Andai Tiada Mertua

Ziya Goyah

Ziya gegas menghapus pesan si misterius itu. Matanya menatap layar kosong yang baru saja menampilkan kalimat ambigu—mengganggu. Tak ingin memperpanjang rasa resah yang mulai mengikis tenangnya, ia letakkan gawai itu di nakas kayu, lalu berbaring dengan napas panjang.

 

Sebenarnya, sindiran dari Iwana tak pernah benar-benar mengoyaknya. Namun, malam itu terasa lain. Ada dentingan di dada yang sulit dijelaskan. Seperti tusukan halus yang menusuk pelan, tak menyakitkan tapi mengganggu. Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba menemukan kenyamanan dalam sunyi kamar.

 

"Aku lagi capek," gumamnya pelan, seolah ingin meyakinkan diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Kelopak matanya perlahan berat, menutup bersama lelah yang belum sepenuhnya reda.

 

Sayup ... pintu kamar berdecit. Tapi Ziya sudah separuh tertidur. Lalu, hangat sebuah pelukan membalut punggungnya. Lengan Afnan. Erat, tenang, seperti ingin mengatakan bahwa ia tetap ada. Dalam peluk itu, Ziya terseret lebih dalam ke alam mimpi yang sejuk.

 

 

***

 

Dua hari kemudian.

 

Suara barang-barang kecil bergemerisik ketika Ziya memasukkan satu per satu kenangan—foto, buku catatan, dan kalender meja—ke dalam kardus. Dirinya akan kembali ke bimbel, kembali ke ritme lama. Tapi hatinya belum benar-benar siap.

 

Ting!

 

Sebuah pesan kembali muncul. Si misterius lagi. Kali ini, kalimatnya lebih lembut, seperti sapaan dari seseorang yang tahu betul sedang bicara pada hati yang lelah.

 

["Kamu baik-baik saja?"] Tulisnya singkat tapi menyentuh sisi kosong Ziya.

 

Ziya mengernyit. Satu tangan masih memegang spidol, tangan lain meraih ponsel. Kali ini, ia memutuskan membalas.

 

["Maaf, ini siapa ya?"] Ketiknya cepat, penasaran atas sosok ini. Ada kesal menelisik, merasa tak rela jika kegundahannya diketahui orang lain.

 

Tak butuh waktu lama, balasan masuk.

 

["Kamu tahu siapa aku, dan aku tahu masalahmu … Aku dekat denganmu, Zie."] 

 

Deg.

 

Ziya mematung. Pandangannya kosong menembus layar meski otaknya berpikir cepat, berusaha menerka meski masih samar. Lalu jemarinya kembali menari.

 

["Jangan sok tahu!"] Kali ini tanda seru menjadi peringatan untuk seseorang itu.

 

Kring!

 

Sebuah panggilan masuk. Jantungnya sontak melonjak. Ia tak berpikir panjang dan langsung menolak panggilan itu. Nafasnya memburu. Ada rasa ganjil, campuran antara takut dan marah. Tanpa berkata apa-apa, dia selipkan ponsel ke dalam saku blazer, lalu melangkah pergi.

 

Beberapa puluh menit sesudahnya, saat Ziya berpamitan pada semua staf. Ada kehangatan yang terasa getir ketika dirinya dipeluk hangat Ning Fathia. "Kamu anak baik, Zie. Semoga berkah di tempat lamamu," ucapnya tulus, diiringi senyum dan doa panjang si keturunan Yai.

 

Air mata sempat menggenang di pelupuk mata, tapi Ziya menahan. Dia tak ingin menangis. Hari ini bukan tentang perpisahan, tapi awal baru bagi karirnya. Lagipula ini adalah keputusannya atas dasar rasa hormat pada Afnan.

 

Di parkiran, beberapa guru masih mengiringinya hingga mobil ojol datang sebab Afnan tak bisa menjemput. Ziya hanya mengangguk singkat, tersenyum simpul saat menoleh ke belakang lalu naik, membiarkan ac mobil menyapu gundahnya.

 

Namun belum separuh perjalanan, gawai di saku blazernya kembali bergetar.

 

Ziya sempat ragu, tapi kali ini dia mengangkatnya karena ada satu pesan masuk yang menjelaskan identitas sang penelepon.

 

"Ya?" suaranya pelan.

 

"Zie, di mana?" tanya suara lembut di seberang. Ziya kenal suara itu.

 

"Mau pulang, ada apa?" balasnya pendek.

 

Hening beberapa detik.

 

"Ngopi bisa? Aku sedang luang. Ada yang mau kutanyakan. Daripada asumsi, lebih baik tanya langsung, ya?" jawabnya dari ujung sana, masih dengan nada lembut.

 

Ziya diam. Dia memikirkan banyak hal dalam waktu singkat. Tapi toh, dia sudah izin pada Afnan pagi tadi, akan keluar sebentar setelah dari sekolah.

 

"Oke. 20 menit lagi, di cafe Upload."

 

Klik. Panggilan berakhir. Ziya menatap jalan yang ramai, namun hatinya tetap terasa sepi. Entah ini salah atau tidak, yang jelas saat ini dirinya merasa sendiri.

 

Kafe Upload, 20 menit kemudian.

