Andai Tiada Mertua
Misteri
"Aku nggak pernah nyuruh atau minta kamu melakukan segala sesuatu terkait urusan rumah dan semacamnya. Baru kali ini saja, Yasmin,” tegur Afnan sambil mengekori langkah wanita ayu itu ke Kamar. Dia jengah atas sikap sang istri yang selalu saja cuek.
Yasmin berbalik badan ketika telah mencapai ambang pintu. Dia mendongakkan dagunya seraya berkacak pinggang, seakan menantang Afnan. “Bukankah Rasulullah mengerjakan semua hal sendiri? Bahkan membantu pekerjaan rumah tangga, kata Sayyidah Aisyah yang tertuang dalam hadis Bukhari, benar begitu?” ocehnya tetap menolak permintaan sang suami.
Dirinya enggan membuatkan sarapan dan infuse water bagi Afnan yang akan melakukan perjalanan bisnis. Bagi Yasmin, kuku berhias nail art itu justru lebih berharga dari sekedar mengerjakan sesuatu yang bisa dilakoni oleh asisten rumah tangga. Biasanya Afnan tak pernah rewel. Mengapa hari ini cerewet sekali, pikir Yasmin.
Yasmin merasa, selama menikah dengan Afnan, semua aktivitas sehari-hari dilakukan sendiri tanpa bantuannya. Mulai dari berangkat bekerja sampai urusan pribadi. Mereka telah sepakat di awal pernikahan, hanya akan tinggal seatap, bukan hidup bersama.
Namun, pagi ini Afnan ingin duduk bersama dengan Yasmin di meja makan. Dia akan keluar kota beberapa hari, setidaknya ada obrolan hangat yang mengantar kepergiannya.
Bagaimanapun sikap Yasmin padanya, wanita ini masih menyandang predikat sebagai istri, yang wajib diingatkan perlahan agar tak kian melengkung layaknya lingkaran.
Afnan menghela napas mendengar alasan klise Yasmin kali ini. Dia pun berkata dengan lembut, "Jika para lelaki mempunyai keistimewaan dapat pergi berjihad di jalan Allah, mencari nafkah, serta memelihara keluarganya. Sedangkan kalian mengeluh tidak memiliki aktivitas berpahala setara jihad maka pekerjaan rumah tangga adalah jawabannya, Yasmin." Afnan masih berdiri di lawang pintu memerhatikan istrinya melangkah.
“Aku tahu,” jawab Yasmin cepat sambil menyapukan satu per satu make-up di wajahnya.
“Tak adakah keinginan untuk meraih keutamaan itu?” imbuh sang suami, masih sabar menegur kali ini. Afnan sampai bersandar di kusen pintu, menatap lurus punggung istrinya.
Yasmin mengindahkan ucapan Afnan seperti biasa. Dia melanjutkan memoles wajahnya sampai selesai lalu berganti pakaian. Tak lama kemudian, istri Afnan itu berjalan mendekati sang pria.
"Ada, tapi nanti. Bukankah kita sudah sepakat?" bisiknya sembari menepuk-nepuk lembut bahu Afnan. Dia lalu meninggalkan sosok tegap itu begitu saja di dalam kamar.
Lagi-lagi Afnan hanya diam. Dia teringat kembali alasan menikahi Yasmin dulu. Tak cuma itu, fakta yang baru diketahui setelah akad pun membuatnya tak mampu berkutik selain menjalani kehidupan pernikahan sebisanya.
"Yasmin, aku pergi beberapa hari. Jaga diri baik-baik," kata Afnan. Dia menahan lengan istrinya sebelum wanita itu berjalan menjauh. "Jangan pergi sama ...." Afnan menunduk, menelan ludahnya kasar dan merutuki diri, sampai kapan menanggung dosa ini.
Wanita cantik yang mengenakan pashmina Lilac itu menoleh lagi. Dia mengangguk. "He em. Aku langsung pulang, kok," jawabnya. Yasmin kembali mendekat, bahkan menempeli Afnan tanpa celah dan membubuhkan kecupan di pipi suaminya itu. "Aku tetap milikmu."
Seperti biasa, Afnan hanya merespon dengan senyuman samar yang dihadiahkan untuk Yasmin. Padahal hatinya tak tergerak sejak saat itu. Semua dilakukan sebatas kewajiban sebagai lelaki bertitel suami.
Dia tak lagi bernafsu untuk sarapan di rumah. Afnan membiarkan Yasmin pergi sesukanya, seperti kebiasaan selama ini. Asal sang istri masih ingat pulang, itu sudah cukup.
