Bisikan Pembalasan
Keputusan Transaksi
Air kran mengalir, pelan, seolah menghanyutkan suasana di dalam kamar mandi. Dedi mencuci baju sekolahnya itu, pakaian yang penuh kotoran debu, warnanya telah tak sempurna putih. Ada bercak-bercak menempel disana, bekas sepatu, pun ada darah setitik demi titik yang mengering.
Direndamnya baju itu dengan bayclin, sebotol penuh ditumpahkan. Diuceknya, diaduk-aduknya, diputar-putarnya air itu, membulat dalam ember. Kain putih seragam sekolahnya, seperti berada dalam mesin cuci yang berputar-putar.
Dedi menghentikan gerakan tangannya, dia menatap wajahnya di cermin dalam kamar mandi itu. Ditatapnya kedua mata itu, melihat wajahnya yang nampak lebam-lebam tak karuan. Memerah, ada tonjolan luka demi luka yang selama ini dideranya, meninggalkan bekas yang mungkin akan lama hilangnya, atau bahkan tak bisa hilang. Pandangan itu menusuk tajam ke kedua bola matanya.
Aku masih ingin sekolah, untuk masa depan.
Tapi...
Masihkah ada masa depan untukku Tuhan?
Kehidupan normal, itulah yang diinginkan hatinya. Tapi, selama ini, sejenak dia merasakan namun tiba-tiba bagai debu dan pasir di atas sebuah batu licin. Lalu, hujan deras memukulnya. Hingga hilang sama sekali. Hatinya hanya menjerit, hanya dapat mengadu pada Tuhan. Kenapa seolah hanya dia yang mendapatkan keadaan hidup demikian nista?
Jika nista, sekalian saja nista.
Bisikan-bisikan hatinya kembali meraung. Lalu, seketika dia teringat pengajaran sang guru, dan ceria milik Rahma. Hatinya kembali gundah.
Ingatlah Allah, jangan berbuat kejahatan. Kuatlah menghadapi ujian.
Buat apa! saatnya membalas!
Kepala Dedi semakin terasa pusing. Dia mengambil baju putihnya dari rendaman, membilasnya. Dibawanya ke belakang rumah, diperas dan dijemurnya di temali jemuran. Panas siang mendekati sore ini masih menyengat kuat. Sebentar lagi bajunya pasti akan kering.
Waktu shalat ashar hampir mendekat, Dedi mendekati kran di belakang rumahnya. Tangannya hendak memutar kran, namun terhenti ketika hampir menyentuhnya, dua centimeter.
Buat apa shalat? Bukankah Dia telah menghinakanmu!
Dedi menarik tangannya kembali. Tapi tidak pergi, hanya terdiam membisu.
Allah begitu memulyakan manusia, maka manusia harus memulyakan dirinya sendiri. Dengan beribadah padaNya sebaik-baiknya, dan berusaha berusaha di dunia dengan baik pula.
Wajah pak Mahfudz membayang di depan matanya, dengan senyum khasnya. Tangannya cepat bergerak, memutar kran. Air mengalir, dia mulai berwudhu.
Bismillaa hirrahmaan nirrahiim. Kesegaran air itu, menyentuh, menjalar dari ubun-ubun hingga ujung kakinya. Air itu telah mengguyur setiap sakit yang melingkupinya. Dedi melantunkan doa ba’da wudhu, mengambil sarungnya dan shalat di kamarnya.
Ada ketenangan demi ketenangan yang menyusup. Namun, belum bisa mengobati seluruh lukanya. Luka yang terpendam demikian lama. Semenjak sekolah dasar, dia selalu menjadi bahan ocehan dan hinaan. Dipukuli oleh teman-temannya, tak berani melawan. Selalu pasrah, selalu mengalah, selalu diam. Hidupnya telah tergadaikan, dengan penghinaan.
Dedi menangis, airmatanya tumpah. Sesungguhnya, kepasrahan dan ketundukkan hanya layak untuk Rabb Semesta Alam. Tawakkal hanyalah untukNya, bukan kepada makhlukNya.
Salam tertunaikan. Dedi merasa jiwanya kuat kini. Dihapusnya sisa-sisa bulir air yang menetes di pipinya. Kini, dia bertekad untuk kuat. Tak lagi lemah, apalagi mengalah. Cukup sudah segala ketidakberdayaan yang membelenggunya. Tapi, nyala matanya itu mengkilat. Antara kesadaran dan amarah yang meluap-luap. Jiwanya yang labil, tak terkendalikan lagi oleh dirinya sendiri.
Dedi melepaskan sarungnya. Tapi, di depan pintu itu, sebentuk wajah yang demikian tajam matanya telah menantinya. Baru bertekad untuk kuat, sekarang, kepalanya tertunduk kembali. Ketakutan dan kecemasan melingkupi seluruh jiwanya. Jiwanya terdiam, tak berani bergerak sedikitpun.
”Sembahyang! Ha...ha..., sejak kapan anak syetan!” laki-laki itu mendekati Dedi dengan cepat. Meraih rambut Dedi, menjambaknya dengan kuat, ditariknya keluar dari kamar dan menyeretnya, dilemparkan dengan keras kearah meja tamu.
