Andai Tiada Mertua
Diagnosa Ziya
Setelah kepergian Aisyah, Yasmin masih berdiam diri di dalam mobil. Dia menatap jalan kosong di depannya, tapi pikirannya berlarian ke mana-mana. Beberapa detik berlalu dalam hening sebelum ia tiba-tiba memukul stir mobil dengan keras. “Sialan,” gumamnya, pelan tapi penuh tekanan. Napasnya tersengal, seperti habis menahan sesuatu yang lama tak dikeluarkan.
Wanita cantik itu menggigit bibir bawahnya, lalu menoleh ke kaca spion. Wajahnya masih sempurna, tapi matanya menyimpan kekacauan. Ia menarik napas dalam, menyalakan mesin mobil, dan mengarahkan stir.
Tujuannya tiba-tiba berubah, ingin menuju AF Design. Ia tak yakin kenapa, tapi rindu itu seperti gelombang pasang yang tak bisa dia abaikan. Dirinya hanya ingin melihat Afnan, walau sekilas. Ironisnya, cinta itu justru tumbuh saat ia tak lagi menggenggam lelaki itu.
Tapi semuanya berubah seketika. Wajah ayu itu menjadi kesal saat melihat pemandangan di luar dugaannya.
Mobilnya melambat saat melihat Iwana keluar dari gedung konveksi. Perempuan itu menggandeng seorang wanita berpenampilan memesona, dan di sisi mereka—Afnan berdiri, melambai sambil tersenyum. Senyum yang damai, tulus ... dan asing bagi Yasmin.
Bola matanya menyipit. Dadanya menghangat oleh sesuatu yang tak bisa ia sebut selain cemburu.
“Oh, jadi dia,” gumamnya, suara seraknya nyaris terkekeh. “Gampang disleding ini sih.”
Mobil Yasmin kembali melaju. Tangannya bergetar di atas stir, kali ini bukan karena rindu, tapi karena gejolak ingin memiliki. Namun jauh di lubuk hati, bisikan kecil berkata ~Langkah ini takkan mudah.
"Kalau Aisyah mundur, aku nggak punya jalan. Iwana? Sudah pasti tak bisa didekati juga." Suaranya nyaris tenggelam di antara suara mesin dan pikirannya sendiri.
Yasmin mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit. Dia ingin bertemu Naufal dan mengajaknya bekerjasama. Entah kenapa perasaannya mengatakan bahwa Naufal mungkin punya masa lalu yang manis dengan Ziya. Jika tidak, dia pasti bersedia membantunya dulu sebab alasan Naufal kurang logis.
Yasmin berhenti di parkiran rumah sakit, langkahnya terukur, seperti menyusun rencana. Ia memegang ponsel, menyusuri koridor. Dan saat itu dia melihat sesuatu di luar dugaannya. Binar matanya pun kembali bersemangat.
Terlihat, Naufal dan Ziya baru keluar dari ruang konseling. Keduanya tertawa pelan, percakapan mengalir seperti sahabat lama yang saling memahami. Yasmin berdiri agak jauh, setengah bersembunyi di balik pilar. Ia lalu mengangkat ponselnya, merekam diam-diam.
Ziya menunduk ketika berpamitan, dan Naufal mengangguk kecil, matanya tetap mengikuti langkah Ziya beberapa detik setelahnya.
Yasmin menekan tombol stop pada rekamannya. Sebuah senyum perlahan muncul di wajahnya—tipis, berbahaya, penuh arti. Satu langkah lagi, pikirnya.
Tak lama setelah itu, Yasmin menghampiri Naufal yang masih termangu di lobby. Dia berniat mengajaknya bicara di kafe rumah sakit.
“Lagi punya waktu, Dok?” tanyanya menghampiri, manis namun menekan.
Naufal hanya melirik sekilas sebelum menyahut, “Tergantung untuk apa.”
Yasmin lalu membujuk manja, setengah memaksa sampai menarik lengan Naufal. Lelaki itu tidak menolak, mereka pun duduk di sana.
Wanita ayu lantas mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan video yang baru direkam. “Kalau kamu sayang Ziya, kamu pasti mau bantu dia. Dan aku cuma ingin satu hal, Afnan,” ujarnya santai sambil tersenyum tipis.
Naufal menyilangkan tangan. Pandangannya dingin, sudah menduga apa yang akan ditawarkan mantan pacarnya ini. Dia paham betul tabiat Yasmin. “Aku nggak jual orang, Yas.”
“Biar kamu juga ada jalan nolong dia sepenuh hati, kan? Mungkin karena masa lalu. Kalau bukan karena cinta, pasti karena utang budi. Dan aku memberimu kesempatan itu, gimana?” sambungnya masih dengan nada santai.
Naufal menghela napas, lalu meneguk kopinya. “Aku punya cara sendiri. Bukan model barteran manusia seperti ini.” Ia berdiri. “Dan tolong, jangan pakai Ziya buat mainan. Dia terlalu rapuh buat dijadikan pion,” tegasnya sembari menjulurkan telunjuk ke wajah Yasmin yang menyeringai.
