Aku Bukan Anak Haram - Starla
Blokir
"Hmm."
Albana duduk menyamping sedikit di kursi depan. Dia melirik wajah Saba yang sedang memandangi ponselnya. “Bos… kok dari tadi kelihatan gelisah?”
Saba nggak langsung jawab. Tangannya naik ke pelipis, menekan sebentar, lalu turun lagi. Pandangannya tetap ke jalan.
“Dia ngeblokir aku.”
Albana berkedip. “Siapa?”
“Eliza.”
Albana menahan senyum, tapi supir di sampingnya ikut terkekeh pelan.
“Diblokir?” Albana mengulang. “Serius, Bos?”
Saba melirik sekilas. “Iya.”
“Berani sekali dia, si anak panti,” Albana menggeleng sambil menahan senyum. “Seorang Saba Aditya.”
Saba menarik napas. Ia sendiri heran kenapa hal sekecil itu bikin perasaannya nggak enak. Bukan marah. Lebih ke… terganggu.
“Mentang-mentang Starla ada sama dia,” celetuk Albana santai.
Saba refleks berdehem. “Heh.”
Albana langsung menoleh. “Apa Bos?”
“Gak sopan kamu, Ban!” Saba menggeser bahunya, seolah kata-katanya terlalu sempit, “Dia ibu sambung Starla.”
Albana mengangkat alis. “Ibu sambung?”
Saba diam sebentar. Salah kata, pikirnya. "Eh, salah kata."
Albana tersenyum makin lebar. “Kirain dah siap geser posisi nyonya mudaaaaa.”
Supir menahan tawa. Mobil masih melaju pelan. Saba bersandar ke sandaran kursi. Tak menghiraukan ocehan mereka. Matanya menatap ke depan, tapi pikirannya ke tempat lain.
Semua niatnya terdengar masuk akal kalau dilihat dari posisinya. "Ini bagus buat kami, katanya pada diri sendiri. "Tapi untuk Eliza… ini terasa seperti paksaan."
“Bos,” suara Albana lebih pelan sekarang, “serius, Anda khawatir dia pergi?”
Saba mengangguk tipis. “Kamu awasi kosannya,” pungkasnya.
Albana mengangguk paham. “Siap.”
Saba memejamkan mata sesaat. Pikirannya beralih ke Starla. Sudah beberapa hari ini dia tak muncul di pelataran sekolahnya. Bagaimana kabarnya bocah gemas itu? Saba rindu, pada cara anak itu, yang selalu menoleh dulu ke Eliza sebelum melangkah masuk kelas.
***
Malammya.
Eliza pulang dengan langkah berat. Pintu kos dibuka pelan, engselnya berdecit kecil. Lampu kamar menyala temaram.
Starla masih duduk di kasur, memeluk bantal, matanya jelas menahan kantuk. Di sampingnya, Bu Gendhis duduk bersandar ke dinding, kipas kecil di tangan, mulutnya menguap lebar berkali-kali.
“Mbak El… wis bengi,” gumam Bu Gendhis, suaranya sudah serak. “Ibuk iki ngantuk pol.”
Eliza mengangguk sambil meletakkan tas. Badannya capek, kepalanya semrawut, tapi melihat Starla yang masih terjaga membuatnya bertanya-tanya.
"Kok belum bobok?"
"Nunggu ibu pulang," jawab Starla menahan nguap.
Sengaja nunggu, pikirnya. Eliza hanya membulatkan bibirnya, pura-pura tidak paham. "Oh."
Starla menggeser tubuh mendekat. Suaranya kecil, ragu. “Ibu… boleh?”
"Apa?"
Starla menunjuk ponsel Eliza yang baru dia keluarkan dari tasnya.
Deg.
Eliza menoleh. Anak ini bukan sekadar menunggunya. Ada rindu menumpuk diam-diam. Apa dia mencari Saba? Sebab lama tak muncul? batin Eliza.
Eliza menghela napas, tak ingin berpikir panjang malam ini. Dia meraih ponsel, membuka blokiran dengan satu sentuhan cepat, lalu menyodorkannya ke Starla.
“Cari aja,” katanya singkat.
Mata Starla langsung berbinar. Jarinya yang kecil menyentuh layar dengan hati-hati, seperti takut salah.
“Ibu… ini namanya ~Sabaaaaaaarrr?” tanyanya sambil mengerjap lucu, menunjukkan layar ke Eliza.
Eliza terkekeh kecil. Tawa yang keluar begitu saja, tanpa sadar. “Iyaaaa,” sahutnya dari arah kamar mandi, saat kran air mulai dibuka.
Nada panggilan terdengar dari luar. Tuut. Tuut.
