Aku Bukan Anak Haram - Starla
Kumulai dengan Bismillah
Saba ketiduran di sofa bed. Dia tak ingat kapan pindah ke kamar sebelah, rasanya baru juga lelap. Namun, alarm Subuh di jam tangan, akhirnya membuat Saba terbangun lebih dulu.
Dia melangkah ke wastafel, cuci muka dan salat subuh. Setelahnya, dia beranjak membuka pintu yang terkoneksi dengan kamar Starla.
"El, subuh."
Matanya langsung bergerak ke ranjang. Eliza masih tidur miring membelakangi dirinya, satu tangan memeluk Starla yang tidur pulas di dada sang ibu. Rambut Eliza sedikit berantakan, pipinya tertutup sebagian bantal hotel putih.
Untuk beberapa detik, Saba hanya diam memandangi mereka. Hatinya menghangat tanpa permisi. Rasanya seperti... Ada di rumah.
Ia melangkah hati-hati menuju pantry kecil kamar hotel. Air dipanaskan untuk dituangkan ke dua cup mie instan yang disediakan hotel, juga segelas kopi hitam untuk dirinya.
Saat aroma kuah mulai memenuhi ruangan, Starla mengerjap kecil.
“Ibu…” gumamnya serak.
Eliza ikut bergerak pelan. Keningnya berkerut sebelum akhirnya sadar berada di mana. Matanya membesar sepersekian detik.
Lalu…
Deg.
Tatapannya langsung menangkap Saba yang sedang berdiri di dekat meja pantry dengan lengan kemeja tergulung santai.
Pria itu menoleh sambil membawa gelas kopinya. “Pagi.”
Eliza berkedip beberapa kali. “Kita…” suaranya serak bangun tidur. “Masih di hotel?”
“Enggak,” jawab Saba santai. “Ini di Mars.”
Eliza melotot.
Saba tertawa pelan. “Iya lah masih.”
Starla malah sudah duduk sambil tepuk tangan kecil melihat mie panas di meja. “Aku lapaaar…”
“Ya ampun,” gumam Eliza sambil duduk perlahan. “Bangun tidur mikirin makan. Mandi dulu, Sayang.”
“Turunan dari ayahnya,” sahut Saba enteng.
“Termasuk perut gudangmu juga,” balas Eliza cepat seraya melirik jam di nakas. Dia gegas turun untuk salat subuh.
Starla malah tergelak kecil tanpa mengerti mereka sedang saling sindir.
Suasana pagi itu sederhana sekali.Tapi justru itu yang bikin dada Saba terasa sesak oleh rasa syukur yang asing.
Starla makan sambil ngoceh setengah sadar. Eliza masih dengan muka bantalnya, sesekali meniup mie anak itu karena kepanasan. Sedangkan Saba duduk di depan mereka sambil menyeruput kopi, diam-diam memperhatikan. Dan sialnya… ia suka pemandangan ini.
“Baru liat orang makan mie ya? Liatinnya gitu amat,” tanya Eliza tiba-tiba tanpa menoleh.
Saba tersadar, spontan menjawab, “Cakep.”
Eliza langsung mendelik. “Harusnya cantik sih, kan bukan lekong.”
“Benar. Cantik, fakta.”
“Norak.”
“Alhamdulillah.”
“Ih.”
Saba terkekeh lagi, menggoda Eliza membuatnya seperti mendapat suntikan semangat gratis.
Pagi makin terang. Cahaya matahari mulai menyelinap lewat celah gorden hotel. Starla akhirnya turun dari ranjang dan sibuk bermain dengan bantal sofa.
Sementara Eliza berdiri di dekat wastafel kecil, mencuci tangan. Tiba-tiba ponselnya berdering. Dia gegas meraih benda itu dari nakas.
Nama Arka muncul di layar.
Eliza yang tadinya jutek langsung berubah ekspresi. “Halo, Pak?” suaranya mendadak lebih ceria
Saba otomatis melirik.
“Ha? Serius?” Eliza tertawa senang sekarang. Bahunya ikut bergerak pelan. “Ya ampun… tau aja.”
Starla sampai berhenti main bantal, menatap ibunya heran karena tiba-tiba girang. Sementara Saba menurunkan gelas kopinya perlahan.
Entah kenapa… dia tidak suka. Saba menyandarkan punggung lebih dalam. Rahangnya bergerak pelan.
Panggilan selesai beberapa menit kemudian.
Eliza masih senyum-senyum kecil sambil membalas chat. Jemarinya mengetik cepat. Kadang bibirnya menahan tawa sendiri.
Saba memperhatikan cukup lama sampai akhirnya nyeletuk, “Happy amat.”
Eliza bahkan tidak sadar dirinya diperhatikan sedari tadi. “Pak Arka ngasih kejutan,” jawabnya, tapi senyumnya belum hilang.