Tubuh dedi menabrak meja, pinggang kanannya terasa patah, belum hilang sakit tadi siang dihajar geng-nya Roni, kini telah ditambah surplus untuk kelengkapan penderitaannya hari ini.
”Lihat wajahmu itu! Rusak dipukuli orang! Dasar pengecut!”
Dedi hanya merintih.
”Apakah kau tahu! Hari ini akan kubeberkan sebuah rahasia. Bahwa kamu, bukanlah anak kandungku!”
Bagai petir menyambar seluruh rumah itu, dan roboh seketika. Wajah Dedi teramat pias, segera didongakkan kepalanya penuh keheranan.
”Apa maksud Bapak?” akhirnya, setelah sekian lama, suara menantang itu keluar juga. Tak pernah sebelumnya, dia berani mengeluarkan seperti itu.
”Jadi kau tak maksud! Aku menikahi ibumu ketika kamu masih kecil. Makanya, kau lemah! Sekarang, mana uang hasil kerjamu selama ini! Bapak minta!”
”Tidak Pak.”
”Kamu berani? Sini, kamu tidak akan kupukuli lagi!”
Dedi hanya menggeleng. Namun, matanya telah tak menunduk, melainkan lurus menghadapi ayahnya itu.
Cukup sudah!
”Plak!” satu tamparan begitu kuat, tangan keras itu berbentur dengan pipi Dedi. Tak ada jeritan, tak ada rintihan, tak ada suara mengaduh. Kepala Dedi hanya tergeser sedikit ke kanan. Bekas memar timbul di pipi kirinya, merah.
”Mana uangmu!”
”Tidak!”
”Syetan!” dan pukulan kembali melayang, namun, sekuat tenaga Dedi menangkis dengan kedua tangannya. Tak pelak, perbedaan kekuatan membuat Dedi masih terpental ke belakang, membentur dinding, punggung Dedi terasa ngilu. Tapi, ada satu hal yang dia rasakan berbeda. Keberanian! Hingga sakit di punggungnya seolah hilang tanpa bekas.
”Rasakan itu!” Feri mendengus kesal. Dia berlalu, bukan hendak keluar rumah, melainkan menuju kamar Dedi. Tujuannya hanya satu, mencari uang simpanan Dedi, tapi dia tak tahu harus mencari dan disembunyikan dimana uang itu. Tapi, dia yakin bahwa Dedi menyembunyikannya.
Jadilah kamar Dedi berantakan, mulai dari kasur yang diangkat secara paksa, bantal tak tentu perginya. Lemari diruda paksa terbuka, baju-baju berserakan, rak buku hancur berantakan karena tendangannya. Feri berpikir cepat sejenak, tas! Begitu pikirannya tiba-tiba. Diraihnya tas Dedi yang menggantung di pintu, dikeluarkan semua isinya, nihil. Tas itu dibantingnya.
”Kau sembunyikan dimana anak syetan!”
Teriakan itu membahana, memenuhi ruangan di rumah itu. Di pinggir tembok ruang tamu, Dedi masih merasakan punggungnya sedikit nyeri. Perih di pipinya juga belum sembuh. Tubuhnya serasa remuk semua, semua luka tiba-tiba membayang di otak dan pikirannya, tiba-tiba dia merasakan seluruh tubuhnya merinding kesakitan. Seolah dunia begitu menertawakannya. Dan itu, membuat seluruh jiwanya bertambah sakit saja.
Cukup sudah!
Feri masih beringas mengacak-acak kamar anaknya itu, gerutunya semakin tak karuan. Feri mengedarkan pandangannya, dilihatnya kamar itu telah seolah kapal pecah, hancur dan berantakan dimana-mana. Namun, matanya tiba-tiba berbinar, memandang lantai keramik tepat di kolong kamar.
Keramik yang tak sempurna terpasang.
Langkah Feri semakin bersemangat mendekatinya, kedua tangannya yang bertato itu perlahan mengambil satu keping keramik itu, pelan-pelan diangkatnya. Mudah diangkat. Sebuah kotak plastik terlihat di dalam keramik yang terangkat, mata Feri berbinar karena terlihat agak terawang uang-uang kertas di dalam plastik itu.
”Ha...ha...ha...,” tawanya memenuhi kamar itu, hingga keluar ruangan.
Feri mengambil kotak plastik itu, diangkatnya ke atas. Disejajarkan dengan wajahnya, dan senyumnya semakin meluap-luap saja. Dengan nafsu yang menyala, dibukanya wadah kotak plastik itu. Tutup plastik itu terpental demikian jauh. Nampaklah uang kertas berlembar-lembar, dan mata itu mengkilat-kilat.
”Aku kaya! Ada untungnya punya...,”
”Bugh!”
Sebongkah kayu balok terjatuh di lantai, membunyikan suara benturan. Suara Feri telah menghilang, sebagai gantinya tubuhnya ambruk begitu saja, menimpa kotak uang yang dipegangnya. Uang kertas berhamburan, dan suasana yang sebelumnya berisik dan penuh tawa, tiba-tiba sunyi mencekam.
