Bisikan Pembalasan

Kepuasan Sementara

Keadaan negeri ini sangat mencekam, jegal-menjegal pemimpin negeri ini memperebutkan tahta kursi emas. Jika semua orang tahu, bahwa tidak ada keuntungan materi di dalam perpolitikan Indonesia, masih maukah mereka saling berebut kekuasaan? Seolah, mengejar kepuasan yang tiada akhirnya; menjadi pemimpin tetap kepuasan tetap masih ingin dikejarnya.

Namun, negeri ini sedang terpusat pada pengalihan yang berbeda. Kasus penyanderaan kasus anak pelajar SMA yang telah menahan beberapa temannya di sekolah teramat menegangkan hingga gambaran politik amburadul telah terlupakan barang sejenak. Tayangan salah satu stasiun televisi telah menggambarkan seorang penyandera tanpa penutup wajahnya, semua orang dapat melihatnya secara seksama. Dia menunjukkan sambil tersenyum, teman yang disanderanya diikat di tiang listrik tersebut.

Polisi kemudian dimintai keterangan, bahwa penyandera tanpa sepengetahuan mereka telah keluar dari gerbang dan mengambil salah satu kamera wartawan dan merekam dirinya sendiri. Maka, hal tersebut semakin menguatkan bahwa siswa yang menyandera tersebut memang cerdas dalam hal strategi dan telah mempersiapka segalanya dengan baik. Kini, polisi tengah mencoba mencari jalan keluar dalam permasalahan ini.

Beberapa wartawan menunggu di stasiun televisi, mereka menanti-nanti seandainya si penyandera kembali menghidupkan kameranya, karena kamera itu telah terhubung langsung dengan stasiun televisi yang memilikinya. Polisi menginterogasi salah satu wartawan yang stasiun televisi menyiarkan hal tersebut. Dan, diketahui bahwa si wartawan memberikan kamera itu saat pagi hendak menjelang karena didatangi si penyandera dalam kerumunan. Mulanya wartawan itu tidak tahu bahwa itu adalah penyanderanya. Saat itu, dia diancam barulah wartawan itu tahu. Penyandera juga sempat meminta maaf, karena katanya ini adalah hari-hari terakhirnya.

Inilah bagian-bagian aneh dari kasus penyanderaan ini. Seolah, penyandera yang satu orang telah memiliki jalan akses kemanapun dia pergi tanpa diketahui polisi.

Kini, pusat perhatian negeri ini seolah menampilkan satu sosok saja. Dedi Hasanudin. Wajahnya jelas tergambar di seluruh seantaro negeri ini. Dan, semua orang seolah menunggu, bagaimana akhir malapetaka ini.

Dan...

Siang itu, mendekati letak matahari  sudah mulai naik ke atas. Penyandera menghidupkan kembali kameranya. Disana, tiga orang terikat tengah disorot kamera. Satu wanita dan dua lelaki sedangkan satunya sedang memegang pistol di hadapan mereka.

”Cepat! Katakan, apa yang kalian lakukan padaku!” Dedi melihat mereka bertiga tajam.

Wajah ketiga orang itu penuh cemas. Salah satu dari mereka, Roni berujar, ”Maafkan kami Ded, kami tak akan melakukannya lagi pada orang lain. Kumohon sudahi semua ini,” wajahnya memelas.

”Begitu mudahkah meminta maaf! Tiap hari kalian memarahiku, kalian memukuliku, kalian mengejekku, kalian melecehkan aku, kalian anggap aku binatang!”

”Ded,” suara Mega pelan, ”Kita akan memulainya kembali dari awal, kita sudahi semua ini.”

”Begitu mudahnya kalian ucapkan hal itu, tubuhku telah hancur dan tercabik-cabik! Aku juga ingin dihargai, aku juga ingin dianggap sebagai manusia,” ada isak tangis pelan, lalu Dedi mematikan kameranya kembali.

Semua orang di Indonesia, telah melihat adegan singkat itu. Dan, polisi pun sibuk memikirkan strategi penyelamatan namun mereka tahu bahwa Dedi bisa saja nekat.

@ @ @

HP kepala sekolah yang kini dipegang Arifin berdering. Dari Dedi.

”Halo.”

”Kenapa anda terlihat cemas Pak Polisi?”

”Saya sudah tahu tentang kamu Ded, sudahlah, akhiri semua ini. Kita akan membicarakan semuanya baik-baik.”

”Kalian tidak mengerti apa-apa tentangku. Biarkan aku selesaikan bagian terakhir dari permainan ini.”

”Dedi, kamu harus mengerti. Ingatlah pada Ibumu, dia sekarang ada disini melihatmu melakukan ini semua. Dia telah sadar, apa kau ingin menghancurkan harapannya?”

”Ibu?”

”Iya, Ibumu telah sembuh dari sakitnya. Dia sekarang dapat mengenalimu dengan baik. Aku mohon, hentikan semua ini.”

Hening. Terdengar isak lirih.

”Pak,” sambil terisak, Dedi meneruskan kata-katanya pelan, ”Titipkan salam maafku pada Ibu. Tolong katakan padanya, bahwa aku sangat mencintainya. Namun, aku harus mengakhiri semua ini. Aku akan membebaskan semua teman-temanku, namun beri aku waktu satu hari lagi.”

”Sebenarnya apa yang kau inginkan Ded?”

”Kalian tak akan mengerti apa yang aku rasakan.”

”Baiklah, baiklah. Tapi, bagaimana mereka telah satu hari ini belum makan. Bagaimana jika kami antar makanan untukmu dan mereka.”

”Apakah kalian hendak menipuku lagi?”

”Akulah jaminannya, aku hanya ingin teman-temanmu itu tidak menderita kelaparan. Bagaimana?”

”Baiklah, sepuluh menit lagi.”

”Ya.”

”Satu lagi.”

”Apa itu?”

”Jauhkan gerbang luar, pasang garis line police-nya lebih mundur. Atau..., semuanya akan menyesal.”

”Apa maksudmu?”

”Ikuti saja apa kataku.”

”Baiklah, baiklah.”

Tut. Tut. Tut.

@ @ @

Dedi meletakkan HP milik Mega itu. Kalian pikir aku bodoh? Jika kalian berani macam-macam. Aku tak akan mengagetkan dunia. Bersiaplah, karena permainan akan segera diakhiri.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!