Andai Tiada Mertua

Tergoda masa lalu

Ziya menggigil, tubuhnya dingin. Napasnya pendek-pendek dan tangannya gemetar. Iwana menempelkan telapak tangan ke dahi menantunya. “Ziya demam!”

Fawwaz langsung menghubungi Afnan, tapi tak diangkat. Panggilan ponselnya dialihkan.

Iwana menatap menantunya, raut wajahnya tak bisa disembunyikan lagi. “Dia tak kembali tepat waktu. Dan lihat sekarang? Menantuku tersiksa begini," omel Iwana ketus.

Dalam kondisi demikian, Ziya masih memikirkan semua ucapan yang berseliweran tentang bahayanya orang lama yang datang kembali. 

Napas Ziya kian sesak, apalagi membayangkan jika kondisi Yasmin membuat Afnan terdesak dan melakukan sesuatu yang dia takuti. 

Tiba-tiba ponsel Afnan berdering.

Fawwaz (di ujung telepon, tergesa) :

"Bang! Ziya drop! Kami sedang menuju RS dekat rumah. Nafasnya sesak, panik berat. "Cepat, Bang!" 

Afnan membeku. Wajahnya menegang, pandangannya menerawang di antara dua dunia yang retak : yang satu menahannya, yang satu menunggunya pulang.

Sedang panik dan ingin menarik Salamah untuk pergi dari sana, malah tertahan oleh suara ibu Yasmin yang kembali memecah diam.

“Kalau kau pergi, mungkin dia tak akan bertahan lama ...” Sorot mata ibu Yasmin mengiba diikuti derasnya air mata di wajahnya.

Afnan memejam. Lalu membuka kelopak matanya kembali dengan sorot yang penuh permohonan maaf. “Aku harus ke istriku.”

Dia berbalik cepat, meninggalkan lorong putih yang dingin—dan juga surat yang masih terbuka di tangan Salamah.

Dia meninggalkan mertuanya di belakang saking paniknya. Salamah mengejar, susah payah mengimbangi langkah lebar Afnan, tapi dia bahagia dengan keputusan menantunya ini. Sepanjang koridor, Salamah tak bicara, isi otaknya tak kalah semrawut dengan Afnan.

Sementara itu. 

Di RS tempat Ziya dirawat, alat bantu napas sudah disiapkan. Iwana berdiri dengan rahang mengeras, melihat Ziya yang semakin melemah.

"Ziya ... ada Mama, Nak ... Ziya," bisiknya sambil menggenggam tangannya. Jantung Iwana berdetak kencang, nyaris sesak tapi dia berusaha menahan diri dengan mengatur napas dan tetap tenang.

"Jangan drop, Iwana, jangan ikutan drop." Iwana membatin, meski wajahnya terlihat pucat.

“Mana Afnan?!” suaranya tajam ke Fawwaz, yang berdiri di ujung brangkar.

Fawwaz menggeleng, lalu berkata lirih, “Dia masih di sa-na …”

Iwana menatap jam. “Kalau dia tak datang dalam sepuluh menit ... jangan harap aku bisa percaya padanya lagi.”

Di lorong rumah sakit—beberapa menit setelah Fawwaz menelepon.

Afnan nyaris tak merasakan langkah kakinya sendiri. Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya, menyusup lewat celah-celah jaket. Tapi yang lebih menusuk adalah rasa bersalah yang menghantam dadanya tanpa ampun. Nafasnya berat, terburu-buru, tapi sesak oleh penyesalan.

Pikirannya hanya satu : Ziya...

Begitu tiba, ia langsung disambut pandangan tajam dari Iwana yang menunggunya di luar kamar. Mata ibunya sembab, rahangnya mengeras. Sorot mata Iwana seolah pisau yang siap menebas habis sisa-sisa simpati, meski pada anaknya sendiri. Afnan bergidik ngeri, tapi dia tahu kesalahannya fatal kali ini dan siap menerima amukan ibunya.

“Akhirnya datang juga,” suara Iwana terdengar tajam, “Setelah dia hampir kehilangan nyawa!” Tunjuknya ke dalam.

