Bisikan Pembalasan
Kenapa Kau Pacaran Dengannya!
Malam minggu masih menyisa gerimis, adzan Isya’ terdengar bersahutan. Ada sinyal-sinyal magnet yang menghantam-hantam kepala Dedi. Marilah kita shalat, marilah kita menuju kemenangan!
”Ah!!” Dedi pelan memegangi kepalanya, pistolnya terlepas dari pegangannya, terjatuh di lantai begitu saja. Kepalanya terasa sakit, nyeri menusuk-nusuk, suara adzan benar-benar memaksanya untuk berpikir keras.
Sebagai hamba Allah, shalatlah.
Kepalanya bertambah sakit.
Buat apa shalat, sekali hina, tetaplah hina! Tapi, jangan biarkan orang lain menghinamu lagi!
Dedi memegangi kepalanya, tiba-tiba bayangan pak Mahfudz dan Rahma tersenyum padanya. Dalam bayangannya kedua orang itu, melambaikan tangan padanya.
Aku harus shalat. Dilihatnya keempat orang lelaki dan satu wanita yang terduduk, tersandar di dinding tembok. Mereka masih lelap. Dedi berdiri, dan menutup pintu, menguncinya dari luar kantor guru tersebut. Beralih ke mushola, dibasuhnya jiwanya dengan berwudhu. Berdiri di emperan mushola, dan mulai melakukan shalat.
Maghrib tadi, Dedi tak shalat maghrib, maka setelah isya’ itu dia melakukan shalat maghrib. Dia tak tahu, apakah Tuhan menerima shalatnya atau tidak. Yang jelas, ada setitik ketenangan kembali di dalam hatinya. Tiba-tiba, hatinya ragu kembali, kenapa sampai melakukan penyanderaan begini?
Tak usah risau, mereka memang pantas mendapatkannya. Mereka orang-orang jahat bukan?
Iya, tapi bukan begini kan caranya?
Mereka tak akan mau mendengarkan nasehat!
Kepala Dedi seolah dimasuki banyak paku, sakit. Siluet bayangan penghinaan, penyiksaan, dan semua sakit yang dideritanya selama hidup terbayang jelas. Alangkah dunia ini tak adil baginya.
Baiklah. Aku yang memutuskan! Aku hanya akan membuat mereka kapok, dan tidak mengganggu orang lain lagi. Terutama mengganggu aku lagi, cukup sudah penderitaanku selama ini!
Dedi berdiri, kembali ke kantor guru. Ada yang ganjil di ikat pinggang kirinya. Tangan kanannya memeriksa. Pistolnya, tertinggal di ruang penyanderaan. Tanpa pikir panjang, Dedi langsung melesat berlari, disiapkannya kunci dalam genggamannya, langsung bersiap membuka pintu.
@ @ @
”Cepat, bukakan ikatanku Mega,” Roni memandangi Mega, tak ada waktu lagi, jika Dedi kembali dengan cepat. Matanya seolah memaksa, ada darah yang kering di atas matanya, tanpa dibersihkan karena kedua tangannya terikat di belakangnya.
Mega menajamkan matanya, dia terbangunkan karena tubuhnya digoyang-goyangkan kaki Roni. Ingatannya kembali dengan cepat.
”Cepatlah Mega! Tidak ada waktu lagi.”
Mega segera bangkit, dan mencoba melepaskan ikatan Roni. Ikatan yang kencang, tapi Mega berupaya terus untuk melepaskannya. Keringat dingin mengalir di pelipis Mega, sesekali suara kecil saja membuat Mega menoleh kearah pintu. Takut jika memang tiba-tiba Dedi berdiri di belakangnya.
”Cepatlah Mega!”
”Hampir, sebentar lagi Kak.”
Suara langkah berlari mendekati pintu, Mega tak sanggup lagi menahan kepalanya untuk menengok ke pintu, dan sesosok tubuh telah terlihat membayang di pintu, bayangannya terlihat di celah bawah pintu.
”Cklek! Cklek!” pintu terkuak paksa. Wajah Dedi muncul masuk dengan terengah-engah. Matanya seketika melotot, bagai singa saat mengaum, bagai harimau mengintip mangsanya. Sorot matanya menajam, dan dua orang yang ditatapnya juga menatapnya tajam. Sejenak terpaku.
”Kau!” mulut Dedi mendesis.
”Keparat!” Roni tiba-tiba merangsek menuju Dedi, ikatan di tangannya telah terlepas. Dedi sedikit gentar, namun dihadangnya juga tubuh Roni yang menerjangnya. Adu kekuatan terjadi, walau Roni masih terluka, namun pengalamannya berkelahi membuatnya serasa si atas angin. Dedi terdorong demikian kuat, melewati pintu itu, dan punggungnya membentur tembok. Perbedaan kekuatan mulai terlihat.
Tangan kanan Roni, di cekalan bahu kanan Dedi teralih, dan satu pukulan mendarat di pipi kanan Dedi. kepalanya terkulai, dan pukulan lain menyusul. Menyusul pula tendangan, Dedi terjatuh ke lantai keramik. Terduduk. Tubuhnya hendak bangkit lagi, namun tendangan Roni segera melayang di perut kanannya, bertambah sakit pula tubuhnya.
