Aku Datang, Aeera!
Kerajaan Elf, Hutan Tegret 15
Aeera memulai perjalanan panjang, dia berpisah dengan para guru dan murid dari Akademi Crypton. Perjalanan yang diisi oleh Aeera,Yuhas, dan Kenan.
”Tuan Kalandra ..., aku sudah cukup mahir untuk mengendalikan mana divine.”
”Benarkah?” Kenan melambatkan jalan kakinya, dia berada paling depan.
”Benar, artefak yang diberikan paman Kai dan juga pelatihan dari Tuan Yuhas untuk mengendalikan mana membuatku mampu merasakan energi mana dengan baik.”
”Itu bagus!”
Kenan mengucapkan terima kasih pada Yuhas karena membantu Aeera untuk dapat mengendalikan mana dengan baik.
”Sudah menjadi tugasku, tuan Kalandra. Saya diutus untuk melindungi tuan puteri Aeera dan membantu menemukan Kompas Emas dan Senjata Terkuat.”
Mereka mulai akrab. Mereka mulai berjalan, dan perjalanan yang jauh membuat mereka cukup lelah. Peta yang diberikan paman Kai dipelajari oleh Kenan, mereka menembus hutan kecil, melewati sungai yang mengalir dengan dua warna berbeda.
Perjalanan mereka tidak mudah; Monster Yorak, monster singa dengan tiga tanduk yang besar. Yuhas bersiap, tapi Kenan menghadapinya dengan pukulan penghancurnya. Tidak hanya Yorak, mereka bertemu dengan beberapa monster lainnya di hutan, tapi Kenan dapat menyingkirkan mereka semua. Aeera tahu bahwa monster-monster itu tak akan bisa melewati tuan Kalandra.
Mereka pun melihat sungai yang cukup panjang, Yuhas menggunakan sihirnya dan membuat jembatan transparan. Mereka dapat melewati sungai tersebut.
Brush!
Monster ikan raksasa muncul dari dalam air, air begitu besar dan mencoba menelan ketiga orang tersebut.
”Tidak untuk saat ini, jangan ganggu kami!” teriak Kenan dan melompat untuk berhadapan dengan monster itu di udara.
Kenan memutar tubuhnya dan memukul perut monster itu. Monster itu terlempar sangat jauh, bergulingan di hutan dan tak bangun lagi. Yuhas menggelengkan kepalanya, baru kali ini dia melihat ada makhluk panggilan yang mampu berbicara, berkehendak sendiri, bahkan mengalahkan musuh hebat dengan mudah. Kejadian ini tentu, tidak pernah terjadi di dunia mereka.
”Dari dunia anda berasal, tuan Kalandra?” tanya Yuhas karena penasaran.
Kenan tersenyum, ”Aku berasal dari Bumi.”
”Bumi?” Yuhas penasaran, ”Kami juga berasal dari bumi, Tuan. Ini adalah bumi yang kita pijak.”
Pernyataan Yuhas membuat Kenan mengerutkan keningnya. Benar, selama ini dia tak pernah bertanya pada Aeera tempat apa sebenarnya dunia yang dikelilingi para penyihir.
”Bumiku dengan bumi kalian berbeda,” kata Kenan, hal itu karena dia sudah mendapatkan peta salinan dari blacksmith Kai, di mana semua benua di dunia ini hanya ada dua benua besar. Tak ada benua di dunianya, seperti Eropa, Asia, atau bahkan Afrika dan lainnya.
”Bumi yang berbeda?” Aeera tiba-tiba menyahut dan dia memandang ke langit yang cerah, ”Mungkin saja, anda berasal dari tempat di mana Ibuku sekarang berada tuan Kalandra. Ibuku sudah tidak ada di dunia ini lagi, mungkin dia ada di dunia anda tersebut. Betapa ..., aku ingin pergi ke dunia anda tuan Kalandra.”
