Bisikan Pembalasan

Di Atas Tikar

”Inilah rumahku Ded, kontrakan yang kecil. Tapi, bagiku inilah istanaku, surgaku yang harus kujaga,” pak Mahfudz tersenyum, mempersilakan Dedi untuk masuk ke rumahnya.

Dedi melangkahkan kakinya, mengikuti Mahfudz. Rumah  itu memang sederhana, namun tertata begitu rapi dan bersih, di ruang tamu itu, satu lemari demikian panjang, isinya tiada lain adalah buku yang ditata begitu rapi. Tertulis tiap barisan; buku motivasi, buku agama, buku novel, buku fikih, buku ilmu pengetahuan, dan lain-lainnya. Lemari itu ada dua jajar, hingga ruangan tamu itu sedikit sempit jadinya.

”Inilah hartaku yang berharga,” Mahfudz kembali tersenyum.

”Pastilah pencuri malas masuk rumah Bapak,” Dedi membalas senyuman itu.

”Tentu saja, karena pencurinya bodoh semua! Jika mereka pintar, pasti rumah bapak adalah incaran nomor satu.”

Mereka tertawa kecil, renyah bersama.

Mahfudz mengambil tikar yang tergulung, di sebelah rak-rak bukunya, ”Tolong kau buka tikar ini Ded, Bapak mau mengambil minuman dulu.”

”Iya Pak,” Dedi menerima tikar itu, lalu dengan semangat membuka gulungan dan menatanya di ruang tamu itu, Mahfudz telah masuk ke dalam. Sejenak, keluar dengan membawa nampan yang berisi teko dan dua piring yang ditumpuk, dua gelas yang terbalik posisinya.

Mahfudz duduk di tikar, menaruh nampannya, mengeluarkan dua piring keripik, menuangkan air putih dalam gelas.

”Ayo minumlah Ded, kau pasti haus kan?”

Dedi mengambil satu gelas,  hendak meminumnya.

”Sudah Basmallah belum?”

”Hampir terlupa Pak,” segera Dedi mengucap basmallah, dan meminum air putih, tiga tegukan ringan, lalu menghabiskan semua isi di dalam gelas itu. Kesegaran membasahi kerongkongannya, masuk hingga mengisi perutnya. Lelahnya kepanasan naik kendaraan, tiba-tiba terobati lunas.

”Rumah pak Mahfudz nyaman sekali,” Dedi seperti bergumam.

”Benarkah?”

”Eh, iya Pak. Ada hawa sejuk dan nyaman.”

”Itu mungkin hanya perasaanmu Ded. Setiap rumah itu, kadang orang hanya menganggapnya tempat berteduh semata, teduh dari matahari dan lebat hujan, atau pula menghindari pekatnya malam. Rumah itu harus dihidupkan dengan ketakwaan orang-orang yang mendiaminya, hidupkan dengan tilawah Quran, karena manusia itu bukanlah makhluk mati yang mendiami bangunan mati pula.”

Dedi mengangguk, ”Selama ini...,” sejenak terdiam, Mahfudz tahu bahwa Dedi ingin menceritakan kisahnya. Maka, dia diam menunggu dengan penuh perhatian.

”Saya merasa asing dalam kehidupan ini Pak, semua orang serasa tidak menganggap saya sebagai manusia. Saya selalu mendapat cacian, makian, pukulan, setiap mata yang melihatku bagai melihat manusia aneh. Bahkan, keluargaku tak peduli padaku, aku mati atau hidup, mereka tak akan peduli Pak,” ada desah, dan airmata mengalir membasahi pipinya perlahan.

”Kenapa kau berkata begitu Ded, kau mulia sebagai manusia.”

”Tapi kenapa setiap hari aku selalu disakiti, ayahku selalu memukuliku, aku seolah sampah!”

”Ded, istighfar, ingat Allah,” Mahfudz mencoba menenangkan.