Saba mengusap dagunya pelan, menatap ke arah lain sambil mendengus samar.
Starla tiba-tiba melempar bantal ke arah Eliza. Lalu dia mengacak rambut ikal ibu angkatnya itu.
Bug.
“Starlaaaa!"
Starla malah tergelak, dia rindu diomeli Eliza pagi-pagi. Dan tak suka bila Eliza sibuk sendiri. Ini waktunya main bantal, pikirnya.
“Ya ampun!” Eliza langsung berdiri. “Ini anak kenapa sih pagi-pagi barbar banget?”
Starla malah kabur sambil menyeret bantal, bersiap untuk melemparnya lagi. Mereka akhirnya tarik menarik bantal, berakhir dengan Starla yang jatuh terjengkang sambil tertawa lepas.
Rambut Eliza ikut berantakan sekarang. Kaos tidurnya sedikit melorot di bahu karena tarik-tarikan bantal tadi. Ia menghela napas panjang sambil merapikan diri. Dan sialnya… segala tingkahnya diperhatikan Saba.
Eliza menyadari itu. Dia mendecak jengkel lalu berjalan ke wastafel kecil dekat pantry. Tangannya memutar keran agak keras. Air dingin menyentuh wajahnya.
“Tuhan… apaan sih,” gumamnya. Bukan cuma karena Saba tapi dirinya mulai sadar perhatian pria itu pelan-pelan bikin dia salah tingkah.
Di belakangnya, langkah Saba mendekat perlahan.
“Apa?” tanya Eliza pelan tanpa menoleh.
Saba bersandar ringan di meja samping pantry. Tangannya terlipat di dada. “Aku serius soal semalam.”
Eliza diam. Air keran masih mengalir kecil saat sabun muka menutup sebagian pipinya.
“Urusanku sudah selesai tapi nggak buru-buru nikah lagi minggu depan,” lanjut Saba lebih tenang. “Aku cuma…” ia menatap punggung Eliza beberapa detik, “…nggak mau kehilangan kesempatan buat deket sama kamu.”
Jemari Eliza perlahan berhenti bergerak.
Saba menghela napas kecil. “Aku tahu kamu takut.”
“Ya iyalah,” jawab Eliza lirih. “Hidup Anda aja ruwet.”
Saba tertawa kecil. “Iya. Aku juga kadang capek sama hidupku.”
Eliza akhirnya menoleh. Dan lagi-lagi… tatapan itu. Pandangan tenang milik Saba yang selalu bikin pertahanannya goyah sedikit demi sedikit.
“Terus kenapa masih milih aku?” tanyanya pelan.
Saba mengangkat bahunya, “Nggak tahu.” Senyumnya muncul tipis. “Nyamannya ya di kamu.”
Deg.
Eliza buru-buru memalingkan wajah lagi. Tuhan. Bagaimana bisa lelaki setenang ini bikin jantungku ribut terus?
Wangi parfum Saba kembali tercium samar, bikin ngantuk sekaligus nyaman dengan cara yang menyebalkan.
“El.”
“Hm?”
“Aku boleh usaha terus?”
Sunyi sebentar.
Starla masih sibuk membuat benteng dari bantal sofa di belakang mereka.
Eliza menunduk. Jemarinya memainkan ujung handuk hotel, sampai akhirnya… “…tergantung.”
Alis Saba naik. “Tergantung apa?”
Eliza melirik cepat. “Kalau bikin pusing ya cut off... aku malas drama.”
Saba langsung terkekeh pelan. “Lampu ijo, nih?”
Eliza mendelik cepat. “Nggak juga.”
“Tapi nggak ditolak.”
Eliza menggeleng kecil, lalu meraih handuk hotel untuk mengeringkan wajahnya. “Jangan kepedean.”
Saba tersenyum santai. “Kumulai dengan Bismillah.”
Eliza mendecak pelan, tapi diam-diam sudut bibirnya ikut bergerak naik tipis.
Lalu suara Starla terdengar dari belakang.
“Ibuuu! Lihat aku!”
Keduanya spontan menoleh. Dan jantung Eliza langsung nyaris copot.
Starla berdiri di atas tumpukan bantal sofa yang disusun tinggi seperti menara kecil. Kaki mungilnya goyah sedikit, tapi wajahnya malah penuh kemenangan.
“Starla!” teriak Eliza refleks.
Anak itu malah cekikikan. “Hehe!”
“Turun! Astaghfirullah…” Eliza langsung berjalan cepat mendekat. “Nanti jatuh!”
Starla justru membuka kedua tangannya lebar-lebar seperti pemain sirkus kecil. “Aku bisaaa!”
"Starlaaaaaa!"
.
.