Bisikan Pembalasan
Remaja Tirus, Memendam Luka
“Tlepuk! Tlepuk! Tlepuk!”
Derap-derap suara langkah kaki, bersepatu warior kain, di koridor sekolah, sangat cepat. Sesekali wajahnya yang tirus itu menoleh ke segala arah, seolah takut dibuntuti larinya. Napasnya senggal, dia berhenti dan bersembunyi di salah satu tiang penyangga di depan kelas XI. Matanya menatap praflon, lalu menunduk ke bawah, jongkok seperti orang rukuk. Kelelahan.
Lelaki berumuran 17 tahunan itu memejamkan matanya, masih mengatur napasnya yang memburu. Lalu, tubuhnya melorot ke bawah, sempurna jongkok bersandarkan tiang. Hatinya teramat kacau. Gigi gerahamnya terdengar gemeretuk, suara saling beradu antara gigi atas dan gigi bawahnya. Pipinya bergerak-gerak, seolah menahan rasa yang terpendam dalam.
Rambutnya yang mulai memanjang, turun di bagian depan dan melewati kedua matanya. Tertiup angin semilir, dan terombang-ambing hingga seolah memancing matanya untuk menajam bagai elang di angkasa, mencari mangsa. Sorot matanya begitu tajam, ada guratan di sekelilingnya yang tersembul paksa.
Tak butuh waktu lama, bujang berpakaian abu-abu putih itu berdiri, kedua tangannya mengepal demikian kuat.
”Aaaaaaaaaaa!” dia menjerit, berbalik dan meninju dengan kuat tiang penyangga sekolah itu sekuatnya, napasnya memburu, hembusannya terasa kasar dari mulut dan kedua lubang hidungnya. Amarahnya meluap-luap. Namun, tangan kanannya terasa ngilu.
Laki-laki itu mundur, hendak berbalik. Tapi, sebelum pergi kakinya masih sempat menendang tiang penyangga itu dengan kuat.
”Sialan!”
Laki-laki itu pergi, dengan mata masih menajam dan gigi gemerutakan. Kesumat telah mencapai ubun-ubunnya, membakar seluruh syaraf dan jaringan di otaknya. Koridor itu sepi, karena sekolah telah bubaran.
Laki-laki berwajah tirus itu membenahi tasnya, dan melenggang kasar, menginjakkan sepatunya kuat ke lantai keramik di sepanjang koridor. Seolah ingin menginjak-injak, menyelesaikan seluruh kekesalannya.
@ @ @
Langkah kakinya mulai dapat teratur kembali. Kedua tangannya memegangi string cord tas yang membelit di kedua pundaknya, hingga kedua sikunya membentang ke sisi kanan dan kirinya. Seolah burung yang membubung terbang.
Matanya yang terlihat sedikit menonjol karena raganya yang kurus, menoleh ke belakang, menatap sekolahnya yang menjulang tinggi, bertingkat empat. SMA Negeri Karya Bakti. Matanya menyipit karena silau matahari menimpa wajahnya. Napasnya berhembus desah, kepalanya kembali menoleh di depannya. Meneruskan langkahnya hendak pulang, mendekati gerbang teralis yang tinggal membuka sekitar dua meter saja. Para siswa telah pulang, sudah pukul 14.00.
Matanya terhenti, mengkerut sejenak. Langkahnya mulai surut, berselang 10 meter selepas gerbang, empat orang tengah berkumpul di bawah pohon di pinggir jalan, memerhatikannya tajam. Kaki kirinya hendak mundur ke belakang, namun segera melangkah ke depan lagi pelan. Dia harus sampai di rumah, atau...
Dikuatkan raganya berjalan, walau ragu menggamang. Wajahnya yang kurus tertunduk ke bawah, rambutnya yang lumayan panjang tergerai, menutupi kedua matanya yang menatap kerikil dan paping di bawahnya. Dan, apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi.
Langkahnya terhenti.
