Andai Tiada Mertua
Galau
Afnan berusaha tenang. Kekerashatian Iwana takkan luntur bila dibalas dengan kekasaran, justru kian menjadi.
"Pilihan Mama pun belum tentu baik untukku, contohnya Yasmin. Maka kali ini izinkan memilih sesuai rasa hatiku,” ucap putra sulung Iwana melembut, meski terdapat ketegasan dalam kata-katanya.
"Bibit, bebet, bobot tetap lebih utama," tegasnya tanpa berkedip membalas pandangan Afnan. "Temui Shakira dulu. Suka atau tidak, itu keputusan mama.” Iwana bangkit, meninggalkan sang anak yang duduk termenung di ruang keluarga.
Afnan menyandarkan kepala di bantalan atas sofa. Mencoba kilas balik, apakah ada sikapnya yang pernah menentang keinginan sang mama.
Tak lama, dia pun bangun dari sana dan berniat pulang. "Baktiku takkan pernah putus, Ma. Tapi maaf, kali ini aku akan memperjuangkan Ziya," gumam Afnan saat baru melajukan mobil meninggalkan hunian masa kecilnya.
***
Beberapa hari setelah kepulangan Afnan, Efendi memanggil Salamah-ibu kandung Ziya ke majlis As-shofa untuk menyampaikan proposal muridnya itu.
"Afnan Chairi?" sebut Salamah ketika membaca sebuah nama dalam map yang dia pegang. "Nak Afnan yang ganteng dan kalem itu?" ulangnya lagi seraya melihat ke arah Efendi.
Tawa lebar pimpinan As-shofa itu menguar. Dia mengangguk pelan. "Iya. Kan ada fotonya," imbuh Efendi di sisa kekehan. "Selama mondok dan sekolah di sini, Afnan suka ngisi tadarusan sore hari," jelasnya lagi.
Sorot mata Salamah seketika mengembun. Dia mengenal sosok tersebut ketika membantu acara besar As-shofa. Yang sangat melekat dalam ingatannya adalah tutur kata lelaki itu selalu lembut. Tak ayal, membuat Afnan menjadi idola kaum hawa di sini.
Naluri keibuannya merasa kalau Ziya termasuk dalam barisan akhwat yang mengagumi Afnan. Dia seolah menunggu seseorang, sehingga setiap pria yang datang melayangkan lamaran, kerap ditolak menggunakan alasan klise.
Namun, Salamah terkejut ketika melihat status Afnan adalah duda. Apakah menghilangnya pria itu setahun belakangan berhubungan dengan hal ini? Pikirnya.
"Saya bawa ini ke Ziya dulu, Yai. Batas waktu memberi jawabannya sampai kapan?" tanya Salamah, sembari mendekap map di depan dada. Dia akan menjaga proposal ini dengan segenap jiwa raga, sebab hati mengatakan bahwa Ziya mungkin akan menerima pinangan sang pria.
Efendi mengangguk. "Dua pekan lagi. Selama masa menunggu, ana jaga Ziya untuk Afnan. Eceu jangan menerima pinangan dari pria lain, ya," ujarnya mengingatkan Salamah.
Wanita senja itu manggut-manggut antusias. Dia pun segera pamit dari kediaman Efendi. Salamah mengayuh kuat sepeda onthel tua miliknya melewati pematang sawah, meluncur cepat menyusuri jalan pintas penghubung antar komplek As-shofa dengan perkampungan penduduk.
Baru juga sampai di halaman depan rumah, dia berteriak memanggil Ziya. "Neeeeeeeng!"
Brak! Ibu kandung Ziya langsung turun dan membiarkan sepedanya rubuh begitu saja. Dia berjalan cepat memasuki teras.
"Neeeeeng!" serunya sekali lagi, dia bahkan lupa melepas sandal saat mengetuk pintu depan.
Ziya muncul dari samping rumah, tangannya menenteng satu keresek belanjaan dari warung. "Loh, Ibu ngapain teriak-teriak?" gerutunya sambil mencebikkan bibir. "Malu atuh kedengaran tetangga," sambung sang gadis ketika telah menyentuh teras.
Salamah dengan cepat menoleh ke sumber suara. Dia mengatur napas yang tersenggal sambil mengulas senyum saat putrinya mendekat.
Tangan sang ibu menarik lengan Ziya agar lekas membuka pintu. Dia tak sabar menyampaikan kabar penting nan bahagia untuk putri semata wayangnya ini.
"Ada apa sih?" Ziya terheran kala Salamah langsung menarik dirinya agar segera duduk di kursi kayu jati.
Salamah masih berdiri di hadapan Ziya. Dia langsung menyibak kerudung lebar yang dikenakan dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
Sebelum menyerahkan pada Ziya, dia mendekap map berwarna biru itu seraya bertanya, "Neng, masih ingat nggak dengan Afnan?" ujarnya sumringah seraya menarik turunkan satu alisnya.
Dahi Ziya mengerut. Tentu saja dia ingat, lelaki tersebut sangat menonjol di antara santri putra tingkat akhir waktu itu. Memiliki wajah tampan, tubuh tegap nan tinggi, penampilannya selalu apik, serta senyum menawan kerap terulas bila dia berpapasan dengan siapapun, membuat Afnan Chairi menjadi objek doa potensial di sepertiga malam bagi para akhwat.
