Aku Datang, Aeera!

Ibu, Maafkan Aku 21

Wooooossshh!

Energi kuat dihempaskan Kenan ke tubuh Regius, energi yang begitu besar diserapnya secara berlebihan. Di sisi lain, Aeera merasa tubuhnya lemah. Aeera kehilangan semua mana energi miliknya. Kekuatan dirinya dan makhluk panggilannya terhubung, energi yang begitu besar dikerahkan Kenan.

Aeera terjatuh ke tanah.

”Putri Aeera, anda tidak apa-apa?” tanya Yuhas.

Saat Regius dikalahkan, Aeera tersenyum. Ledakan kuat terjadi, berbarengan dengan habisnya energi mana divine yang dimiliki Aeera. Tuan Kalandra terjatuh dan tubuhnya disambar energi halilintar.

”Tuan Kalandra ...!”

JEGLEEERR!

***

Wooossshhh!

Kenan membuka matanya, ruangan atap putih. Ini di kamarnya? Bagaimana bisa Kenan kembali saat kemenangannya baru saja didapatkan.

Ah! Sial!

Kenan menghembuskan napasnya. Setidaknya, dia ingin terlihat keren terlebih dahulu setelah mangalahkan si Regius itu. Hilang sudah gaya kerennya dengan gagah, setelah kemenangan itu. Kenan menggerutu beberapa kali.

Kenan duduk dari dipan miliknya, dia memikirkan tentang dirinya yang tersedot kembali ke dunianya. Aeera kehabisan energi? Kenapa bisa demikian. Padahal, Kenan yang menggunakan mana divine untuk menghancurkan Regius dalam satu serangan. Jadi ..., Kenan memejamkan matanya sebentar.

Apakah mungkin, mereka berdua berbagi mana divine yang sama? Apakah hal itu mungkin, mengingat Kenan adalah makhluk panggilan dari Aeera. Dia berasal dari dunia yang berbeda dari dunia Aeera, dan dia hanya bisa datang ke dunia itu atas inisiatif sihir panggilan summon dari Aeera.

Hal itulah yang dipikirkan Kenan, setidaknya dia akan menunggu untuk dipanggil lagi oleh Aeera. Aeera akan memulihkan mana divine miliknya terlebih dahulu.

Kenan melihat jam, sudah malam hari rupanya. Dia cukup lama berpetualang di dunia Aeera. Sekali lagi, Kenan menghembuskan napasnya. Dia pasti sudah membuat ibunya khawatir, iya sudah beberapa hari Kenan berpetualang. Kenan memberanikan diri untuk mendekati pintu. Jika dia dipanggil lagi oleh Aeera, maka dia punya beberapa waktu untuk pergi, dan tidak membuat ibunya khawatir.

Kenan melihat kalender, dan matanya tak bisa lepas dari sana. Hal itu karena, hari yang sama terjadi di dunianya ketika dirinya pergi. Waktu yang berbeda, dunia yang berbeda!

Di kamar Kenan, ada bel yang digunakan untuk suara di ruang tamu. Tangan Kenan bergetar, tapi kini dia menyadari bahwa dia harus mulai untuk berani.

TEEETTTT!

Kenan memberanikan dirinya.

Di kamar Ibunya, Ghina menyadari suara itu. Sudah terlalu lama, bel itu tidak pernah terdengar. Apakah Kenan membutuhkan sesuatu, terjadi sesuatukah padanya? Ghina khawatir, dia memang belum bisa tidur. Dia bangun dan segera pergi ke kamar Kenan. Ghina mendekati pintu puteranya itu.

”Ada ..., Ada apa Kenan?”

Hening sebentar, Ghina menunggu.

”Kenan ..., apakah kamu membutuhkan bantuan Ibu?”

Hening sebentar.

Akhirnya, sebuah suara pelan terdengar dari balik pintu.

”Ibu ..., bisakah aku makan, aku lapar....”

Ghina tak percaya, ini adalah perubahan kedua dari anaknya. Kenan meminta makanan, setelah siang tadi dia menerima paket yang dipesannya. Ghina segera pergi ke dapur, menghangatkan makanan sebentar. Bahkan, Ghina menggoreng telur untuk Kenan. Dia segera kembali ke kamar Kenan.

