Andai Tiada Mertua

Kecelakaan

Aisyah mengerjap, keraguan di matanya tak kunjung sirna. Telunjuknya terangkat, menunjuk ke arah pria yang berdiri tak jauh darinya. "A-anda...? Hmm..." gumamnya lirih, seperti sedang menarik kenangan samar dari balik pikirannya.

 

 

Iwana yang menyadari sikap aneh menantunya hanya menghela napas. Dia sudah tahu siapa lelaki itu, dan tanpa ragu menjulurkan tangan, wajahnya pun cerah bersinar.

 

 

“Selamat pagi, Pak Wakasek,” sapa Iwana riang.

 

 

Pria muda itu menyambut uluran tangan Iwana dengan senyum sopan, meski sekilas pandangnya mencuri-curi melihat Aisyah yang masih diam.

 

 

“Pagi, Bu. Apa kabar?”

 

 

“Alhamdulillah, baik.” Iwana kemudian menyenggol lengan Aisyah pelan, tetapi tajam. “Ais,” desisnya. “Sopan sedikit, dong...” Dalam hatinya menggerutu, kebiasaan lama menantunya jika bertemu orang baru, belum juga berubah. Hanya mematung.

 

 

Tersentak, Aisyah buru-buru mengulurkan tangan. Senyumnya kaku, seolah wajahnya lupa cara tersenyum saat menyapa pada seseorang.

 

 

“Halo...” ucap Aisyah pelan, terkesan malu-malu sebab manik matanya bergerak ke kanan-kiri.

 

 

“Hai,” jawabnya. Lalu, kalimat selanjutnya membuat Aisyah menegang. “Anaknya sudah sehat?” sembari melepas tautan jemari mereka.

 

 

Iwana spontan menoleh. Alisnya bertaut. “Loh, kok tahu? Apa kalian berdua sudah saling kenal? ... Jangan-jangan mantan pacar,” kekeh Iwana sambil menepuk lengan Aisyah.

 

 

Tak ada jawaban. Aisyah menunduk, pria itu pun hanya tersenyum samar lalu mengubah topik pembicaraan. Dia tak berani menyinggung lebih jauh, sebab Aisyah seperti tidak nyaman.

 

 

“Ada yang bisa saya bantu, ladies?” katanya melihat ke arah Iwana, meski sesekali melirik wanita disampingnya.

 

 

Iwana cepat menanggapi. “Aisyah masih bimbang soal pindahin Arman ke sini, Pak.”

 

 

Aisyah melirik Iwana, sebal karena terlalu blak-blakan. Tapi Wakasek itu hanya tersenyum tenang sembari mengangguk, lalu mempersilakan mereka mengikuti tur keliling sekolah.

 

 

Saat Iwana sibuk memotret sudut-sudut sekolah dengan antusias, pria itu melangkah mendekat ke Aisyah yang masih terlihat canggung.

 

 

“Aku Fawwaz,” katanya pelan, “kayaknya Anda lupa namaku.”

 

 

Wajah Aisyah memanas. Ia ingat pria ini—yang menemukan ponselnya saat Arman dirawat di RS tempo hari. Senyum hangat Fawwaz terasa terlalu dekat, terlalu nyaman. Membuat muncul perasaan asing yang sudah lama tak dia rasa.

 

 

Aisyah hanya diam. Bingung mau bicara apa, antara malu dan segan. Fawwaz pun akhirnya kembali bersuara, seperti berusaha mencairkan suasana. “Arman ya ... nama anakmu?”

 

 

“Iya,” jawab Aisyah singkat, pandangannya mengarah ke taman kecil dengan ayunan mungil.

 

 

“Dia bisa trial dulu sepekan. Ngaji, salat, mandi, makan ... semua diajarkan di sini. Lab bahasa dan sains, konseling tiap bulan untuk para siswa dan orang tua. Yang membuatmu ragu apa?” beber Fawwaz dengan nada lembut seraya melirik wanita ayu disampingnya.

 

 

Aisyah terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Aku cuma takut membebaninya. Arman satu-satunya yang kumiliki.”

 

 

Fawwaz melihatnya, tertahan beberapa detik kala wanita itu menunduk. Nada bicaranya seolah ada lelah yang disembunyikan Aisyah. Hatinya bertanya, apakah Arman yatim? Sejak kapan? 

 

 

Isi kepala Fawwaz berhenti menduga saat Iwana bergabung kembali dengan mereka. 

 

 

“Bagus loh, Ais,” Iwana menimpali dari belakang. “Kamu bisa fokus kerja, Arman pulang udah mandi dan makan. Tinggal peluk. Lagian, Mama yang bayar.” Iwana pun menepuk lengan menantunya sambil melangkah lagi.

 

 

Ucapan Iwana membuat Aisyah semakin menunduk. Ia malu, harga dirinya terasa diremukkan, apalagi di depan orang asing. Aisyah pun mengikuti Iwana dengan langkah gontai.

 

 

Namun Fawwaz, dengan nada netral tapi tulus, berkata dari arah belakang Aisyah, “Just the way you are. Semua ibu itu hebat.”

 

 

Aisyah berhenti lalu menoleh, senyumnya baru kali ini benar-benar muncul dari hati.

 

 

Deg!

 

 

Deg!

 

 

Deg!

 

 

Beberapa Hari Kemudian...

