Aku Bukan Anak Haram - Starla

Status Starla Sebenarnya

“Bukan.” Tatapannya lurus, tak bergeser sedikit pun. “Starla anak kandungku… dan sah secara agama.”

Brak! 

Meja dipukul keras. Sang mertua baru saja kehilangan kendali atas narasinya sendiri.

Saba tidak mengangkat suara. Ia berdiri tegak di balik meja kerjanya, dengan napas yang terukur, ia mulai membuka bagian yang selama ini terkunci rapat.

Tentang pernikahan diam-diamnya dengan Wulan di Bali, sederhana, tapi sah. Beberapa bulan setelah itu, ayahnya mengetahui dan langsung mengirimnya ke luar negeri, memutus jarak dengan cara paling kejam. Namun jarak tak sepenuhnya memutus hubungan mereka. Saba masih menerima kabar Wulan hamil. Lalu, Wulan tiba-tiba menghilang.

Ia sempat mencari. Mati-matian. Dari satu kota ke kota lain, dari satu nama ke nama lain. Tapi semuanya buntu. Hingga setahun setelah ayahnya meninggal, pencarian itu ia mulai lagi, lebih sabar, dan entah bagaimana… takdir menuntunnya pada satu titik : Starla… dan Eliza.

Tanpa banyak kata, Saba memutar laptopnya, menampilkan hasil tes DNA. Tidak ada celah untuk menyangkal atau memutar cerita.

Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit. Ayah Julia yang tadi meledak-ledak, kini justru diam. Wajahnya kaku, matanya menatap layar lebih lama dari yang seharusnya, seolah mencoba mencari kebohongan yang tidak ada.

Pintu kembali terbuka. Seorang pria masuk dengan map di tangan, langkahnya rapi, wajahnya profesional. Ia duduk tanpa basa-basi, memperkenalkan diri sebagai kuasa hukum Saba, lalu langsung menjelaskan poin-poin tuntutan dengan suara yang tenang namun tegas.

Julia diminta tidak lagi mencampuri kehidupan Keluarga Aditya, terutama Saba. Hak-haknya akan tetap diberikan secara utuh, selama ia tidak melanggar batas itu.

Asisten pribadi ayah Julia maju satu langkah, mencoba meredam sisa bara. Ia meminta agar pembahasan dilanjutkan secara resmi di pengadilan esok hari.

Saba mengangguk lalu berdiri. Tatapannya kembali pada pria di depannya. 

“Aku kembalikan putri Anda… secara terhormat, Tuan.”

Ayah Julia tidak menjawab. Bahunya turun sedikit, seperti seseorang yang baru saja kalah bukan oleh orang lain, tapi oleh kenyataan yang tak bisa ia ubah. Ia menunduk, berbalik, lalu berjalan keluar tanpa sepatah kata pun.

*

Keputusan pengadilan justru berjalan lebih cepat dari dugaan. Sidang pertama yang seharusnya menjadi ruang tarik-ulur, berubah menjadi jalur lurus tanpa hambatan. Kedua pihak tidak hadir secara langsung. Namun kuasa hukum masing-masing sudah lebih dari cukup untuk mewakili. Tidak ada bantahan berarti. Tidak ada upaya memperpanjang. Semua berkas lengkap, segala bukti tersusun rapi seperti potongan puzzle yang utuh.

Hakim menetapkan sidang putusan dua pekan mendatang—lebih cepat dari biasanya, tapi tetap masuk akal ketika perkara tidak lagi diperdebatkan. Seolah hubungan itu sendiri sudah selesai jauh sebelum palu diketuk, dan pengadilan hanya menjadi tempat terakhir untuk meresmikan perpisahan yang diam-diam sudah terjadi.

Sore itu, café tempat Eliza bekerja ramai seperti biasa. Suara gelas beradu, mesin kopi mendesis, dan percakapan pelanggan mengalir mendominasi udara.

Di salah satu sudut, Saba duduk dengan laptop terbuka. Sesekali ia berbicara dengan klien, suaranya rendah, profesional, seakan yang terpampang di layar itu adalah satu-satunya hal yang penting.

Di sela-sela itu, pandangannya terangkat mengarah ke satu titik.

Dia sedang mondar-mandir membawa pesanan. Sesekali merapikan rambutnya dengan gerakan cepat.

Pintu café berbunyi.

Seseorang masuk dengan langkah ringan, matanya langsung menyapu ruangan… dan berhenti pada Saba. Senyum kecilnya pun muncul. Dia berjalan mendekat.

“Sendirian, Mas?” tanyanya, santai.

Saba menoleh, mengangguk tipis pada Arsyira. “Iya, nyambi kerja.”

