Bisikan Pembalasan

2 Hari 2 Malam

Penyanderaan telah terjadi dua hari dua malam, Polisi semakin memikirkan strategi untuk menyelesaikan kasus tersebut. Sang penyandera mengatakan bahwa dia membutuhkan dua hari lagi untuk mengembalikan seluruh sandera. Polisi bertambah heran, ada apa dengan dua hari lagi? Apakah ini tipuan dari si penyandera?

Beberapa strategi sebelumnya telah diketahui oleh si penyandera, mulai dari deteksi yang ditaruh di plastik saat memberikan makanan. Penyandera yang memakai topeng memeriksanya, dan membuang alat perekam dan mengancam jika mengulanginya lagi. Begitupun polisi  yang menyusup lewat bawah terowongan, karena terowongan itu telah ditutup dengan tumpukan bata yang padat.

Bahkan, si penyandera tahu di mana posisi sniper yang ditempatkan tersembunyi. Dia mengetahui posisi tembak yang paling tepat, dari sudut tertentu dan bantuan angin yang berhembus, sehingga sniper tersebut terpaksa turun dari tempatnya. Namun, dia segera berpindah ke tempat lain, walau sudut shot-nya tidak semudah di awal.

”Tidak ada cara lain, terpaksa kita harus melumpuhkannya Pak.”

Pak Arifin mencerna kata-kata penuh kepanikan dari kompinya tersebut, serta diyakinkan oleh lainnya. Haruskah demikian? Polisi pun belum mengetahui secara pasti, apa motif dari penyanderaan ini kecuali bahwa tersangkanya ternyata masih muda; dari nada suara dan perawakannya saat mengantar seorang siswa sandera saat mengambil makanan yang dikirimkan.

”Bagaimana kalau kita bergerak saat makanan nanti sore kita berikan?”

Pak Arifin memejamkan matanya sejenak. Polisi yang lainnya menunggu kata-kata yang akan diucapkan komandannya dengan penuh perhatian.

”Baiklah.”

Namun, bukan kelegaan yang mereka rasakan, melainkan ketegangan karena mereka harus cermat dalam mengendalikan setiap kondisi kepanikan yang pasti terjadi.

@ @ @

Senja mulai mengabut, matahari telah tercuat sinarnya di ujung barat. Kota kecil ini telah menjadi sebuah sorotan publik, terutama sekolah SMA Karya Bakti. Di dekat garis police line, keadaan nampak sangat ramai. Wajah-wajah penuh kepanikah, saling bercerita, ada yang bergeleng-geleng kepala. Mereka teramat heran dengan kejadian ini.

Seorang wanita yang baru keluar dari mobil Innova, membawa mic di tangan kanannya dan diiringi seorang lelaki yang sibuk membawa kameranya tergopoh-gopoh menuju kapolres. Namun, langkahnya juga menarik perhatian  para pemburu berita yang lainnya hingga ikut berhambur. Si wanita tadi mempercepat laju larinya dan sampai lebih dulu.

”Pak Arifin, bagaimana rencana selanjutnya untuk pengamanan ini?” sambil menyodorkan mic-nya, disusul yang lainnya.

Pak Arifin menatap mereka secara bergantian, wajahnya dibuat setenang mungkin, ”Untuk saat ini, kami belum bisa memberi komentar. Hanya saja dugaan saya sementara adalah bahwa penyandera memiliki motif lain selain uang. Dugaan kuat saya adalah dia sedang membalas dendam.”

”Kenapa Bapak bisa mengatakan demikian?” seorang wanita dari sebuah koran nasional penasaran.

”Karena penyandera meminta waktu dua hari lagi, dan akan membebaskan semua sandera dengan keadaan hidup. Dia tidak membutuhkan apa-apa.”

”Tapi..., tapi...”

Kapolres meninggalkan mereka, dan beberapa polisi menghalau mereka yang berebut hendak mengikuti pak Arifin.

Pak Arifin masuk ke mobil dengan penjagaan beberapa polisi di sekitarnya, meraih handphone, ditekannya nomor tuts dan bunyi deringan terdengar. Dia sudah menghidupkan hp-nya, saatnya bersiap-siap. Matanya memberi aba-aba kepada pasukannya yang berada di dalam mobil, untuk bersiap-siap.

”Kirimkan makanan segera, para sandera mulai kelaparan.”

Nada itu teramat beku, mencekam, pak Arifin mendengarkannya seksama.

”Baiklah, tapi tidakkah ada timbal balik yang kami peroleh.”

”Saya tahu maksud anda.”

”Sebenarnya apa yang ingin anda inginkan, kami akan memenuhinya.”

”Kalian tidak akan bisa memenuhi keinginan saya komandan. Baiklah, saya akan bebaskan satu sandera. Tolong kirimkan makanan.”

Ada sedikit kelegaan di pikiran Arifin, ”Baiklah, lima menit lagi tepat.”