”Astaghfirullah. Astaghfirullah, maafkan saya Pak, saya terlalu emosi.”

”Tidak apa-apa,” Mahfudz menepuk pelan pundak Dedi, mengangguk, ”Semua manusia diciptakan Allah adalah mulia, karena Allah memulyakan mereka. Setiap orang, memiliki kelebihannya masing-masing, karena itulah, di dunia ini tak akan ditemui Dedi sepertimu di bagian bumi manapun. Kau hanyalah satu, tak ada duanya. Kau harus menjadi istimewa, bukan menjadi terhina Ded.”

”Bapak mungkin bisa berkata seperti itu, tapi Bapak tidak pernah mengalami apa yang saya alami selama ini.”

Pak Mahfudz tidak berkata apa-apa, dia hanya melipat kemejanya di lengannya, melipatnya hingga di atas sikunya. Tangan itu maju ke depannya, ditunjukkannya kearah Dedi, ”Lihatlah ini Ded.”

Dedi terpaksa melihat tangan itu, matanya terbelalak tak percaya dengan penglihatannnya. Tangan itu, lengan itu, dari pergelangan hingga ke siku, bekas codet dan sodetan yang teramat banyak, seolah lengan itu tak terlihat bersih, tapi semuanya adalah luka, besar-besar bekas yang tak akan bisa hilang.

”Tangan Bapak?”

”Ini masa lalu Ded. Aku memiliki masa lalu yang buram, kaupun memiliki masa lalu yang kelam. Tapi, kita tak lagi memiliki masa lalu, yang kita punya adalah saat ini, entah esok hari yang bernama masa depan bukan? Jika kau terus mengeluh, takut dan tidak berdaya, kau hanya akan menyuburkan masa lalu yang kelam itu.”

Siang itu, ikatan hati mereka seolah menyatu. Mereka saling bercerita tentang masa lalu itu, Mahfudz bercerita bahwa dirinya frustasi, karena keluarganya seluruhnya meninggal saat rumahnya disatroni perampok, selain harta yang diambil, para perampok itu adalah suruhan lawan bisnis ayahnya. Malang nian, Mahfudz yang saat itu masih SMA di ujung kelulusannya, masih selamat, berlari, pikirannya kacau. Hidupnya digunakan untuk menuntut balas, hingga dia berhasil membunuh pria yang membayar para perampok untuk menghabisi keluarganya.

Mahfudz mencoba membunuh dirinya, tapi selalu tak jadi. Hingga dia menjadi pecando obat-obatan terlarang, seluruh tubuhnya telah habis, menjadi penjahat yang selalu mencuri uang untuk membeli narkotika. Berbulan-bulan tubuhnya telah rusak, Mahfudz kacau, dan melarikan dirinya ke sebuah desa, disanalah dia bertemu dengan seorang lelaki buta yang menyadarkannya.

Mahfudz belajar agama pada lelaki buta itu, yang hidup sendirian bersama seorang wanita yaitu cucunya. Disana, Mahfudz menyadari akan segala kesalahannya, dia bertekad untuk berubah, saat memutuskan untuk memulai hidupnya kembali, sang kakek yang buta itu meninggal dunia.

Mahfudz meneteskan airmatanya, saat menceritakan kisahnya.

”Bapak ternyata memiliki masa lalu yang kelam.”

”Kita memang tak bisa merubah masa lalu, tapi kita masih bisa merubah masa depan, dengan izinNya. Kita harus selalu berusaha Ded, kau paham itu kan?”

”Saya paham Pak.”

Senyum mereka menyatu, ikatan hati mereka seolah adalah satu jiwa, satu raga, dan satu keyakinan.

”Yang harus kau ingat Ded, kau tak boleh merendahkan dirimu lagi. Jangan biarkan orang lain menghinamu, jangan biarkan orang lain meremehkanmu, tunjukkan pada mereka bahwa kamu bisa menjadi yang terbaik.”

