Andai Tiada Mertua

Cekcok

Afnan meraup wajah kasar. "Apalagi ini?" keluhnya.

 

"Kamu ngadu apa aja ke Afnan!" sentak Iwana, meraih lengan Ziya dan mencengkeramnya.

 

Ziya menggeleng sembari meringis menahan sakit. "Aku nggak ngadu apa-apa, Ma," Belanya pelan.

 

Afnan melepaskan cekalan sang mama, lalu menggenggam jemari Iwana untuk menenangkannya.

 

Dia mengingatkan Iwana, bukankah persoalan ini kemarin telah mufakat. Termasuk tidak lagi mendebatkan selera makanan. Namun, rasanya dia harus menegaskan sekali lagi di depan keduanya.

 

"Keputusanku mutlak seperti kemarin, tidak ada perubahan. Jika Mama terus mendesak Ziya, maka aku yang akan keluar dari sini," tegas Afnan, tautan jarinya dengan Iwana pun terlepas.

 

Ziya menengadahkan wajah sembari menggeleng pelan. Jika ini terjadi, dirinya adalah penyebab keretakan hubungan antara anak dan ibu. 

 

Putri Salamah menggoyangkan lengan suaminya beberapa kali. Ziya takut Iwana akan semakin menuduhnya macam-macam. Namun, Afnan malah menggenggam jemarinya erat, membuat Ziya tak berkutik.

 

"Oh gitu? emang gara-gara dia." Iwana menunjuk wajah Ziya. "Katanya anak pesantren pinter jaga adab, nyatanya omong kosong!" Dia tersulut emosi.  

 

Wanita senja itu meradang, dia bangun dari duduknya sembari berkacak pinggang.

 

Afnan masih menahan diri meski duduknya tak lagi tenang. Sementara Ziya cemas bukan kepalang, jangan sampai sumpah serapah keluar dari mulut Iwana. Akan jadi apa pernikahan mereka nanti bila ridho orang tua tak menyertai. 

 

"Maafin aku, Ma," cicit Ziya mulai terisak. Dia ingin menyudahi ini dan pulang menemui Salamah. Rasanya sudah tidak kuat lagi selalu dicari-cari kesalahan oleh sang mertua.

 

"Maaf, maaf, heleh! ... kamu ingin mengeruk harta Afnan, 'kan? dia royal pada istrinya, bahkan pada Yasmin yang notabene punya penghasilan sendiri ... sedangkan kamu? Apa keahlianmu selain ngabisin uang Afnan nanti," omel Iwana menyudutkan sang menantu.  

 

"CUKUP!" Afnan bangkit dan berdiri di depan Ziya. "Aku nggak suka Mama seperti ini," tutur Afnan seraya menarik jemari istrinya agar keluar dari sana.

 

Iwana gusar, lalu berteriak, "Afnan! Kamu lihat saja nanti, semua ucapan mama bakal terbukti." Terlanjur emosi, dia lantas mendorong Ziya hingga terhuyung.

 

Lelaki itu menghalangi sikap bar-bar ibunya, dan tanpa sengaja mendorong Iwana hingga mundur beberapa langkah. "Afnan!" seru Iwana lantang, kecewa akan sikap putranya.  

 

"Mas!" pekik Ziya.  

 

"Maa! Maaf, aku nggak sengaja," kata Afnan seraya meraih tubuh ibunya masuk dalam dekapan.

 

"Tega kamu, Af!" isak Iwana.

 

"Maaf, kuharap Mama paham," bisik Afnan masih memeluk Iwana.  

 

Iwana melerai pelukan dan mendorong Afnan. Dia masih menatap penuh permusuhan pada Ziya.  

 

Afnan hilang kesabaran. Dia berbalik badan dan kembali menarik Ziya lalu membuka pintu kamar.

 

Bruk!

 

Mereka terkejut saat mendapati Aisyah terjerembab kala lempeng kayu itu dibuka lebar oleh Afnan.

 

"Ais!" seru Afnan murka.  

 

Aisyah terburu bangun sambil cengengesan. "E-ehhehe, aku ada perlu sama Mama, tapi nanti saja. Permisi," ujarnya pergi dari sana dengan wajah merah padam karena malu.  

 

Afnan melepas mantan adik iparnya itu. Emosinya ikut memuncak. Dia berjalan menyeret Ziya hingga di depan tangga. 

 

"Mbaaaakk!" 

 

Tak berapa lama, asisten rumah tangga itu datang tergopoh menuju sumber suara. "Ya, Pak?" 

 

"Setelah aku pergi, apa ada tamu?" tanya Afnan menyelidik, tak melepas pandang dari wajah Iroh yang terlihat gugup.  

 

"E-nggak ada," jawabnya takut. Dia di ancam akan dipecat Iwana jika membocorkan apapun pada Afnan.  

 

"Oke, mau main rahasia denganku ya," kata Afnan meminta Iroh pergi lalu kembali melihat istrinya.

