Andai Tiada Mertua

Bujukan Naufal

"Bisa kok, Zie. Mulai terapi mandiri kan selama tiga bulan ke depan. Setelah itu gaspol lagi," kekeh Afnan, mencoba menyembunyikan rasa minder yang mengendap di balik tawanya.

 

 

Ziya menoleh, menatap wajah suaminya yang mencoba tetap ceria. "Sekarang juga bisa gaspol sambil ikhtiar. Nggak usah nunggu nanti. Tinggal kencengin usaha aja. Mama nggak usah tahu," ucapnya pelan namun tegas, tak ingin lelaki romantis di sampingnya kehilangan nyala semangatnya hanya karena tekanan dari luar.

 

 

Afnan menghela napas. "Tapi, Sayang..." ucapnya lirih, alisnya saling mendekat membentuk kerutan. Ia tak suka. Otaknya langsung melintasi satu nama yang belakangan selalu mengganggu pikirannya: Iwana. Ia tahu, ibunya akan terus menggoyang Ziya dengan cibiran halus atau taring tajam yang disamarkan. Dan itu semua bersumber dari dirinya.

 

 

Ziya tersenyum kecil, mencoba menenangkan. "Ah, aku udah biasa, Mas. Masuk telinga kiri keluar kanan. Mau seburuk apapun cemoohan, asal bukan dari mulut suaminya, wanita akan kuat menghadapi itu. Namun, akan berbeda jika cibiran itu berasal dari sang suami, meski satu kalimat. Bisa menghancurkan kami, Mas."

 

 

Afnan diam. Kepalanya mengangguk perlahan. Matanya tak lepas dari wajah perempuan yang kini ia puja.

 

 

***

 

 

HRV hybrid hitam metalik itu meluncur mulus memasuki pelataran rumah. Ban mobil menjejak pelan di kerikil garasi, mengabarkan bahwa tuan rumah telah kembali. Seperti dugaan Ziya, Iwana sudah berdiri di teras dengan make-up tipis dan wajah yang bersinar cerah.

 

 

Raut Iwana menyambut seperti bunga mekar yang baru disiram pagi, senyumnya lebar, bahkan terlalu lebar untuk sekadar sapaan biasa. Matanya berbinar menatap anak dan menantunya turun dari mobil, seolah menanti kejutan besar.

 

 

Afnan menoleh cepat ke arah Ziya, lalu menggenggam jemarinya lebih erat. Remasan itu lebih dari sekadar sentuhan—ia sedang menyampaikan kegelisahan. Hati-hati, begitulah rasanya.

 

 

Senyum ibunya tampak mencurigakan. Afnan mengenal betul pola seperti itu. Bila bukan soal uang, pasti ada keinginan lain yang lebih rumit. Langkah mereka menapaki anak tangga menuju teras terasa lambat, seperti hendak menuju palu vonis.

 

 

"Daritadi, Ma?" Afnan menyodorkan tangannya untuk salim, mencoba tetap sopan di tengah rasa was-was yang menumpuk. Dengan sigap, dia menarik pinggang Ziya pelan, menyuruhnya dengan isyarat agar segera menyusul bersikap serupa.

 

 

"Maaf nunggu lama, Ma," ucap Ziya sambil menunduk, meraih tangan sang mertua, meski jantungnya sedikit berdegup tak karuan.

 

 

Namun Iwana hari ini tidak seperti biasanya. Dia hanya manggut-manggut, lalu mengusap bahu Ziya dengan lembut. Tidak ada gerutuan. Tidak ada selentingan sinis. Hanya senyum dan sapaan halus yang membuat Ziya justru merasa lebih waspada.

 

 

Ziya menegakkan tubuhnya, lalu menatap Afnan. Tatapan mereka bertaut, saling bertanya tanpa suara: Ada apa dengan Mama hari ini?

 

 

"Ayo, masuk. Mama mau denger gimana hasilnya," ucap Iwana sambil berbalik, langkahnya ringan, nyaris tergesa.

 

 

Afnan dan Ziya mengikuti dari belakang, masih saling menautkan jemari. Afnan belum mau melepaskannya. Bukan karena manja, tapi sebagai bentuk perlindungan.

