Andai Tiada Mertua
Hamil?
Ziya histeris, terisak tak henti hingga tubuhnya gemetar. Salamah, dengan wajah pucat dan jemari yang terus mengepal, berusaha menelepon Afnan berkali-kali. Namun tak kunjung ada jawaban.
Dua jam penuh cemas dan doa akhirnya terjawab. Sebuah pesan singkat masuk : "Aku di klinik, hanya memar. Maaf membuat kuatir. Sudah ditangani, Bu."
Salamah menghela napas berat. Kakinya terasa lemas, tapi pikirannya masih harus bekerja. Dia segera memanggil adiknya, Santi, untuk mencari tahu lebih dalam kondisi menantunya. Sementara itu, ia kembali ke kamar menemani Ziya.
Namun, yang ia dapati membuat darahnya surut. Ziya terduduk lemas di lantai, kepalanya tertunduk di bawah ranjang. Tak ada isak, tak ada gerak.
“Ziya! Ya Allah, Ziya!” Salamah menjerit, sontak membuat Santi kembali ke kamar dan ikut membantu mengangkat tubuh Ziya ke atas ranjang. Nafas Ziya masih ada, tapi sangat lemah.
Santi berlari memanggil Suster Imah, tetangga yang biasa memeriksa lansia di RT mereka.
Suster Imah datang tergesa dengan tas medis di tangan. Keningnya berkerut usai memeriksa tekanan darah dan nadi Ziya. “Tensinya rendah banget, Ceu. Ini harus dibawa ke rumah sakit. Saya gak bisa kasih tindakan lebih,” terangnya pada Salamah dengan wajah cemas.
Salamah mengangguk cepat. Dia gegas ke tetangga setelah suster pergi guna meminta tenaga tambahan. “Tolong bantu angkatin. Saya telepon Pak RW buat pinjam mobil desa!” ucap Salamah tegas.
Sementara mobil melaju menuju rumah sakit dengan sirine kecil menyala, Santi melajukan motornya ke desa sebelah, tempat Afnan dirawat. Motor itu pemberian Afnan—dipakai untuk keperluan harian mereka dan kini malah digunakan guna mencari si empunya.
Malam turun perlahan. Lampu-lampu rumah sudah menyala ketika kabar baik akhirnya menghampiri. Salamah duduk di ruang tunggu rumah sakit, tangannya menggenggam hasil pemeriksaan awal Ziya. Wajahnya belum benar-benar tenang, tapi senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
“Satu penawar luka,” gumamnya lirih, menatap ke arah kamar rawat Ziya yang masih tak bergerak.
Santi akhirnya menemukan Afnan terbaring di atas brankar, wajahnya pucat, matanya setengah terbuka. Kecelakaan tunggal, begitu kata perawat klinik. Mobilnya penyok cukup parah, namun tidak ada luka berat. Hanya dehidrasi dan kelelahan.
Senyum samar Afnan layangkan saat tahu Santi menemukannya. Ada kelegaan di wajah Afnan ketika sang bibi tersenyum sambil mengangguk, seolah mengatakan semua baik saja.
Saat Santi hendak menyebut nama Ziya, Afnan langsung bertanya, “Ziya gimana, Bi? kenapa?”
“Ziya aman. Di rumah,” jawab Santi cepat. “Kamu istirahat dulu, nanti aku bantu cari tahu kondisi dia,” ucap Santi meyakinkan sambil mengusap pelan lengan Afnan.
Beberapa saat kemudian, Afnan tertidur kembali. Ponselnya tak henti bergetar, Santi tidak berani menjawab dan membiarkan benda itu berdering dan mati sendiri karena habis baterai. Dia mencari charger, besok pasti Afnan butuh berkomunikasi, pikir Santi.
Santi lalu duduk di samping sambil menatapnya dengan iba. “Ujiannya kalian … besar banget. Tapi kalian saling jaga. Itu cukup.”
***
Keesokan paginya, Afnan terbangun. Kepalanya masih berat, tapi pikirannya langsung tertuju pada Ziya. Setelah diperbolehkan pulang dan mengecek mobilnya yang hampir tak layak jalan, ia memutuskan menyetir pelan dengan Santi mengawal dari belakang.
Sialnya, ponsel Santi mati di perjalanan. Dan charger milik Afnan tak cocok. Dia juga lelah, menyetir satu jam lebih sampai tertidur di kursi dan lupa bertanya pada Salamah.
Setibanya di rumah, kabar mengejutkan menanti mereka—Ziya ada di rumah sakit.
Wajah Afnan kembali memucat. “Kenapa nggak ada yang bilang?!” gerutunya kesal.
"Maaf, hape bibi mati," ucapnya menyesal. Tanpa pikir panjang, Santi memesankan ojek online untuk Afnan.
