Bidadari untuk Raka
Lembaran Hijau
Raka terbangun saat malam menjelang pagi, dia pun berusaha bergerak dan pergi ke kamar mandi dengan infus yang masih menggantung di tongkat panjang yang di bawahnya terdapat roda. Raka juga sekalian berwudhu karena merasa sudah dibangunkan Allah, maka dia harus melaksanakan shalat malam semampunya.
Masih ada sedikit nyeri ketika bergerak berlebihan, Raka masih shalat dengan duduk di kursi yang ada di sebelah kamar dipan Rumah Sakit. Ibunya terlihat tertidur di kursi sofa panjang di sebelahnya. Selesai shalat, Raka tak bisa tidur dan bibirnya terus berdzikir, saat itulah matanya lekat pada buku novel yang ditulis oleh Sarah. Raka pun tersenyum, mengambil buku itu dan membukanya di awal buku.
Buku novel yang ditulis oleh Sarah. Raka jadi teringat dulu ketika Sarah masih kecil dan dirinya masih sekolah dasar kelas 5, saat itu Raka dan Ibunya ke rumah Ibu Fatma dan melihat Sarah masih sangat kecil. Dia baru masuk Sekolah Dasar, saat itu Raka tertawa karena Sarah masih ingusan dan menangis ketika Raka memintanya membersihkan ingusnya. Raka tersenyum sendirian mengingat itu, lalu… kenapa tiba-tiba dia berpikir soal Sarah, dan wanita itu telah menjadi gadis yang cantik sekarang. Raka menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya dia mengingat wanita yang sudah dianggap adiknya itu.
Raka pun membuka lembaran pertama dan takjub akan isi tulisan itu. Tak kenal waktu, dia asyik membaca hingga terpesona dengan bahasa yang dibuat Sarah. Novel berjudul Lembaran Hijau itu sarat akan kehidupan sebagai hadiah dari Tuhan. Kisah ini adalah kisah seorang lelaki dan perempuan yang saling jatuh cinta, mereka hidup di sebuah desa yang asri dan sebuah kampung.
Hingga, sebuah perusahaan besar milik Asing datang dan mengaku bahwa desa dan hutan perkebunan di sekitar desa adalah milik PT tersebut. Di sisi lain, anak dari pemilik PT mencintai Tokoh wanita di desa tersebut dan kasus itu dimenangkan PT. Cinta lelaki dan perempuan itu tergadai, si Lelaki anak dari perusahaan akan mengembalikan semua tanah yang ada di desa itu dan tak akan meratakannya sebagai tempat industri jika tokoh wanita itu mau menikah dengannya.
Cinta mereka berdua pun seperti menemukan jurang tajam, atau seperti tersesat di tengah hutan belantara tanpa tahu mana jalan keluar. Seluruh penduduk desa meminta wanita itu untuk menerima syarat itu sebagai satu-satunya cara agar mereka bisa memiliki tanah kembali dan lahan hijau serta rumah-rumah mereka tidak dihancurkan.
Kini, si tokoh Pria utama harus melawan seluruh desa demi cintanya. Dia merasa tak ada lagi yang membela cintanya hanya demi kehijauan desa dan perkebunan, serta demi kehidupan. Lalu, dia mengorbankan cintanya?
Si wanita juga dalam kebimbangan yang sangat, cintanya dipertaruhkan demi menyelamatkan keluarganya dan seluruh penduduk desa.
Sampai di situ, Raka merasa tak bisa berhenti membaca karena ingin tahu bagaimana perjalanan cinta keduanya. Ending kisah novel itu sangat menarik, semenarik jika seseorang sudah berlomba lari jarak jauh dan menunggu finish. Namun, tanpa terasa dia dikagetkan oleh adzan subuh yang menggema dari masjid di rumah sakit Islam tersebut.
Raka mendesah…, waktu terlalu cepat berlalu. Dia harus mengakhiri membaca novel itu, suatu saat pasti akan dilanjutkan kembali. Sekarang waktunya shalat subuh, itulah yang paling penting. Karena, barang siapa yang senang dan bahagia hatinya ketika bertemu dengan Allah, maka saat di akhirat nanti Allah pun akan senang ketika kita pulang kepadaNya dan meminta pertolonganNya.