Keempat orang geng di sekolahnya itu telah berkumpul menghentikan langkahnya. Hembusan asap rokok telah ditebarkan, mengenai wajah tirus itu.
Si wajah tirus hendak berbalik dan lari, namun kedua pundaknya telah tercekal kuat oleh dua orang yang telah siaga. Kedua pemegang bahu itu, satunya bertubuh tambun dan satunya tinggi sedang dan rambutnya memanjang di depannya.
”Lepaskan! Aku mohon,” si wajah tirus tampak memelas.
Bukan cekalan dilepaskan, namun semakin menguat. Roni, pemimpin geng itu mendekatkan wajahnya yang putih, matanya melotot seolah hendak keluar, urat-urat di wajahnya menonjol. Dan hembusan kasar asap dari batang rokok yang dihisabnya, menghembus keras.
Si wajah tirus terbatuk-batuk, dan menyipitkan kedua matanya, bibirnya bergetar, ”Aa, apa mau kalian?”
”Bodoh! Tentu saja kami mau uang. Serahkan uangmu sekarang!” Firman yang berada di samping Roni, berujar kasar sambil mencengkeram bahu kanan si wajah tirus. Tentu saja semakin berat rasanya cekalan itu, karena dua cekalan di kedua tangan si wajah tirus masih kuat mencekalnya.
”Kumohon jangan, saya sangat membutuhkannya.”
”Sialan!” dan, sebuah bogem mendarat demikian cepat di perut si wajah tirus. Si wajah tirus mengaduh, perutnya seolah diaduk-aduk kasar. Roni menyeringai penuh kemenangan, tangan kanannya diangkat seolah pengemis di pinggir jalan saat lampu merah menyala.
”Kumohon, jangan ambil. Saya sangat membutuhkannya.”
Tangan yang hendak menadah itu, milik Roni, berputar cepat dan menampar kuat si wajah tirus.
”Plak!” si wajah tirus terpaksa menoleh ke kanan karena tamparan itu.
Kawanan geng itu terbahak-bahak, tak sekalipun mendengar suara gemuruh seolah petir membadai dalam dada si wajah tirus, tak mendengarkan ada badai yang melesat-lesat marah, tak juga mendengar segenggam dendam yang membara. Mereka tak menyadari, bahwa, ada yang memendam dendam demikian besar.
Wajah si tirus nampak bergetar, giginya gemeretuk. Matanya melotot memerah, bibirnya mendesis getar bagai gelombang infrasonik. Wajahnya terangkat pelan, seolah ingin menyalak keras.
”Mau apa! Dasar tikus!” Roni menyalak hingga air liurnya berhamburan mengenai wajah tirus. Dan kembali, satu pukulan bogem mendarat kuat, bukan di perut, melainkan di pipi si wajah tirus.
”Hentikan! Lepaskan Dedi, kalian sudah keterlaluan,” suara wanita dari dalam sekolah. Ternyata, masih ada yang belum pulang.
Keempat orang itu, tepatnya geng paling terkenal di sekolah, melihat seorang wanita berkerudung putih berlari dari arah gerbang dalam. Wanita itu berhenti di dekat mereka, suasana lengang. Semuanya saling memperhatikan, hanya pandangan si wajah tirus yang masih menunduk, memendam rasa di dadanya.
Tangan kanan Roni terangkat, terbuka ke atas. Bergerak mengipas. Firman, Deri dan Jaka melihat tanda itu. Mereka melepaskan cekalan, dengan kasar hingga tubuh si kurus terdorong jatuh ke bawah, di paping-paping segi lima.
”Ayo pergi!” Roni masih melihat tajam kearah wanita berkerudung, menggerakkan kerah bajunya, keatas. Bergaya, dan masih sempat menendang kaki si wajah tirus yang terlipat. Si wajah tirus tetap diam, walaupun ketiga orang teman Roni masih menghadiahi tendangan di kakinya juga.