 

 

Sesampainya di ruang tamu, aroma teh melati menggantung di udara. Sofa empuk berwarna krem tampak bersih dan rapi seperti baru dibersihkan. Namun suasananya tidak senyaman tampilan ruangan.

 

 

Senyum Iwana mulai surut, berganti sorot mata tajam yang sulit ditebak. Wajahnya tegang, dan Afnan bisa merasakan bahwa ini bukan sekadar kunjungan biasa.

 

 

"Ceritakan hasilnya, Af!" desak Iwana, kali ini nada suaranya mulai naik setingkat. Matanya memelototi putranya, seperti hendak menembus pertahanannya.

 

 

Afnan membuka mulut, namun belum sempat berkata, Iwana sudah mengalihkan pandangan pada Ziya. Tatapan itu menusuk, lalu kalimat yang selama ini hanya dibisikkan dalam bayangan, kini meluncur begitu saja dari mulut ibu mertua itu.

 

 

"Ziya, kamu beneran mandul?"

 

 

Deg!

 

 

Udara seketika berubah. Dada Ziya serasa dihantam batu. Pandangannya memburam sejenak, bukan karena air mata, tapi karena seluruh sistem dalam tubuhnya seperti diretas oleh rasa malu dan sakit. Kata itu. Mandul. Terlontar dari mulut perempuan yang seharusnya melindunginya seperti anak sendiri.

 

 

Afnan langsung menoleh cepat ke arah istrinya. Wajah Ziya pucat, matanya kosong. Jemarinya yang tadi hangat kini terasa dingin, nyaris beku.

 

 

“Ma, tolong jaga ucapan,” ucap Afnan, suaranya rendah tapi jelas mengandung ketegasan yang jarang ia keluarkan kepada ibunya sendiri.

 

 

Iwana mengangkat alis, seolah heran. “Mama cuma tanya. Itu kan hasilnya? Mandul, kan?” bibirnya menyungging senyum getir, seperti merasa paling tahu segalanya.

 

 

Ziya mengangkat wajahnya perlahan. Air mata belum jatuh, tapi luka itu terlalu jelas terpahat di sorot matanya. Ia berusaha keras mengunci bibirnya agar tak retak. Nafasnya memburu, bukan karena marah—tapi karena dihina saat ia sedang berjuang.

 

 

“Enggak, Ma,” Afnan bersuara lagi, kali ini berdiri tegak, melepaskan genggaman tangan Ziya lalu melangkah satu langkah ke depan. “Ziya nggak mandul. Terapi ini bagian dari ikhtiar kami. Dan kalaupun hasilnya belum sesuai harapan, itu bukan salah satu pihak aja.”

 

 

Iwana menyipitkan mata. “Kamu bela dia, sekarang? Kamu lupa siapa yang melahirkan dan membesarkanmu?”

 

 

Afnan menarik napas panjang. Suaranya tetap tenang, namun ada keteguhan dalam intonasinya. “Justru karena Mama yang melahirkan dan membesarkan aku. Aku tahu, Mama pasti ngerti—nggak semua hal bisa langsung jadi seperti keinginan kita. Ziya bukan perempuan lemah, Ma. Tapi dia juga manusia. Perempuan yang dijatuhi kata ‘mandul’ bisa down, Ma.”

 

 

Ziya menunduk lagi. Kali ini ia tak sanggup menyembunyikan gemetar di kedua tangannya.

 

 

Afnan kembali meraih tangan istrinya dan menuntunnya berdiri. Ia menatap ibunya dengan luka dan kecewa yang tak bisa ia samarkan.

 

 

“Kalau Mama sayang sama Afnan, tolong... jangan sakiti perempuan yang aku pilih untuk hidup bareng,” ucapnya pelan, lalu mengangguk hormat, "Kami pamit istirahat dulu."

 

 

Tanpa menunggu jawaban, Afnan menggandeng Ziya keluar dari ruang tamu, meninggalkan Iwana yang masih terpaku, matanya berkedip pelan—seperti baru menyadari bahwa kata-katanya baru saja menanam luka.