Selamanya, jika hari ini kalah. Maka, selamanya kalah.
Seketika, mata Dedi menyala saat kepalanya menunduk. Semua sakit yang dideritanya, di fokuskan menjadi kenikmatan. Itulah lesatan kekuatan imajinasinya, hingga sebuah injakan kuat di punggungnya, ditahannya dengan penuh kekuatan.
”Hiaaa!” Dedi mengaum demikian kuat, memantul di tembok-tembok koridor yang memanjang. Tak ada lagi rasa sakit, bagai binatang yang terluka parah, hingga luka itu tak terasakan lagi. Dedi bangkit dari jongkoknya, kaki Roni terangkat dan dia kehilangan keseimbangannya. Saat itulah, Dedi yang sempurna berdiri memegang kepala Roni kuat, dan menariknya kuat, membenturlah kedua kening itu.
Saling terpental, Roni memegangi kepalanya yang sangat ngilu, dia terjatuh bersandarkan tembok, dan Dedi masih berusaha berpijak kuat dengan kedua kakinya. Matanya masih berkilat-kilat. Tak mau membiarkan saja, diangkatnya kaki kanannya tinggi-tinggi, dan sebuah injakan kuat dihantamkannya pada dada Roni demikian kuat. Roni hanya merintih, dia telah pasrah, seluruh tubuhnya terkulai tak berdaya lagi, darah menetes di lantai keramik.
Dedi memegang kaki Roni, dan menyeretnya masuk ke dalam ruangan kembali. Kebekuan malam, tak lebih mencekam dari raut wajah Dedi yang seolah bukan lagi manusia. Tampak beku dan seolah tak memiliki pancaran kejernihan. Dedi sempurna menyeret Roni masuk ke ruangan.
Di dekat dinding, Mega tampak gemetaran memegang pistol dengan kedua tangannya yang menggigil. Moncong pistol ditujukan pada Dedi. Dedi tak peduli, ditutupnya pintu ruangan itu, dikuncinya dua kali. Dia berdiri di depan Mega, tak takut sama sekali pada pistol yang mengarah padanya.
”Hentikan kegilaanmu Ded, kumohon.”
”Berikan pistol itu Mega,” dingin.
”Tidak Ded, lepaskan kami.”
”Berikan pistol itu Mega,” dingin, dan melangkah satu langkah.
”Berhenti Ded! Atau aku akan menembakmu,” tangannya semakin gemetaran.
”Tembaklah saja Mega, maka semuanya akan berakhir.”
”Kau gila Ded!”
”Gila? Ha..ha..ha.., aku memang sudah gila.”
”Kenapa kau lakukan ini Ded?” Mega hendak mundur, namun tembok telah menutup usahanya itu. Hingga, seluruh tubuhnya semakin menggigil kuat. Keringat dingin mengalir deras, bahkan airmatanya turut luruh.
”Kenapa kau tanyakan itu?”
”Katakanlah, kenapa kau lakukan ini semua? Aku mengenalmu Ded, kau bukan penjahat, kau orang baik. Aku tahu itu!”
”Apa yang kau tahu tentang aku! Kau sama sekali tak tahu. Kau ingin tahu, kenapa aku lakukan semua ini?”
Mega terdiam, namun pistol itu masih lurus ke depan.
”Sama halnya ketika kutanyakan padamu, kenapa kau pacaran dengannya!” Dedi menggerakkan telunjuk kirinya, menunjuk Roni yang terkulai di samping bawah kiri.
Seketika Mega kaget, pistol di tangannya terjatuh. Tubuhnya gemetaran, dan sempurna melorot duduk terjatuh. Dedi mendekat kearahnya, memungut pistol, dan meninggalkan Mega yang terduduk lemah.
Dedi kembali duduk di kursi, lalu memainkan pistol rakitannya. Memutar-mutarnya di jemarinya, tangannya sedikit memar, dan ada bercak darah di wajahnya akibat tertempuran tadi. Namun tak dipedulikannya, walau jatuh, dan tetesannya mengenai pistolnya.
”Aku tak punya urusan apa-apa padamu Mega, tapi kaulah yang masuk kesini. Aku minta maaf padamu. Tapi, kesalahanmu adalah kau pacaran dengan Roni biadad itu, aku hanya balas dendam pada mereka. Tapi, kau terlanjur disini, semuanya berubah total dari rencanaku,” Dedi berbicara sambil memainkan pistolnya, dan Mega tak menjawab sama sekali.
Mega masih terdiam di lantai, mencerna kata-kata keras dari Dedi. kenapa kau pacaran dengannya! Karena jujur, dia tak bisa menjawab pertanyaan itu. Kenapa dia berpacaran dengan Roni? Apakah karena kak Roni terkenal di sekolah, hingga dia gengsi menolaknya? Atau ingin popularitas? Atau hanya ingin bermain saja. Atau dia benar-benar mencintai kak Roni? Ini sangat membingungkannya.