Andai Tiada Mertua
Yasmin bangkit
"M-mas?" Suaranya sangat lirih, hanya terlihat bagai gerakan bibir samar saja.
Iris matanya masih menyesuaikan dengan cahaya ruangan. Dia tahu, ini bukan di ruang perawatan. Apakah dirinya kembali masuk ICU? Pikirnya ketika penggalan memori yang sama terulang lagi.
"Nyonya Yasmin?" Suara suster menepuk pipinya lembut, berharap pupil matanya kembali fokus. "Nyonya dengar suara saya?" ulangnya lagi.
Yasmin hanya mampu mengedipkan kedua matanya sebagai isyarat menjawab pertanyaan suster. Wanita berseragam putih itu lalu tersenyum dan mengangguk. Menepuk bahunya pelan sebelum pergi.
Entah berapa lama dia terpejam, tapi saat membuka mata, dirinya sudah berpindah ruangan lagi. Ingin bertanya dimana? Tapi mulut terasa berat berucap, bahkan kelopak mata yang kini membuka pelan pun terasa lengket.
"Yasmin?"
Sebuah suara lembut terdengar, diyakini Yasmin bahwa ibunya ada di sampingnya. Dia hanya bisa melenguh pelan, "Ugh!" Tanda bahwa telah merespon.
"Alhamdulillah. Bobok lagi, sudah nyaris 3 hari sejak terakhir kali masuk ke sini," sambung suara yang tak lain adalah ibu Yasmin.
"Tiga hari? Lama sekali ... Apakah Mas Afnan tahu kondisiku?" batin Yasmin saat kelopak matanya kembali menutup.
Keesokan pagi, Yasmin dibantu suster untuk perlahan duduk dan mandi. Setelah sarapan, dirinya lebih segar sehingga bisa diajak bicara panjang.
"Ma!" sapanya tersenyum lemah saat ibunya masuk membawa sekotak buah dari kantin.
"Lebih segar kan? Kamu di transfusi dua labu sebab HB-mu turun dan itu bahaya," jelas sang mama sambil duduk di sisi brangkar.
Yasmin hanya mengangguk, enggan membahas sakitnya. Dia malah bertanya, "Mas Afnan?"
Ibu Yasmin menghela napas panjang. Dia menenangkan bahwa surat yang Yasmin tulis telah diserahkan pada Afnan. Namun, lelaki itu justru pergi saat dokter meminta donor untuk Yasmin dengan alasan Ziya memanggilnya pulang.
"Lupain aja, Afnan itu takut istri. Padahal istrinya sehat dan banyak yang jagain." Ibu Yasmin tak tahu perkara sebenarnya nyerocos, dia kesal mengingat saat kritis itu.
"Pergi gitu aja?" ulang Yasmin dengan nada kecewa, sebutir bening menyembul di ujung netranya.
"Iya!" katanya ketus. "Sudah, laki-laki mancla mencle," omelnya lagi.
Yasmin hanya diam, menunduk sambil memainkan ujung jarinya. Padahal keinginannya satu, merasa disayangi. Dia menghela napas berat dan panjang, meluruhkan tetes air matanya.
"Bye, Mas!"
***
Sudah dua pekan Yasmin dirawat intensif. Kepalanya sering terasa kosong, tapi tidak lagi semenakutkan sebelumnya. Sejak hari itu—saat Salamah memeluknya erat dan Naufal duduk diam di ujung ranjang sambil menggenggam tangannya—Yasmin mulai merasa bahwa ia tak sepenuhnya sendiri.
Hari itu, matahari menyelinap malu-malu dari sela jendela kamar rawat. Yasmin baru saja selesai dibantu mandi oleh perawat. Rambutnya dicepol lembut, dan selimut bersih membungkus tubuhnya. Hari ini, dia terakhir menginap di RS.
"Sudah cantik, tinggal senyumnya yang belum," ucap Naufal dari balik pintu, masuk dengan membawa sesuatu dalam kotak kecil dan sebungkus bunga kering yang terikat rapi dengan pita biru.
Yasmin tersenyum kaku. "Kamu nggak capek nemenin orang sakit kayak aku tiap hari?"
Naufal duduk di kursi dekat ranjang. "Enggak. Aku nggak nemenin orang sakit. Aku nemenin Yasmin. Itu beda," ujarnya ringan.
Yasmin menunduk. Tangannya gemetar sedikit. "Naufal ... aku sadar kamu nggak pernah janji apa-apa. Tapi aku selalu nunggu. Padahal kamu nggak pernah janji."
"Aku nggak pengen kamu nunggu harapan kosong. Tapi ... kalau kamu cuma butuh tahu bahwa kamu berharga dan layak disayang ... aku pengen jadi orang yang bilang itu ke kamu," ucap Naufal lirih. "Hari ini ... boleh nggak, aku ajak kamu bikin ~janji?"
Yasmin terkesiap. "Apa?"
Bukan janji dengan penghulu. Bukan juga dengan saksi. Tapi Naufal membuka kotak kecil itu—isinya gelang dari benang merah berbandul mawar emas dan sehelai surat tulisan tangannya.
“Aku janji, akan ada orang yang menyayangimu. Kalau bukan aku, pasti Allah kirimkan yang terbaik. Tapi izinkan aku jadi pengingat bahwa kamu layak disayangi, dan kamu nggak sendiri. Janji ini simbolik kita berdua karena kamu pantas bahagia, Yas." Naufal berucap tanpa mengedipkan matanya.