Eliza mencuci muka, air dingin menyentuh kulitnya. Angkatlah, pintanya dalam hati, anakmu nyari tuh. Ia tahu ini bodoh. Ia yang memblokir, ia yang membuka, dan sekarang ia berharap.
Tuut. Tuut.
Tak ada jawaban.
Starla mencoba lagi. Wajahnya serius, alisnya sedikit berkerut. Tuut. Tuut. Bahu kecil itu luruh. Ia mematikan layar, lalu menyerahkan ponsel kembali ke Eliza saat keluar dari kamar mandi.
Eliza menangkap tatapan kecewa itu, tapi Starla sudah keburu memalingkan badan, miring menghadap tembok, menarik selimut sampai ke dagu.
“Eh … kenapa?” tanya Eliza, duduk di tepi kasur.
“Bobok kali,” jawab Starla ketus.
Eliza menatap punggung kecil itu. Ada perasaan bersalah yang menggesek dadanya. Apa aku jahat ya? Menghalangi ikatan ayah dan anak untuk bersama , pikirnya.
Dia meletakkan ponsel di meja kecil, lalu menoleh ke Bu Gendhis yang hampir terlelap sambil duduk.
“Bu… pindah ke kasur lipat aja, atau pulang sekalian,” katanya pelan.
Bu Gendhis terbangun, mengusap mata. “Ibuk balik ae,” katanya sambil berdiri. Ia mendekat ke kasur, mengusap kepala Starla yang pura-pura tidur. “Dadah, Nduk.”
Starla diam. Tapi belum tidur.
“Dadah, Nek,” jawab Eliza mewakili, sambil terkekeh kecil.
Starla mendengus dari balik selimut.
"Napa tho?"
“Ngambek,” gumam Eliza.
“Ngambeki apa?” tanya Bu Gendhis penasaran.
Eliza menjawab pelan, “Mau call Om Saba, tapi dicuekin Om.”
Bu Gendhis mengangguk pelan. “Oalah…”
Starla menyibak selimutnya. “Bukan dicuekin,” Starla cepat-cepat menutup lagi wajahnya. “Bobok. Ibuuuu…”
“Iya iya,” Eliza mengelus rambutnya. “Om-nya bobok.”
Bu Gendhis hanya menggumam, “Oohh,” lalu melangkah keluar, menutup pintu perlahan.
Kamar kembali sunyi. Eliza berbaring di samping Starla, menatap langit-langit. Tangannya berhenti di punggung anak itu, merasakan napas kecil yang masih belum benar-benar tenang.
Kalau rindu bisa menular, pikir Eliza pelan, mungkinkah Saba merasakannya juga?
***
Saba baru pulang ketika nyaris menyentuh tengah malam.
Ponsel Eliza dibiarkan di meja. Ia masih menepuk punggung Starla pelan, menenangkannya. Nafas anak itu mulai teratur, meski belum sepenuhnya tidur.
Getaran di meja membuat Eliza menoleh. Nama itu muncul, yang ditunggu Starla.
Beberapa kali panggilan tak terjawab. Eliza ragu sebentar. Lalu, entah karena kasihan pada anak kecil di sampingnya, ia menggeser ponsel ke arah Starla dan menekan tombol hijau.
Tuut.
Tuut.
Ia hampir membatalkan ketika suara di seberang terdengar.
“Halo.”
“Ooooommmmm!” suara Starla langsung melengking cempreng. Kecewa barusan lenyap begitu saja.
Eliza melihat Starla yang mulai ngantuk, kini langsung duduk tegak. Senyum kecil itu muncul tanpa diminta.
Di seberang, Eliza bisa membayangkan Saba membeku sejenak, sebelum tawa lepasnya terdengar. Dia me-loudspeaker panggilan Saba ini.
“Cantiknya aku belum tidur?”
Starla terkekeh, menutup mulut dengan tangan. “Nungguin ibu pulang. Ngantuk sih…”
“Oh iya,” suara Saba melembut, “ibu baru pulang, ya? Ibu capek ya, Buuu?”
Nada itu jelas menggoda. Eliza mendengarnya, dan hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.
“Ibu senyum, Om,” jawab Starla yakin, lalu ikut terkikik.
Eliza menghela napas pelan. 'Dasar anak ini…'
Di seberang sana, Saba tertawa renyah. Eliza membayangkan dia melepas dasi, membuka kancing kemeja, bersandar di kursi kerja. Membiarkan ocehan Starla memenuhi ruang sunyinya.
Starla mulai bercerita tentang sekolah, gambar yang ditempel, temannya yang suka pinjam crayon, juga Bu Guru yang wangi. Eliza hanya diam, mendengarkan dari dekat, jari-jarinya masih menyisir rambut Starla perlahan.
“Om kenapa nggak antar aku lagi?” tanya Starla tiba-tiba.
Deg.
.
.