Anak Tebu yang Menatap Langit
Hasil yang Tak Sesuai Harapan 9
Pagi itu langit tampak lebih cerah dari biasanya.
Kabut cepat menghilang. Matahari naik perlahan, menyinari hamparan kebun tebu di Desa Isorejo dengan warna keemasan.
Namun di dalam hati Imam… ada kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Sudah hampir dua minggu sejak amplop itu ia kirim.
Terlalu lama untuk sebuah penantian.
Di sekolah, suasana berbeda.
Beberapa siswa terlihat berkumpul di depan papan pengumuman.
Suara mereka bercampur—ada yang tertawa, ada yang memanggil nama temannya.
Imam yang baru saja memarkir sepeda tuanya berdiri sejenak.
Hatinya berdebar.
Ia tahu.
Hari ini… mungkin hari itu.
Langkahnya pelan.
Tidak tergesa.
Seolah ia ingin menunda kenyataan beberapa detik lebih lama.
Ketika ia mendekat, tulisan di papan itu mulai terlihat.
“PENGUMUMAN HASIL LOMBA MENULIS TINGKAT PROVINSI”
Dadanya semakin sesak.
Matanya mulai mencari.
Satu per satu nama ia baca.
Baris pertama.
Bukan.
Baris kedua.
Masih bukan.
Baris ketiga.
Tetap tidak ada.
Tangannya mulai dingin.
Ia membaca lagi dari awal.
Lebih pelan.
Lebih teliti.
Namun hasilnya sama.
Namanya… tidak ada.
Suara di sekitar tetap ramai.
Ada yang bersorak kecil.
Ada yang bertepuk tangan.
Ada yang memanggil temannya dengan bangga.
Tapi bagi Imam, semua suara itu mendadak menjauh.
Seperti tenggelam.
Yang tersisa hanya satu hal—
hening.
Ia berdiri di depan papan itu beberapa detik lebih lama.
Seolah berharap namanya muncul tiba-tiba.
Seolah berharap ia hanya salah membaca.
Namun tidak.
Kenyataan tidak berubah.
Imam mundur perlahan.
Tidak ada air mata.
Tidak ada ekspresi berlebihan.
Hanya napas yang terasa lebih berat.
Dan dada yang terasa kosong.
Sepanjang pelajaran hari itu, ia tidak benar-benar mendengar apa pun.
Kata-kata guru seperti lewat begitu saja.
Pikirannya kembali ke satu titik—
“Aku gagal.”
Sore hari, ia menjemput Ali seperti biasa.
Ali berlari kecil menghampirinya.
“Kak!”
Imam tersenyum.
Berusaha terlihat seperti biasa.
“Bagaimana sekolahnya?”
“Seru!” jawab Ali semangat.
“Eh, Kak… hasilnya gimana?”
Langkah Imam terhenti sejenak.
Hanya satu detik.
Lalu ia berjalan lagi.
“Belum rezeki, Li.”
Ali terdiam.
Ia tidak langsung bertanya lagi.
Seperti mencoba memahami dengan caranya sendiri.
Di tengah perjalanan pulang, Ali tiba-tiba berkata pelan,
“Kak… kalau belum menang… berarti belum selesai, kan?”
Imam menoleh.
“Kok begitu?”
Ali mengangkat bahu kecilnya.
“Kan Kakak bilang… kalau belajar itu terus.”
Imam terdiam.
Lalu… tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya sejak pagi.
“Iya, Li. Belum selesai.”
Malam itu, Imam duduk di bawah lampu minyak.
Buku di depannya terbuka.
Tapi kali ini, ia tidak langsung membaca.
Ia hanya diam.
Menatap kosong.
Di sudut ruangan, ayahnya beristirahat.
Ibunya masih menjahit.
Semua berjalan seperti biasa.
Hanya satu yang berbeda—
hati Imam.
Ia membuka buku kecilnya.
Tangannya sempat ragu.
Lalu ia menulis:
“Hari ini aku belajar… bahwa usaha tidak selalu berakhir dengan kemenangan. Tapi mungkin… kegagalan adalah cara Allah mengajarkanku untuk lebih kuat.”
Tinta sedikit bergetar.
Namun ia melanjutkan.
“Aku sedih. Tapi aku tidak boleh berhenti. Karena di belakangku… ada yang harus aku jaga.”
Matanya menoleh ke arah Ali.
Adiknya sudah tertidur.
Wajahnya tetap tenang.
Seolah tidak ada yang berubah.
Imam menutup bukunya.
Menarik napas panjang.
Lalu berbisik pelan,
“Ya Allah… jika ini bukan jalanku, tunjukkan jalan yang lain. Tapi jangan biarkan aku menyerah.”
Di luar, angin malam berhembus pelan.
Daun tebu bergesekan seperti biasanya.
Tidak ada yang berubah di desa itu.
Namun di dalam diri Imam—
sesuatu telah tumbuh.
Bukan kemenangan.
Bukan kebanggaan.
Tapi sesuatu yang lebih kuat—
ketabahan.