beralih ke anak keduanya, ”Bagaimana menurut kamu? Darimana datangnya beras itu?”
Putra bungsunya mengedipkan matanya dan berkata, ”Beras putih itu kita dapatkan dari karung beras ayah!”
Mendengar semua itu, wajah si orang kaya menjadi merah padam karena marah, dan dia memaki, ”Bodoh! Saya sudah sering memberitahu kalian, kalau tak tahu sesuatu, tanyalah kepada saya, mana boleh bicara sembarangan seperti itu. Dengar baik-baik! Beras itu bukan berasal dari dapur atau karung beras, melainkan berasal dari gudang kita! Mengerti?!”
Dedi menggelengkan kepalanya dua kali, ada senyum kecil yang menghiasi wajahnya. Lucu sekali, memang air pancuran tak akan jauh dari tempat jatuhnya. Dedi menghembuskan napasnya pelan, sejuk terasa. Diakhirnya membaca buku itu, ditutupnya perlahan penuh kelegaan. Tanpa disadarinya, sepasang mata melihatnya aneh, lalu ikut tersenyum kecil.
Bertepatan itu, beberapa siswa yang tadi masih di luar segera buru-buru masuk, dan menempati posisi duduknya masing-masing. Pasalnya, bu Sri, wali kelas X A masuk kelas. Bu Sri tak sendiri, di belakangnya seorang gadis memakai seragam biru-putih ikut bersamanya.
Seluruh pasang mata melihat takjub pada pemandangan di depan mereka, melihat si gadis remaja yang kini berdiri di samping bu Sri. Kecuali, mata seorang lelaki bernama Dedi Hasanudin yang masih tertunduk memainkan pulpen, si atas kertas bukunya.
Jaka bersuit-suit dua kali, pertanda sambutan pada gadis yang berdiri di depan kelas. Si gadis kecil itu, tersenyum indah kepada semua orang yang tengah duduk di depannya.
”Tenang semua! Jaka, hentikan suitanmu,” suasana tenang kembali, ”Mulai hari ini, kalian akan memiliki teman baru di kelas ini. Dia siswa baru, anak Kepala Sekolah kita. Baru pindah ke kota ini.”
Bu Sri mengalihkan pandangannya pada gadis di sebelahnya, ”Mega, kenalkanlah dirimu di depan teman-teman barumu.”
Gadis berambut hitam lurus itu, memandangi seluruh teman-teman barunya. Satu-persatu, senyumnya mengembang demikian indah, menciptakan debur hasrat pada setiap siswa laki-laki, apalagi gadis itu adalah anak Kepala Sekolah. Mungkin, menjadi pacarnya adalah keberuntungan, selain wajahnya demikian cantik.
Gadis itu mengerutkan dahinya sejenak, pandangannya tertuju pada barisan meja sebelah kiri. Tampak seorang lelaki, sendirian, menunduk dan memainkan pulpennya, tak sekejappun melihat ke depan. Aneh?
”Teman-teman, perkenalkan nama saya Dina Megasari, saya biasa dipanggil Mega. Mulai hari ini, saya akan belajar bersama kalian. Mohon bantuannya untuk belajar bersama,” Mega mengedar pandangan ke seluruh teman-teman barunya, dan lagi-lagi terhenti pada wajah tertunduk yang tengah memainkan pulpennya. Entah menulis apa.
Suara perkenalan itu, menimbulkan rasa penasaran mendalam di hati Dedi. Suara yang teramat lembut, memaksa wajahnya sedikit terangkat, melirik dengan sorot mata bekunya. Hingga, kedua bola hitam di matanya berada di atas, karena posisi wajahnya masih tertunduk. Mencuri-curi pandangan kearah Mega.
Saat itulah, exact, tepat. Dua mata beradu, seolah ada hening yang tercipta diantara keduanya, simponi yang aneh. Ada perasaan aneh yang dihembuskan angin, perasaan yang berkecamuk ditularkan lengang. Kedua sorot mata yang sangat berbeda bertemu; satu kesepian, dan satunya memiliki banyak teman.
”Baiklah, mungkin nanti kalian bisa beramah-tamah kembali. Kamu duduklah Mega, ada dua kursi bangku kosong di kelas ini. Pilihlah sendiri dimana kau akan duduk,” bu Sri tersenyum.
