Aku Bukan Anak Haram - Starla

Pedekate Tuan Aditya

Balasan Arka muncul tak lama kemudian, kali ini lebih panjang, sengaja menimbang setiap kata sebelum dikirim.

[“Aku bukan penganut aliran kek gitu, Kak. Orang bukan barang yang bisa dipindah-pindah biar sesuai sama keinginan kita. Kalau harus dipaksa, berarti dari awal memang bukan tempatnya.”]

Jeda beberapa detik. Lalu pesan berikutnya masuk.

[“Yang dipaksakan itu mungkin kelihatan bahagia… tapi hampa. Kayak polisi gadungan. Keren tapi palsu.”]

Arsyira membaca itu sambil menghela napas, rahangnya mengeras, jari lentiknya mengetuk pelan permukaan meja.

[“Kalau emang bukan buat kita, ya nggak bakal bisa. Mau dikejar sampai capek juga ujungnya tetap lepas. Lebih baik jaga diri, Kak. Nggak semua yang kita mau itu baik buat kita.”]

Pesan terakhir Arka masuk, kali ini lebih singkat.

[“Belajar legowo. Rezeki, jodoh, semua udah ada yang ngatur.”]

Arsyira menatap layar ponselnya, kesal. Tapi di balik kesal itu… ada sesuatu yang pelan-pelan merayap masuk. Kata-kata Arka tepat sasaran.

Ia menyandarkan punggung ke kursi, matanya kembali melirik ke layar CCTV. Saba masih di sana.

Saba menutup laptopnya lalu berdiri, merapikan lengan kemejanya sekali, dan melangkah ke kasir.

“El,” panggilnya ringan.

Eliza yang sedang menyusun gelas menoleh setengah badan. “Iya?”

“Pulang jam sebelas, kan?”

Eliza mengernyit, satu alis terangkat. “Kenapa?”

Saba menyelipkan dompetnya kembali ke saku celana, sedikit membungkuk ke arah meja kasir, suaranya diturunkan. “Ditemenin sampai kosan, ya.”

Eliza langsung menggeleng, tangannya ikut terangkat, menolak. “Gak usah. Udah biasa sendiri.”

Saba memiringkan kepala sedikit, menatap Eliza lebih lama. “Maka biasakan dikawal mulai sekarang.”

Eliza mendengus, bahunya terangkat kecil. “Dih, maksa. Siapa Anda?”

Saba melangkah setengah mendekat. Tangannya bertumpu ringan di meja kasir, jarinya mengetuk pelan satu kali sebelum berhenti.

“Ayahnya Starla,” ucapnya tenang. Matanya turun sebentar ke jemari Eliza yang masih menggenggam kain lap, lalu kembali ke wajahnya. “Kamu lupa, ibu?”

Eliza mencibir, memalingkan wajah sejenak sebelum kembali menatap. “Sok iye.”

Saba mengangkat alis. “Emang iye. Kenapa?”

Ia mundur setengah langkah, tapi telunjuknya terangkat sedikit. “Kamu nggak boleh kemana-mana sembarangan.”

Tatapannya melunak. “Anda ibunya Starla…” Saba sengaja berhenti sepersekian detik, lalu melanjutkan dengan nada lebih ringan. “Eliza Aditya.”

“Heh!” Eliza langsung menepuk meja pelan, matanya membesar. “Itu bukan namaku!”

Saba tertawa kecil, bahunya ikut bergetar. Ia sudah berbalik, tapi sempat menoleh lagi. “Biasakan aja dulu…”

Tangannya terangkat sekilas, seperti isyarat salam, lalu ia mendorong pintu café.

Angin malam masuk sebentar, memainkan ujung rambut Eliza yang terlepas dari ikatan.

Eliza berdiri diam beberapa detik. Tangannya yang tadi menggenggam kain lap kini malah meremasnya tanpa sadar. Ia menghela napas, lalu menatap ke arah pintu seolah Saba masih berdiri di sana.

“Dasar…” gumamnya pelan.

***

Subuh masih menggantung ketika klakson pendek terdengar di depan kos. Eliza yang masih setengah sadar membuka pintu kos dengan mata masih mengantuk.

“Anda gila?” bisiknya tajam, menahan nada agar tidak membangunkan penghuni lain. Tangannya otomatis melipat di dada, dingin. “Jam berapa ini? Starla masih ngantuk. Sekolah jam delapan, Pak.”

Di dalam mobil, Starla benar-benar masih lelap. Kepalanya miring ke sisi kursi, pipinya sedikit tembam tertindih sabuk pengaman, napasnya halus seperti anak kucing.

Saba bersandar santai di balik kemudi, satu tangan di setir, satu lagi menopang pelipis. Tatapannya tenang, tapi ada kilau usil di matanya. “Aku cuma mengabulkan permintaan anakku,” katanya ringan. “Hari ini mau dianter ibu sama ayah.”

