Bidadari untuk Raka
Pernikahan Iffah
Launching aplikasi sudah dilaksanakan, sambutan yang sangat baik didapatkan Raka dan Sarah. Tulisan Sarah banyak diminati dan di dalam aplikasi ada layanan islami seperti; membaca Quran, kajian, dan layanan Islami lainnya.
Dalam beberapa hari saja, para pengguna smartphone banyak yang sudah menginstalnya dan memberikan penghargaan pada penulis yaitu Sarah. Sarah tak menduga bahwa kak Raka mampu membuat karyanya banyak dibaca banyak orang melalui kemajuan teknologi saat ini.
Dan, pendapatan iklan mereka secara transparan dibuka oleh Raka. Pendapatan dari iklan dan penataan sangat tinggi. Bahkan, beberapa perusahaan sudah menghubungi Raka lewat email untuk berkontrak dalam hal iklan.
Raka sangat senang, pembagian uang sudah mereka bicarakan agar dibagi dengan adil. Mereka mempersiapkan untuk mencari tenaga kerja untuk mengelola website web view untuk aplikasi.
Mereka berdua optimis dengan hal itu, pendapatan tiap hari sudah tersedia untuk dilihat. Raka tetap mengajar dengan pengabdiannya sebagai guru, dan Sarah tetap menulis dan menghasilkan banyak novel baru.
***
Raka meminta Ibunya untuk mengantarnya ke acara pernikahan bu Iffah. Rahmiza paham tentang perasaan Raka yang sempat memiliki hati dan datang ke rumah Iffah. Raka sudah menceritakan tentang penolakan dari orangtua Iffah.
“Kamu harus bersabar, Raka. Takdir Allah itu selalu indah untuk orang beriman.”
“Terima kasih Ibu.”
Keduanya bersiap dan mengendarai motor dan Raka memboncenga Ibunya tersebut. Raka tak pernah malu untuk bepergian bersama Ibunya, sebagian orang mungkin malu ketika bepergian bersama Ibunya. Hal itu tidak berlaku untuk Raka, dia bahagia bersama Ibunya kemanapun Ibunya ingin pergi.
Saat mereka masuk ke acara, persiapan akad sudah hampir siap. Raka melihat ayah dari Iffah yang datang menyambutnya.
“Terimakasih untuk kedatangannya, kamu pria yang hebat!” ucap sang ayah pada Raka ketika. Lelaki setengah baya itu memakai jas setelan resmi dan menyalami Raka.
“Sama-sama, Bapak. Semoga, bu Iffah mendapatkan lelaki yang mampu menjaganya dengan baik.”
“Amin,” ucap lelaki tua itu datar.
Rahmiza tidak mau ikut berkomentar, dia tahu betul bahwa lelaki itu yang menolak Raka. Rahmiza ikut mengucapkan selamat dan mencari tempat duduk lainnya yang nyaman.
Setelah duduk, Raka melihat wanita yang keluar dengan rombongan dari rumah dalam. Dia keluar memakai pakaian pengantin yang begitu indah, rombongan di belakangnya pun membantunya untuk berjalan menuju ke ruangan tempat akad akan diselenggarakan.
Raka sempat takjub melihat kecantikan wanita itu, Iffah. Wanita itu memang cantik, dan Raka mengakuinya. Raka menundukkan pandangannya lagi, dia beristighfar. Setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing. Rahmiza mengusap pundak anaknya perlahan. Mereka pun berpandangan.
“Ibu yakin, suatu hari nanti. Bidadari paling indah dari dunia ini akan Allah anugerahkan padamu, Raka.”
Anggukan disertai senyuman Ibunya membuat hati Raka tenang dan sejuk. Benar, tidak perlu mengharapkan sesuatu yang melebihi keinginan kita. Karena, keinginan kita hanyalah bagian dari manifestasi yang Allah anugerahkan kepada para hambaNya.
Pandangan Iffah sempat melihat sekeliling dan dia pun melihat Raka, mereka berpandangan. Namun, Iffah segera mengalihkan pandangan dan dia merasa bahwa sudah tidak ada harapan dirinya dengan Raka.
Jodoh untuk Iffah sudah datang, rombongan pengantin pria sudah terlihat di luar dan sudah bersiap dengan rombongannya. Iffah pun harus fokus pada kehidupannya. Dia sudah melihat bagaimana Raka tidak memiliki kesungguhan untuk mendapatkannya, jadi Iffah menerima lelaki yang benar-benar siap dan mau memperjuangkannya.
Rombongan pengantin pria pun diterima. Lelaki itu bernama Danang Adiputra, dia adalah seorang camat di salah satu kecamatan di sana. Dan, orangtua Iffah sangat menyetujui pernikahan tersebut.
Iffah tak bisa menolak lagi, dia tak punya alasan. Dia juga melihat kesungguhan Danang dalam meminangnya dengan kesungguhan dan cinta. Pada akhirnya, Iffah harus melupakan nama Raka dari hatinya.
Pernikahan pun berjalan dengan lancer dan tertib. Raka dan Ibunya berpamitan pada kedua mempelai di pelaminan, Raka mengucapkan selamat pada Iffah bersama ibunya.
Mereka pun pamitan, dan dari jauh, Raka masih harus menata hatinya kembali. Jodoh sudah ditentukan semenjak kita belum diciptakan. Artinya, Iffah bukanlah bidadari yang dipersiapkan untuk Raka di dunia ini.
Bismillah.
“Ayo pulang, Ibu,” Raka bersiap dan menata motornya agar Ibunya mudah menaikinya.
“Kamu tidak apa-apa, Anakku?” Tanya Rahmiza menatap puteranya itu.
Raka tersenyum, “Insyaallah, semua berjalan dengan baik, Ibu.”
Keduanya pun pergi, meninggalkan kenangan. Dan, semua hal di dunia ini hanya akan menjadi kenangan dan pertanggungjawaban di akhirat nanti.