Rahma, wanita berkerudung yang sekaligus ketua OSIS wanita pertama di Sekolah Karya Bakti, duduk di dekat si wajah tirus, ”Ded, kamu tidak apa-apa? Besok, akan saya laporkan perbuatan mereka.”
”Tak usah,” Dedi menolak paping dengan tangan kanannya, mendorong tubuhnya berdiri. Tanpa menoleh, dia pergi meninggalkan Rahma yang melihat punggungnya, hingga menghilang di jalanan raya penuh debu. Tanpa pamitan, dan tanpa ucapan terima kasih.
Rahmaiza Ilyani tahu, jika Dedi Hasanudin melaporkan perbuatan mereka, maka gengnya Roni akan mengerjai lebih kejam. Rahma bingung, apa yang harus dilakukannya, dia tahu bahwa Dedi teman sekelasnya itu, dikenal pendiam dan aneh di sekolahnya. Mungkin itu, yang membuat Rahma merasakan kejanggalan, kala bicara pada Dedi, seolah tidak mau diganggu oleh siapapun.
Rahma menepis praduganya, dia berjalan ke kiri Sekolah, hendak memfotokopi proposal kegiatan untuk acara lomba-lomba minggu depan. Tadi, dia hendak memfotokopi, tapi melihat pemukulan itu, dia bertindak hendak mengamankan. Rahma terkenal berani, walau seorang perempuan.
Saat hampir mencapai ruko fotokopi, langkahnya terhenti sejenak. Pandangannya kearah jalan raya, Dedi, apa yang kau rasakan? Kenapa perasaanku tidak enak, semenjak kita bertemu di kelas X. Astaghfirullah, ampuni hambaMu yang berprasangka ya Allah. Langkahnya kembali terayun.
@ @ @
Dedi ragu hendak masuk ke rumahnya. Tangannya masih membentang bagai sayap burung, itulah cita-citanya, terbang ke angkasa dan tidak mau menginjakkan kakinya kembali ke dunia. Dunia, baginya adalah penderitaan dan kesengsaraan, imajinasinya melesat-lesat.
Wajahnya terangkat melihat pintu rumahnya, tiba-tiba matanya menciut, ada gamang yang merambat dari kaki hingga ubun-ubunnya. Seluruh rasa yang pernah manusia rasakan, apapun bentuknya, sedang berkecamuk di dadanya yang kurus. Menyatu ke dalam rasa, bergumal dalam segala rasa yang tak pernah dipahaminya.
Dedi memberanikan kakinya melangkah, mendekati pintu. Mengetuknya pelan, ”Assalamu’alaikum.”
Menunggu agak lama, dan pintu kayu itu terbuka pelan, sebuah wajah wanita menyembul. Wajah wanita itu, tampak bilur luka membekas di wajahnya, ”Wa’alaikumsalam.”
Wanita setengah baya itu membuka pintu lebar-lebar, kepalanya sejenak melihat Dedi. Mata mereka saling bertatapan. Hanya pandangan saja. Dedi masuk, dan wanita itu memandangnya dengan pandangan kosong, kehilangan fokus dan konsentrasi tujuan pandangnya.
Pelan sekali Dedi masuk, seolah tayangan film yang diperlambat hingga 4 kali. Saat melewati wanita setengah baya, yang masih saya kedua tangannya memegang daun pintu yang dibukanya, dia adalah ibu Dedi. Pandangan wanita itu kini masih kosong, tapi tatapannya ke bawah, tepatnya diantara sepatu Dedi.
Dedi menolehkan wajahnya, melihat ibunya. Ada nestapa mendalam yang ingin dicurahkan, tapi segera terhapus oleh desah napasnya sendiri. Lalu, berbalik kembali, meneruskan langkahnya. Tak ada sapaan lainnya, itu yang diharapkan Dedi sesungguhnya. Ah! Dan, desahan kerasnya, menyadarkannya kembali, bahwa dia berada di dunia.
