Bidadari untuk Raka
Di Belakang Layar
Ada seorang siswa yang terlihat mengendap-endap, Raka sudah melihatnya dari tadi. Dari beberapa laporan yang bisa dipercaya, Roni adalah salah satu siswa yang kerap kali memalak siswa junior. Dia adalah kelas XII, laporan itu pun didapatakan Raka dengan rahasia dan tidak akan membongkar siapapun yang melaporkan kejadian janggal di sekolah yang dilakukan oleh siswa.
Raka juga mengendap tanpa diketahui oleh siswa tersebut, yang bernama Roni. Laporan dari beberapa siswa, Roni terkadang bersama para siswa dari sekolah lain melakukan pemalakan baik kepada siswa adik kelasnya maupun dari sekolah lainnya. Roni sendiri menggunakan uang dari hasil memalak untuk bersenang-senang bersama rekannya.
Roni terus berjalan keluar sekolah, dia bahkan melompati pagar belakang sekolah. Raka terpaksa mengikutinya, Roni bersama satu rekannya bernama Seto. Raka perlahan mengikuti terus, Roni melewati perkebunan kecil di belakang sekolah, banyak pohon rindang. Mereka terus berjalan dan akhirnya sampai di pinggiran jalan di dekat sebuah tiang listrik. Banyak para siswa sekolah yang melewati tempat itu untuk pulang atau membeli makanan dari banyak sekolah di sekitaran kampus tersebut.
Roni dan Seto membolos, Raka curiga dan terus mengikuti. Raka bersembunyi dari tembok di sebelah Roni dan Seto. Beberapa saat kemudian, datang juga tiga siswa dari sekolah lain bertemu dengan mereka.
Mereka terlihat akrab dan berbagi obrolan. Bahkan, Roni dan Seto juga meminta rokok dari 3 siswa yang baru saja datang tersebut. Terlihat asap mengepul ke udara, mereka bersantai dan mengobrol kesana-kemari.
Ketika ada siswa lewat dan memang tak bisa menghindari jalan itu, benar saja. Kelima orang itu memalak siswa SD, atau SMA atau SMA yang lewat disana. Mereka mengancam para siswa yang dipalak itu agar tak melaporkan pada siapapun karena mereka akan dihajar nantinya, mereka benar-benar mengancam.
Raka menggeleng. Benar-benar mereka itu. Tak habis pikir, ternyata hal seperti itu masih terjadi di zaman sekarang. Bukankah seharusnya pemuda itu malu meminta dan bekerja keras dengan kemampuannya sendiri.
Raka berencana untuk menangkap mereka dan memberi bimbingan konseling. Lalu, memanggil orangtua mereka dan meminta secara baik-baik agar membimbing para siswa dengan moral yang baik. Bukankah mereka hanya akan sekolah di SMA Cuma tiga tahun, sisanya mereka harus mulai bekerja jika tak mau kuliah, namun selesai kuliah adalah usaha yang akan digelutinya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya masing-masing.
Namun, belum sempat Raka akan bergerak. Dua orang lelaki dewasa datang dari arah berlawanan dengan Raka. Raka tak jadi pergi, dia memundurkan tubuhnya lebih mundur ke belakang lagi agar benar-benar tak terlihat. Tubuhnya tertutupi pohon lebat yang tumbuh di samping pagar-pagar di barisan tembok. Raka menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, setidaknya Raka ingin menguak kenakalan remaja dan seolah mobilitasnya massif untuk merusak citra sekolah itu sendiri.
Beberapa saat kemudian, datang dua orang dewasa kepada mereka. Wajah mereka nampak tenang dan sesekali tersenyum sinis. Seperti tak terduga, lima orang siswa itu seolah menunggu dua orang dewasa tersebut.
“Mana barangnya?” suara Roni yang seolah tak sabar hendak menagih sesuatu dari kedua orang dewasa yang baru datang tersebut.
“Sabarlah Bocah…, kau belum pantas membentak orang yang lebih tua, belajarlah sopan terlebih dahulu. Apalagi, kau ini masih sekolah,” lelaki yang memakai topi terlihat santai dan tersenyum, dia juga memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Dia merogoh sesuatu dan mengeluarkannya perlahan tepat dalam genggamannya yang dihulurkan ke anak-anak sekolah tersebut.
Para siswa itu sambil cemberut menerima bungkusan dalam genggaman itu, genggaman itu segera berakhir dan para siswa itu ternyata memberikan balasan berupa beberapa uang kepada mereka.
Apa sebenarnya yang sedang mereka perjualbelikan? Benar-benar mencurigakan, Raka masih tetap diam saja.
Mereka terlibat obrolan agak lama, hingga beberapa siswa tersebut juga meminta perlindungan jika ada masalah. Selain itu, dalam percakapan pelan itu mereka juga meminta suplai agar ketika membutuhkan barangnya ada.
Benar-benar mencurigakan.
Dua orang lelaki dewasa itu pun pamitan kepada para siswa itu. Seperginya dua orang tersebut, kelima siswa itu juga akhirnya berpisah. Roni dan Seto pergi meninggalkan tempat tersebut. Raka dari jauh membuntuti mereka. Mereka terus berjalan agak memasuki lahan kebun di dekat perkebunan yang memang ada di ujung kampus sekolah-sekolah.
Ada bangunan kosong di dekat pinggir pepohonan, rumah tak terpakai yang sudah tertutupi banyak rerumputan merambat. Mau apa mereka kesana? Raka semakin penasaran. Salah satu dari mereka, Roni mengatakan pada Seto untuk buang air kecil terlebih dahulu. Roni masuk ke belakang rumah kosong dan Seto menunggu dan masih di luar sejenak.
Kesempatan!