 

 

Pintu kamar tertutup perlahan. Keheningan menggantung di udara. Ziya duduk di pinggir ranjang, menunduk, sementara Afnan berdiri memunggunginya sejenak, mencoba menenangkan napas yang terasa sesak di dadanya.

 

 

“Aku minta maaf, Sayang…” gumam Afnan pelan, nyaris seperti bisikan.

 

 

Ziya tidak menjawab. Hanya memejamkan mata, menahan seluruh riuh yang nyaris tumpah. Bahunya naik turun pelan, mencoba tetap utuh.

 

 

Afnan berbalik. Langkahnya mendekat, lalu berlutut di hadapan Ziya. Dia mengangkat kepala istrinya, menatap mata yang mulai basah.

 

 

“Harusnya aku yang ngomong dari awal,” lirihnya. “Kita baru mulai terapi mandiri, dan… ya, hasil pemeriksaan kemarin—itu bukan karena kamu. Jumlah benihku rendah. Dan sebagian besar nggak sehat.”

 

 

Ziya membuka matanya. Datar, tapi ada getar halus yang mengaduk dalam dada.

 

 

“Jadi…” bisiknya. "Tetep aja sakit ya, Mas. Meski berusaha masuk telinga kanan keluar kiri."

 

 

Afnan mengangguk pelan. “Aku tahu dan nggak akan diam lagi.”

 

 

Ziya menghela napas panjang. Ia tak menyalahkan suaminya. Ia tahu Afnan terjepit antara dua cinta—ibunya dan dirinya. Tapi luka hari ini terlalu dalam untuk segera sembuh.

 

 

“Aku nggak butuh pembelaan di depan orang, Mas. Aku butuh kamu berdiri di sisiku,” ucapnya, tenang namun menusuk.

 

 

Afnan menunduk. “Dan itu yang akan aku lakukan mulai sekarang,” jawabnya mantap. “Besok aku akan bicara langsung sama Mama. Aku nggak mau kamu terus-terusan jadi tameng.”

 

 

Ziya tak menjawab. Ia hanya menatap wajah lelaki di hadapannya—mata yang mulai jujur, raut yang tak lagi defensif.

 

 

Perlahan, Ziya mengulurkan tangan, mengusap rambut Afnan dengan lembut. Lalu dia berkata lirih,

 

 

“Kita kuat, ya?”

 

 

Afnan mengangguk. “Sama kamu, aku pasti kuat.”

 

 

Sementara itu, di ruang tamu yang sudah sepi, Iwana masih duduk di tempat semula. Wajahnya menegang, tapi tak ada lagi kata pedas yang siap dilontarkan. Tatapannya kosong menembus dinding, seperti sedang berusaha menepis sesuatu dalam benaknya.

 

 

“Kalau kamu masih hidup, pasti marahin aku,” gumamnya--teringat mendiang suami, nyaris tak terdengar. Bibirnya gemetar, tapi ia buru-buru menegakkan bahu. Tidak boleh terlihat lemah. Tidak boleh mengaku salah.

 

 

Namun pandangan sinis itu kini melembut. Sorot matanya tak lagi mengandung bara. Justru kosong. Dan entah mengapa, hening di ruang tamu malam itu terasa lebih nyaring daripada amarah manapun yang pernah ia teriakkan.

 

 

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memejamkan mata sejenak sebelum pergi.

 

 

***

 

 

Di balik tirai kamar, Ziya menatap langit malam. Hari ini berakhir dengan perasaan campur aduk—antara lega, perih, dan diam yang menggantung tanpa bentuk.

 

 

Lalu, suara notifikasi ponsel memecah sunyi. Sebuah pesan masuk.

 

 

Nomor tak dikenal.

 

["Kamu nggak sendirian. Aku tahu rasanya disalahkan, meski bukan salahmu. Kalau kamu butuh bicara, aku di sini."]

 

 

Ziya menatap layar itu lama, alisnya berkerut. Tak ada nama, tak ada tanda. Hanya kalimat yang seakan tahu terlalu banyak.

 

 

Tangannya gemetar saat menyentuh layar.

 

"Siapa ini?"

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!