Bidadari untuk Raka

Pertemuan saat Dhuha

Suasana sekolah saat istirahat terlihat riuh dimana-mana. Raka mengajar sebagai guru honor di SMA. Memang, beberapa tahun ini selalu peraturan dari pemerintah yaitu moratorium yang artinya tidak ada penerimaan pegawai negeri sipil untuk jalur umum, kecuali jalur khusus. Namun, kemarin jalur umum dibuka sekali dan formasinya sedikit, termasuk bu Iffah masuk dan diterima di sekolah yang sama dengan Raka. Saat itu, Raka tidak ikut tes, entah kenapa Raka ingin hanya mengajar dan fokus urusan lainnya dan tidak ingin full menjadi guru, karena dia juga mengajar TPA dan berniat berwiraswasta.

Raka keluar dari kelas, waktu dhuha. Saat isitrahat, Raka akan ke mushola untuk shalat dhuha. Waktu yang tepat untuk kembali menghadap Rabbnya.

Raka melepas sepatu dan kaos kakinya, meski istirahat hanya sekitar 15 menit namun masih cukup untuk melakukan shalat sunnah dhuha. Karena, barang siapa hanya melakukan minimal shalat dhuha 2 rekaat saja, maka itu cukup mengganti sedekah setiap ruas tubuhnya.

Raka pernah mendengarkan pengajian dan juga membaca buku bahwa shalat dhuha memiliki keutamaan tersendiri untuk kaum muslimin. Abu Dzar ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Setiap persendian yang ada di dalam tubuh kalian mengandung nilai sedekah. Setiap ucapan tasbih adalah sedekah. Setiap ucapan tahmid adalah sedekah. Setiap ucapan tahlil adalah sedekah. Setiap ucapan takbir adalah sedekah. Memerintahkan orang untuk melakukan kebaikan adalah sedekah. Melarang orang melakukan kemungkaran adalah sedekah. Semua itu cukup terpenuhi dengan dua rekaat shalat dhuha yang ia kerjakan.” (HR. Muslim dan Abu Dawud).

Shalat dhuha artinya menjadi penting ketika seseorang dalam bersedekah terhadap persendian dalam tubuhnya, selain itu juga cukup dua rekaat sudah merupakan ibadah sunnah yang sangat dicintai Nabi saw., jika saja orang mengetahui kemulyaan shalat dhuha, mereka pasti akan melaksanakannya dengan minimal dua rekaat.

Nabi saw. juga bersabda, “Di dalam tubuh manusia terdapat tiga ratus enam puluh persendian. Ia harus menyedekahi setiap persendian itu.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang dapat melakukannya, wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Memendam ludah (membersihkan kotoran) yang ada di dalam masjid (adalah sedekah) dan menyingkirkan aral (pengganggu) dari jalanan (juga merupakan sedekah). Jika ia tidak dapat melakukannya, maka ia cukup mengerjakan dua rekaat shalat dhuha.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Perihal hal ini, Syaukani menjelaskan tentang keutamaan shalat dhuha, sama dengan tiga ratus enam puluh kali sedekah. Dalam riwayat yang lain, Nabi saw. menganjurkan untuk shalat dhuha empat rekaat. (HR. Hakim dan Thabrani).

Raka segera mengambil tempat di mushola sekolah itu, berdiri dan melaksanakan shalat dhuha yang di bawah lantai memang sudah digelar sajadah panjang. Shalat dhuha adalah kenikmatan bagian hamba dengan Tuhannya saat waktu menjelang siang terik.

Suatu hari, Nabi saw. ketika melihat pasukan yang pulang cepat dan mendapatkan ghanimah banyak. Nabi saw. bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan akan orang yang perangnya paling cepat selesai, paling banyak harta rampasannya dan paling cepat pulang? Yaitu orang yang berwudhu, kemudian berangkat ke masjid untuk mengerjakan shalat dhuha adalah orang yang perangnya paling cepat selesai, paling banyak harta rampasannya dan paling cepat pulang.” (HR. Thabrani).