Kenan tersenyum, Aeera yang ingin melihat dunia lain selain dengan terisi monster dan iblis. Mungkin, mereka di dunia ini sangat merindukan kedamaian dan tidak ingin dihinggapi ketakutan karena terus diburu oleh monster dan iblis.
”Aku berjanji pada kalian berdua,” kata Kenan, ”Aku akan membebaskan dunia kalian dan membawa perdamaian di dunia ini. Semua manusia di sini harus mendapatkan kedamaian dan aku akan menghentikan hegemoni dari Iblis dan Monster. Aku janji demi nama Tuhan!”
Kenan mengangkat tangan kanannya, dia jarinya menunjukkan janji kesungguhan.
”Tuhan? Siapa Tuhan itu tuan Kalandra?” tanya Yuhas penasaran. Selama ini, dia hanya tahu para Iblis dan Monster yang menguasai seluruh kehidupan manusia.
”Tuhan ..., Tuhan ...,” Kenan berpikir sejenak, apakah di dunia ini tidak ada yang tahu siapa itu Tuhan?
”Tuhan adalah Dia yang menciptakan segala sesuatu. Dia yang menjaga kehidupan seluruh alam semesta ini!” kata Kenan mantap. Dia pun teringat bahwa selama ini juga sudah melupakan Tuhan. Dia hanya bersedih dan merasa dunia ini tak adil. Dia selalu merasa ketakutan di dalam kamarnya dan mengutuk siapapun.
”Dia yang menciptakan dan menjaga alam semesta?” Aeera tampak berpikir, ”Di sini, semua orang menganggap bahwa matahari adalah Dia yang menjaga kehidupan ini. Dia perkasa dan menjaga semuanya! Kebanyakan dari manusia menyembah dan memohon pada matahari!”
Jadi begitu ..., dunia ini menganggap bahwa matahari adalah tempat meminta.
”Di tempatku, matahari diciptakan dan dijaga oleh Tuhan. Dia yang menjaga kehidupan dan semua yang ada dalam kekuasaannya!”
Aeera dan Yuhas pun berpikir keras.
”Tuan Kalandra,” kata Aeera, ”Jika aku memohon pada Tuhan, apakah dia akan mengabulkan permohonanku?”
”Tentu saja, Aeera! Apa permintaanmu itu?” tanya Kenan penasaran.
Aeera berjalan mendekati Kenan, dia menatap mata Kenan. Kedua mata mereka bertemu, Kenan menjadi gugup.
”Aku tidak ingin apa-apa, tuan Kalandra. Tuhan itu sudah mengambil Ibuku, aku tak punya siapa-siapa di dunia ini. Jadi, ketika tuan Kalandra pulang ke rumah Tuan, tolong minta kepada Tuhan agar melenyapkan Iblis dan Monster dari dunia ini. Aku tidak ingin ada anak di dunia ini yang bernasib sepertiku. Kehilangan Ibunya. Cukup aku saja yang mengalami hal itu.”
Kenan gemetaran. Tangannya gemetar. Aeera, gadis kecil berumur enam belas tahun itu masih bisa tersenyum dan memohon permohonan yang begitu mulia. Dia sangat merindukan Ibunya dan tidak ingin orang lain mengalami apa yang dia alami. Sedangkan dia ..., dia memiliki seorang Ibu yang sangat menyayanginya.
Kenan terdiam cukup lama, mata Aeera masih menatap Kenan.
”Apakah anda bisa memohonkan permohonan itu pada Tuhan, tuan Kalandra?” suara Aeera mengagetkan Kenan lagi dari lamunannya.
”Iya ..., Aeera. Iya ..., tentu saja. Ketika pulang nanti, aku akan memohon pada Tuhan agar duniamu bisa damai.”
”Terima kasih tuan Kalandra, aku sangat bahagia mendengarnya.”
Sruk!
Suara tawa kecil dan airmata Aeera, dia memeluk Kenan dengan tiba-tiba. Yuhas menjaga di sisi yang lain. Kenan tanpa sadar menggerakkan kedua tangannya dan memegang kedua pundak Aeera pelan. Kenan menatap langit yang terang.
