Aku Datang, Aeera!
Waktumu Tidak Banyak 40
Saat Aeera menghancurkan manik-manik ikatan sihirnya dengan makhluk panggilannya. Saat itu, waktu terdistorsi sejenak. Kenan melihat siluet lelaki berbentuk hologram terbias dari Pedang Halilintar. Sosok itu, manusia!
”Kenan, aku juga manusia. Aku tak bisa berbuat lebih dari kemampuanku, kini ikatanmu dengan gadis penyihir itu berakhir. Kamu akan kembali ke duniamu dan tak akan bisa kembali lagi ke dunia ini. Aku juga punya pilihan, untuk tetap di sini, atau kembali ke kehidupanku sebelumnya.”
”Tuan Pedang, kumohon padamu. Jangan pergi, tolonglah Aeera dan semua orang di dunia ini. Demi aku, jika aku tak bisa kembali, tolong jaga Aeera. Aku akan melakukan apa pun untuk menebusnya. Tolonglah aku, Tuan Pedang.”
Kenan gemetar, matanya sembab, bulir air menetes. Ketidakberdayaan yang menimpa dirinya, berlagak sebagai makhluk panggilan terkuat! Sungguh ironi! Dia hanya seorang manusia yang tak memiliki daya dan upaya sama sekali. Kini, dia menyadari kelemahannya.
”Aku mohon Tuan Pedang ...!”
”Kenan ... sayangnya, aku tidak bisa melakukannya. Di dunia ini, aku dikutuk hanya sebagai pedang dan tidak memiliki kekuatan tunggal selain ada orang yang memakai aku sebagai senjata.”
Hiks! Hiks!
Kenan mengusap airmatanya, berkali-kali dalam duduknya.
”Kenapa kamu ingin melakukan ini, Kenan Kalandra? Kamu sudah melakukan hal sejauh ini untuk Aeera dan menyelamatkan dunia ini. Kamu bukan berasal dari dunia ini, lalu ... kenapa kamu rela mengorbankan nyawamu untuk mereka?”
Hening.
”Tuan Pedang, aku adalah manusia tidak berguna di duniaku. Jika memang aku bisa menjadi pahlawan dan berguna di dunia ini, itu sudah cukup bagiku. Meskipun, aku harus mengorbankan nyawaku. Aku ingin, hidupku menjadi berarti dan bisa membantu orang lain.”
Siluet lelaki hologram itu tersenyum, dia menepuk pundak Kenan.
”Aku akan memberikanmu kesempatan sekali lagi. Aku tidak akan meninggalkan dunia ini dan menunggumu. Namun, batasku menunggumu adalah tiga jam, tidak lebih dari itu. Jika kamu kembali ke duniamu, carilah sumber mana divine terkuat dan bukalah portal untuk masuk ke dunia ini kembali. Jika kamu tidak kembali dalam tiga jam, aku tak bisa mempertahankan eksistensiku di dunia ini.”
”Tuan Pedang ...,” Kenan mengusap airmatanya dan melihat ke atas, lelaki siluet itu mengangguk.
”Penuhi permintaanku padamu karena aku akan bertahan di dunia ini menunggumu!”
”Baik ... baik Tuan Pedang. Apa pun permintaanmu akan aku lakukan!” Kenan berdiri dan membersihkan sisa airmata yang menetes di pipinya.
”Buatlah Ibumu tersenyum, buat dia bahagia. Jika aku tak bisa membuat Ibuku tersenyum, maka setidaknya Ibumu tidak terluka seperti ibuku.”
Energi membuyar, kekuatan Pedang Halilintar mulai melemah.
”Cepatlah pergi dan cara energi yang besar di duniamu!”
”Terima kasih ... aku pasti akan datang dalam waktu yang ditentukan ....!”
JEGLAAARRRRRR!
Kenan ditarik energi besar dan disedot oleh dentuman halilintar. Waktu yang dibekukan oleh Pedang Halilintar berakhir.
***
WOOONNNGGGG!
JEGLAAARRR! SYUUUUNNGGG!