Shalat dhuha diberi sinyal oleh Nabi saw. Sebagai orang yang berperang lebih cepat dan harta rampasannya paling banyak serta paling cepat pulangnya. Sungguh beruntung orang yang melaksanakan shalat dhuha tersebut.

Shalat dhuha adalah ibadah yang disunnahkan. Siapa yang ingin mendapatkan kemuliaan shalat dhuha, hendaknya ia kerjakan. Apabila tidak dikerjakan maka tidak berdosa.

Untuk masalah waktu dalam melaksanakan shalat dhuha ini dimulai ketika matahari meninggi setinggi ujung tombak (sekitar pukul setengah delapan pagi) dan berakhir ketika matahari bergeser dari tengah hari (waktu dzuhur). Disunnahkan mengerjakan shalat dhuha ketika matahari sedang meninggi dan ketika panasnya menyengat. Zaid bin Arqam ra. berkata, “Rasulullah saw. datang mengunjungi penduduk Quba (jaraknya sekitar dua mil dari Madinah) ketika mereka sedang mengerjakan shalat dhuha. Beliau bersabda, “Shalat orang-orang yang bertobat adalah di waktu dhuha ketika anak-anak unta merasakan panasnya matahari.” (HR. Muslim dan Ahmad).

Sedangkan untuk jumlah rekaat sendiri adalah minimal dua rekaat. Perbuatan Nabi saw. menunjukkan bahwa maksimal beliau shalat dhuha adalah delapan rekaat. Beberapa ulam, diantaranya Abu Ja’far ath-Thabrani, Malimi, dan Ruyani dari kalangan penganut madzhab Syafi’i berpendapat tidak ada batas maksimal. Iraqi berkata, “Aku tidak mengetahui dari seorang sahabat pun atau dari seorang tabiin pun bahwa Rasulullah saw. membatasi rekaat shalat dhuha dengan dua belas rekaat.” Demikian juga Suyuthi, berpendapat sama.

Hasan pernah ditanya apakah para sahabat mengerjakan dhuha, dan beliau menjawab, “Ya. Di antara mereka ada yang mengerjakan dua rekaat, ada yang mengerjakan empat rekaat, ada juga yang mengerjakannya sampai tengah hari.”

Ibrahim an-Nakha’i meriwayatkan bahwa ada orang yang bertanya kepada Aswad bin Yazid, “Berapa rekaat aku mengerjakan shalat dhuha?”

Aswad bin Yazid menjawab, “Sekehendakmu.”

Ummu Hani meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. mengerjakan shalat dhuha sebanyak delapan rekaat. Beliau mengucapkan salam pada akhir setiap dua rekaat. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Aisyah ra. berkata, “Rasulullah saw. mengerjakan shalat dhuha sebanyak empat rekaat, lalu beliau menambahnya.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah).

Raka pun mengingat dengan baik pahala dan keberkahan dalam melaksanakan shalat dhuha. Maka, dia menggenapkan empat rekaat, meskipun tidak 8 atau 12, namun dia merasa bahwa waktu istirahat tidaklah panjang sehingga dia juga harus mengerjakan tugas lainnya.

Ibadah itu adalah sesuatu yang memudahkan dan menyenangkan. Lebih baik rutin walaupun sedikit ketimbang ibadah banyak namun tak konsisten dan kadang dilaksanakan dan lama kemudian ditinggalkan sepenuhnya.

Tawakkal itu adalah keistiqomahan, ketakwaan itu rutinitas yang baik dalam beribadah.

“Assalamu’alaikum warrahmatullah….”

Raka pun menyudahi shalat dhuhanya dengan mengucapkan salam. Genap empat rekaat dengan dua rekaat salam dan mengulanginya kembali dua rekaat.

Selesai shalat, Raka berdzikir semampunya dan segera beranjak hendak meneruskan aktifitasnya yang lain. Rasanya, setelah shalat hidup menjadi tenang, hati menjadi lapang, dan tentu saja kesegaran didapatkan.

