Andai Tiada Mertua

Ngambek

Ziya mematikan ponselnya dengan tangan gemetar. Hatinya seperti diremas, panas, sesak, perih—semua emosi menumpuk dan tumpah dalam diam. Ia masuk ke kamar mandi, mengunci pintu, lalu membiarkan tubuhnya jatuh ke lantai dingin. Tangisnya pecah, tanpa suara.

 

 

Detik berganti menit. Lalu suara isakan itu perlahan menghilang.

 

Afnan kuatir lalu mengetuk pintu pelan. "Sayang, aku minta maaf. Kita bicara, ya?" bujuknya lembut.

 

 

Sunyi. Tak ada jawaban.

 

Dia menempelkan telinganya ke pintu—hening. Keningnya berkerut, gelisah makin merayap. Ini hampir setengah jam berlalu.

 

 

"Astagfirullah…" Afnan gegas berlari ke bawah, memanggil Pak Agus. Tapi kunci serep kamar tidak ditemukan.

 

 

Terpaksa dia membawa linggis kecil. Namun, begitu kembali ke kamar, tubuhnya langsung lemas. Ziya sudah terbaring meringkuk di atas kasur. Masih mengenakan baju yang sama, rambutnya berantakan, matanya sembab.

 

 

"Alhamdulillah…" desah Afnan.

 

Ia lantas mengusir Pak Agus, lalu segera menghampiri ranjang dan memeluk Ziya dari belakang. "Maaf ya, Sayang. Maaf…" bisiknya dengan nada sesal. 

 

 

Ziya tak bereaksi. Di sampingnya, ponsel masih  menyala. Afnan pun meraihnya, berniat mematikan benda pipih itu. Namun, pandangannya tertumbuk pada log panggilan terakhir—ke nomor Aisyah. Matanya melebar, napasnya tercekat.

 

 

"Ampun … Sayang, maaf ya … Maaf…" bisik Afnan, penuh penyesalan. Tapi Ziya membisu, membatu seolah jiwanya tertinggal di belakang luka.

 

 

Pagi harinya, suara koper menyeret lantai mengusik keheningan waktu sarapan. Afnan menoleh, masih dengan sisa kunyahan. Ziya muncul dengan pakaian rapi, wajah tanpa ekspresi. Lalu dia mendekati suaminya seraya menyodorkan selembar kertas.

 

 

"Surat izin pulang?" tanya Afnan pelan, menatap wajah sembab Ziya dengan perasaan campur aduk.

 

 

Ziya hanya mengangguk kecil, tanpa melihat wajah suaminya.

 

 

"Aku antar." Afnan gegas bangkit, berlari kecil ke kamar mengambil kunci mobil juga lainnya. Secepat mungkin dia lakukan sebab perasaannya mengatakan bahwa Ziya bakal kabur karena enggan diantar olehnya.

 

 

Ziya berjalan ke depan lebih dulu, menunduk, sambil menulis sesuatu di atas secarik kertas lain. “Tidak usah. Aku hanya butuh izin.” Ziya menyodorkan lagi, saat Afnan sudah di belakangnya.

 

 

Afnan menahan napas. Nadanya berubah tegas. "Aku antar atau kamu nggak usah pergi."

 

 

Ziya menatapnya, kesal. "Kenapa sih? Aku cuma butuh waktu sendiri. Mas pikir aku nggak bisa jaga diri?"

 

 

"Karena aku suamimu, dan aku nggak mau orang lain berpikir bahwa aku lepas tangan. Apalagi kalau ibu nanya, alasan apa yang bakal kamu berikan pada beliau?" Afnan menatap tajam istrinya. "Aku mengabaikanmu? Aku menuduhmu? Atau apa, Ziya?" cecar Afnan mulai tak sabar. 

 

 

"Apa peduli Mas dengan kata orang?" suara Ziya mulai naik, sambil menahan isak. 

 

 

"Karena kamu istriku!" suara Afnan meninggi. "Dan karena aku takut kehilangan kamu, Ziya!"

 

 

Ucapan itu seperti memukul dada Ziya. Dia memalingkan wajah, rahangnya mengeras. Tapi tak membantah lagi.

 

Hanya diam. Dan akhirnya mengalah, berjalan masuk ke mobil sambil menghentak kaki.

 

 

Blug! Afnan hanya menggeleng pelan, tapi senyum tipis terulas di bibirnya.

 

 

***

 

 

Sesampainya di Kuningan, Ziya mengira Afnan akan segera kembali. Tapi pria itu justru ikut masuk dan meletakkan goodibagnya.

 

 

"Mas, ngapain sih?" ujar Ziya heran melihat suaminya malah langsung berbaring di ranjang.

 

 

"Aku nginap. Sebentar aja." Afnan lalu berbalik, membelakangi Ziya yang menatapnya kesal.

 

 

"Ini rumah orang tuaku, bukan tempat honeymoon!" ketus Ziya. Suara koper yang diseret kasar memenuhi kamar, membuat Afnan menahan kikiknya.

 

 

"Aku tahu. Aku cuma pengen dekat kamu." Afnan kembali menoleh.

 

 

Ziya membuang muka, mendesah panjang. Di sudut ruangan, ponselnya berbunyi. Nama 'Naufal' terpampang di layar.