Yasmin menatap kepergiannya, mendecakkan lidah. “Kita lihat nanti, Dokter.”
***
Sementara itu, di pintu rumah sakit lainnya.
Aisyah datang terburu-buru, menggendong Arman yang lemas di pelukannya. Ia tak sengaja menyenggol lengan seorang pria yang sedang berjalan dari arah berlawanan. Dompet pria itu jatuh bersamaan dengan ponsel Aisyah yang meluncur dari saku bajunya—tanpa ia sadari.
Lelaki itu menoleh, ingin menegur tapi urung saat menyadari bahwa dia hanya seorang wanita yang sedang panik. Dia gegas berjongkok memungut ponsel dan dompet lalu mengikutinya.
Pria ini mengamati Aisyah yang terus melangkah masuk ke IGD, wajah wanita itu penuh kepanikan. Tatapannya lalu berpindah ke anak kecil di pelukan Aisyah.
Ia memilih menunggu di luar ruang gawat darurat, dengan ponsel di genggaman. Waktu berjalan lambat. Sekitar dua puluh menit kemudian, Aisyah keluar, wajahnya tampak lebih tenang meski mata masih berkaca-kaca. Ia menepuk-nepuk saku bajunya, lalu menoleh ke kanan dan kiri. Ingin memberi kabar seseorang.
“Ponselku…” gumamnya panik. Aisyah berjalan cepat menghampiri satpam, tapi seseorang memanggil namanya lebih dulu.
“Bu, ini ... sepertinya milik Ibu.” Sebuah suara terdengar dari arah belakang Aisyah. Seorang lelaki yang berdiri memegang sesuatu.
Aisyah menoleh, matanya membesar melihat si pria yang tadi. Ia menerima ponselnya dengan tangan bergetar.
“Terima kasih, saya ... saya bahkan nggak sadar ini jatuh,” ucapnya dengan suara bergetar. Air mata pun jatuh satu per satu, merasa lega dan beruntung.
Lelaki itu diam, menatapnya dalam. Seorang ibu yang kuat ... tapi terlihat sendiri.
Akhirnya mereka sempat bertukar nama, walau Aisyah terlihat tak begitu merespon sebab pikirannya terpusat pada Arman. Setelah itu, ia buru-buru pamit dan kembali masuk ke IGD.
***
Di tempat lain...
Ziya menatap lembaran hasil konseling. Tangannya dingin, jari-jarinya meremas ujung kertas. Kata-kata di halaman itu seperti bom waktu yang bisa meledakkan rumah tangganya kapan saja.
Ketika Afnan pulang, Ziya belum mengatakan apa-apa. Wajahnya pucat, tapi dia hanya menunduk, membisu.
Afnan menggantung jaketnya dan berkata santai, “Sayang, maaf ... Aku belum sempat jelasin ke Mama soal hasil pemeriksaan kita tempo hari.”
Ziya mengangkat kepala dengan cepat. Matanya membara. Entah mengapa akhir-akhir ini mudah sekali tersulut emosi. Dia melemparkan ponsel ke ujung ranjang dekat dengan Afnan berdiri, memperlihatkan foto dan video dari sang mertua.
“Ini, penundaannya, Mas?" ucapnya dingin dan sinis, tanpa melihat Afnan.
Afnan mengerutkan dahi. “Apa maksudmu?”
“Mas sengaja diam, agar semua orang menyalahkanku. Atau agar pedekate dengan Shakira lancar?” suara Ziya meninggi. Ia tak menunggu jawaban. Tangisnya pecah. “Aku mau pulang.”
Afnan mengernyit, dia mengambil ponsel Ziya dan memutar video di sana. Dia lalu mengatakan bahwa semua tidak seperti yang terekam tapi Ziya sudah acuh. Afnan meremat rambutnya, merasa lebih lelah. Entah mengapa Ziya berubah lebih sensitif dan ibunya semakin keterlaluan.
Dia kesal tapi masih berusaha menenangkan istrinya. Dengan nada lembut, Afnan menghampiri Ziya dan duduk di sisi ranjang.
"Sayang, jangan sekarang, ya. Besok pagi kita bicara dari hati ke hati, oke? Aku lelah banget, kangen kamu.” Suaranya tetap penuh sayang, ingin membelai rambutnya tapi ditampik Ziya sehingga dia hanya menghela napas panjang.
Ziya terisak. Tapi Afnan tetap tenang—atau mungkin lelah. Dia masuk ke kamar mandi tanpa berkata-kata lagi, dan tak lama berbaring membelakangi satu sama lain.
Malam sunyi. Tak ada kedamaian di antara mereka.
Di tengah malam, Afnan terbangun. Dia menemukan sesuatu di atas nakas, dan membukanya.
Ini lembaran hasil konseling Ziya yang tertinggal di meja. Ia membaca baris demi baris, disertai mata yang membelalak.
"A-apa ini? Kamu kenapa, Sayang?"
.
.