”Makasih Bu,” Mega membalas senyuman, dia melirik dua tempat kosong yang dikatakan bu Sri. Satu kursi kosong di bagian belakang, dan satu kosong..., di dekat lelaki yang memainkan pulpennya, yang menundukkan kepalanya, yang mempunyai pandangan beku dan tajam.
Mega mulai melangkah, sambil tetap tersenyum kepada teman-teman baru yang menyapanya. Dia melenggang, berhenti di barisan kiri. Tepat di barisan ketiga, Mega melepaskan tas canglongnya, dan duduk di sebelah Dedi yang masih sibuk menulis dengan pulpennya.
”Hai, aku boleh duduk disini?” Mega menyapa lembut.
Tak ada sahutan, Mega tersenyum sendiri, ”Bolehkan?”
”Hati-hati Mega, pindahlah tempat duduk. Dia lelaki paling penakut di seluruh dunia, dan lagi dia itu gila! Ha..ha..ha..,” Jaka berkelakar keras, dua orang yang duduk di sebelahnya mengiyakan pula. Suasana kelas riuh.
”Benar, pindah saja Mega,” Deri yang duduk di sebelah Jaka ikut nimbrung.
”Diam semua, terserah Mega mau duduk dimana,” bu Sri menenangkan suasana, ”Saya tinggal, ada keperluan di kantor. Mega, semoga kamu kerasan di kelas ini ya?”
”Iya Bu.”
Bu Sri pamitan, dan saat keluar kelas. Bu Fitri masuk, sempat tak enak bertemu bu Sri karena hari ini dia telat lagi. Bu Fitri mengajarkan Matematika, mereka saling tatap dan tersenyum. Bu Fitri paham arti senyum bu Sri, jangan sampai telat lagi.
Bu Fitri menaruh dua buku tebalnya di meja, duduk di kursinya. Dibetulkan kacamatanya sambil menyapa murid-muridnya, dan pastilah, pelajaran yang paling banyak menguras otak itu akan dimulai kembali, apalagi, selalu ada PR yang diberikan setiap pelajarannya.
Suasana kelas hening, hanya ada suara spidol boardmarker di papan board dan penjelasan bu Fitri tentang logaritma. Ada siswa yang sungguh-sungguh memperhatikan, ada yang terkantuk-kantuk hingga kepalanya hampir terjatuh di meja, ada yang sibuk menulis kaligrafi ala gravity, ada yang bermain lempar kertas ditulisi kata-kata gokil.
”Hai, aku tidak mengganggumu kan duduk disini?” Mega berbisik pelan, sambil menatap Dedi yang menatap kosong kearah bu Fitri. Tak ada jawaban.
”Kau dengar aku?”
Tak ada jawaban, Dedi tetap menatap ke depan, namun kosong.
”Hai,” Mega lebih mendekatkan wajahnya.
Dedi perlahan menoleh ke kanan, tatapannya teramat dingin seperti salju yang beku. Mega mengangkat kedua bola matanya, senyumnya terukir. Namun, Dedi kembali menatap ke depan, acuh.
”Hai, siapa namamu?” Mega kembali berbisik.
Dedi menggenggam kuat pulpennya, menulis beberapa kata sedikit keras, hingga kertas di bukunya sedikit tampak sobek sedikit karena tekanannya. Lalu, menggesernya ke kanan. Sebuah tulisan empat kata besar, Mega membacanya dalam hati.
”Jangan menggangguku, Dedi Hasanudin”
Mega tersenyum, lalu menulis balasan di bawahnya. Menggeser buku itu kembali kearah Dedi, dedi membacanya dalam hati pula.
”Dedi? Kau sungguh aneh. Bisa kita berteman?”
Dedi menutup bukunya itu. Ada sesuatu yang memaksanya menoleh ke kanan sedikit. Mega sudah konsentrasi mengikuti pelajaran, dan Dedi melihat rambut hitam itu tergerai menutupi telinga Mega. Wajah yang demikian putih, pipinya nampak lembut bagai kapas, sedikit tertutup dari geraian rambutnya.
Dedi masih mencerna kata-kata yang baru saja dibacanya. Aneh, seorang asing yang baru saja bertemu dan berkenalan, tiba-tiba menawarkan sebuah hubungan.
Ada yang bermain tiba-tiba di hatinya.
Teman?