Afnan menunduk. “Maaf, Ma … aku—”

“Maaf?” Iwana nyaris membentak. “Maafmu nggak akan bikin napas Ziya kembali lancar! Dia menggigil, sesak, panik ... karena kamu!” 

Plak! Sebuah pukulan di lengan Afnan mendarat dari tangan kanan Iwana.

Afnan terdiam, wajahnya menegang.

Salamah yang sejak tadi diam, akhirnya angkat suara, pelan tapi menenangkan, “Buu … kita sama-sama ibu, paham rasanya, tapi Nak Afnan sudah datang. Ziya butuh ketenangan sekarang, bukan saling menyalahkan.”

Iwana mengusap air matanya cepat-cepat, lalu mengalihkan pandangan. “Aku cuma takut kehilangan menantu dan cucuku.…”

Salamah menepuk bahu Iwana dengan lembut, “Aku tahu.”

Beberapa jam kemudian, di kamar perawatan.

Ziya mulai membuka mata perlahan. Selang oksigen masih terpasang, tapi nadanya sudah lebih stabil. Afnan duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Ziya erat-erat seolah takut kehilangan.

“Sayang…” bisiknya lirih, matanya berair. “Maaf… aku telat. Aku—aku bodoh karena hanyut dalam empati dari suara masa lalu, daripada lihat kamu yang ada di depan mataku setiap hari.”

Ziya menatapnya, berkedip pelan. Air mata jatuh perlahan di pelipisnya. “Aku takut … Mas. Takut Mas balik ... dan tinggal di sana … buat selamanya…”

Afnan memeluk tangan Ziya ke dadanya. “Enggak. Aku milikmu. Cuma kamu. Gak akan ada yang lain. Yasmin adalah masa lalu. Kalian masa depanku. Kamu satu-satunya.”

Tangis Ziya pecah. “Aku takut … anak kita kehilangan ayah sebelum dia sempat lahir…”

Afnan menggeleng keras, suaranya pecah. “Aku nggak akan pergi. Aku janji.”

Tak banyak kata. Tapi genggaman tangan mereka, tatapan saling menyakinkan, dan kehadiran yang tak lagi goyah—sudah lebih dari cukup.

Afnan menenangkan Ziya dengan duduk menyamping ke atas brangkar dan memeluk istrinya. Dia juga mengucapkan kata-kata lembut agar janin di kandungan Ziya ikut tenang. 

***

Beberapa hari setelah Ziya keluar dari rumah sakit. Aisyah bicara pada penghuni rumah Iwana bahwa Fawwaz sudah datang meminta izin pada orang tuanya.

Iwana menanggapi ringan, sambil menyeruput tehnya. Sementara Salamah hanya mengangguk. 

"Apa katanya?" ucap Afnan yang duduk disamping Ziya sambil menyuapi makan.

Aisyah tersenyum sebelum menunduk menyembunyikan rona malu. "Dia memohon izin dan restu. Bukan hanya untuk menikahiku tapi juga untuk menjadi bagian dari keluarga ini … menjadi orang yang bisa dipercaya untuk menjagaku dan Arman.”

Ziya bertepuk tangan, dia berkata meski mulutnya penuh. "Yeeayy, alhamdulilah." 

"Arman gimana?" sambung Iwana, masih dengan ekspresi datar. Dia bakal perang batin jika akhirnya Arman dibawa oleh mereka.

"Kata ibu, kalau Arman nyaman ... Itu sudah cukup jadi jawabannya," balas Aisyah, suaranya pelan, takut jika Iwana bakal marah.

Tapi ketakutan Aisyah tak terjadi. Iwana hanya menghela napas, sementara Afnan dan Salamah mengangguk singkat. 

Aisyah pamit berangkat kerja. Hari ini dia izin masuk terlambat sebab harus bicara dengan keluarga Iwana soal Fawwaz dulu. Rencananya, dia akan kembali dengan Fawwaz untuk bertemu Arman.

