Bidadari untuk Raka
Awal Chat
Raka tak berani bergerak, matanya lurus menatap kedua mata Iffah yang ketakutan dan pucat tersebut. Raka memberi kode dengan anggukan kepada Iffah agar dia tenang karena semua pasti berlalu dan akan berjalan dengan baik. Anggukan Raka terus dilakukan perlahan, dan Iffah pun menganggukkan kepalanya perlahan sebagai bentuk kepercayaan dan mencoba menenangkan dirinya.
“Beri saya jalan!”
Teriak lelaki bertubuh besar itu. Dia berpikir begitu hancur harinya kali ini, padahal dia diundang oleh dua temannya itu karena lancarnya penjualan mereka yang dilakukan pada anak sekolah. Beda cerita pada orang kaya, kadang mereka harus bersembunyi dalam melakukan transaksi kecil sekalipun. Kali ini, dia ingin melihat anak-anak sekolah yang mengkonsumsi tetapi malah berakhir kacau.
Beberapa polisi di depan membuka jalan, lelaki bertubuh agar besar itu agak mendorong tubuh Iffah ke depan hingga terdorong. Lelaki itu terus menodongkan pistol rakitannya dan seolah wajahnya garang memanas ingin melahap yang melawannya. Meskipun, tangannya juga terlihat gemetaran.
Perlahan, lelaki itu melewati para siswa dan salah satu rekannya yang masih mengerang kesakitan. Lelaki besar itu tak peduli lagi, dia harus menyelamatkan dirinya sendiri.
Dia terus melangkah. Di sisi kiri, ada dua polisi yang sudah membuang senjatanya ke bawah karena dipaksa olehnya tadi. Dia terus berjalan dan akhirnya di sisi kanan jalan ada Raka yang mengangkat kedua telapak tangannya ke depan. Tanpa ragu lagi, lelaki bertubuh besar itu mulai mempercepat langkahnya sambil mendorong wanita yang disanderanya.
“Ayo cepat!”
Ketika tepat melewati Raka, Raka menangkap saat benar-benar lengah. Dulu dia pernah berlatih beladiri sehingga paham saat seseorang lengah, dan dia mencari waktu yang tepat untuk membebaskan bu Iffah.
Saat teat di hadapan dan posisinya sangat dekat dengan Raka, penjahat itu tak mengira kalau Raka sudah bersiap. Saat lelaki besar itu mendorong pundak Iffah sekali lagi agar lebih cepat, arah pistolnya pun berubah ke belakang kepala Iffah dan tidak tepat di kepala. Saat itu, kedua tangan Raka langsung menuju arah pistol tersebut dan dengan kedua tangannya Raka memelintir langsung sehingga arah pistol itu kini mengarah keatas.
Polisi yang lain sigap dan menyerbu kearah Raka. Lelaki gemuk itu mengerang kesakitan karena tangannya dipelintir. Iffah terlepas dan Raka menjatuhkan lelaki itu ke belakang dan membentur tanah, pistol terlepas dan polisi segera meringkus penjahat itu dengan cepat.
Keadaan bisa diatasi, lalu bu Iffah?
Saat penjahat itu sudah diamankan petugas, Raka bangun dan melihat Iffah sudah diamankan oleh salah seorang polisi dan dibawa menjauh. Alhamdulillah, begitu ucap Raka dalam hatinya.
Dua orang penjahat juga dibekuk, satunya yang sudah tertembak sedari awal. Beberapa siswa dari empat sekolah itu pun diamankan petugas untuk dimintai keterangan lebih lanjut dan sebatas mana keterlibatan mereka dalam kasus itu. Dengan penangkapan itu juga, diamankan beberapa plastik yang di dalamnya adalah narkoba.
Pembersihan pun pasti akan segera dilakukan Polisi, interogasi itu akan membawa mereka pada kasus yang lebih besar atau orang yang memang memegang kendali atas penjualan narkoba serta menguak jaringannya.
Raka melihat kearah Seto, Raka tersenyum dan mengangguk. Berkat dia juga kasus ini dapat selesai. Raka pun membesarkan mental para siswa karena setelah ini mereka harus berubah dan meninggalkan konsumsi narkoba. Mereka diharapkan oleh Raka memberikan kesaksian yang sebenarnya agar mereka tak mendapatkan masalah dan hanya mendapatkan rehabilitasi semata.