Langkahnya mulai mengayun. Namun, hesitancy dan fear, rasa ragu dan takut yang tiba-tiba menyeruak. Pandangannya mendadak seolah pucat, wajahnya bergerak-gerak ketakutan. Langkahnya ragu kembali hendak menginjak lantai keramik rumahnya.
Mata Dedi melihat pada sepasang sepatu di dekat kursi ruang tamu itu, keduanya berantakan, terlihat asal dilepaskan oleh pemakainya. Mata Dedi sedikit tegang melihatnya, benarkah? Kepalanya menggeleng segera, kaki kirinya hendak melangkah mundur ke belakang.
Overdue.
Hampir saja tubuhnya terlonjak ke atas, dan sekalian terbang. Tapi, seluruh tubuhnya kini bergetar, bibir dan gigi-giginya bergetar, ada getaran hebat menyentak di seluruh syarafnya. Matanya terpaku sayu pada daun pintu yang terbuka di kamar paling depan, di dekat ruang tamu itu.
Seorang lelaki kekar, wajahnya yang keras, rahang yang kokoh, serta bertubuh tegap. Menatap Dedi tajam, agak lama memerhatikannya. Mata mereka beradu sejenak, tapi, Dedi segera menundukkan kepalanya seperti orang ketakutan.
Si lelaki berkaus putih itu mendesah, berjalan tegak berwibawa, sekaligus menyeramkan, mendekati Dedi. Derap suara langkah kakinya begitu mantap, hingga tepat berhenti di depan Dedi dan memperhatikan wajah Dedi yang sedikit lebam. Air mukanya berubah drastis seketika.
Tubuh Dedi tersentak, bukan karena getaran lagi. Melainkan, tangan kekar pak Feri, seorang preman itu, mencengkeram lengan kanan Dedi kuat, dihempaskan kuat hingga menabrak meja di ruang tamu, dengan satu tangan kanannya. Tubuh Dedi tertarik kuat dan terpelanting, meja bergeser satu meter dan Dedi terjatuh di lantai keramik. Aroma alkohol tercium begitu pengap dari lelaki kasar itu.
”Anak bodoh!”
Dedi meringis, matanya menatap lantai bening keramik di bawahnya, sikunya yang menghadang keramik pastilah lecet. Dedi memejamkan matanya, sesuatu terbakar hangus, menyala-nyala di dadanya. Tapi, tak ada yang bisa diperbuatnya, segala rasa kembali dipendamnya dalam-dalam. Hingga, terhempas dalam alunan napasnya yang teratur; seperti hendak menangis, tapi juga marah, atau kerasukan kesumat. Semunya serba bercampur, hingga tak terkenali.
Feri masih terlihat geram, tangan kirinya terayun kembali. Feri sengaja mengayunkan punggung tangannya, bukan angin kosong, melainkan wajah isterinya yang terus saja menatap kosong di dekat pintu masuk.
”Plak!”
Tubuh wanita setengah baya itu terpelanting ke tembok. Tapi, tak ada suara menjerit atau kesakitan.
”Lihat anak sialanmu itu! Mau jadi apa dia! Mau jadi jagoan, tapi selalu kalah berkelahi. Kenapa kau lahirkan anak pengecut seperti dia!” tangan Feri menunjuk-nunjuk wajah isterinya.
Wanita setengah baya itu memegang pipinya yang merah, mengusapnya pelan. Tak ada desah, maupun kata-kata yang keluar. Matanya kembali lurus ke depan, menatap suaminya, tapi pandangannya hanya kosong. Dan, terdiam bagai alam yang hanya tergulir dan terhembus angin.
Dedi melihat kejadian itu, kepalanya benar-benar bergetar hebat kini. Hendak membantu ibunya, tapi, keberaniannya sama sekali tak cukup. Bahkan, seluruh syaraf, pikiran, dan keinginan dalam dirinya. Semuanya seolah telah mati, dia merasa tak mempunyai daya untuk hidup lagi. Dia, hanya bisa selalu pasrah pada setiap kondisinya, apapun itu.