Afnan chairi adalah alumni Aliyah As-shofa yang terkenal akan kesantunan akhlak para anak didiknya. Dia juga kerap menyisihkan dua setengah persen bahkan lebih dari pendapatan bersih usaha konveksi miliknya untuk kemajuan almamater.
Kepergian kali ini sesungguhnya bukan untuk urusan bisnis. Dia akan mengunjungi kota hujan, tempat menimba ilmu di masa lampau. Beberapa bulan belakangan, qalbunya diliputi kegelisahan tak biasa. Afnan ingin meminta nasihat sang guru perihal masalah tersebut sekaligus mabit-menginap beberapa hari di sana.
Saat hari menjelang petang, Afnan tiba di sana. Dia langsung bergabung dengan ratusan santri pria untuk melaksanakan salat maghrib. Pun tak lupa menitipkan pesan pada khidmah di depan Aula, guna meminta izin waktu khusus dari sang guru agar dapat bertatap muka.
Keinginannya dikabulkan, sang guru lantas meminta Afnan menuju huniannya. Mereka berbincang menghabiskan waktu hingga jelang tengah malam.
Tiga hari berada di lingkungan yang berperan banyak dalam membentuk karakter sejak remaja, Afnan pamit pulang dengan membawa sebuah solusi baru untuk kelangsungan rumah tangganya.
Wajah pemilik konveksi itu berseri, harapan mereguk harmonisnya ibadah sepanjang masa, kembali muncul. "Semoga Yasmin mau," ujarnya sumringah sepanjang jalan sambil menyetir mobil.
Hampir tengah hari ketika mobilnya mulai masuk ke pekarangan rumah. Fasad depan tampak lengang, tidak ada tanda kehidupan di sana. Afnan pun turun dari kendaraannya dan langsung membuka pintu depan.
"Loh, nggak dikunci?" gumamnya seraya mendorong panel pintu dan masuk menuju kamarnya di lantai dua.
Afnan memutar knob dan mendorong pintu bilik. Saat lempeng kayu itu terbuka, netranya disuguhkan oleh pemandangan indah nan segar menggoda. Indera penciuman pun dimanjakan oleh wangi yang membangkitkan jiwa kelelakiannya.
Rupanya Yasmin baru selesai mandi. Namun, dia hanya sekilas melihat ke arah suaminya itu. Nyonya muda nan ayu langsung duduk di depan meja rias, mengabaikan Afnan yang menatapnya penuh kerinduan.
"Mau kemana?" tanya Afnan dengan suara berat. Dia mendekati Yasmin lalu memeluknya dari belakang.
Tubuh seksi itu menggeliat. "Lepasin, kamu baru pulang, bau matahari. Sana mandi," ketusnya menolak sentuhan Afnan.
"Suamimu ini nggak panas-panasan selama perjalanan pulang. Mana ada bau matahari," bisiknya sembari menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Yasmin, menghidu wangi sang istri.
"Ish, sana!" bentak Yasmin. Dia melepaskan tautan lengan Afnan yang melingkari pinggang dan mendorong pria itu menjauh.
Afnan mengalah, dia menghela napas menuju lemari lalu ke kamar mandi. Namun, tiba-tiba langkahnya tertahan manakala terdengar ketukan di pintu dan Yasmin buru-buru berlari ke sana.
"A-aku saja. Pergilah mandi," ujarnya agar Afnan tak membuka pintu kamar.
Lelaki itu hanya mengangguk, tubuhnya seketika didera lelah sehingga memilih untuk berendam dalam bath tub beberapa saat.
Ketika telah selesai membersihkan tubuh, Afnan mencari Yasmin hingga ke teras depan untuk mengajak makan siang bersama di luar sembari membicarakan keinginannya. Tapi, wanita ayu itu entah pergi kemana.
"Biasanya pamit, kok sekarang enggak." Afnan kembali masuk dan berpapasan dengan asisten rumah tangga yang akan menuju kamar tamu. "Mbak, Yasmin kemana?" tanya Afnan saat melihat Iroh membawa satu set seprei di tangannya.
Iroh gelagapan. Dia enggan ikut campur urusan pribadi majikannya. "Nggak tahu, Pak. Saya baru pulang belanja dari pagi," jawabnya takut-takut.
Melihat sikap Iroh, hati Afnan mulai tak nyaman. "Selama aku pergi, Yasmin pulang atau enggak?" sambungnya lagi, menatap lurus pada wajah yang menunduk.
Iroh diam, manik matanya bergerak cepat ke kanan-kiri seakan mencari jawaban aman. "Engghhh-"
.