Raka pun kembali ke sekolah terlebih dahulu untuk memberitahukan kepada Kepala sekolah dan lainnya soal insiden tersebut. Dia juga ditemani salah satu polisi dan menjelaskan pada pihak sekolah terkait insiden penangkapan tadi.
Pihak sekolah berterimakasih dan merasa senang, namun Polisi itu menyebutkan jika Pak Raka yang memang sejak awal menyelidiki dan paham kalau akan ada pertemuan diantara mereka.
***
Kabar penangkapan para pemasok narkoba kepada para siswa itupun akhirnya membuat berita memanas. Banyak yang mengecam para penjahat penjual narkoba agar dihukum seberat-beratnya. Mereka sudah cukup banyak membuat masalah dengan pamalakan, ternyata hanya untuk membeli dan memakai narkoba. Sungguh ironis.
Kasus-kasus bullying pun diharapkan berakhir karena memang premanisme di sekolah tidak layak dan tidak bermoral. Sekolah kembali nyaman, bahkan tak ada lagi laporan yang masuk ke Raka soal ada pemalakan atau lainnya.
Seseorang siswa mendekati Raka yang baru saja melakukan shalat sunnah. Dia adlah Farel.
“Pak Raka hebat!”
Begitu katanya ketika sudah berbincang agak lama.
“Biasa aja Farel, kita sebagai manusia harus saling membantu bagi yang kesusahan dan melawan kejahatan yang merusak kehidupan.”
Aku dengar cerita dari rekan-rekan yang disana waktu itu, mereka melihat pak Raka keren ketika merobohkan penjahat itu. Lagi-lagi pujian dari Farel.
“Kamu ini Farel, sudahlah, itu sudah menjadi kewajiban kita dan kamu juga harus berpikir seperti itu ya ke depannya.”
Farel pun tersenyum dan mengucapkan Insyaallah. Farel semakin kagum dengan sosok gurunya itu, karena selain ketika memberi pelajaran dengan metode fun dia sangat baik kepada setiap siswa dan juga toleransinya tinggi.
“Oya, bagaimana kabar Kakakmu, Nisa?” Raka mencoba mengalihkan pembicaraan lainnya dengan menanyakan kabar Nisa yang merupakan kakak dari Farel dan sedang menyelesaikan pendidikan dokternya.
“Dia baik Pak, bahkan sesekali dia membicarakan Bapak lho,” kini, Farel yang menggoda gurunya itu. Dia sangat ingin jika pak Raka bisa berjodoh dengan kakaknya, Nisa. Dia bahkan bersikeras ingin menjadi mak comblang, ada ada saja.
Namun, godaan dari Farel itu ternyata mampu membuat dada Raka bergemuruh. Meskipun benar atau salah, detak jantungnya seolah berdesir. Wanita secantik dan sepintar Nisa bahkan mau membicarakannya? Hati Raka jadi berbunga-bunga.
Raka pun segera menepisnya, tak baik berharap berlebihan sedangkan dia adalah orang yang bisa dibilang biasa dan tak punya harta, sedangkan Farel dan Nisa adalah dari keluarga kaya.
“Oya pak Raka, bolehkah nomor hanphone Bapak saya berikan pada Kakak saya? Saya harus izin dulu pada Bapak, soalnya kakak saya meminta izin dulu.”
Raka semakin berdebar kembali jantungnya, “Ba… baiklah, tidak apa-apa jika memang kakakmu ingin ada keperluan dengan Bapak, bisa langsung menghubungi saya.”
“Terimakasih Pak, jadi nanti kalau Kakakku kirim pesan, jangan kaget ya.”
Farel tersenyum, Raka pun menggelengkan kepalanya pelan. Dasar, anak sekolah sekarang pintar menggoda saja.
Mereka pun berpisah. Raka segera masuk ke ruang guru dan menaruh barang-barangnya di mejanya sendiri. Dia duduk dan merapikan sedikit tempatnya, sudah ada minuman yang tersedia di mejanya, ada minum air putih dalam kemasan dan juga teh dalam gelas yang ditutup atasnya.