***

Di halaman belakang rumah, sore menjingga menggantung di langit. Arman sibuk menyusun balok Lego-nya di lantai, membangun dunia kecil yang ia ciptakan sendiri. Ada gedung tinggi, mobil-mobilan, dan satu figur kecil dengan sayap dari kertas lipat—tokoh utama dalam kisah pahlawan versinya sendiri.

Aisyah duduk di kursi sambil menyeruput teh, lalu menatap dunia mini itu dengan senyum kecil.

"Kali ini main apa? pahlawan Legomu makin keren ya sekarang?" goda Aisyah.

Arman mengangguk tanpa berpaling, dia sedang membuat sesuatu yang tampak kecil dan terlihat kesusahan. "Iya, dia bisa nyelametin banyak orang. Tapi bukan pakai jubah, soalnya dia nggak suka ribet."

Aisyah terkekeh pelan, lalu berjongkok di samping Arman, ikut memperhatikan tokoh kecil itu. "Dia nggak pakai jubah, tapi kuat ya?"

Arman mengangguk, dahinya mengernyit, ada sebutir keringat di sana. “Kuat, tapi bukan buat berantem. Dia lebih suka ngelindungin orang diam-diam.”

Fawwaz yang sedari tadi diam memperhatikan, menawarkan diri membantu Arman. "Kayaknya susah banget, boleh bantu, nggak?" ujarnya menunjuk ke arah jari Arman yang memegang benda kecil.

Sorot mata Arman berbinar, dia mengangguk cepat sambil menyerahkan satu bagian kecil. “Yang ini susah banget.”

Aisyah menarik napas pelan, lalu menatap mata putranya dengan lembut. 

“ManMan ... kayak sosok ayah yang dipengenin kamu ya, ingat?”

Arman diam sebentar, menoleh pelan ke arah ibunya. Aisyah melanjutkan, “Yang nggak harus terbang atau punya kekuatan super. Tapi yang selalu ada, nemenin, dan bisa bikin ManMan merasa aman. Betul?" terang Aisyah.

Bocah kecil itu memutar duduknya menghadap sang mama. Matanya mengerjap pelan, seakan siap menerima pertanyaan selanjutnya.

Aisyah tersenyum tipis, dia mengusap pipi putranya sambil menatap matanya dalam. "Menurutmu ... Pak Fawwaz sudah sesuai dengan keinginan ManMan belum?”

Suasana jadi hening sejenak. Arman menatap Aisyah, lalu melirik ke arah Fawwaz yang sedang berdiri canggung tak jauh dari mereka, tangan pria itu masih memegang legonya, menanti dengan sabar.

Matanya berkaca-kaca, tapi tak ada sepatah kata pun keluar. Arman menahan emosi, rahang kecilnya terlihat mengeras.

Fawwaz segera mendekat, lututnya turun ke tanah hingga sejajar dengan Arman. Dia tersenyum lembut.

"Kalau Arman belum yakin ... nggak apa-apa. Kita tetap bisa jadi teman. Aku nggak akan maksa. Maafin kami kalau terlalu cepat nebak," ujarnya sambil menyerahkan Lego yang tadi dia bantu pasangkan.

Tapi reaksi Arman justru tak terduga. Ia mendadak menjatuhkan Legonya ke lantai dan memeluk Fawwaz erat.

“Boleh ... mang-gil A-ayah ... se-ka-rang?” bisiknya terbata-bata

Fawwaz memejamkan mata, memeluk balik bocah itu sekuat mungkin seolah menyimpan dunia dalam pelukannya. Dia tidak bisa menjawab—suaranya tercekat di tenggorokan.

Aisyah menunduk pelan, menyeka ujung matanya, lalu tersenyum penuh rasa lega. Dunia kecil mereka baru saja bertambah satu sosok penting—dengan cara paling sederhana tapi paling tulus. 

Sore itu, Aisyah tak henti bersyukur. Ternyata, Tuhan selalu dekat, menguatkan hambaNya dan memberi jalan bagi sesiapa yang mau berjuang.

***

Dan di balik tirai ICU lain, Yasmin menggeliat pelan, mulai sadar. Bibirnya menyebut lirih : “Mas .…”

 

.

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!