Apakah, Tuhan yang mengutusnya untuk datang ke dunia ini. Apakah ini jawaban Tuhan atas segala ketidakberdayaan dirinya dan juga ketidakberdayaan Aeera dan dunianya yang hancur? Kenan mendapatkan banyak pelajaran setelah semua ini.
Cukup lama Aeera memeluk Kenan, mungkin dia merasakan ada harapan setelah sekian lama dia kesepian dan selalu dibully. Dia mendapatkan ketenangan setelah sekian lama sendirian. Yuhas menunggu dan memahami perasaan tuan puteri dan kerajaan Hanmus itu, meskipun Aeera adalah anak seorang pelayan di sana, yang dicintai raja.
***
”Perjalanan kita masih panjang, banyak monster yang akan kita temui!” kata Yuhas setelah ketiga orang itu membuka peta yang disalin dari blacksmith Kai.
”Kita harus cepat, kita tak bisa berjalan,” Kenan melihat peta dan melihat begitu banyak tanda merah di peta, itu adalah tanda bahwa di sana banyak monster atau iblis. Mereka sudah berjalan beberapa hari, Kenan pun sudah tak peduli dengan rumahnya. Apakah ... Ibunya akan khawatir?
”Apakah kita akan menggunakan item sihir untuk terbang?” tanya Aeera.
”Apakah kita harus menggunakan makhluk panggilan dan mengendarainya?” tanya Yuhas. Meskipun menggunakan makhluk panggilan, tetap saja itu membutuhkan mana divine yang dikonsumsi terus-menerus.
”Tidak perlu! Aku sudah mempersiapkan segalanya!”
Kenan tersenyum, dia menurunkan tasnya. Semua sudah dipersiapkan, dia sudah merasa bahwa hal ini akan terjadi. Dia membaca peta tersebut sebelumnya. Perjalanan mereka masih jauh, ada hutan terbesar yang harus mereka datangi. Hutan Tegret. Kenan membuka tas dan mengambil sesuatu. Mainan yang dibeli dari marketplace.
”Apa itu, tuan Kalandra?” tanya Yuhas.
Kenan meminta keduanya minggir menjauh, Kenan seperti biasa, dia menggunakan energi mana yang mampu dirasakannya. Imajinasi Kenan bermain, hal itu yang selalu digunakannya di dunia ini.
”Membesarlah!”
Aeera dan Yuhas kaget, bahkan mundur ke belakang dan Yuhas terjatuh. Sebuah besi yang besar dari barang yang dibawa tuan Kalandra.
Kenan tersenyum, ”Ayo masuk!” Kenan melangkah menuju besi besar itu, di atas besi besar itu ada baling-baling raksasa. Di dunai Kenan, itu adalah helikopter. Kenan membeli mainan helikopter yang dibelinya dengan harga Rp 40.000. Kenan yakin, mainan itu akan bisa dihidupkan di dunia Aeera.
Kenan masuk ke dalam, Yuhas diminta masuk. Kenan juga menarik tangan Aeera, meskipun ragu Aeera pun masuk.
Mereka bertiga masuk.
”Saatnya berangkat, pegangan!” Kenan memang tak bisa mengoperasikan helikopter, tapi ini adalah dunia sihir. Pikiran Kenan bermain dan dia memegang sebuat stir, baling-baling mulai berputar. Mesin itu bergerak, perlahan naik. Aeera dan Yuhas tak percaya, besi apa yang bisa melayang dan membawa mereka, itu luar biasa.
”Nikmati perjalannya. Yuhas, buka peta dan kita akan segera sampai di Hutan Tegret!”
”Baik tuan Kalandra, ini benar-benar luar biasa!”
Mereka pun terbang, melintasi dataran dan air, mereka terus melayang. Mereka bahkan melihat ada monster di bawah yang memperhatikan mereka. Mereka akan sampai lebih cepat. Dan, Hutan Tegret pun sudah terlihat.