Hidup di dunia ini hanyalah sementara, hingga setiap keasyikan dan senangnya di dunia ini tidaklah bertahan lama. Kadang sedih dan kadang bahagia, kadang menangis dan kadang tertawa. Jadi di dunia ini kita harus bisa memposisikan sebagai tempat kita berpetualang mengumpulkan banyak bekal untuk dibawa nanti menghadap Allah. Itulah yang Raka yakini, dia pun membangunkan Ibunya. Sepertinay Ibunya kelelahan, mereka pun shalat berjamaah kembali.
Pagi itu, seperti biasanya matahari bersinar sangat indah. Seindah hati Raka karena hari ini diperbolehkan pulang.
Ada yang sudah mengurusi administrasi, dari pihak sekolah dimana dia mengajar ternyata yang menguruskannya. Raka tidak tahu sama sekali soal biaya yang harus dikeluarkan untuk beberapa hari dia di RS. Raka pun dilepas selang infusnya, dia merasa baikan hanya saja merasa kaku karena beberapa hari harus berbaring.
Luka sobekan yang sudah dijahit pun mulai tak lagi nyeri. Raka diperbolehkan pulang segera namun diberikan beberapa obat untuk pemulihannya. Selain itu, tak ada luka apapun yang diderita Raka selain luka tusukan itu. Raka bersyukur karena tusukan itu tak dalam dan tak mengenai organ apapun.
Raka dan Ibunya pulang, ada yang menjemputnya. Pihak sekolah, mereka merasa sangat berterimakasih pada Raka karena berusaha keras melerai tawuran yang terjadi. Kedepannya, Raka dan para guru akan bersama-sama menanggulangi sejak awal jika ada perselisihan antar siswa, terutama perselisihan dengan siswa dari sekolah lain agar diselesaikan lebih dulu dan cepat berakhir daripada tawuran dan menimbulkan korban jika sudah meledak.
Raka diantarkan pulang ke rumah oleh pihak sekolah yang menjemputnya. Mereka juga berpesan kalau Raka jangan ke sekolah dulu dan istirahat setidaknya seminggu agar lukanya benar-benar sembuh. Raka mengiyakannya, namun dia merasa bahwa dirinya sudah sehat, setidaknya dia bisa mengajar anak-anak TPA karena itu sudah menjadi kewajiban yang melekat dalam dirinya.
Pihak sekolah yang mengantar Raka tadi adalah pak Ridwan, dia merupakan Wakil Kepala Sekolah. Pak Ridwan sekali lagi berterimakasih pada Raka dan pamitan undur diri.
Seperginya pak Ridwan, saaat Raka hendak duduk di ruang tengahnya ada suara yang mengucapkan salam depan rumahnya. Bu Rahmiza melewati Raka dan bergegas menuju pintu depan, siapa gerangan? Suaranya seperti perempuan.
Bisa dibilang rumah Raka sangat sederhana, namun Raka merasa bersyukur dengan segala pemberian dari Allah untuk dirinya dan Ibunya.
Ada suara obrolan di luar terdengar dari ruang tengah, Raka pun menggerakkan tubuhnya berdiri dan berjalan perlahan menuju depan. Tubuhnya sudah mulai stabil untuk berjalan, namun hanya tersisa seolah lelah saja karena luka kemaren. Raka melihat Ibunya sudah mempersilakan tamu masuk, ada satu remaja laki-laki dan seorang perempuan berjilbab dengan baju putihnya. Wajah putih itu berseri ketika melihat Raka, Raka pun tersenyum.
Para tamu itu pun duduk dipersilakan oleh Ibu Rahmiza. Raka ikut duduk di sebelah Ibunya. Percakapan awal cukup canggung hingga lama-kelamaan akhirnya mereka bicara lancar.
Si remaja lelaki adalah Farel dan yang bersamanya adalah kakaknya yang masih proses menyelesaikan kuliah fakultas kedokterannya. Dia sengaja datang ke rumah Raka dan Ibunya, sebelumnya mereka datang ke Rumah Sakit namun mereka mendapatkan kabar kalau pak Raka sudah pulang.
“Perkenalkan, nama saya Nisa Febriansyah,” Nisa menangkupkan kedua telapak tangannya ke dadanya, memperkenalkan diri kepada Raka. Wajah bersih dan ditambah senyuman indah itu pasti mampu menyihir siapa saja yang melihatnya dan tertawan oleh indahnya senyuman itu.