Cahaya serba putih hilang, Kenan dihempaskan di lantai di dalam kamarnya. Kamarnya di dunia yang selama ini menganggapnya tak berdaya dan manusia yang lemah. Kenan memejamkan matanya, ketidakberdayaan dan kehancuran menjadi satu. Satu-satunya yang dimiliki sekarang adalah, ketidakberdayaan.
Apa! Apa yang akan aku lakukan sekarang! Apa! Apa!
Kenan mencengkeram lantai dengan kuat. Aku tidak boleh ragu! Aku tidak boleh lemah! Aku harus kuat!
Kenan berdiri, waktunya tidak banyak. Tiga jam, dia harus mencari sumber mana energi yang kuat untuk bisa membuka portal. Dia harus kembali menyelamatkan Aeera dan dunianya. Dia juga sudah berjanji pada Pedang Halilintar untuk datang.
Kenan berdiri, satu-satunya hal yang tidak dilakukannya hampir tiga tahun ini adalah menyisir rambutnya. Dia melihat cermin, wajahnya kusam dan rambut panjangnya tak beraturan. Kenan pergi ke kamar mandi kecil di dalam pojok kamarnya. Dia membersihkan wajahnya, membilasi rambutnya dengan air.
Kenan kembali ke kamarnya, mengambil handuk dan melihat dirinya di depan cermin. Dia sudah menjadi seorang pemuda. Dia tak menyadari selama ini hanya terpenjara di kamarnya dan menyiksa dirinya sendiri. Mengambil sisir dan menyisiri rambutnya dengan cepat. Kenan mengambil jaket di lemarinya.
Kenan memakai jaket itu, tak ada jalan kembali kecuali harus melangkah. Aeera dan Pedang Halilintar menunggunya. Kenan tak takut lagi, satu-satunya yang harus dilakukannya adalah menjadi seorang pemberani. Jika dunia ini membencinya, maka dunia Aeera harus diselamatkan!
Kenan membuka gagang pintu kamarnya, membukanya dan menghirup udara dengan bebas. Dia merasakan ketenangan.
Saatnya pergi berperang dengan menegakkan tubuh dan kepalanya. Tak ada lagi tujuan perjalanannya kecuali untuk pertarungan akhir melawan para monster dan iblis. Dia melewati lorong rumah kecilnya, tak ada ibunya di dapur.
Apa yang harus Kenan lakukan, waktunya tidak banyak. Ibunya mungkin sedang mengantarkan kue pesanan pelanggan.
Waktunya tidak banyak, tidak lebih dari tiga jam.
Maafkan aku, Ibu. Aku harus pergi, aku harus menyelamatkan Aeera!
Tidak ada waktu lagi.
Kenan bergegas dan mencapai pintu di terakhir di rumahnya, pintu yang akan membawanya keluar rumah. Setelah tiga tahun berlalu, Kenan tak keluar dari rumahnya dan hanya mengambil paket beberapa hari yang lalu. Dia tak pernah merasakan udara di luar rumahnya, kali ini, Kenan akan melakukannya.
Tak ada lagi yang harus ditakutkan oleh Kenan.
Pintu di depan Kenan, tangan Kenan tak lagi takut dan mencapai gagang pintu itu.
Aku harus menyelamatkan Aeera!
Saat tangan Kenan hampir mencapai gagang pintu itu.
Klak!
Terlambat, pintu itu terbuka dari luar dan seorang wanita setengah baya yang telah terlihat banyak kerutan di wajahnya. Wajahnya yang menua melebihi umurnya, dia terlihat lebih tua dari umur aslinya.
Hal itu karena, Ibu Ghina, Ibu dari Kenan tak pernah lepas dari memikirkan kesembuhan anak semata wayangnya. Anak satu-satunya yang menjadi harapan satu-satunya dalam hidupnya, harapan agar anaknya bisa hidup normal kembali. Hanya harapan itu yang setiap detik dipikirkan oleh Ghina dalam setiap doa dan harapannya. Tak ada yang lain, pikirannya hanya tertuju pada Kenan tak ada yang lain.