”Makanan sudah siap, Kenan ...!”

”Taruh di meja, Bu... aku akan mengambilnya.”

Ghina paham, dia segera menaruh makanan itu di meja. Dia pun pergi dari kamar Kenan, dia tahu bahwa Kenan belum bisa beradaptasi dengan melawan ketidakberdayaannya. Ghina paham, bagaimana puteranya itu sedang berusaha bangkit dari keterpurukannya.

”Ibu pergi Kenan, makanlah dengan baik.”

Beberapa lama, pintu Kenan terbuka. Kenan keluar perlahan, mengambil makanan dan minuman di meja di depan kamarnya. Dia membawa makanan itu masuk kembali. Dia duduk di kursinya, melihat makanan yang masih hangat.

Ibu ...

Kenan meneteskan airmatanya lagi. Beberapa kali mencoba untuk mengusapnya, tapi tetap saja bulir airmatanya jatuh lagi.

Ibu ... maafkan Kenan.

Semakin Kenan mengusap airmatanya, semakin dia tak bisa menahan dirinya. Dia pun makan makanan itu, meskipun tidak terlalu selera. Dia mengambil telur dan memakannya, beberapa nasi juga dimakannya. Dia makan sambil berlinang airmata.

Aku ingin menjadi manusia normal, Ibu ...

Krukk! Krukk!

Kenan terus makan, air putih. Dia haus, airmatanya  masih menetes dan dia pun minum air kembali. Saat itulah, gelang yang dibuat khusus untuk Aeera dan Kenan. Gelang itu menyala, apakah dia akan berpetualang lagi!

Cahaya berpendar di langit kamar Kenan, dan halilintar menghunjam Kenan kembali.

Kumohon ..., jangan sekarang!

JEGLAAAAAAARR!

Sial!

***

Aeera dan Yuhas dijamu oleh bangsa Elf, beberapa guardian membenahi semua barang yang bisa dipindahkan. Mereka akan pindah dari pohon besar di tengah Hutan Tegret. Pohon besar itu sudah hancur.

Mereka telah mengalahkan Regius, melalui makhluk panggilan Aeera. Sebelum mereka meninggalkan tempat itu dan mencari tempat baru, mereka menjamu Aeera dan Yuhas. Aeera sebelumnya sudah mengisi ulang mini divine miliknya. Mananya terkuras habis karena kekuatan yang dikeluarkan tuan Kalandra.

Saat Aeera sudah memulihkan mana divine, jamuan tersedia. Dan, Aeera tidak akan bisa makan sebelum memanggil Kenan untuk ikut makan bersama. Saat semua berkumpul, Aeera memutar tongkat kecil miliknya.

”Datanglah ..., Makhluk panggilan terkuat. Tuan Kalandra .....!”

Wooooosshhh!

JEGLAAARRRR!

Percikan energi berpendar dari langit, cahaya menyilaukan turun dengan cepat. Suara halilintar terdengar dan dari sambaran halilintar cahaya itu. Muncul sosok bercahaya dan akhirnya mulai tersibak cahaya yang menyisa.

Tuan Kalandra kembali. Semua melihat ke arahnya, mereka semua menghormati seorang pahlawan yang sudah menghancurkan Regius dengan kekuatan satu pukulan hebatnya. Mereka tak bisa bersabar, untuk melihat makhluk kuat tersebut.

Splash!

Kenan masih mengunyah makanan yang tersisa di mulutnya, dan sesuatu yang tak bisa ditutupi oleh Kenan.

Dia masih meneteskan airmatanya, Kenan langsung mengusap airmatanya tapi dia gagal.

Siaaallll! Waktunya tidak tepat!

Aeera langsung mendekati Kenan dengan senyumannya.

”Tuan Kalandra menangis karena berhasil mengalahkan Regius? Kita telah menang, Tuan. Kita bisa mengalahkannya! Tuan hebat!”

Hiks! Hiks! Hiks!

Kenan terus mengusap airmatanya, dia menatap langit sambil terus menghapus airmatanya. Di langit sana, ada wajah ibunya yang terbayang sedang tersenyum.

IBU ...., maafkan aku. Kenan akan berubah menjadi normal, aku akan berubah Ibu.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!