Eliza mendecak. “Alasan Anda aja kali.”

“Mana ada. Justru inisiatif,” balas Saba, membuka pintu samping. “Makanya aku jemput subuh. Biar Starla gak telat.”

Eliza menatapnya beberapa detik, lalu mendengus panjang sebelum akhirnya masuk juga. Sandalnya bahkan belum sepenuhnya terpasang rapi. Ia duduk dengan kesal, menarik sabuk pengaman agak kasar.

“Ini aku nanti ganti baju dimana,” gumamnya.

Saba melirik sekilas. “Bagus gitu, natural," kekehnya. "Pusing amat, El. Rest area, masjid kan bisa."

Eliza menoleh cepat. “Bagus apanya?”

“Semuanya lah,” jawab Saba singkat, lalu menyalakan mobil.

Mobil meluncur pelan, masuk tol dalam kota. Starla akhirnya bangun ketika di rest area, matanya berkedip-kedip bingung sebelum menyadari dua wajah di depannya.

“Ibu?” suaranya masih serak.

Eliza langsung menoleh, merapikan rambutnya. “Iya, sayang.”

Wajah Starla berubah seketika. Cerah. “Hari ini dianter ibu?” Ia menoleh ke Saba. “Sama ayah?”

Saba mengangguk, pandangannya fokus ke depan.

Dan kabin mobil itu langsung meriah. Starla tertawa, bertepuk tangan, bahkan semangat ganti baju di Masjid.

Eliza hanya bisa menghela napas, tapi tangannya tetap sigap membantu, sesekali tersenyum tipis melihat tingkah anak itu.

Begitu Starla sudah diantar masuk kelas. Eliza langsung memesan ojol ke stasiun. Dia lari kala driver berseragam hijau itu tiba. “Aku naik ojol aja.”

Saba menoleh. “El—”

Tapi perempuan itu sudah naik ke motor. Langkahnya cepat, bahkan tidak menoleh lagi.

*

Sore harinya, Saba datang ke café. Ia duduk di sudut, tanpa menyapa. Laptop terbuka, tapi perhatiannya lebih sering melayang ke satu titik yang sama. 

Eliza pura-pura tidak melihat sehingga minim interaksi di antara mereka. Tak lama, Saba bangkit dan meninggalkan cafe.

Beberapa menit kemudian, ponsel Eliza bergetar.

[“Ada salad sama jus yang bakal sampai. Jangan ngopi terus. Real food lebih utama.”] Eliza membaca. Diam. Tidak membalas.

Malamnya, ojol yang sama mengantar Eliza pulang. Dan ponselnya kembali berbunyi. [“Langsung bobok ya.”]

Hari demi hari, seperti ritme yang tidak diminta tapi perlahan dikenali.

Tidak ada banyak kata dari Saba. Hanya hadir konsisten. Makanan datang. Ojol yang sama menunggu. Pesan singkat muncul seperti pengingat kecil yang selalu ada.

Dua pekan berjalan, Eliza… mulai terbiasa. Tapi, tiba-tiba Saba menghilang.

Hari pertama, Eliza tidak terlalu peduli. Hari kedua, mulai terasa aneh. Hari ketiga, tidak ada pesan. Tidak ada bayangan di sudut café. Tidak ada kalimat singkat yang biasanya muncul tanpa diundang.

Hanya makanan. Dan ojol. Hari keempat… bahkan Starla tidak muncul, padahal Eliza libur.

Tiba-tiba merasa sepi. Eliza menatap ponselnya lama malam itu. Jemarinya mengetik.

“Hai…” Dihapus. “Kamu ke mana?” Dihapus lagi.

Ia menghela napas, menutup mata sejenak, lalu mengetik cepat sebelum keberaniannya hilang lagi.

“Kok ilang, anda sakit atau apap?” Ia menatap typo itu. Mengernyit lalu cepat-cepat dihapusnya. 

Namun, terlambat. Pesannya barusan sudah centang biru. Saba membacanya.

Eliza menggigit bibir atasnya. Menanti balasan apa yang akan muncul. Tapi, beberapa detik yang terasa lebih panjang itu, tak berbuah hasil.

"Lah, dibaca tok!" sungutnya menatap layar ponsel.

Lima menit berlalu, satu notifikasi masuk.

[“Mulai kangen aku, ya?”]

Eliza membeku. Ujung jarinya menggantung di atas layar, seperti takut satu huruf saja bisa membongkar sesuatu yang belum siap ia akui.

“Kepedean,” gumamnya pelan… tapi pipinya sudah lebih dulu menghangat, mengkhianati bantahannya sendiri.

Ia mulai mengetik, “nggak” hapus. “siapa juga” hapus lagi.

["Diam itu tandanya iya."]

Mulut mungil Eliza spontan melongo diikuti bola mata yang membulat. "Heh!" 

Tiba-tiba, Saba calling... 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!