”Baik pak,” Dedi menjawab bersemangat sambil menganggukkan kepalanya.

”Saya akan tunjukkan pada dunia, bahwa saya sama sekali tidak lemah dan penakut.”

”Kau benar,” pandangan mereka sama-sama teralih, menatap jendela yang kacanya terbuka, menatap alam, pepohonan, angin mendesau, sinar matahari, selama alam ini terbuka, kesempatan selalu ada untuk membuktikan setiap pribadi, keunggulan dan menjadi yang terbaik.

@ @ @

Malam yang hening, suara-suara yang terdengar hanyalah bunyian binatang malam. Krik-krik jangkrik terdengar bersusul-susulan, dari yang bunyinya memanjang halus, hingga kasar putus-putus, setiap jenis memiliki khas bunyinya masing-masing, itulah satu kecil bukti kebesaranNya.

Di ruang guru itu, empat orang terikat masing-masing, satu wanita tengah duduk di samping empat orang yang terikat, ada bau obat bius yang menyengat dari mulut keempat orang yang terikat. Mata wanita lentik membuka perlahan, dipandangnya empat teman yang terikat, tubuh mereka terlihat payah, terikat kuat di belakang tubuh mereka. Dan, ada darah yang mengalir di kening mereka, ada memar-memar di wajah mereka.

Pandangan wanita itu, Mega, kini beralih kearah lelaki yang tengah duduk santai, di kursi salah satu guru. Sesekali lelaki itu tersenyum, memainkan pistol rakitan di tangannya, diputar-putar, moncongnya diarahkan ke jidatnya, dan pura-pura memajukannya, seolah isinya dimuntahkan ke keningnya. Lalu, tiba-tiba bibirnya bergerak di ujungnya, seolah ada kepuasan tercipta dan khayal yang melayang-layang.

”Hentikan kegilaanmu ini Ded,” Mega, wajahnya tampak memelas.

”Diam kau,” tenang, acuh, tanpa menoleh sama sekali.

”Kumohon hentikan Ded, kamu harus menghentikan semua ini. Jika kamu memang marah pada mereka, bukan begini caranya kau membalasnya. Kau...”

”Diam!” 

Mega terdiam, suaranya tercekat, pistol rakitan itu telah lurus kearah kepalanya.

”Jangan sok memberi pelajaran, apa kau punya cara untuk mengobati lukaku! Kau pikir, semuanya selesai dengan kata maaf!”

Dedi berdiri, Mega memundurkan tubuhnya, hingga menyentuh tembok, dan terhenti. Dedi membuka kancing baju putih sekolahnya, satu persatu.

”Ap.. apa yang akan kau lakukan?” Mega ketakutan, dilihatnya tatapan mata Dedi mengkilat-kilat, seolah memuntahkan luapan isi api yang membulat-bulat .

Saat baju terlepas separuhnya, Mega benar-benar terkesiap melihat dada Dedi, dada itu adalah kumpulan luka. Dedi berbalik dan memperlihatkan sedikit punggungnya, disana pula, sempurna luka penuh memar dan isinya adalah carut-marut luka. Dedi segera menutupkan kembali bajunya dengan sempurna. Mega terkesima, terpaku, sangkaannya semula salah tentang Dedi.

”Apa kau tahu, apa yang kurasakan?”

Tak ada sahutan.

Dedi kembali duduk di kursinya, memainkan kembali pistolnya, diputar-putar, dan matanya kembali memandangi pistol itu, seolah itulah satu-satunya temannya.

Pak Mahfudz telah meninggalkanku, juga Rahma tak mungkin selalu bersamaku. Aku sendiri, Mega yang mengaku temanku, berkhianat dan menghancurkan hatiku. Tak ada lagi, guna hidupku. Tuhan, aku hanya punya Kau, setelah kuselesaikan urusanku ini, aku akan menghadapMu. Tunggulah.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!