Feri melihat anaknya kembali, ”Kenapa! Kau ingin membela ibumu! Kau tak terima. Dasar anak syetan!” langkahnya terayun kearah Dedi, tangannya menjambak rambut Dedi dan menariknya ke belakang. Dedi kesakitan. Kepala itu diangkatnya keatas, Dedi terpaksa menuruti kalau tidak ingin kepalanya terasa lebih sakit lagi.
”Ampun Ayah, ampun Ayah,” suara Dedi tercekat.
”Dasar banci! Mau jadi apa kamu jika berkelahi kalah! Tak berguna!”
”Plak! Plak! Plak!”
Teriakan Dedi tak lagi dipedulikan, bahkan, suaranya tergantikan dengan tamparan-tamparan. Feri tertawa puas, tak peduli pada bibir Dedi yang pecah karena tamparan kuatnya.
Wanita setengah baya, hanya melihat kejadian itu sambil menutup pintu, seperti tak terjadi apa-apa pada anak dan suaminya. Dan, pandangannya masih saja kosong, seolah mayat yang berjalan.
Rumah itulah saksinya, alamlah saksinya, dan Tuhanpun menjadi saksi atas setiap peristiwa yang terjadi di seluruh jagad, di bumi dan langit serta yang ada diantaranya.
@ @ @
Dedi membersihkan luka di wajahnya, dengan air dan kain, terasa perih. Tapi, bukan saja sakit di jasadnya, melainkan sakit di hatinya, di perasaannya, di pikirannya, di otaknya, di tulangnya, di daging-dagingnya, dan seluruh elemen sel yang ada di dalam dirinya.
Di depan kaca itu, di dalam kamarnya, diperhatikannya wajahnya yang tirus. Hati kecilnya menjerit, dan jeritannya sangat keras, bahkan jika mau digambarkan, maka dunia akan pekak mendengar jerit di hatinya.
Dedi tak bisa menggambarkan lagi, perasaan apa yang ada di dadanya. Bahkan dia sendiri bingung memahami apa dirinya sebenarnya, apakah manusia atau makhluk lain yang diciptakan Tuhan. Apakah dia benar-benar manusia yang dilahirkan? Bahkan, wajahnya yang tirus teramat menakutkannya, wajah itu sangat aneh dilihatnya. Itukah wajahku?
Tidak! Siapakah aku?
Aku siapa!?
Ini bukanlah duniaku, kenapa aku terasa asing
Di keluargaku, di sekolah, dimanapun. Siapa aku?
”Arrrgh!” suara lampiasan keluar dari mulut Dedi, wajahnya bagaikan singa, menyeringai dan membuat dirinya sendiri takut, tapi ada pancaran puas, ingin tertawa, tapi juga merinding. Ingin tertawa, tapi juga ketakutan, ingin marah tapi raut wajahnya merot-merot tak jelas.
Dedi menggeram, menutup matanya kuat. Seluruh rasa berkecamuk dalam dirinya. Rasa apa ini!
”Tarr!” dan, finally, kaca pecah berhamburan, itulah puncak rasa yang menyesak dalam dadanya. Darah menetes, bercampur dengan air dari kran yang masih mengalir di bawah cermin yang telah berantakan. Serpihan kaca berhamburan, ada kepuasan yang terasa nikmat diantara lukanya.
Kaca yang menempel di dinding kamarnya itu masih menyisa, tak pecah seluruhnya jatuh berhamburan. Dari serpihan yang masih lekat itu, sebuah mata saling bertatapan, dua mata yang sama, asli dan pantulan cermin menyisa.
Pandangan itu, mengerikan! Mirip pandangan iblis, merah menyala, atau bahkan seperti singa kelaparan dan terganggu habitatnya.
Alam hanya tinggal menunggu detik-detik mendebarkan, dimana kedua mata iblis menyala dan membakar hutan yang belantara dan tenang. Menerkam mangsa, dan menghancurkan apapun di hadapannya, melumatnya hingga terbakar habis.