Meskipun dunia ini runtuh, Ghina hanya ingin melihat Kenan kembali normal dan bisa tersenyum menghadapi dunia ini.
Meskipun Ghina harus mengorbankan segalanya dalam hidupnya, dia hanya ingin ada waktu yang tersisa melihat Kenan sembuh.
Ghina tak bisa mengatakan apapun, tangannya masih memegang kantong belanja. Dia baru saja mengantarkan kue dan belanja untuk keperluan sehari-hari. Dia membuka pintu, berharap seperti biasa tak ada apapun kecuali kesendirian dan hanya melihat pintu kamar anaknya yang tertutup dan berharap suatu hari anak itu keluar dari kamarnya.
Namun ...
Kali ini ...
Saat membuka pintu rumahnya, seorang lelaki gondrong berdiri di dalam pintu yang terbuka. memakai jaket dan rambut panjangnya disisir rapi. Berdiri tegak menatap dirinya. Ghina terdiam mematung, dia hanya berpikir apakan ini mimpi atau sungguhan.
Kenan berdiri di hadapannya, tepat saat pintu terbuka.
SRAK!
Kantong belanja di tangan Ghina terjatuh, isinya berjatuhan satu-persatu. Namun, Ghina tetap berdiri dan hanya melihat wajah puteranya itu. Isi belanjaan terjatuh dan beberapa menggelinding membentur dinding rumah.
”KE ... KENAAN ...!”
Kenan memejamkan matanya, dia tidak bersuara. Dia duduk berjongkok sedangkan Ibunya masih berdiri mematung. Kenan tak bisa mengucapkan apapun dari mulutnya, dia memunguti barang belanjaan ibunya yang terjatuh dan berserakan. Kenan mengumpulkannya satu-persatu dan memasukkan kembali ke dalam kantong plastiknya.
Tak ada suara apapun kecuali suara barang-barang yang dimasukkan ke dalam kantong plastik. Kenan tak tahu harus mengatakan apa, sungguh tenggorokannya sangat kaku untuk mengatakan satu kata pun.
”Biar ... Biar Ibu saja yang bereskan ...”
Sang Ibu baru sadar, dia turun dan membereskan barang yang masih tersisa di lantai. Tak ada suara yang terdengar. Kenan kini terdiam dan melihat Ibunya mengambil alih kantong belanjaan dan memasukkan sisa belanjaan yang masih tercecer.
Kini, Kenan yang diam dan memperhatikan Ibunya yang sibuk memunguti barang yang tercecer. Dia seolah tak mau menatap puteranya dan tak menghiraukan tatapan puteranya. Dia tidak berharap lebih dari anaknya.
”I ... Ibu ..., Maaf ... Maafkan Kenan ...”
Tangan Ghina terhenti, dia mengangkat kepalanya dan melihat wajah Kenan yang sudah membasah. Mata Kenan berkaca-kace, sepertinya dia memaksa dirinya berkata maaf pada Ibunya. Hal itu terlihat bagaimana Kenan berusaha mati-matian untuk mengatakan hal itu.
Ghina paham ... sangat paham. Meskipun dia sangat bahagia, tapi dia tak mau membawa perasaannya sehingga membuat puteranya seolah-olah lemah.
”Tidak apa-apa, Puteraku. Kamu sudah melakukan yang terbaik selama ini, Kenan ...”
Dan ... senyuman Ghina yang meneduhkan puteranya itu bahkan tidak bisa dilanjutkan karena Kenan sudah memeluk ibunya dan menangis dengan keras. Kenan tak tahan, dia sesenggukan dalam pelukan ibunya.
”IBUU ....! Hiks! Hiks!”
Meski sudah menahan airmatanya tidak jatuh, meskipun bertahan untuk tetap tegar dan kuat. Kenan tak kuasa. Dia tetap menangis di pelukan ibunya.
Ibu ... saat engkau tersenyum, aku tahu bahwa dunia baik-baik saja.