Andai Tiada Mertua

Syarat

“Syarat apa?” selidik Afnan merasa curiga.

 

Iwana terkekeh seraya bangun dari duduknya. “Rahasia.”

 

Dia lalu mulai membereskan perlengkapan miliknya dari atas nakas. Berjaga-jaga bila dokter mengizinkan Afnan pulang sore nanti.

 

Sementara sang mama sibuk berkemas, Afnan menatap langit-langit ruangan klinik 24 jam itu. Entah hanya ketakutannya saja atau syarat ini bakal menjadi salah satu ujian bagi biduk rumah tangganya dengan Ziya.

 

“Mama tahu batasan bukan? Jangan membuat syarat yang berat karena sesungguhnya islam mengatur pernikahan begitu mudah nan ringan,” terang Afnan dengan nada lembut saat mengingatkan sang Bunda. “Jangan pula membebankan sesuatu pada Ziya di luar kesanggupan. Allah saja tidak melebihi batas, masa kita sebagai manusia bertindak di atas kuasaNya,” pungkas sang anak, masih setia memandangi ceiling.

 

Meski hanya mendapat respon decakan dari Iwana, setidaknya Afnan harus terus mengingatkan ibunya agar tidak kebablasan.

 

Keduanya lantas saling diam. Afnan berbaring miring ke kanan sementara Iwana tidur di sofa panjang, memunggungi sang anak.

 

"Kamu selalu _over thinking_ sama Mama, Af!" bisik Iwana sembari memejamkan mata.

 

Setelah makan siang, dokter mengatakan bahwa Afnan diperbolehkan pulang. Akan tetapi, dia harus kembali ke klinik lusa nanti untuk cek kondisi pasca sakit.

 

Kekakuan hubungan yang tercipta di antara keduanya beberapa hari lalu perlahan mencair. Afnan masih membutuhkan perhatian ekstra Iwana selama masa pemulihan. Kerinduan sikap lemah lembut dari sang bunda, dia dapatkan kembali akibat peristiwa ini.

 

Karena kondisi tubuh yang kurang sehat, Afnan memberi kabar pada yai Efendi bahwa mungkin dirinya akan terlambat menyambangi As-shofa. Namun, Afnan menegaskan bahwa telah memegang restu Iwana, membuat pimpinan majlis itu sumringah.

 

Efendi mengatakan akan tetap menjaga Ziya sampai keluarga Afnan tiba. Jawaban gadis itu sudah dikantongi Salamah meski dirinya mengaku belum mengetahui secara pasti tentang keputusan Ziya.

 

Dua pekan berlalu begitu cepat, Afnan kembali mengabarkan pada sang guru, bahwa esok hari keluarga Chairi akan mengunjungi As-shofa. Efendi pun menerima niatan tersebut dan akan meneruskan pesan pada keluarga Ziya.

 

Pagi ini Iwana sibuk menyiapkan hantaran juga tanda ikatan bilamana Ziya menerima ajuan Afnan. Mereka akan menuju As-shofa jam 10 nanti. Di ruang keluarga, Afnan sedang memeriksa semua barang yang akan dia bawa nanti, ketika Aisyah-mantan adik iparnya mengajak bicara.

 

"Kukira akan rujuk dengan Yasmin, Kak," ucap Aisyah tersenyum manis melihat Afnan.

 

"Maksudmu?" Afnan mendelik tajam padanya. "Jangan ikut campur. Kamu telah menjadi orang luar sebab adikku telah berpulang. Hanya karena Arman, yang membuatku masih melihatmu,” ketus Afnan menohok tepat wajah Aisyah, membuat wanita muda itu tak berkutik.

 

Mungkin hanya Afnan yang tahu bahwa Aisyah adalah sahabat lama Yasmin. Mereka kembali dipertemukan sebab ikatan pernikahan dalam keluarga Chairi di mana keduanya menduduki posisi sebagai menantu Iwana.

 

Selama ini, Afnan menutup diri dari sorotan keluarga terhadap masalah rumah tangganya. Di sindir sebagai sumber penyebab perceraian pun Afnan tak ambil peduli. Langkahnya sebagai suami mungkin dinilai lamban bahkan seolah tidak memiliki martabat. Namun, lagi-lagi karena ingin menyenangkan Iwana, menjadi ganjalan utama setiap tindakan sang duda.

 

"Hmm, ma-af, Kak. Nggak ada maksud apa-apa." Aisyah menunduk, dia memilih pergi mencari Iwana. Afnan memang pria kaku dan selalu terdengar sinis bila bicara dengannya.

 

Segala persiapan telah matang, iringan mobil keluarga Chairi pun bertolak menuju Bogor. Satu jam perjalanan, akhirnya membawa rombongan tiba di As-shofa tepat jam 11 siang.

