Bidadari untuk Raka
Kunjungan Iffah
Keributan di sekolah tersebut ternyata berawal dari hal sepele. Awalnya, Farel dipalak oleh dua orang dari sekolah yang menyerang, Farel dipukul dan diminta uangnya. Farel pun melaporkan kejadian itu ke sekolah, merasa tak terima siswa yang memalak itu pun berencana memberi pelajaran pada Farel yang diselamatkan Raka. Namun, Raka bersembunyi di sekolah dan diisukan bahwa sekolah Kencana menantang mereka semua untuk bentrok datang ke sekolah.
Padahal hanyalah hoax, tapi kenapa percaya? Memang, kalau sudah bicara setia kawan masa muda memang demikian. Tak peduli lagi akibat yang akan terjadi, bisa jadi ada yang terluka dan hilang masa depan mereka karena hal tersebut.
Yang mereka tahu adalah serunya membela teman. Ironis.
Raka mencoba bergerak dari kamar rumah sakit, dia mendapatkan jahitan dan baru tadi malam tersadar. Raka segera mengganti shalaat yang tertinggal karena dia tak sadarkan diri. Meskipun sudah terlewat, seseorang tak boleh meninggalkan shalat karena alasan syar’i yaitu terlupa atau tertidur. Termasuk pingsan, karena tak sadarkan diri.
Shalat adalah kewajiban setiap Muslim dan hanya gugur ketika meninggal dunia. Shalat adalah bukti seseorang tengah bercengkerama mesra dengan Allah, maka tidak mungkin seorang Muslim berani meninggalkan shalatnya jika dia mengaku mencintai Allah dan RasulNya.
Dalam hal shalat yang tertinggal Ulama sependapat menyatakan bahwa mengqadha (mengganti) shalat hukumnya adalah wajib yaitu untuk orang yang lupa atau tertidur, sebagaimana disebutkan bahwa Nabi saw. bersabda;
“Sesungguhnya, tidurnya seseorang itu tidak dianggap sebagai suatu kelalaian. Kelalaian adalah ketika bangun (terjaga). Karenanya, apabila seseorang dari kalian lupa shalat atau tertidur, hendaklah ia melakukannya ketika ia ingat.”
Makna kata di atas yaitu hendaklah ia melakukan shalatnya ketika ia ingat. Maka, ketika orang yang pingsan sudah sadar maka dia harus tetap shalat.
Namun, ada juga pendapat lain soal orang yang pingsan berbeda dengan orang yang lupa atau tertidur. Hal ini dari Abdurrazaq meriwayatkan dari Nafi’ bahwa suatu ketika, Ibnu Umar jatuh sakit hingga pingsan dan meninggalkan shalat. Setelah sadar, ia tidak melakukan shalat yang ditinggalkannya itu.
Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, “Seseorang yang jatuh sakit hingga pingsan, ketika sadar (siuman), dia tidak perlu mengulangi shalat yang ditinggalkannya.” Ma’mar juga berkata, “Saya pernah bertanya kepada Zuhri mengenai orang yang pingsan. Ia menjawab bahwa orang itu tidak perlu mengqadha (mengganti)nya.”
Ulama yang tidak perlu mengganti shalat orang yang pingsan menyebutkan kalau orang yang masuk rumah sakit lalu koma selama beberapa lama hingga berbulan atau berminggu-minggu maka keringanan untuknya tak menggantikan shalat yang tertinggal tersebut kecuali shalat yang masih ada setelah dia mulai sadar.
Hal ini sesuai dengan riwayat yaitu Hammad bin Salamah meriwayatkan dari Yunus b in Ubaid bahwa Hasan Bashri dan Muhammad bin Sirin mengatakan bahwa orang yang pingsan tidak perlu mengulangi shalat yang ia tinggalkan ketika pingsan.
Namun, Raka merasa bahwa dia bisa mengganti shalatnya maka dia memilih untuk mengganti shalatnya dengan landasan bahwa orang yang tidur dan terlupa ganti shalatnya ketika dia sadar. Raka juga mengambil kehati-hatian, toh dia pingsan paling terlewat hanya beberapa shalat saja. Wallahua’lam bishawab, yang jelas Raka yakin bahwa dirinya ibadah shalat mengharap ridha Allah swt dan juga mengharap dengan ibadah itu Allah mudahkan segala urusannya.
“Kamu makan ya Nak?” Rahmiza melihat anaknya itu, tak pernah Ia menyalahkan karena apa bisa berkelahi. Rahmiza paham betul sifat Raka yang selalu menolong oranglain yang dalam kesusahan. Namun, sebagai Ibu tentunya rasa khawatir selalu menyelimutinya.
Raka mengangguk, dia perlahan menggerakkan tubuhnya untuk duduk. Ibunya, Rahmiza mengambilkan makanan yang sudah disediakan rumah sakit tersebut. Biaya pengobatan Raka ditanggung pemerintah karena dia juga mencoba menyelesaikan masalah remaja tersebut dan terkena menjadi korban.