 

Langit sedikit mendung. Aroma kopi dan kayu mengisi udara ruangan saat Ziya mendorong pintu kaca Cafe. Dia sedikit kesulitan sebab membawa kardus berisi barang-barangnya tadi.

 

Saat mendekati meja order, matanya sekilas menyapu area, mencari seseorang yang mungkin sudah datang lebih dulu.

 

Ziya melihatnya tepat saat pandangan mereka beradu. Dia duduk di sudut dekat jendela, dan berdiri sambil tersenyum mendekati Ziya. Lelaki itu tampak hangat seperti biasa, tapi matanya menyimpan kekhawatiran.

 

Kardus di tangan Ziya dia ambil alih. Lalu keduanya berjalan menuju meja. "Thanks udah nyempetin waktu," ujar Naufal begitu Ziya duduk.

 

"Langsung aja. Akang bilang ada yang mau ditanyain?" ucap Ziya tak ingin basa-basi.

 

Naufal mengangguk. Dia menatap Ziya, lama, seakan menimbang kalimat yang tepat.

 

"Aku dengar kamu lagi ... banyak tekanan, ya? Feelingku bilang—"

 

Ziya langsung menegang. Membuat Naufal buru-buru meralat kalimatnya.

 

"...bukan. Aku ngerti kamu gak suka aku sok tau atau ikut campur, tapi aku cuma mau tahu, kamu ... sehat, Zie?"

 

Ziya menatap cangkir kopinya yang baru saja datang, hening.

 

"Aku tahu kamu lagi lelah. Capek banget. Apalagi bila semua kata-kata kasar itu nggak terbukti ... terlebih soal—"

 

"Mereka nuduh aku ma--," potong Ziya pelan, suaranya bergetar. Dia memilih tak melanjutkan kalimatnya, ada rasa panas mencekat tenggorokannya.

 

Naufal menarik napas dalam, menatapnya dengan iba.

 

"Dan kamu masih bisa senyum kayak tadi?"

 

Ziya tertawa kecil, getir. "Aku enggak tahu. Mungkin aku udah kebal, atau udah terlalu capek buat marah."

 

Naufal hendak menyentuh jemari Ziya di atas meja dengan lembut. Tapi Ziya buru-buru menariknya dan bersedekap..

 

"Kamu perempuan paling tangguh yang pernah aku kenal, Zie. Enggak adil kalau kamu harus hadapi semua ini sendiri." Kalimat Naufal begitu lembut terdengar, membuat siapapun yang sedang di posisi rapuh, akan mudah goyah.

 

Mata Ziya mulai berkaca-kaca. Namun ia menunduk, berusaha tetap tenang. 

 

"Kadang aku pikir, Tuhan bener nggak sih denger doa orang kayak aku ..." cicit Ziya, nadanya terdengar kecewa. 

 

Naufal mencondongkan badannya sedikit. Suaranya tetap lembut. "Tuhan nggak tuli, Zie. Mungkin cuma nunggu waktu yang tepat."

 

Dalam diam yang menenangkan itu, ada suara klik—halus tapi terdengar. Seseorang tak jauh dari meja mereka memotret kedekatan itu diam-diam.

 

***

 

Sore itu, seseorang berdiri di depan rumah Iwana. Dia bersiap menampilkan layar ponselnya persis ketika sang tuan rumah muncul di hadapan.

 

"Kamu!" tegur Iwana sinis seperti biasa.

 

"Dia selingkuh, Ma. Ini buktinya," ucap Yasmin penuh keyakinan.

 

Iwana menatap foto itu. Sebuah potret Ziya duduk dengan seorang lelaki tampan, mereka terlihat sangat dekat. Wajah Ziya tampak sedih, tapi hangat.

 

"Mama tidak percaya. Ini akal-akalan kamu aja," ucap Iwana singkat, masuk ke dalam dan meninggalkan Yasmin di teras.

 

Brak!

 

"Maaaaa! Aku belum selesai, Mama!" seru Yasmin tak terima usahanya diabaikan begitu saja. Bukan ini reaksi yang dia mau, Yasmin kesal sendiri dan pergi sambil menghentak kaki.

 

Namun saat pintu tertutup, keraguan perlahan menyelinap. Kata-kata Yasmin membekas, meracuni keyakinan yang mulai rapuh.

 

Sementara itu, di dalam mobil Yasmin mengirim foto itu ke seseorang.

 

["Kamu lihat ini? Mainkan peranmu, aku sudah beri kamu bayaran. Kirim info soal rencana Iwana, atau kamu bakal ikut jatuh."] 

 

Di tempat lain.

 

Aisyah sedang sibuk menyusun berkas lamaran kerja. Takut, jika Afnan tahu dirinya bersekongkol dengan Yasmin, semua tunjangan untuk anaknya akan hilang. Dan lebih dari itu, harga dirinya akan hancur.

 

Sebuah pesan masuk, dia membacanya tapi tidak merespon. Hanya hela napas berat yang terhembus. Aisyah dilema.

 

Sementara itu, Yasmin menatap layar, geram. Kenapa semua orang mendadak sulut dikendalikan, pikirnya.

 

["Jangan main-main sama aku, Aish."] tulis Yasmin, dan kali ini ancaman itu takkan main-main lagi. Semua keinginannya harus terwujud.

 

 

.

 

 

.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!