Sesosok tubuh yang penuh luka, berdiri di dekat tubuh Feri yang sempurna ambruk. Entah keadaannya, suaranya pun tak ada lagi, kecuali napasnya yang masih berhembus.
Dedi. Tak ada sesal dan airmata, apalagi kebingungan. Dia masih berdiri tegak, matanya memandang jendela kamarnya, menerawang jauh keluar, menembus kaca, menembus segala ruang. Dilihatnya beburung yang terbang, saling kejar, menari dan menyanyi riang. Tiba-tiba senyumnya muncul, sebuah senyum yang aneh, senyum yang tak simetris.
Didudukkan tubuhnya, memunguti uang kertas yang tercecer. Tak peduli ada seonggok tubuh yang tengkurap. Dipunguti uang itu, hingga habis. Sunyi pula suaranya. Hingga pintu kamarnya dibuka pelan oleh sebuah tangan yang begitu kurus. Halimah.
Pandangan Dedi tertuju pada wanita yang berdiri di ambang pintu. Tatapan mereka bertemu, tapi tak ada suara yang tercipta.
Dedi melipat uang kertasnya, menjadi satu. Dia berdiri, untuk terakhir kali ditatapnya lagi wajah ibunya. Hidup pun seolah aku tak segan Ibu, kau pun tak pahami apapun tentang aku. Biarlah iblis menari, dan kau tetap begini. Aku rindu ibu, tapi mungkin inilah tatapan terakhir.
Dedi menggelengkan kepalanya. Ah! Tak ada gunanya mencoba kemustahilan. Dia melangkah dengan tenang, melangkahi Feri yang masih tergeletak. Dia melewati pintu itu, melewati ibunya.
Selamat tinggal ibu. Saat bersebelahan, sempat sebuah ciuman menyentuh pipi Halimah.
Dedi terus melangkah, sambil memakai tasnya. Langkahnya menuju belakang rumah, mengambil baju sekolahnya yang masih dijemur, dimasukkan dalam tas. Dan keluar rumahnya. Berjalan seperti biasa, tapi kobaran api telah demikian berkibar dalam hatinya. Pandangannya seolah dingin sedingin-dinginnya.
Langkahnya bukan lagi pikiran yang memandunya, melainkan tujuan yang selama ini dibangunnya dalam angannya. Semua rahasia mimpinya akan terkuak.
@ @ @
Halimah bergetar seluruh tubuhnya, kepalanya tiba-tiba bergerak-gerak perlahan. Ada yang aneh dalam gerakannya, bukan lagi pada pandangannya yang kosong. Mata itu terpejam sekitar lima menit, lalu terbuka, tiba-tiba bening seketika.
”Dedi...,” bibir itu demikian bergetar.
@ @ @
Malam mencekam. Gang kecil itu tampak suram. Sosok berjaket tebal, tampak mengepulkan asap rokoknya, diisapnya tidak sekali, beberapa kali tanpa jeda. Sedot dan sedot, lalu dihembuskan terus. Figurasi kabut tercipta, bagai musim dingin yang mencekam di Meksiko.
Dari kejauhan langkah seorang mendekatinya. Si perokok tersenyum. Mereka semakin dekat, mata mereka beradu. Tajam dan mengkilat.
”Sesuai pesanan, sudah kurakit” lelaki berjaket menyodorkan sebuah plastik hitam. Entah apa yang ada di dalamnya.
”Aku hanya punya uang 2juta tujuh ratus ribu lebih sedikit.”
”Kau mau berbuat curang.”
”Kumohon, aku membutuhkannya.”
”Kau beralasan.”
”Anggap saja ini permintaan terakhir orang yang akan meninggal!” tegas, hingga membuat si perokok merinding.
”Aku kurangi isinya. Bagaimana?”
”Terserah.”
Si lelaki berjaket membuka plastik hitam, mengambil sesuatu dari dalamnya, beberapa butir.
”Aku kurangi setengah isinya,” si lelaki bejaket membuang puntung rokoknya, dan kembali mengulurkan plastik hitam itu.
Lelaki tirus itu tak lagi bersuara, dia menyerahkan plastik pula. Pertukaran terjadi, si lelaki berjaket tersenyum. Tapi, si lelaki tirus tak berubah sama sekali raut wajahnya, beku.
Lelaki tirus itu berbalik, hendak pergi, tanpa ucapan apapun.
”Hei sebentar anak muda.”
Lelaki tirus berhenti.
”Untuk apa kau membelinya?”
”Untuk meledakkan dunia!” dan melangkah pergi, meninggalkan si lelaki berjaket yang masih kebingungan. Tapi, segera ditepisnya semua hal-hal yang menyelimuti pikirannya. Baginya, tak peduli urusan orang lain, yang penting barangnya laku, tak peduli untuk apa alat itu akan digunakan.
”Persetan!” lelaki itu menendang kardus di pinggir kakinya, dan melangkah pergi, menyusuri koridor di malam gelap itu, dan menghilang, menyisakan kabut tipis yang disorot bulan yang indah memancar di atas sana, menemani segenap kehidupan.