Saat hendak melangkah meninggalkan tempat duduknya, Raka melihat sesosok wanita juga tengah selesai melaksanakan shalat dan melipat mukenanya. Tanpa sadar, mata Raka penasaran dan melihat wajah itu. Wajah yang cantik bagai pualam di timpali sinar bulan, wajah milik Iffah Inshira, guru baru di sekolah itu.

“Pak Raka sudah selesai juga?” wajah bu Iffah melihat wajah Raka, kedua mata mereka bertatapan sejenak namun segera beralih ke yang lain, keduanya sedikit canggung.

“Iya Bu, Alhamdulillah. Ibu rajin shalat dhuha juga ternyata.”

Tentu saja, jarang sekali Raka melihat ada seorang guru yang shalat dhuha saat istirahat. Biasanya, dia selalu sendirian. Meskipun kadang, dia mengajak rekan-rekan guru yang lain, namun hanya sekedar mengajar dengan halus jika pun tidak mau maka mungkin suatu saat mereka akan sadar juga akan pentingnya melaksanakan shalat sunnah.

Bibir merekah milik Iffah mulai bergerak menjawab, “Alhamdulillah, saya mengazamkan untuk melaksanakan shalat dhuha rutin Pak. Semoga Allah mempermudah jalan hidup kita, amin.”

Raka pun ikut mengaminkan, namun hanya Allah yang tahu betapa dadanya berdenyut lebih cepat. Entahlah, apakah Allah sudah mengobati hatinya yang terluka kemarin lebih cepat dengan adanya kehadiran sosok wanita baru yang bisa membuatnya dapat mengobati luka?

Atau, apakah ini jodohnya?

Raka menghirup napasnya lebih dalam dan menghembuskan perlahan.

“Baik bu Iffah, mari kita kembali ke kantor. Sepertinya, sudah mau masuk lagi.”

Iffah mengangguk dan menaruh mukenanya di tasnya, menentengnya untuk dibawa juga.

Raka lebih dulu keluar menuju pintu mushola, lebih baik lelaki yang berjalan di depan jika itu bukan muhrim karena akan lebih membawa keselamatan dari syahwat.

Iffah menyusul keluar, dilihatnya punggung lelaki itu. Ada perasaan yang aneh juga dirasakan oleh Iffah. Ada harapan yang tiba-tiba menyeruak di hatinya. Harapan bahwa dia ingin seorang imam untuk menjadi suaminya adalah seorang yang memang memegang syariat Islam dengan baik. Dia bahkan dalam hatinya segera berdoa, semoga lelaki di depannya itu adalah jodohnya.

Amin.

Hati Iffah dengan cepat mengamini tanpa dia sadari.

Lagi-lagi Iffah juga menghirup udara dan menghembuskannya perlahan, tidak terlalu berlebihan namun sebagai seorang wanita tentu dia merasa kebiasaan yang kurang tepat jika wanita yang memulai hubungan. Iffah berpikir menjadi wanita itu memang lebih sulit, karena kebanyakan menunggu dan bukan mengungkapkan maksud.

Iffah berdoa, agar dia dipertemukan dengan lelaki shalih, bahkan jika bisa lelaki itu adalah Raka. Iffah pasti akan sangat bahagia jika itu terjadi. Pikiran Iffah melayang. Dia pun segera tersadar dan mengucap istighfar dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil.

Kabulkan ya Allah.

Senyuman itulah yang menyertai doa Iffah, baginya Raka merupakan sosok yang bisa menjadi imam yang baik karena dia juga mengetahui bahwa lelaki itu mengajar mengaji dengan meluangkan waktunya pada anak-anak SMA yang mau mengaji dan memang belum bisa mengaji sambil memberi pelajaran agama dan kajian Islam.

Lelaki yang sangat diidamkannya.

Iffah pun memakai sepatunya, Raka sudah meninggalkannya dan terlihat punggungnya dari jauh.

Sudahlah! Biarlah Allah yang menentukan takdir jodohku.

Iffah pun kembali tersenyum dan menatap langit. Di pakainya kaos kaki dan sepatunya lalu menuju arah kantor, para siswa masih terlihat ramai, ada yang bermain dan ada pula yang hanya sekedar mengobrol duduk-duduk di depan kelas atau di taman.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!