Dia masih harus mengurus mobil Afnan, menitipkan pada anak tetangga yang kerja di bengkel untuk diperbaiki. Setelah mobil Afnan dibawa, Santi pun gegas menyusul ke rumah sakit.
***
Di rumah sakit, Ziya baru saja selesai pemeriksaan ketika sosok Afnan muncul di ambang pintu.
"Mas!” suara Ziya pecah seketika. Salamah pun gegas menepi, memberi ruang bagi Afnan mendekat.
Mata mereka saling bertaut. Ziya menutup mulutnya, tubuhnya bergetar, air matanya tumpah tanpa bisa dicegah. Afnan berjalan kecil menghampiri dan langsung memeluknya erat. Tak ada kata-kata, hanya dekap hangat dan desahan syukur di telinga Ziya.
“Aku kira ... Maass—” suara Ziya patah.
“Shh … aku di sini,” ucap Afnan, mengusap punggung istrinya. “Maaf aku bikin kamu khawatir. Tapi kita … kita baik-baik saja sekarang.” Dia membenamkan kepalanya di ceruk leher sang istri.
Salamah dan Santi yang mengintip dari jendela ikut menitikkan air mata. Tak ada yang lebih mengharukan dari dua hati yang saling melindungi meski dihantam cobaan bertubi.
Ziya menggenggam tangan Afnan erat. Setelah semua tenang, dia berbisik pelan, “Mas … ini....” Dia menyerahkan selembar kertas pada suaminya.
Afnan terpaku. Dunia seolah berhenti sejenak. Matanya membelalak, lalu melembut dalam satu detik. Ia menunduk, mencium tangan Ziya lalu memeluknya kembali.
“Alhamdulillah…,” ucapnya nyaris tanpa suara. “Kita akan jaga dia sama-sama.”
Tangis samar Ziya, anggukan halusnya terasa lembut di dada Afnan. Kelegaan menyelimuti mereka kini, Tuhan telah mengabulkan doa.
Kabar ini belum disampaikan pada siapa pun. Afnan memutuskan tinggal di Kuningan untuk beberapa waktu, memastikan kandungan Ziya stabil sebelum kembali ke Jakarta. Ia menghubungi Iwana dengan suara bergetar, menyampaikan kondisi mereka.
Namun, kalimat Iwana membuyarkan ketenangan itu.
“Hamil? Jangan-jangan anaknya Naufal! Aku lihat mereka beberapa kali bersama! Kata Yasmin begitu!”
Afnan membeku. Matanya merah. Rasanya marah pun sudah percuma, ibunya sangat melewati batas.
Dia langsung menutup telepon, mengarsipkan nomor ibunya dari ponsel Ziya dan juga ponsel milik Salamah.
“Aku nggak mau Ziya terluka lagi,” katanya pelan sambil mengirim pesan untuk sang mama. [“Aku akan jual rumah di Jakarta. Kita cukup di sini.”]
Iwana yang mendapat pesan itu, langsung drop dan masuk rumah sakit karena tekanan darahnya naik.
Afnan diberitahu pak Indra soal ibunya. Dia menarik napas panjang, memijat pelipisnya. Dan akhirnya menyewa perawat khusus untuk sementara menjaga ibunya. Setelah beberapa hari, dia pun kembali ke Jakarta.
Di lorong rumah sakit, Afnan berpapasan dengan Naufal. Keduanya terlihat canggung.
“Ziya nggak usah datang ke sesi konseling lagi,” kata Afnan datar.
“Kenapa?” tanya Naufal, bingung.
Afnan hanya tersenyum, lalu pergi. Namun senyum itu berkata banyak.
“Ziya … hamil?” gumam Naufal perlahan, tapi masih terdengar oleh Afnan, membuat senyum kemenangan terbit di wajah tampan pemilik AF design.
Beberapa saat kemudian, Yasmin pun muncul bersama ibunya. Mereka hendak menjenguk Iwana yang absen beberapa kali dari arisan. Yasmin melihat Afnan keluar dari ruangan Iwana, tatapan mereka sempat bertemu. Tapi Afnan berjalan cepat menghindarinya.
Setelah tahu Ziya hamil dari ucapan Iwana, Yasmin keluar dan terduduk lemas di bangku lorong. Matanya kosong.
Dia berjalan menuju eskalator tanpa sadar air matanya mengalir. Langkahnya goyah. Ia terpeleset. Ibunya terlambat mengejar, gagal menarik lengan Yasmin.
Tubuhnya terjatuh dan menghantam lantai bawah.
Orang-orang berteriak. Ibu Yasmin pun histeris. Seorang pria berlari dari arah kanan. “Yasmin!”
Naufal memangku Yasmin yang pingsan, darah mengalir dari pelipisnya. Sambil panik memanggil perawat, pikirannya berkecamuk: Apa yang sebenarnya terjadi? Dia menduga Yasmin bertemu dengan Afnan.
.
.