Andai Tiada Mertua

Cari Jodoh

"Coba ulangi, Ma!" Dia membalas Iwana dengan tatapan nyalang kala sang mertua merendahkan dirinya. “Jangan lupa tentang saat kritis itu,” sindir Yasmin mengingatkan perkara satu tahun lalu.

 

"Saat kritis apa, kapan?" Afnan terheran, bergantian melihat ke arah mereka. "Ma? Yasmin? Apalagi yang tak kuketahui?!" seru Afnan kesal.

 

Iwana bergeming, begitupun Yasmin. Wanita itu melanjutkan langkah menaiki tangga menuju kamar di lantai dua diikuti oleh Afnan.

 

Afnan masih berusaha membujuk istrinya agar tidak pergi. Bagaimanapun dia ingin mencoba lagi, tapi tekad Yasmin sudah bulat. Wanita cantik itu mengemasi semua barang-barang pribadi dari kamar tanpa sisa.

 

"Nanti yang belum di packing, minta tolong Iroh buat beresin semua dan antar ke rumah." Yasmin duduk di sisi ranjang dan tak lama dia pun bangun menarik dua koper besar hendak keluar kamar.

 

Afnan menahan tangan wanitanya. Sekali lagi dia berkata, "Sudah mantap?"

 

Yasmin mengangguk cepat. Mungkin ini saat yang tepat melepaskan Afnan dengan menggunakan alasan Iwana.

 

Pertemuan dengan seseorang dari masa lalu yang masih dia cintai juga peristiwa kemarin membuat hatinya kembali terbakar. Permintaan sosok itu agar dirinya kembali kian mengukuhkan tekad Yasmin. Sejak awal, Afnan hanya dijadikan jaket pelindung bukan sebuah rumah.

 

"Ya sudah. Aku antar dan balikin kamu baik-baik ke mama dan papamu," sahut Afnan. Entah mengapa hatinya terasa hampa. Harapan memperbaiki hubungan dengan Yasmin, langsung kandas. "Maaf untuk semua kesalahan yang kusengaja ataupun tidak." Tatapnya dengan sorot mata sendu.

 

"He em, sama-sama. Maaf sudah memperalat kamu," balas Yasmin, menunduk setengah malu.

 

"Anggap aja couple with benefit, meski niat awalku menikah ya ingin sungguh-sungguh tapi ternyata banyak hal lain yang tidak kutahu dibalik semua ini." Afnan lalu mendekati istrinya, berdiri berhadapan.

 

Yasmin mengatakan bahwa dirinya takkan menyesali keputusan ini. Dia juga tidak akan kembali mengusik kehidupan Afnan dan berjanji memberikan pengertian pada kedua orang tuanya agar tak menyalahkan keluarga Chairi.

 

Afnan tersenyum getir. Sebagian hati ingin mempertahankan Yasmin tapi sisanya seolah berkata lebih baik melepaskan agar tak saling menyakiti.

 

Melihat jejak kemarin di kamar tamu, sedikitpun Yasmin terlihat tak menyesal, mulai mempengaruhi niatan Afnan untuk bertahan. Wanita ini sama sekali tidak peduli pada siapa dosanya berlabuh ketika melakukan hal asusila. Dia juga teringat bahwa keburukan zina akan menetes dan dibayar oleh keturunannya kelak.

 

Putra Iwana itu lantas melafal kalimat yang dibenci oleh Tuhannya. Jika kebanyakan wanita akan bersedih menerima ucapan haram sang suami, maka berbeda dengan Yasmin. Rona wajah ayu itu justru berseri.

 

Keduanya pun turun ke lantai dasar, disongsong oleh tatapan Iwana yang masih terlihat memburu. "Dasar murahan!"

 

Yasmin pun mendekat, memeluk Iwana untuk terakhir kali. Dia tersenyum remeh seraya berkata lirih, "Wanita murahan ini pahlawanmu saat itu, kita impas."

 

"Aku menyesal memberikan Afnan padamu," sengit Iwana membalas samar sambil mengurai pelukan palsu Yasmin.

 

Afnan tak memedulikan mereka. Dia langsung masuk ke mobil dan pergi lebih dulu. Terdengar tawa lepas Yasmin yang menertawakan Iwana, sebelum wanita ayu itu melajukan kendaraannya meninggalkan hunian tersebut.

 

Bada isya, Iwana mengetuk pintu kamar Afnan. Putranya itu tak keluar bilik sejak siang tadi. Wajah tampan si sulung terlihat muram setelah mengatakan pada Iwana bahwa dirinya telah menjatuhkan talak pada Yasmin.

 

"Kak! ... Afnan!" sebut sang mama, mengetuk pintu kamar pemilik rumah.

 

Sepi. Tiada sahutan dari dalam membuat Iwana cemas. Dia memberanikan diri membuka lempeng kayu itu perlahan.