Seto yang tinggal sendiri, duduk di teras tua itu hendak menyulut rokoknya. Saat sedang menghidupkan korek apinya, Seto melihat sosok yang sudah mendekatinya. Sekitar 10 meter dari Seto, dia melihat sosok itu dan terkaget karena dia mengenal betul siapa orang yang sedang mendekatinya tersebut. Dia adalah seorang guru, pak Raka!
Tanpa bisa disadari, Seto terlihat kaget dan mengambil langkah seribu. Dia kabur. Raka awalnya hendak mengangkat tangannya dan memanggilnya baik-baik, namun reaksi murid itu, Seto malah melarikan diri. Raka terpaksa ikut berlari mengejarnya. Melalui kebun perkaretan, Seto terus berlari dan terus berlari. Raka juga tak berhenti, dia berlari, pasti ada sesuatu kenapa siwa itu malah berlari kencang.
Sementara itu, Roni menyelesaikan buang air kecilnya dan keluar dari belakang rumah kosong itu. Di lihatnya kesana kemari tak ada rekannya, dia mendesah. Pergi tak bilang, dia ditinggalkan sendiri. Biarlah! Roni pun mendorong pintu rumah kosong itu, tangannya masuk melalui celah jendela, dari sana dia dapat membuka kunci pintu dari luar karena hanya pengait yang bisa ditarik dari luar.
Pintu terbuka, Roni masuk dan menutup pintu kembali. Dia awalnya ingin bersama Seto tapi Seto sudah pergi. Dia pun meneruskan aktivitasnya di dalam rumah kosong tersebut.
Di sisi lain, Raka masih berlari menuju arah lari Seto. Beberapa kali Seto terlihat hampir jatuh, dia berlari tak tentu arah dan sebuah akar yang akan menonjol keluar berhasil membuatnya terjerembab jatuh dan dia bergulingan di tanah perkebunan karet yang luas itu. Raka mencapainya, dan saat Seto hendak bangun lagi hendak lari dia terhuyung dan baju sekolah belakangnya sudah dicekal oleh gurunya tersebut.
“Lepaskan Saya Pak, maaf Pak!” teriak Seto tak karuan, dia kelelahan dan terduduk lemas begitu saja.
Raka melepaskan cekalannya pada baju Seto dan ikutan duduk, dia juga kelelahan.
“Kenapa kamu lari?” Raka duduk di sebelah muridnya itu. Pasti ada sesuatu, dari sini, Raka berharap mendapatkan informasi penting.
“Ampun Pak, saya… saya hanya kaget tadi. Jadi saya lari Pak, benar Pak!” Sambil napasnya kembang kempis, Seto menselonjorkan kakinya. Dia benar-benar kelelahan, matanya pun terlihat sayu.
“Tunjukkan barang itu!”
Wajah Seto terlihat agak kaget, kenapa pak Raka bisa tahu soal barang?
“Mak.. Maksud pak Raka barang apa Pak? Saya tidak punya barang yang Bapak minta.”
“Sudah serahkan saja, Bapak tidak akan memarahimu dan tidak akan melaporkanmu. Bapak tidak akan menggeledahmu, cepat serahkan! Percaya pada Bapak.”
Seto sedikit ragu, tangannya gemetar memasukkannya ke kantong celana. Ada plastik kecil dan berwarna putih. Di dalamnya ada serbuk putih, Raka mengambilnya dari genggaman Seto. Seto tak bisa berkata apapun.
“Kenapa kamu melakukan hal ini Seto?”
“Maafkan Seto Pak…”
Seto tak bisa meneruskan kata-katanya. Raka melihat langit biru yang tertutupi dengan dedaunan tinggi menjulang di pohon karet tersebut. Anak-anak muridnya bisa terjerumus dalam hal buruk, tentu menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi para guru dan juga orangtunya untuk bisa memperbaikinya.
Raka pun berbicara panjang pada Seto, soal kenakalan remaja dan bagaimana bisa barang jahat itu bisa menjadi pelampiasan mereka. Seto pun menceritakan semuanya, dia tak bisa meninggalkan barang itu karena memang sudah kecanduan. Seto berharap pada pak Raka merahasiakan hal itu, tapi Raka bukan memenuhi permintaan Seto melainkan akan mencoba menyelesaikan kasus tersebut.
Seto menceritakan bahwa ada dalang dalam masalah ini, mereka adalah para pemain besar dan pemasok barang tersebut. Jika ada yang berani melaporkan atau bertingkah, maka akan bisa ditindak. Seto pun ketakutan.
Raka pun meminta Seto merahasiakan pertemuan mereka, dia berjanji akan menyelesaikan masalah ini dengan jalan terbaik. Namun, selama masalah ini masih akan diselesaikan, Seto diminta agar merahasiakan hal ini dan bertingkah seolah tidak ada sesuatu apapun. Seto diminta seperti biasa, namun diminta melupakan barang haram tersebut dan tak memakainya lagi.
Mereka pun berpisah, Seto kembali ke sekolah dan Raka mengambil jalur lain. Barang bukti sudah didapatkan, kini segelanya menjadi agak jelas. Kenakalan remaja yaitu para siswa juga dipicu dengan barang haram sehingga akal mereka bisa saja rusak. Dan, siapa saja yang terlibat dan sudah memakai barang itu pun membuat Raka harus bisa berpikir cermat untuk mengungkapnya.
Sekali lagi, Raka harus bekerjasama dengan pihak polisi dan membuat gerakan rahasia sehingga dapat menangkap dalang di belakang layar yang membuat para murid bisa menjadi brutal dan premanisme serta pemalakan yang sering terjadi pada para siswa.
Para siswa harus diselamatkan dari bahaya narkoba. Raka harus membuat rencana matang.