”Baiklah, jangan main-main, atau saya bisa nekat.”

”Baiklah.”

Hubungan dimatikan, pak Arifin menceritakan apa yang baru saja dibicarakannya. Dan satu hal yang membebaninya, beberapa teman dari kesatuan densus teroris tidak mau berbanyak kata, mereka mau bergerak. Pak Arifin yang semula ragu, akhirnya mengikuti strateginya, karena didesak oleh pasukan dan kesatuan yang lainnya.

@ @ @

Bagaimana dia melakukannya?

Itulah yang dipikirkan seorang sniper yang telah bertugas melumpuhkan, bersembunyi di daun-daunan pohon yang lebat. Moncong senapannya telah menelisik dedaunan lebat, dirinya telah dipenuhi perabot penyamaran dedaunan mememuhi topi dan baju serta celananya. Kamuflase.

Sniper yang ditempatkan ada beberapa orang, namun tak ada yang mendapatkan posisi tembak yang tepat. Si penyandera dengan memakai penutup kepala, ternyata keluar dari pintu gerbang dalam, membawa dua sandera, dan bersembunyi tepat di belakang dua orang yang terikat tangannya di belakang. Kedua sandera adalah Deri dan Firman, wajah mereka tampak ketakutan.

Di gerbang utama, tampak dua orang polisi tanpa senjata membawa makanan dalam plastik. Mereka berjalan pelan, memasuki sekolah dan berhenti sekitar sepuluh langkah dari gerbang utama sekolah itu.

Si penyandera menendang Deri, ”Ambil makanannya,” hampir saja Deri terjatuh, namun terus berjalan. Seperti biasa, dia akan memegang plastik berisi makanan dengan kedua tangan terikat dan membawanya dari belakang. Si penyandera seolah tahu, dia terus bersembunyi di balik punggung Firman sebagai perisai, dengan memegang pistol rakitannya.

Baru sekitar sepuluh langkah Deri meninggalkan tempat si penyandera. Saat suara demikian mencekam, banyak stasiun televisi meliput kejadian itu dari jarak yang jauh. Saat itulah...

”Kalian menipuku!”

Si penyandera berteriak, matanya nyalang ke salah satu pohon, disana terjadi sebuah gesekan dan gerakan kecil dari sniper.

”Sialan!” si penyandera menjambak rambut Firman di hadapannya, dia semakin erat bersembunyi di balik punggung Firman. Saat tangannya hendak memegang sebuah tali kecil, benang tipis di dekat pintu yang terikat dengan sebuah ikatan di tembok di dekat pintu. Pikirannya hampir saja nekat, namun di depan sana, di dekat gerbang utama, tampak seorang anak kecil nampak di gendong ibunya. Ada sekian detik, tangannya kembali turun. Deri melihat peluang kabur, dia berlari menjauh. Penyandera segera paham, maka tangannya segera masuk ke bawah ketiak tangan kanan Firman yang terikat ke belakang. Dan... 

”Door!” sebuah tembakan secepat itu membuat Deri tersungkur jatuh, penyandera segera membawa masuk Firman kembali buru-buru, serta menutup pintunya gerbang kedua tersebut. Dia panik dan tidak mengambil resiko membawa Deri telah jauh dari jangkauannya.

Firman tampak berteriak-teriak kesakitan rambutnya ditarik kuat ke belakang, sedangkan Deri yang terkulai berteriak kesakitan, kakin kirinya di atas betis mengeluarkan darah. Beberapa polisi segera berlari dan menyongsong Deri. Gerbang kedua itu tertutup, dan Deri telah dibawa oleh beberapa polisi.

Suasana tiba-tiba semakin mencekam, walau satu tawanan berhasil lepas, tapi seolah mereka merasakan akan ada kejutan selanjutnya. Dan, mereka sama-sama menunggu...

 @ @ @

Seorang wanita dengan baju panjangnya, teramat kaget hatinya. Dia teramat mengenal suara si penyandera. Dia terus terjaga di depan gerbang, sesekali pulang sejenak, namun segera kembali ke sekolah kembali. Dia adalah ketua OSIS, dia marasa harus menjaga teman-temannya dengan baik.

Saat suara si penyandera lantang itulah, dia melihat sekilas dari balik Firman yang disandera. Suara yang teramat dikenalnya.

Kau melakukannya sahabatku?

Rahma segera beringsut ke belakang sekolah, dia tahu tempat yang sering digunakan para siswa untuk membolos, juga tempat lorong yang tertutupi dinding tebal itu. Entah siapa yang membuatnya, yang jelas beberapa bulan yang lalu dia melihat ada beberapa siswa yang melewatinya saat telat di hari senin dan tidak mengikuti upacara bendera. Daripada dihukum dan tidak boleh masuk kelas, mereka lewat terowongan di bawah dinding itu.

Rahma sendirian masuk kesana, tanpa diketahui oleh polisi dan siapapun.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!