 

Afnan berbaring menyamping di atas ranjang. Dia mendadak tak enak badan setelah banyak peristiwa terjadi beruntun dalam dua hari ini. Semua ingatan setahun lalu kembali melintas. Fakta tentang Yasmin saat menikah, penggalan percakapan antara ibu dan istrinya setelah akad, bukti di kamar tamu, serta kondisi kritis yang belum dia ketahui maksudnya.

 

"Lupakan dia. Nanti mama carikan wanita lain yang lebih cantik dari Yasmin," kata Iwana saat bokongnya mendarat di sisi tempat tidur Afnan.

 

"Aisyah juga boleh kalau kamu mau, Kak. Itung-itung sekalian ngasuh ponakan juga," sambungnya lagi.

 

Afnan berbalik badan. "Aisyah?" Dia tersenyum nyinyir. "Kayak nggak ada gadis lain lagi," balasnya masih menyeringai tipis.

 

Iwana terkekeh, ocehan tadi berhasil membuat Afnan bereaksi. Mendengar putranya bakal menduda, dia mulai menjalin komunikasi intens dengan beberapa kawan angkatan hajinya dulu. Mencari-cari calon istri yang tepat untuk si sulung sambil menanti akta cerai terbit.

 

Satu nama telah Iwana kantongi. Seorang gadis molek yang berprofesi sebagai dokter kecantikan di klinik tempatnya melakukan perawatan wajah. Keduanya pernah beberapa kali bertemu. Pandangan dokter muda itu tampak bersinar kala Afnan membalas sapaannya waktu itu.

 

"Ya ada dong. Dia kayaknya mau deh, tinggal kamunya aja," balas Iwana, senyam senyum sambil menepuk kaki Afnan.

 

"Ck, Ma. Aku nggak mikirin nikah lagi dalam waktu dekat. Di konveksi sedang banyak kerjaan pas awal tahun gini," decak Afnan, sembari membenarkan posisinya berbaring. "Lagian belum juga sehari jadi duda," kekehnya getir menatap langit-langit kamar.

 

"Ketemu aja dulu, makan siang gitu. Kan namanya juga jalin pertemanan," beber Iwana, tak surut tersenyum sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Ide dalam benak berseliweran. Dia berniat mengatur pertemuan mereka berdua. "Siapa tahu jodoh, loh."

 

Afnan tak lagi menanggapi. Dia mematikan lampu kamar seakan meminta secara halus agar Iwana keluar dari kamarnya. Wanita senja itu pun paham, dia meninggalkan Afnan yang mulai memejamkan mata.

 

Setelah kepergian sang mama, Afnan kembali terjaga. Ucapan Yai terngiang-ngiang. Saran beliau sudah tak dapat dilanjutkan. Hatinya pun kini dilanda gundah, apakah sanggup membuka diri lagi bila ada gadis salihah yang datang dan bersedia menerima kekurangannya.

 

Satu bulan berlalu begitu cepat. Afnan disibukkan dengan banyak pekerjaan sehingga dia sedikit lupa dengan perasaan bersalah akibat kegagalan pernikahannya.

 

Sebuah surat disodorkan sekretarisnya ke atas meja, ketika Afnan baru saja selesai melakukan pertemuan dengan klien yang akan memesan kaos partai dalam jumlah besar.

 

"Ada surat buat Bapak," ujar Ghea sebelum keluar ruangan.

 

"Makasih, Ghe." Afnan lantas membuka lembaran itu dan membacanya. "Akhirnya legal juga."

 

Dia lalu segera mentransfer sejumlah uang sebagai tunjangan selama iddah untuk Yasmin, meski mantan istrinya itu mapan secara finansial.

 

Setelahnya, Afnan memanggil beberapa staf dari berbagai divisi untuk meeting mendadak. Dia menjelaskan gamblang beberapa projects yang harus dikerjakan dalam dua pekan ke depan.

 

Owner AF design itu ingin cuti panjang, mukim di almamaternya selama satu pekan untuk menenangkan diri. Setelah semua koordinasi matang, Afnan pulang ke rumah untuk berkemas.

 

Melajukan mobil dengan kecepatan lambat, membuat Afnan tiba di ponpes As-shofa satu jam kemudian. Dia disambut sang Yai yang langsung membawanya ke teras rumah. Namun, binar mata Afnan mulai sendu kala gurunya itu bertanya perihal masalah terdahulu. Putra Iwana pun mulai berkisah.

 

"Allah." Yai Efendi terkejut, spontan mengusap dadanya. "Ya sudah. Tenangkan diri dulu di sini. Besok kita jalan-jalan, ada sesuatu yang ingin ana tanyakan pada antum," ujar Efendi Ghazali, tersenyum seraya manggut-manggut melihat Afnan.

 

Afnan mengangkat dagunya, penasaran dengan apa yang ingin gurunya sampaikan. "Afwan, tentang apa, Yai?"

 

"Ada deh ...." Efendi tertawa kecil, dia menepuk bahu anak didiknya itu ketika bangun dan berlalu meninggalkan Afnan yang dilanda kebingungan.

 

"Assalamualaikum ...."

 

Afnan menoleh ke arah samping teras. Hampir saja dia melompat karena terkejut saat mendengar suaranya. "W--"

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!