Raka membalas senyuman itu, “Saya Raka, dan ini ibu saya bu Rahmiza,” bu Rahmi ikut tersenyum.
Farel pun menceritakan bahwa awalnya memang dia yang melaporkan kasus pemalakan yang terjadi padanya. Namun, kejadian tawuran itu seolah menjadi ujung dari segala masalah antara siswa dari masing-masing sekolah tersebut. Sebenarnya, masalah antar siswa di sekolah itu sudah cukup lama namun seolah dirinya menjadi pemicu, padahal dirinya melapor karena merasa dirugikan dan agar tidak ada lagi murid yang dipalak seperti dirinya.
Dia sendiri melaporkan hal itu bukan untuk menimbulkan permusuhan lebih jauh. Tapi mereka seolah mengincarnya dan akhirnya konflik semakin memanas dan mereka pun memutuskan menyerbu sekolah kita. Itulah penjelasan dari Farel, luka lebam di wajahnya masih sedikit terlihat di pipinya.
“Bolehkah saya lihat luka anda pak Raka?”
Nisa menawarkan diri, Raka agak ragu namun Nisa meyakinkan bahwa dirinya adalah calon dokter dan sebentar lagi lulus. Raka berbalik, bu Rahmiza membantu mengangkat baju belakang Raka. Masih ada perban yang menempel di bawah punggung sebelah kiri.
Nisa mendekat dan melihat perban itu, sudah tidak ada bercak darah disana, bersih. Nisa meminta bu Rahmi menutup kembali baju Raka, dia mengatakan bahwa luka Raka ringan dan tidak sampai dalam. Beberapa hari lagi insyaallah pulih.
Nisa juga mengucapkan terimakasih karena sudah menolong dan mengamankan adiknya Farel saat tawuran terjadi. Farel juga mengalami syok karena dikeroyok banyak siswa dari sekolah lain, saat itu dia bercerita kalau Raka lah yang mengamankan dan membuka jalan hingga melawan beberapa siswa yang mengeroyoknya.
Mereka merasa berhutang budi sehingga mereka datang, Nisa mewakili kedua orangtuanya yang tak bisa datang karena ada pertemuan di luar. Nisa yang merupakan anak sulung dari tiga bersaudara merasa harus datang dan mengucapkan terimakasih secara langsung.
Raka dan Ibunya menyambut baik maksud dari Nisa dan keluarga. Namun, Raka merasa bahwa itu sudah menjadi kewajibannya sebagai sesame manusia untuk saling menolong, apalagi dia adalah guru juga bagi Farel.
Berbincang semakin lama, mereka semakin akrab. Mereka pun bertukar nomor telepon. Nisa berharap Raka dan Ibunya bisa menjalin silaturahim dan hubungan baik ke depannya.
Tak berapa lama, Nisa dan Farel pun pamitan. Mereka membawa oleh-oleh buah dan juga kue. Bu Rahmi dipaksa menerima, mereka pun akhirnya terpaksa menerima oleh-oleh itu. Nisa dan Farel pun pamit, wajah putih bersih Nisa sekelebat membuat hati Raka terpesona.
Allah, kenapa setelah ujian kegagalan pernikahannya, akhir-akhir ini banyak sekali wanita yang datang ke kehidupannya? Begitulah pikiran Raka selanjutnya. Seperginya Nisa dan Farel, Rahmiza terkaget karena di dalam bungkusan kue dan buah, ada amplop tebal yang dimasukkan dalam tas kecil ditinggalkan dalam bingkisan tersebut.
Amplop itupun dibukan oleh Rahmiza, di dalamnya ada secarik kertas tulisan untuk keluarga Bapak Raka, mohon diterima seikhlasnya. Rahmiza membuka uang itu dan terkaget karena jumlahnya sangat banyak menurutnya. Ada uang senilai Rp 20 juta di dalam amplop tersebut.
Raka dan Ibunya pun berdiskusi soal uang tersebut. Mereka pun memutuskan untuk mengembalikan uang tersebut dan meminta keluarga Farel an Nisa agar tak mempermasalahkan permasalahan kemarin dan cukuplah Allah yang membalas kebaikan setiap hambaNya dengan sebaik-baik balasan.