Arsyira urung ke belakang cafe. Dia meminta izin duduk. Baginya, ini momen langka bertemu Saba di luar kantor.

Beberapa menit berlalu. Arsyira mencoba membuka obrolan. Saba merespons… secukupnya.

Lalu, seperti sengaja… Saba sesekali mengalihkan pandangannya. Saat Arsyira sedang bicara, Saba justru tersenyum samar ke arah lain. Senyum yang tidak ia berikan pada perempuan di depannya.

Sekali.

Dua kali. Cukup untuk membuat Arsyira menyadari bahwa ia sedang… tidak diperhatikan.

Suasana di meja itu berubah. Arsyira menarik napas. Senyumnya dipaksakan. “Aku ada janji lain,” katanya sambil berdiri.

Saba mengangguk sopan. “Hati-hati.”

Arsyira bangkit, dan melangkah lebih cepat ke arah belakang.

Saba kembali ke laptopnya. Tapi sudut bibirnya masih menyimpan sisa curi-curi pandang tadi 

Beberapa detik kemudian, jemarinya bergerak di ponsel. "Mangats ya ibu… aku numpang recharge energi di pojokan sini."

Di balik counter, Eliza membaca pesan itu. Alisnya langsung berkerut. Dia membatin, "Dari mana dia dapat nomer baruku?"

Eliza spontan menoleh ke sudut cafe. Saba masih duduk di sana. Fokus pada layar.

Namun… perlahan. Saba mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu.

Dan seperti tidak terjadi apa-apa… Saba tersenyum.

Lengkung bibirnya samar, tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dada Eliza… berdentum tidak beraturan.

Deg.

Deg.

Deg.

Eliza buru-buru memalingkan wajah, pura-pura sibuk menyusun cangkir di rak. Tangannya bergerak terlalu cepat sampai satu sendok kecil nyaris terjatuh. Ia menangkapnya di detik terakhir, menghela napas pelan, lalu mencuri pandang lagi.

Saba sudah kembali menunduk ke layar, seolah tadi tidak pernah ada tatapan yang saling bertaut.

Beberapa menit kemudian, Saba menutup laptopnya sebentar. Ia mengangkat tangan sedikit ke arah Eliza.

Eliza mendekat, masih dengan ekspresi mode kerja. “Mau tambah apa, Pak?” tanyanya datar.

Saba menatapnya sebentar, lalu melirik menu tanpa benar-benar melihat. “Yang kamu rekomendasiin aja.”

Eliza mengernyit. “Saya nggak tahu selera Anda.”

Saba mengangguk ringan. “Makanya aku tanya.”

Eliza mendecak pelan, sambil berpikir. “Tunggu.” Ia berbalik, berjalan ke belakang dan kembali membawa satu gelas. Meletakkannya pelan di depan Saba. “Ini.”

Saba melirik. “Apa?”

“Yang nggak terlalu manis,” jawab Eliza singkat. “Kayak orangnya.”

Saba mengangkat alis tipis. “Aku?”

Eliza sudah berbalik. “Cicipi aja.”

Saba terkekeh pelan. Ia mengambil gelas itu, menyeruput sedikit… lalu tanpa sadar kembali mengangkat pandangan ke arah Eliza yang sedang melayani pelanggan lain.

Dari dalam kantor, lewat kamera cctv yang terhubung ke komputer, Arsyira memperhatikan interaksi mereka. Namun, jarinya sudah lebih dulu mengetik di ponsel.

"Eliza itu cocok sama kamu… tapi kata ibu, Starla anaknya. Dan Saba juga bilang gitu. Kamu percaya?"

["Iya kali."]

Arsyira mendengus pelan, lalu lanjut mengetik, "Gosipnya dia pelakor di kerjaan lama. Aku bingung."

["Ngapain ngurusin orang lain?"]

"Kan itu karyawanmu, Arka."

["Biarin aja. Yang penting dia nggak bikin huru-hara di ~Atelier. Sempat tertarik sih… tapi nggak adil kalau jadikan dia pelampiasan. Ah, udah lah."]

Arsyira tersenyum miring membaca itu. Arka baru saja putus dengan pacarnya 6 bulan lalu. Jemarinya pun kembali bergerak. "Yeee… sainganmu itu Saba. Aku suka Saba. Kerja sama aja gimana?"

Typing… Berhenti. Muncul lagi titik-titik, tanda Arka sedang menulis balasan.

["Maksud Kakak apa?"]

Arsyira melirik sekali lagi ke arah layar komputer. Saba sedang berbicara dengan kliennya lagi. Tapi di sela itu… matanya masih sempat mencari Eliza.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!