Yasmin menutup mulutnya. Air matanya jatuh satu-satu. Tapi bukan karena sedih. Ia tak merasa patah. Tapi, merasa ... utuh.
"Kalau ini mimpi ... jangan bangunin aku," bisiknya pelan, lalu mengulurkan tangannya.
Naufal menyematkan gelang itu di pergelangan tangan kiri Yasmin. Lalu membacakan janji dalam suratnya. Isinya bukan janji hidup bersama, tapi janji untuk selalu ada sebagai teman, sebagai saksi hidup Yasmin yang kuat.
Hari itu, Yasmin pulang diantar Naufal ... Makan siang bersama dan tidur dengan senyum. Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, ia tidak menangis di tengah malam.
Hari-hari setelah itu, Yasmin kembali beraktivitas ringan, mengunjungi tempat usaha mereka. Dia menyadari butik milik ibunya sedang sepi. Tak ada tawa pelanggan, tak ada denting jarum jahit yang biasa mengiringi hari-hari Yasmin.
Dia duduk di pojok ruangan, menatap lembaran sketsa yang sebagian masih setengah jadi. Dulu, tangannya begitu lincah membentuk garis dan lekuk baju. Kini, ia lebih sering menulis daripada menggambar.
Yasmin menyentuh dadanya perlahan, seolah ingin meyakinkan diri bahwa detak itu masih utuh.
“Aku hidup. Tapi bukan untuk sekadar kembali seperti dulu,” batinnya.
Dia mengambil laptop dari ransel kecil. Layar kosong menantinya, seputih lembaran masa depan yang belum ia gores.
Judul yang dia ketik barusan membuatnya menggigil:
“Saat Aku Kehilangan dan Justru Menemukan Diriku.”
Tulisan pertamanya bukan tentang mode, bukan tentang kain satin atau potongan A-line. Tapi tentang malam-malam di rumah sakit. Tentang rasa sepi yang tak bisa dipeluk siapa pun. Tentang seorang pria asing yang menemaninya dengan tenang, tanpa janji, tanpa pamrih.
Yasmin menangis saat selesai menulis. Tapi bukan karena sedih. Ada kelegaan dalam hatinya.
Hari-hari berikutnya ia mulai rutin menulis blog. Tentang rasa takut saat rambutnya rontok. Tentang pertama kali ia bicara di depan forum survivor dan merasa tangannya gemetar. Tentang belajar mencintai tubuhnya lagi—yang tak lagi sama, tapi tetap kuat.
Butik tetap berjalan. Tapi kali ini ia tidak mengejar pasar. Ia hanya membuat pesanan tertentu. Sisanya, waktunya dihabiskan menjadi relawan di komunitas kanker dan menulis kisah-kisah dari teman-temannya sesama penyintas.
Setiap artikel yang ia unggah membawa komentar baru :
“Terima kasih, Kak Yasmin. Aku jadi kuat.”
“Aku juga survivor. Aku merasa nggak sendirian lagi.”
Dan Yasmin tahu, inilah desain baru dalam hidupnya. Ia tak lagi menggambar gaun untuk dikenakan orang lain, tapi merajut kata-kata yang membalut luka, menghangatkan harapan.
Desain hidupnya berubah. Tapi jiwanya tetap: mencipta keindahan—kali ini dalam bentuk yang lebih dalam.
Tiga minggu setelah janji simbolik itu, Yasmin mengunggah postingan pertamanya di blog berjudul: "Yang Tidak Menyembuhkan, Tapi Menyadarkan."
Foto pertama adalah tangannya yang memakai gelang benang merah, dengan caption:
"Aku tidak sembuh. Tapi aku memilih hidup. Hari ini aku bernapas, dan itu cukup membuatku bersyukur."
Dia mulai aktif sebagai relawan, menyambangi pasien kanker anak bersama komunitas kecil di RS tempatnya dulu dirawat. Sesekali ia pulang ke rumah ibunya, membantu membereskan butik yang sempat terbengkalai. Dari sana, ia mulai menjahitkan pakaian untuk anak-anak kanker yang kehilangan rambut—diberinya hiasan pita, bintang, dan pelangi.
Salamah yang bolak balik menjenguk Ziya jelang kelahiran, menyempatkan datang suatu sore, membawakan buah. Yasmin menyambut dengan peluk hangat dan wajah cerah.
"Buu, aku mau hidup, walau sebentar. Tapi kali ini aku mau benar-benar hidup. Dan ... terima kasih udah nggak pernah benci aku, walau aku nyakitin banyak orang dulu."
Salamah memeluknya lama, berbisik pelan. "Kamu hidup, Yasmin. Kamu baru saja lahir kembali."
Suatu malam, Yasmin membuka DM Instagram-nya dan menemukan pesan masuk:
Dari: @anakrumahlangit "Aku baca tulisanmu. Kamu kuat sekali. Aku penyintas kanker otak juga. Kita mirip. Boleh aku kirim surat? Bukan untuk balasan, cuma biar kamu tahu bahwa kamu nggak sendiri juga.”
Yasmin terpaku. Di luar, angin malam mengetuk pelan. Senyumnya muncul perlahan.
"Boleh. Kirim saja. Aku masih hidup besok."
.
.