 

Yai Effendi memulai majlis silaturahim, tak lupa doa serta sholawat sebagai pembuka kata. Beliau kemudian meminta pihak Afnan menyampaikan maksud kunjungan siang ini. Sebagai perwakilan keluarga, sang paman lalu mengutarakan niat baik kemenakannya tersebut.

 

Dari balik tirai, Ziya mengamati seksama sosok pria yang dikenalnya sejak 10 tahun lalu. Pesona Afnan kini lebih terpancar, Ziya menunduk malu tak mengira jika kali ini lamaran datang dari seseorang yang memang dia puja.

 

"Bagaimana jawabanmu, Hanan?" tanya Yai Efendi menyebut nama Ziya, panggilan lazimnya di lingkup As-shofa.

 

Ziya berbisik pada putri Efendi yang menemani. Eiwa lantas menyampaikan balasan dari gadis ayu disebelahnya. "Alif lam mim, kata Hanan, Buya."

 

Mendengar jawaban itu, Efendi menyilakan Iwana bertemu Salamah, sembari menaikkan sedikit tabir agar Afnan dapat melihat calon istrinya secara jelas.

 

Iwana lantas menghampiri keluarga calon besannya guna menyampaikan syarat apabila Ziya menerima pinangan Afnan. Bersamaan dengan itu, kain vitrase perlahan naik dan mulai menampakkan sosok Hanani Ghaziyah yang masih menunduk.

 

Pandangan Afnan mengikuti pergerakan lambat tirai. Jantungnya mulai bergemuruh menunggu kepala yang tertutup hijab itu mendongak.

 

Deg!

 

Deg!

 

Deg!

 

Eiwa menepuk pelan paha Ziya sementara Salamah mendekap bahunya. Gadis berkerudung marun yang memiliki kulit putih bersih itu perlahan menaikkan dagunya.

 

Hening. Afnan membeku sesaat, begitupun Ziya. Keduanya bertukar pandang barang beberapa detik.

 

"Allahumma baarik," lirih Afnan saat kedua matanya bersitatap dengan manik kecoklatan milik Ziya.

 

Sret! Suara tirai kembali turun dengan cepat setelah beberapa saat saling pandang.

 

Melihat respon Afnan, sang paman lantas menyampaikan bahwa pihaknya memutus proses ta'aruf dan langsung mengajukan lamaran. Dia juga menyilakan Efendi untuk menentukan tanggal walimah.

 

Salamah menarik Ziya dalam pelukan, membisikkan wejangan singkat bagi sang putri. “Afnan itu duda, jangan pernah mengungkit masa lalu pernikahannya ya, Neng. Sabar jika dibandingkan dan baktilah pada suamimu." Salamah berpesan dengan nada sendu sambil mengusap punggung putrinya.

 

Hanani Ghaziyah hanya mengangguk samar, setitik butiran beningnya muncul diujung netra. Dia mengurai pelukan Salamah lalu menciumi pipi sang mama sebagai ungkapan rasa terima kasih.

 

Disaksikan oleh Eiwa, Iwana menyematkan gelang berlian di pergelangan tangan kiri Ziya. Setelah itu, dia mengutarakan sebuah keinginan. Dengan alasan sudah sepuh dan tak memiliki siapapun selain Afnan. Iwana meminta hal yang Salamah kuatirkan.

 

Salamah menggenggam erat jemari putrinya, nurani seorang Ibu tak dapat dipungkiri. Namun, dia tidak ingin mengusik keteguhan hati Ziya. “Neng,” bisiknya lembut.

 

Ziya menoleh ke arah ibunya, bermaksud meminta kekuatan dan mencari jawaban dari manik mata teduh Salamah. Gadis itu perlahan menarik nafas panjang, melirik Eiwa yang juga tengah menatapnya dengan cemas.

 

“In sya Allah, Ibu adalah Ibuku juga,” jawab Ziya tersenyum. Dia membalas erat tautan tangan Salamah, meminta dukungan bahwa ucapannya tidak keliru.

 

Atas signal penerimaan khitbah oleh Ziya, serta kesepakatan keluarga, Effendi menetapkan tanggal walimah pekan depan, setelah salat jum’at di As-shofa. Pertemuan antara dua keluarga pun berakhir saat azan duhur bergema.

 

Setelah makan siang, keluarga Chairi pamit undur diri. Afnan diizinkan bicara pada Ziya meski ditemani oleh Eiwa, ketika lelaki itu hendak masuk ke mobilnya.

 

"Maaf lama ya, Dek."

 

Ziya tak berani mengangkat kepala, dia malu. Juga, entah mengapa saat ini dirinya kehilangan suara.

 

"Apapun syarat dari mama, maukah kamu tetap bertahan denganku kelak, Zie?" kata Afnan pelan menunggu jawaban dari gadis yang baru menaikkan wajahnya.

 

 

.

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!