Raka mengucap basmallah dan menyeruput tehnya, lalu menutupkan kembali tutup gelasnya seperti sediakala. Baru selesai mengucap hamdallah, hpnya bordering. Ada chat masuk.
Sebuah pesan masuk dengan nomor baru.
“Assalamu’alaikum, sudah sehat pak Raka? Maaf, ini nomor saya, Nisa Febriansyah. Jika memang diperlukan tolong save nomor saya.”
Jantung Raka berdebar-debar seketika, baru saja dibicarakan ternyata orangnya langsung menghubunginya melalui pesan.
Raka sedikit gemetar hendak membalas chat itu, mau membalas apa seolah dia jadi grogi sendiri. Sudah lama rasanya dia kehilangan momen ini, momen ketika dirinya pernah memiliki hubungan dengan Azkia dan semuanya berakhir.
Raka bersiap hendak membalas, dia sudah mulai menulis salam untuk menjawab pesan dari Nisa.
Tut tut!
Sebuah pesan masuk kembali. Nomor lain yang memang sudah disimpannya beberapa hari yang lalu. Nomor milik bu Iffah. Raka terpaksa membuka pesan baru, siapa tahu ada yang penting.
“Pak Raka sudah makan siang? Sekali lagi, terimakasih karena entah kenapa setiap kali aku merasa begitu banyak berhutang budi pada Bapak. Terimakasih lagi kalau saya kurang bisa mengucapkan dengan benar karena beberapa kali Bapak menolong saya.”
Pesan dari Iffah? Degup jantung Raka ikut memburu, dag dig dug!
Kenapa bisa hati Raka berdegup demikian hebat pada dua pesan dari dua wanita yang berbeda dan bahkan di saat yang hampir berbarengan? Ada apa ini? Apakah kedua wanita tersebut telah menempati salah satu tempat di relung hati terdalam milik Raka?
Raka sendiri tak bisa menjawabnya, namun jujur diakuinya, keduanya memiliki pesona yang kuat dan memiliki cirikhas masing-masing. Tentu saja, jika harus memilih, maka Raka akan memilih untuk meminta petunjuk dari Tuhannya terlebih dahulu.
Namun, kenapa Raka merasa kepedean? Belum tentu mereka tertarik padanya, hanya saja mungkin mereka mengirim pesan karena memang penting.
Raka tersenyum sendiri sambil menggelengkan kepalanya perlahan.
“Lagi jatuh cinta pak Raka?” Suara Rudi, seorang TU yang biasanya membawakan minuman, dia dia sedang memberesi gelas yang sudah selesai diminum. Dilihatnya dari tadi Raka tersenyum sendiri dan melihat handphonenya.
“Ah! Bisa saja mas Rudi ini, jangan menggoda begitu dong Mas.”
Raka membela diri.
“Pak Raka kan ganteng, pasti cepet dapat penggantilah Pak. Saya doakan semoga segera mendapatkan isteri yang shalihah Pak. Amin.”
Raka tersenyum pada Mas Rudi, meski muda namun dia selalu baik dan sopan pada siapapun, “Amin ya Allah, semoga terlaksana segera Mas, makasih doanya ya.”
Di sekolah itu, semua sudah tahu akan kisah nelangsa Raka di hari pernikahannya. Raka yang sabar dan juga baik bisa mendapatkan takdir yang mendadak di pernikahannya. Semua di sekolah itu juga tentu sudah tahu, Raka orang yang sabar dan menerima musibah yang menimpanya dengan baik.
Selain itu, Raka juga seorang guru agama.
Raka melihat Rudi pergi meninggalkan kantor guru membawa beberapa gelas bekas teh yang kosong. Raka kemudian berdzikir dan mengingat kembali dua pesan yang barusan didapatkannya.
Perlahan, pesan itu dia jawab semua sekedarnya. Takutnya kalau kepanjangan malah dikira kepedean.
Bismillah! Raka memencet jawab pada pesan-pesan itu. Dia pun berdoa, agar Allah mempertemukan dirinya dengan bidadarinya secepatnya, agar perasaan dan hatinya lebih bisa terjaga karena sudah ada yang menempatinya.