Andai Tiada Mertua
Dituduh balik
Sejenak wanita cantik itu linglung. Tubuh semampainya masih terduduk lemas di lantai.
"Ba-gaimana ini," ucap Ziya terbata, ngeri membayangkan bila hal itu terjadi.
Dadanya mendadak disergap sesak. Dia kesulitan menghirup oksigen yang gratis sediakan Tuhan.
Tarikan diafragma pun terasa berat sehingga kedua bahu Nyonya Chairi terhentak naik turun dengan cepat.
"Bu Ziya!" panggil Iroh panik, kala melihat majikan mudanya melamun di lantai. "Sakit?" tanyanya seraya ikut bersimpuh.
Ziya seketika sadar, meski sedikit tergagap, "A-aku nggak apa, Mbak. Tolong bantu berdiri, maaf ya," lirih sang nyonya meminta bantuan pada Iroh.
Iroh lantas memapah tubuh majikannya menaiki satu per satu tangga menuju kamar. Sesampainya di sana, sang asisten meminta Ziya berbaring.
Ziya mengatakan hanya butuh istirahat sejenak. Dia berpesan pada Iroh bila Afnan pulang agar dibangunkan. Dirinya ingin menelaah kembali semua ucapan sang mertua.
Setelah kepergian Iroh. Ziya menarik selimut, bahunya bergetar halus. Isakan mulai terdengar dari mulut mungil terpoles lip tint peach yang nampak natural di bibirnya.
"Aku ada dalam persimpangan. Jika kuikuti mama, Mas pasti marah. Namun, kalau tak menuruti mama, ancaman tadi sangat mengerikan," isaknya.
Pikiran Ziya seketika kalut. Sulit menenangkan hati meskipun prasangka baik berusaha dia jaga. Air matanya kian mengucur deras membasahi pipi saat ponselnya berbunyi dan menampilkan satu nama di sana.
Dia gegas bangkit, menyeka air mata juga lelehan cairan yang keluar dari hidungnya. Mencoba berdehem agar suara sapaan salam nanti tak terdengar sumbang hingga memicu kecurigaan bundanya.
"Bismillah," gumam Ziya seraya menggeser tombol hijau ke arah atas. "Assalamualaikum."
"Wa alaikumussalam, Neeng." Suara wanita di seberang sana lembut terdengar.
"Ibu sehat?" tanya Ziya seringan mungkin, berusaha menjaga intonasi riangnya.
"Alhamdulillah. Gimana rasanya tinggal di rumah gedong, Neng?" kekeh Salamah. "Mertuamu jadi tinggal seatap?" selidik sang ibu.
Deg!
Ziya ikut tertawa kecil. "Alhamdulillah kheir, Bu. He em, tapi ketemu mama sore doang. Kalau pagi beliau jaga toko," jabar Ziya berusaha menutupi.
Salamah mengangguk meski Ziya tak melihatnya. "Ibu do'akan semoga Neng di perhatikan layaknya anak kandung," ucapnya dengan suara yang bergetar halus.
Batin ibu terpaut bilamana terjadi sesuatu dengan anaknya. Salamah merasakan gundah tak berkesudahan memikirkan Ziya. Hingga Santi, menyarankan untuk menghubungi mereka agar tiada prasangka.
Hening.
Putri Salamah menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia sibuk menyeka lelehan bulir bening yang mengalir tanpa permisi.
"Ziya! Neng?" panggil Salamah di ujung sana. "Kamu nangis?" sebutnya memanggil sang anak.
"Aamiin ... aku butuh itu saat ini, do'akan kami ya, Bu. Bukan hanya mawaddah warohmah tapi selalu sakinah," tutur Ziya, suaranya mulai sedikit sumbang.
Kesedihan sang putri tertangkap oleh batin seorang ibu. Salamah pun ikut terhanyut dalam suasana siang itu.
"In sya Allah, hidup pasti ada ujian. Walau mustahil menjadi istri sempurna, tapi seorang wanita tentu berusaha keras untuk menjadi ibu, istri, dan menantu terbaik bagi sekitarnya," kata Salamah mencoba meraba gundah hati yang mencuat.
"Allah tidak mengatakan bahwa kehidupan kita akan selalu mudah. Tapi Allah menjanjikan, setelah kesulitan pasti ada kemudahan ... Neeng, apabila Allah mencabut nikmatmu, mustahil bila tak disiapkan pengganti yang lebih baik," imbuh Salamah.
Degh.
Tidak perlu duduk berhadapan jika sekadar untuk merasakan bahwa putrinya tengah gundah. Salamah lantas bicara panjang memberi wejangan serta semangat untuk Ziya.