Pihak rumah sakit menyarankan agar Raka keluar minimal besok, jadi Raka harus menginap dua hari sedari kemarin dibawa oleh pihak kepolisian setelah terluka dalam tawuran kemarin. Rahmiza pun menungguinya setelah dikabari bahwa Raka terluka dan di rumah sakit.
“Biar Raka makan sendiri Bu, sudah bisa kok.”
Rahmiza pun memberikan piring dan isinya kepada Raka, Raka membaca Basmallah dan memakannya dengan nikmat menggunakan sendok. Lukanya beberapa centi sehingga harus dijahit dan juga lukanya harus membuatnya beristirahat untuk beberapa hari sehingga nanti bisa pulih dengan cepat dan jangan melakukan aktivitas banyak terlebih dahulu.
Raka menikmati makanannya. Sekilas, Raka juga melihat wajah ibunya yang gelisah dan khawatir. Raka pun menggoda ibunya.
“Ibu belum makan juga kan? Raka suapi ya?”
“Kamu ini?” Rahmiza akhirnya bisa tersenyum karena digoda anaknya sendiri. Hidup berdua membesarkan Raka sendirian memang berat, apalagi menanamkan teladan yang baik dan beragama yang baik sehingga sejak awal Ibunya meminta Raka untuk mengambil jurusan agama ketika kuliah. Raka pun menurut apa perkataan ibunya tersebut hingga kini dia mengajar pelajaran agama.
Agama itu memang terkadang tak di hargai uang didunia, melainkan agama lah yagn menyelamatkan hidup kita nanti di akhirat. Begitu pesan bu Rahmiza kepada Raka setiap saat untuk memotivasi anaknya dalam hal beribadah dan memilih tujuan hidup dalam berusaha apapun itu.
“Assalamu’alaikum,” suara lembut terdengar dari pintu kamar di rumah sakit itu. Tentunya ada yang menjenguk, bu Rahmiza pun keluar hendak membukakan pintu, siapa gerangan yang menjenguk Raka.
Dua orang wanita berada di depan pintu, satunya dewasa dan satunya terlihat masih sangat muda. Rahmiza mengingat-ingat salah satu wanita tersebut. Iya, dia ingat sekarang wanita yang mengobrol dengan Raka saat pernikahan Azkia dan mereka berbicara sangat akrab.
“Nak Iffah ya? Silakan masuk, Raka juga sudah bangun.”
Rahmiza mempersilakan keduanya masuk, Raka sudah membereskan makanan dan lainnya di sekitarnya. Iffah dan seorang siswi, Rani. Keduanya adalah orang yang diselamatkan Raka saat terjadi tawuran di sekolah mereka kemarin.
Iffah duduk di samping Raka yang agak duduk dengan menyandarkan punggungnya ke ujung kamar. Raka tersenyum pada mereka, juga kepada Rani yang ternyata adalah salah satu murid di kelas yang diajarkannya pelajaran Agama Islam.
“Pak Raka sudah baikan?” Rani mencoba menanyakan kesehatan pada Raka, tentu saja dia harus berterimakasih karena melihat pak Raka gurunya yang heroik mengeluarkan mereka dari kepungan para siswa yang sedang tawuran.
“Maafkan kami dan terimakasih pak Raka,” kini, Iffah menimpali pertanyaan dari Rani sekaligus biar kedatangan mereka kompak dan lengkap untuk mengucapkan maaf dan terimakasih. Sebab mereka, Raka juga mengalami luka yang cukup serius, mereka tak habis pikir ada juga dalam tawuran yang menggunakan senjata tajam.
Raka tersenyum dan melihat Ibunya yang duduk di samping berseberangan dengan Iffah dan Rani. Raka menatap kedua tamunya itu, “Tidak apa-apa, saya sudah sehat Alhamdulillah. Menolong adalah kewajiban, dan kecelakaan merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari saat kita melakukan apa saja. Semua sudah digariskan oleh Allah, hingga saya harus terluka. Insyaallah kita ikhlas menerima setiap ketetapan Allah.”
Benar saja, jawaban dari Raka membuat mereka berdua tersadar bahwa Raka memang pantas menyandang seorang guru Agama.
Iffah dan Rani sama-sama menganggukkan kepala mereka, mereka pun jadi lepas dari merasa bersalah karena untuk menolong mereka akhirnya pak Raka harus terluka.
“Oh iya bu Iffah,” Raka melihat wajah cantik Iffah, “Apakah setelah tawuran itu ada yang terluka juga dan bagaimana kelanjutannya kasus tersebut?”
Semilir angin dari ruangan rumah sakit itu menyibak keheningan yang tercipta sejenak. Angin yang berhembus mengenai pori kulit akan mudah dirasakan, menambah suasana hati Iffah yang seolah bahagia melihat Raka sudah sadar dan sehat.