 

 

Arman menjalani masa trial di Al Ghifari. Aisyah mengantar tiap pagi, lalu pergi bekerja. Ia kini menjadi sekretaris kedua di perusahaan consumer goods yang cukup besar. Gajinya stabil, cukup untuk mulai menabung. Meski Iwana masih memberinya uang jajan, tapi Aisyah sudah tak lagi bergantung sepenuhnya.

 

 

Beberapa kali matanya bersitatap dengan Fawwaz di gerbang sekolah. Tidak ada sapaan, hanya senyuman ringan yang cukup untuk membuat dada Aisyah hangat hingga siang hari.

 

 

Suatu Sore yang Kacau

 

 

Hari itu, Iwana dilarikan ke rumah sakit. Aisyah terjebak rapat besar yang tak bisa ditinggalkan. Ketika ia keluar dari kantor, waktu sudah menunjukkan pukul 17.00—sejam lebih dari jadwal penjemputan Arman.

 

 

Dengan napas terengah dan pikiran bercampur aduk, ia melompat ke atas ojol. Hatinya remuk membayangkan Arman yang mungkin menangis atau marah karena ditinggal.

 

 

Namun sesampainya di sekolah, yang ia lihat justru sebaliknya.

 

 

Arman duduk tenang di ayunan, tertawa kecil. Di sampingnya, berdiri Fawwaz dengan lengan terlipat dan wajah kalem.

 

 

Aisyah pun tergopoh menghampiri mereka. Perasaan tak enak mulai menyelinap, apakah Arman menjadi beban bagi Fawwaz hari ini?

 

 

"Mamaaaaaa!" Suara Arman riang saat melihat ibunya tiba.

 

 

"Maaf. Maafkan Mama, telat banget," katanya terengah-engah sambil mengusap kepala Arman.

 

 

“Aku nggak punya izin buat simpan nomor Anda,” kata Fawwaz begitu melihat Aisyah datang. “Jadi ... kupikir, paling aman nemenin dia. Aku sempat ingin antar ke RS, tapi itu bukan tempat yang baik untuk anak-anak. Apalagi Arman pasti capek, imunnya takut drop,” jelas Fawwaz panjang, tapi wajahnya sedikit lega melihat Aisyah baik saja.

 

 

Aisyah menggigit bibirnya, matanya panas. “Terima kasih, Pak Fawwaz. Saya ... benar-benar berutang.”

 

 

Fawwaz mengangkat bahu ringan. “Lain kali, bolehkah aku menghubungi Anda kalau darurat seperti ini?”

 

 

Aisyah mengangguk pelan. “Boleh ... Ais, Ais saja," balasnya meluruskan kalimat Fawwaz yang memanggil dengan sapaan formal.

 

 

"Kalau gitu, Fawwaz saja, jangan Pak. Kalau Mas, ya boleh," kekehnya.

 

 

Mereka saling tersenyum. Untuk pertama kalinya, bukan senyum sekilas, tapi senyum yang lama. Senyum yang menyimpan pengakuan tak terucap.

 

 

***

 

 

Sementara Itu di tempat lain.

 

 

Afnan akhirnya kembali ke Jakarta setelah hampir dua bulan menjaga Ziya di Kuningan. Iwana dirawat karena jantungnya kembali berdetak tak normal yang membuatnya demam tinggi, sesak dan lemas. Afnan pun harus bolak-balik rumah sakit tanpa bantuan Ziya.

 

 

Setelah Iwana membaik, Afnan mengajaknya bicara serius. “Toko material warisan ayah ... harusnya dikelola orang lain, Ma. Mama cukup kontrol aja. Jangan capek mulai sekarang.”

 

 

Iwana menggeleng. “Mama kesepian di rumah. Toko itu setidaknya bikin Mama waras," jawabnya dengan suara yang masih lemah.

 

 

Afnan meminta Aisyah keluar dari pekerjaannya tapi ditolak adik iparnya itu. Aisyah merasa sudah nyaman, Arman juga terlihat bangga padanya sehingga Afnan pun tak tega memaksa.

 

 

Dia hanya menghela napas panjang, lalu menghubungi orang kepercayaan mendiang ayahnya untuk membantu.

 

 

Kerinduan Afnan kepada Ziya membuncah. Ia tak sabar ingin pulang menemui istrinya. Ziya belum mau kembali ke Jakarta hingga terpaksa dia mengalah. Di sana, wanita ayu itu terlihat berisi dan bahagia membuat Afnan tenang. Namun saat menelepon, yang ia dengar justru suara panik Salamah.

 

 

“Ziya demam dari pagi! Belum makan ... Tidur terus!” Salamah terdengar cemas.

 

 

Tanpa pikir panjang, Afnan langsung menyusul ke Kuningan. Tapi di tengah perjalanan, ketika hujan deras mengguyur dan jalanan mulai licin, insiden kecil tak terduga terjadi.

 

 

Ponselnya jatuh. Mobil mendadak oleng. Salamah sempat mendengar suara aneh yang membuatnya berseru, "Naaak! Afnan!" 

 

Teriakan ibunya terdengar oleh Ziya, membuatnya ikut panik. “Ibuuuuuuu! Mas kenapa?”

 

Tubuhnya gemetar. Napas tersengal.

 

Suara di seberang hanya memberi isyarat tak jelas karena terlalu berisik.

 

 

Brak!

 

 

 

.

 

 

 

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!