Hanani Gazhiyah tak kuasa lagi membendung kesedihan. Semua kalimat ibunya seakan mewakili gelisah yang dia rasa. Nada lembut Salamah nan dirindukan, belaian tangan wanita itu kala memberinya nasihat terasa nyata meski raga tidak bersama.
"Bu," isak Ziya, kian sulit membendung berkubik air mata yang terus meleleh.
Setelah beberapa menit menenangkan Ziya dan memberinya semangat, panggilan itu diakhiri Salamah.
Benda pipih itu Ziya lemparkan asal. Kedua lututnya ditekuk lalu didekap erat oleh lengan yang melingkar. Istri Afnan Chairi membenamkan sejenak wajah ayunya di sana, sebelum beranjak ke kamar mandi.
Tak lama, handle pintu kamar pun dibuka seseorang.
"Sayang!" Afnan pulang lebih awal sebab merasa bersalah telah memberi Ziya ucapan bernada tinggi.
"Ya, Mas," sahut Ziya dari dalam bathroom.
Sesaat kemudian, Ziya keluar dengan mata sembab. "Masih masalah yang sama?" cecar Afnan, langsung membelai wajah istrinya.
Ziya mengajak Afnan duduk dan mengutarakan alasannya. Dia menatap sendu manik mata sang suami agar mengabulkan permohonan Iwana.
Sedikit demi sedikit Afnan memahami gestur istrinya, membuat pria itu tak yakin dengan alasan Ziya. Wanitanya bukan sosok lemah atau mudah menyerah pada hal baru. Apalagi semua ini berkaitan dengan tanggung jawabnya sebagai istri.
"Mama ngancam apa, Sayang?" selidik Afnan, menatap lekat wajah Ziya, menduga ada hal tak beres telah terjadi.
Ziya mendongakkan kepala. "E-enggak ada," sangkal Ziya berusaha meyakinkan Afnan.
Lelaki dengan outfit kemeja navy dan celana chino moca itu masih berdiri di sisi ranjang. Kini kedua tangannya dia lipat didepan dada, menanti jawaban jujur Ziya.
"Mau sukarela jujur atau bagaimana, Zie? aku panggil Iroh atau tanya ke mama langsung agar semua jelas," kata Afnan seraya berbalik badan lalu membuka pintu kamar menuruni tangga guna mencari asisten rumah tangganya atau Iwana.
Putri Salamah mengejar langkah sang suami, dia menahan lengan Afnan agar tak membuat keributan. Namun, usahanya kali ini justru memancing perhatian si biang onar.
"Eh eh, kalau mau adegan mesra kayak film India jangan di sini. Siang ini sudah panas, malah makin menjadi nanti," cibir Aisyah, lupa akan peraturan yang Afnan berikan.
Pria itu hanya sekilas melirik mantan adik iparnya. Tak guna meladeni, pikir Afnan. Dia terus melangkah menuju kamar Iwana.
Tok. Tok.
"Ma, boleh masuk?" pinta Afnan didepan pintu kamar Iwana. "Maaa!" panggil Afnan lagi.
"Mas, nggak usah. Ayo balik ke kamar," kata Ziya, menarik lembut lengan suaminya, akan tetapi tak Afnan pedulikan.
Wanita paruh baya yang telah berganti baju dengan homy dress itu membuka pintu kamarnya lebar. Iwana terheran.
"Ada apa ini? penggerebekan?" tanya Iwana silih berganti menatap anak dan menantunya.
"Boleh kami masuk?" pinta sang putra sulung.
Pemilik toko material itu menghela nafas. Hatinya menduga bahwa Ziya mengadu perihal kedatangan Shakira tadi pagi juga mengenai ancaman untuknya.
"Ada apa, sih? serius amat, Af," imbuh sang bunda, dia duduk di atas ranjang sementara mereka di sofa.
Pria tampan inI menarik napas dalam-dalam sebelum bicara.
"Ma, Ziya adalah anak emas orang tuanya. Aku yang meminta dan membawanya ke sini. Tolong mudahkan urusan putramu ini untuk memuliakan dia," tutur Afnan lembut meski hatinya bergejolak.
"Berikan istriku kesempatan untuk membuktikan dirinya mampu. Mama tinggal di sini atas kesepakatan berdua, tapi tidak menyusupi hingga ke dalam ranah kami," sambung Afnan pelan-pelan agar ibunya tidak tersinggung.
Iwana langsung menatap tajam menantunya. Sementara putri Salamah hanya bisa menundukkan wajah.
Afnan, menggenggam jemari istrinya yang sudah basah sebab gugup. Dia juga sedang membesarkan hatinya sendiri.
"Bagus ya, Ziya. Kamu sudah bisa fitnah mama." Iwana melayangkan tatapan permusuhan.
Ziya dan Afnan saling pandang. "H-hah?!"
.
.