“Beberapa siswa ada yang terluka, juga ada yang terkena senjata tajam. Faktanya memang ada diantara mereka yang nekat menggunakan senjata seperti yang mengenai Bapak kemarin.”
Cukup memprihatinkan, benar-benar sudah di luar akal sehat. Seorang pelajar yang tugasnya belajar, belajar akhlak dan moral malah menggunakan senjata tajam dengan hanya gengsi dan setia kawan hendak menghancurkan masa depannya sendiri dan juga masa depan orang lain.
Raka jadi berpikir agar bertambah ketat untuk memberikan materi agama dan motivasi kepada para siswa agar menjauhi perbuatan-perbuatan kriminal dan juga kekerasan, termasuk bullying. Masa depan bangsa ini tentu saja ada di tangan para pemuda, seberapa hebat pemuda sekarang merupakan wajah masa depan Negara ini selanjutnya.
Tugas moral itu tentu saja menjadi tugas siapa saja; pendidik, orangtua dan juga pemuda itu sendiri untuk bisa memperbaiki diri sendiri.
Bu Iffah menceritakan bahwa ada 7 orang yang terluka cukup serius dan di rawat di rumah sakit, diantaranya pak Raka. Polisi juga menyelidiki, siapa saja para siswa yang menggunakan senjata tajam. Polisi juga sudah menyelidiki kasus ini tentang sekolah mereka dengan sekolah yang bersengketa.
Mencari titik temu dan juga mencari penyelesaian yang baik agar ke depannya kasus tawuran seperti itu tidak terjadi lagi.
Raka juga menanyakan pada Rani apakah dia juga baik-baik saja dan tidak ada yang terluka? Rani pun menjelaskan pada gurunya itu bahwa dirinya cukup syok karena pada saat kejadian tawuran dia berniat untuk memanggil temannya agar menjauh dari tawuran. Temannya adalah siswa pria, namun saat mendekat tiba-tiba bentrok sudah berada di sekelilingnya sehingga bu Iffah juga mendekatinya dan hendak menolongnya.
Apesnya, mereka malah terjebak diantara siswa yang saling berkelahi. Saat itulah Raka datang untuk memberi jalan pada mereka dan menghindari dari tawuran tersebut.
Raka mendapatkan izin khusus dari sekolah soal libur hingga lukanya sembuh. Pihak sekolah juga mengucapkan terimakasih dan bangga karena Raka berani melakukan aksi untuk mencoba melerai tawuran. Pihak sekolah atau kepala sekolah juga meminta maaf karena belum sempat mengunjungi Raka dan baru titip salam karena mengurus urusan yang lain pasca tawuran yang terjadi tersebut.
Mereka terlibat obrolan yang seru bahkan sesekali Raka masih bisa bercanda dengan Iffah dan murid mereka Rani. Tak ada lagi canggung dan mereka seolah sangat dekat, hingga beberapa kali mata Raka dan Iffah saling bertatapan sejenak dan seolah ada magnet yang mereka rasakan diantara mereka.
Apakah hal itu merupakan langkah awal mereka akan semakin dekat? Kejadian-kejadian yang sering mereka alami tentu saja menggambarkan kalau mereka memang ditakdirkan untuk saling berbicara dan banyak berkomunikasi. Biasanya, seringnya berkomunikasi akan menimbulkan rasa keakraban dan bisa berubah menjadi perasaan suka.
“Pak Raka dan bu Iffah sepertinya cocok kalau saling bicara,” suara gurauan Rani seolah mengagetkan semua orang yang berada disana. Dasar bocah! Tiba-tiba saja merusak suasana akrab menjadi keheningan yang tercipt sesudahnya.
“Benar kan?” Rani semakin menggoda.
“Hush! Anak remaja sekarang memang ya, belum saatnya kamu tahu hal urusan orang dewasa!” Raka menimpali segera agar suasana tidak semakin canggung. Dan semuanya kembali tertawa dan mengobrol renyah.
Hingga, seorang perawat datang untuk mengecek kondisi Raka. Iffah pun undur diri bersama dengan Rani dan mendoakan kesembuhan untuk pak Raka agar cepat kembali lagi mengajar di sekolah. Raka dan Ibunya pun mengamini.
Mereka pamitan. Perawat pun memeriksa kondisi Raka, dan dia mencatat beberapa hal kemudian memberi pesan beberapa hal kepada Raka dan Ibunya soal menjaga tubuh Raka dan beristirahat yang cukup. Setelah itu, perawat itu pun juga undur diri.
Suasana rumah sakit yang tenang memang disediakan khusus agar jiwa juga menjadi tenang, agar mereka bisa merefresh pikiran dan akhirnya bisa cepat pulih dari sakit yang mereka derita.
Sungguh, ketenangan adalah obat dari segala sesuatu. Maka itu, Quran juga mengajarkan agar jiwa itu tenang dan tidak merasa tamak dan iri pada apapun, di dalam jiwa yang jernih raga akan mengikuti untuk sehat.
Subhanallah.