Dirinya hanya gadis ingusan yang Afnan anggap sebagai adik kecil. Mungkin karena hal itulah, lelaki tampan itu leluasa berinteraksi dengannya bila dilibatkan dalam satu acara majlis, pikir Ziya.
Ziya diam, tak menyahuti sang bunda. Tatapannya tertuju pada sebuah benda yang didekap oleh Salamah. Perlahan, telunjuk lentik itu ikut terangkat.
"Itu apa, Bu?" tanya Ziya, melihat ke arah Salamah yang jua tengah menatapnya.
"Masih ingat nggak?" ulang Salamah.
Ziya mengangguk. "Kalau orang ganteng ya pasti ingat, lah." Dia tersenyum lebar hingga gigi gingsulnya terlihat.
Salamah memandang wajah ayu Ziya. Hatinya didera bimbang bilamana sang anak menerima pinangan ini dan Afnan membawanya pindah, dia bakal kesepian. Binar netra wanita senja itu, mulai berkaca-kaca lagi.
"Bu?" Ziya bangun, menarik lengan Salamah agar duduk disampingnya. "Ada apa, sih?"
Janda Hamdan Ghazi itu menggeleng, jemari Salamah mengusap pipi Ziya sesaat lalu mengulurkan berkas yang sedari tadi dipegangnya. "Baca yang tenang ya, Neng."
Hanani Ghaziyah menerima uluran map itu lalu membukanya. 'Apakah ini proposal?'
Deg!
Deg!
Deg!
'Afnan Chairi, cerai hidup ... Mas Afnan duda?' batinnya diikuti kernyitan di dahi. 'Inikah alasan dirinya menghilang?'
Ziya membaca tulisan di atas kertas sampai tuntas lalu menutupnya. Punggung ringkih itu dia sandarkan ke kursi sambil menghempaskan napas. Tak lama, Ziya bangkit dari sana, menyambar belanjaan di lantai tanpa membawa map tadi.
Salamah melongo, respon Ziya sungguh berbanding jauh daripada dugaannya. Dia pun gegas bangun menyusul sang gadis ke dapur.
"Neng? Kenapa?"
"Ehm, tak apa." Ziya menunduk, merapikan sayuran dan bahan lain di atas meja dapur. Dia sedang berusaha menahan air matanya agar tak jatuh.
"Nggak mau lagi?" cicit Salamah, sembari menggigit sudut bibir bagian bawah. Dia cemas bila pria inipun ditolak Ziya. "Nak Afnan, loh," lirihnya.
"Entahlah. Ziya belum kepikiran. Mau fokus kuliah, kerja dan nyenengin Ibu dulu," jawabnya langsung meninggalkan Salamah tanpa melihat wajah penuh harap sang mama.
Salamah mencelos, didera rasa bersalah. Apakah ekspresi wajah sedih tadi diartikan lain oleh Ziya, batinnya. "Neng?"
Brak! Suara pintu kamar Ziya.
Gadis itu berdiri dibalik pintu, jemarinya meremas hijab di dada dengan kepala menunduk. Sejurus itu, dua tetes air mata jatuh membasahi lantai kamar bertegel hitam.
'Mengapa dirimu datang di saat aku telah mantap bertekad untuk mengabdikan hidup sepenuhnya pada ibu?'
'Engkau terlalu tinggi bagi kami yang biasa, Mas. Inginku menolak, tapi kenapa hati ini malah sesak dan sakit?'
Tetes air mata yang jatuh kian deras, tubuh Ziya pun perlahan melorot menyentuh ubin yang telah basah. "Tak perlu kusebut namanya. Allah pun juga tahu bahwa aku sangat merindukannya."
Sementara di konveksi AF Design, waktu yang sama. Afnan tiba-tiba merasakan sesuatu tak nyaman menghimpit dada. Dia pun menjeda pekerjaannya sesaat lalu bangun dari kursi membuka balkon.
"Kenapa, ya?" gumam Afnan saat melempar pandang ke angkasa. "Inginku memiliki kisah bagai Sayyidina Ali dengan Sayyidatina Fatimah, bahkan setan pun tiada mampu mengendus cinta mereka sebab ketiadaan timbul nafsu. Apa kabar denganku, baru segini saja sudah mabuk kepayang."
Dia menggeleng kepala pelan sembari mengulas senyum. Bayangan Ziya memenuhi pikirannya sejak kepulangan kemarin.
Afnan teringat kriteria pasangan kala dirinya menginjak usia dewasa. Gambaran kesempurnaan kala itu tersemat apik dalam diri Hanani Ghaziyah. Gadis belia dengan rentang usia jarak 9 tahun sanggup mengisi kalbu Afnan yang tidak pernah mengenal cinta sebelum ini.
"Kamu sudah liat berkasku belum ya, Zie?" lirih Afnan saat bersedekap mendekati pagar balkon. Senyum manis masih menghias wajah tampannya. Dia bahkan telah jatuh cinta lagi, meski hanya sekadar melihat profil lengkap Ziya yang Efendi sodorkan.
Beberapa menit melakukan kontak batin dengan semesta, tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Afnan.
"Assalamualaikum."
.