 

"Naik duluan, Zie!" pungkas Afnan masuk ke ruang kerja dan mengunci pintunya, dia akan memeriksa cctv pagi ini.

 

Iwana berseru memanggil putranya yang terus menjauh. Wanita paruh baya itu menggeram, mengetatkan gigi hingga rahangnya menegang.  

 

Afnan menahan amarah memandangi layar cctv. Gurat wajah kalem pria itu kini berubah kaku dan dingin, akibat otot lehernya yang menonjol karena dugaannya terbukti.

 

Sang pemilik konveksi mendengus kasar. Dia beberapa kali menghirup-hempas udara hingga bahunya naik turun, agar emosinya mereda sebelum keluar dari sini.

 

Sementara di kamar, Ziya merasakan sedikit ngilu di pangkal pergelangan tangan sebab cekalan kuat Afnan saat menariknya tadi.

 

Brak! Tiba-tiba, Afnan membuka pintu kamar. 

 

Baru kali ini Ziya melihat pria yang dia cintai marah. Tak ada keberanian menatap balik manik mata yang biasanya teduh memberikan pancaran kasih.

 

"Shakira?!" Afnan melihat Ziya hanya dari depan pintu kamarnya. "Jangan pernah membantahku lagi!" pungkas Afnan. Dia lalu menutup panel itu kencang.

 

Brak!

 

Air mata Ziya luruh sebab hati terasa berdenyut nyeri, teringat ucapan Iwana dan respon Afnan barusan. Ziya disergap rasa bersalah.

 

Afnan lupa wejangan sang mertua agar menegur anaknya lembut saat dia membuat satu kesalahan. Siang itu, tidak ada makan siang di kediaman pemilik konveksi. Baik Ziya dan Afnan, sama-sama tidak merasakan lapar. 

 

Sepanjang hari, keduanya saling diam. Menelaah apa kesalahan masing-masing.

 

'Andai tahu ancaman itu, kamu pasti meninggalkan beliau sebab memilihku. Aku nggak mau seperti itu, Mas,' batin Ziya. 

 

Wanita ayu itu memilih bangkit dan berjalan ke sisi jendela kamar. Pandangannya memendar ke angkasa.

 

Gumpalan bak kapas yang berarak itu ingin diraih sekedar menghapus sedih. Semilir angin yang menerpa ujung hijab seakan menegur bahwa semua bakal baik saja.

 

“Bahkan jumantara selalu berusaha memberikan warna cerah meski mendung sesekali menyelimuti. Tak perlu susah payah menjelaskan kedudukannya tinggi dan diakui sebab semesta membutuhkan hadirnya."

 

"Mampukah aku seperti itu,” gumam Ziya, wajah mulus pun kembali meneteskan air mata saat dia berkaca pada poros perputaran cakrawala. 

 

Afnan masuk ke kamar menjelang tengah malam. Ada rasa bersalah menyergap dada saat melihat Ziya tidur meringkuk. Istrinya tentu belum makan sama sekali sebab Iroh mengatakan tak melihatnya turun setelah keributan siang tadi.

 

“Sayang, Zie,” bisik Afnan. Dia menekuk lutut di sisi ranjang, membelai wajah yang tertutup surai. 

 

Kelopak mata bulat Ziya perlahan terbuka, pandangannya sedikit kabur akibat retina yang kembali mengembun. 

 

“Maaf ya, aku out of control,” Afnan meraih telapak tangan Ziya lalu membubuhkan kecupan kecil di sana. 

 

Tidak ada jawaban dari Ziya. Wanita itu menahan diri sebab enggan ada perselisihan di antara mereka. Malam pun bergulir begitu saja, hingga gulita lingsir oleh mentari yang merotasi kosmos. Memberi semburat merah di ufuk Timur. 

 

Sarapan pagi ini lengang. Tiada percakapan dari masing-masing penghuni. Sibuk berkutat dengan isi hati sejak peristiwa kemarin. 

 

Pagi ini Afnan mengantar Ziya ke kampus untuk mengambil sesuatu. Istrinya itu masih diam sampai mereka tiba di tujuan. 

 

“Aku minta maaf,” kata Ziya, sebelum turun dari mobil.

 

“Adakah ibroh-pelajaran yang kamu petik?” balas Afnan, tak habis pikir dengan keinginan istrinya. Setengah mati dia membela kedudukan Ziya, tapi usahanya seakan tidak di hargai. 

 

“Hmm, ada,” sambung Ziya. Dia lalu turun dan berjalan cepat memasuki area kampus.

 

Saat melangkah melewati gerbang fakultas, otaknya dipenuhi oleh rencana hari ini setelah dari kampus. Ziya bahkan tak mendengar bila ada seseorang yang memanggilnya.

 

"Ziya! Ziya!" 

 

Afnan masih di sana saat melihat seseorang menghampiri Ziya dan berjalan beriringan dengannya. "Heh, siapa itu?" 

 

 

.

 

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!