 

 

"Jangan dijawab!" tegur Afnan mendadak bangun duduk bersila, matanya menatap tajam.

 

 

Ziya mencelos. "Dia paling cuma nanya kapan aku balik ke RS lagi. Gak lebih!" elak Ziya

 

 

"Kenapa bukan aku yang kamu hubungi semalam? Malah Aisyah, Naufal ... Entah siapa lagi," gerutu Afnan sambil bersedekap.

 

 

"Karena Mas penyebabnya!" Ziya balik membentak. "Gitu aja gak pekaaaaa!" 

 

 

Afnan terdiam sejenak. Lalu dengan tenang ia meminta, "Biar aku yang bicara. Boleh?" pintanya lembut.

 

 

Ziya menggeleng, takut Afnan bicara macam-macam. Bagaimanapun Naufal adalah putra seorang yang keluarga Ziya segani. "Jangan libatkan dia, Mas. Dia cuma bantu—"

 

 

"Aku tahu. Tapi aku juga laki-laki. Dan aku cemburu," kata Afnan santai, satu tangannya menjulur ke arah Ziya, meminta ponsel yang masih digenggamnya.

 

 

Karena Ziya hanya diam. Tanpa menunggu, Afnan menyambar ponsel Ziya dan menekan tombol hijau.

 

 

"Halo?" suara Naufal terdengar di ujung sana.

 

 

"Halo ... Pak Naufal, ini Afnan. Suami Ziya." Afnan berkata sopan, sambil mengamati wajah istrinya yang terlihat gelisah.

 

 

Hening sejenak.

 

 

Karena tidak ada balasan apapun, Afnan memulai bicara. "Terima kasih untuk bantuanmu, tapi mulai sekarang biar aku yang urus semuanya. Ziya istriku, bukan tanggung jawabmu."

 

 

Naufal menghela napas berat. "Saya cuma niat balas budi, nggak ada lainnya."

 

 

Afnan mengangguk, pandangannya masih tertuju pada Ziya. "Sudah cukup. Semua sudah terbalas. Saya sarankan kamu balikan aja sama Yasmin. Bukankah kalian saling kenal?" Ucapan Afnan sedikit menusuk, seolah mengatakan bahwa dirinya juga tahu masa lalu mereka.

 

 

Naufal tercekat. Tak menjawab. Lalu memutus panggilan.

 

 

Ziya menatap Afnan dengan mata berkaca-kaca . Dia merasa tak enak hati pada Naufal. "Mas kok gitu. Mas nggak berhak nyuruh dia ... Nggak sopan!" oceh Ziya kesal.

 

 

Afnan menyodorkan ponsel istrinya lalu kembali berbaring. "Aku cuma ngambil kembali apa yang selama ini aku abaikan. Kamu."

 

 

Hari-hari berikutnya, Ziya tetap di rumah. Ia berkebun, membantu Salamah di warung makan, dan sesekali membantu mengajar mengaji di surau. Ia mengundurkan diri dari bimbel dengan alasan rindu rumah. Afnan membiarkannya, mungkin Ziya lelah. Dirinya pun hanya memantau pekerjaan dari jauh.

 

 

"Ziya baik-baik aja? Kayaknya gampang ganti mood," tanya Salamah suatu sore saat melihat menantunya duduk sendiri di teras.

 

Afnan mengangguk pelan. "InsyaAllah, Bu… doakan kami, ya." Dia tersenyum penuh arti, membuat Salamah heran.

 

 

"Pasti didoakan yang terbaik. Apapun yang kalian lakukan mugi di ridhoi Allah," ucap Salamah, duduk menemani Afnan 

 

 

Akhirnya, keduanya berbincang termasuk soal program yang sedang mereka jalani.

 

 

***

 

 

Di Jakarta, kehidupan Aisyah berubah. Ia bekerja penuh waktu, menitipkan Arman pada Iwana. Suatu malam, ia datang membawa mainan kecil.

 

 

"Ini buat anak mama," katanya pelan.

 

 

Anak kecil itu memeluknya erat. "Mama jangan lama-lama kerjanya, ya…"

 

 

Aisyah mencium kening anaknya. "Maaf ya, Nak … Mama janji pulang cepet. Arman sama Oma dulu, biar Mama tenang."

 

 

Suatu pagi, Iwana memutuskan untuk mendaftarkan Arman ke sekolah yang lebih dekat. Ia ingin Aisyah tak perlu bolak-balik terlalu jauh. Tapi ketika ia mengantar Aisyah melihat sekolah itu…

 

 

"Aku tau Mama punya banyak uang tapi kok mutusin ini tanpa ngomong dulu sama aku?!" Aisyah kecewa, mertuanya masih saja suka ikut campur.

 

 

"Mama cuma mau bantu! Buat kamu dan Arman." Iwana mulai meradang.

 

 

"Bantu? Dengan ngatur hidup kami lagi?! Arman masih punya aku sebagai wali sahnya, Maa," tutur Aisyah sambil menahan Isak.

 

 

Cekcok makin panas, hingga sebuah suara memotong dari belakang.

 

 

"Permisi, ada apa di sini?" ujar seseorang dari arah belakang mereka.

 

 

Aisyah menoleh. Matanya membesar.

 

"Anda?!"

 

 

 

 

.

 

 

 

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!