”Di tengah hutan, Pohon Kehidupan adalah rumah bagi bangsa Elf. Kita harus menemukan Kompas Emas itu tuan Kalandra.”
”Baiklah!” Kenan terus menggunakan tangannya untuk menstabilkan helikopter tersebut. Pohon raksasa dan tertinggi mulai terlihat. Mereka mendekati pohon itu dari udara.
Woooosshh!
”Menghindar tuan Kalandra!” Aeera kaget, dia melihat sebuah energi besar mengarah pada mereka. Energi yang sangat kuat. Mereka diserang.
Terlambat bagi Kenan untuk menghindar, serangan itu sangat cepat.
Booooommm! Boooom!
Helikopter meledak dengan ledakan besar, asap mengepul.
Dari balik pohon yang maha besar itu, seorang wanita cantik melepaskan anak panah energi.
”Mereka pikir, bisa mendekati rumah kami! Mereka sedang bermimpi!”
Senyum wanita itu sangat manis, dia adalah puteri bangsa Elf yang menjaga pohon besar itu. Dan, matanya mendelik karena dari balik ledakan, tiga orang itu masih melayang di udara. Seorang lelaki yang memegang kedua perut rekannya melayang di udara.
Mereka gigih juga, wanita itu mengambil anak panah lagi dan bersiap menyerang kembali.
”Hentikan serangan itu, atau aku akan menghancurkan hutan ini dengan kekuatanku!” teriak Kenan, dia tahu dia akan diserang kembali. Dia mampu melihat ada energi yang akan menyerang kembali.
Wanita dari bangsa Elf itu kaget, manusia itu mampu melihat dari jarak yang sangat jauh. Kemampuan mata yang melihat jarak jauh, hanya dimiliki oleh para Elf.
”Apa yang kamu inginkan, manusia!” teriak wanita Elf itu.
”Aku adalah seorang utusan! Aku datang untuk meminta bantuan bangsa Elf!”
Utusan, meminta bantuan bangsa Elf. Apakah yang dipikirkan para manusia itu sehingga menemui bangsa Elf. Mereka bahkan bersembunyi di Hutan Tegret karena tersingkir dari Iblis dan Monster.
Apa yang akan diputuskan oleh wanita tersebut?
”Kami diutus oleh Blacksmith Kai!” teriak Yuhas.
Wanita itu menurunkan panahnya, setidaknya biarkan mereka untuk mengatakan maksudnya. Wanita itu menggerakkan kedua tangannya, sebuah portal terbuka dari dinding energi yang dibuat. Kenan tahu bahwa ada dinding energi yang melindungi pohon besar itu. Kini sudah terbuka. mereka pun dipersilakan masuk.
”Kami akan mendengarkan kalian, tapi ingat untuk tidak berbuat bodoh di sini!”
Mereka bertiga diterima masuk, Kenan tetap memegang kedua perut rekannya. Melayang dan memasuki dinding energi yang terbuka. mereka mendekati pohon besar itu.
Mereka bertiga semakin dekat, di salah satu dahan yang besar. Wanita yang memegang busur panah dan menyerang mereka berdiri di sana. Beberapa bangsa Elf mengitari wanita itu. Saat mereka mendekat. Kenan tak percaya dengan penglihatan matanya. Wanita itu sangat cantik, bahkan matanya tak bisa berkedip. Dan, mulutnya tak bisa diam dan berucap kaget.
”Luna ..., Luna ...”
Kenan kaget karena wanita Elf itu sangat mirip dengan Luna, wanita yang ditaksirnya sejak sekolah menengah pertama.
Aeera merasa apakah tuan Kalandra mengenal wanita Elf itu. Mereka pun berdiri di dahan raksasa itu.
”Apa tujuan kalian datang ke kerajaan kami, Manusia!” ucap wanita itu tegas.
”Apakah kamu, Luna?” Kenan tak menjawab dan balik bertanya.