Aku Bukan Anak Haram - Starla
Izin Ekslusif
"Report.”
"Eh, report?" Eliza mengangguk cepat, lalu mengambil map yang sudah ia siapkan. Mereka duduk berhadapan di meja dekat jendela.
Eliza menjelaskan tidak terburu-buru. Setiap angka, setiap alur, disampaikan jelas. Sesekali ia membuka catatan di ponsel untuk memastikan tidak ada yang terlewat.
Arka mendengarkan tanpa memotong.
Tangannya membalik halaman satu per satu. Matanya teliti. Tidak ada detail yang lolos begitu saja.
Beberapa menit berlalu dalam fokus yang tenang, Arka berhenti. Ia menutup map itu pelan. Jarinya mengetuk ringan di atas kertas, lalu ia menopang dagunya dengan satu tangan. Tatapannya beralih ke Eliza.
“Rapi.” Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Makasih ya.”
Eliza sedikit kaget. “Sa-sama-sama, Pak.”
Tatapan itu bertahan sepersekian detik lebih lama dari biasanya. Dan itu cukup membuat Eliza salah tingkah.
Ia menunduk sebentar, pura-pura merapikan ujung map.
Arka lalu bersandar santai di kursinya. “Kamu belum libur?”
Eliza mengangkat kepala. “Eh?”
“Mau kapan?” lanjut Arka ringan.
Eliza benar-benar tidak menyangka pertanyaan itu. “Saya… belum kepikiran.”
Arka mengangguk kecil, seolah sudah menduga.
“Besok libur.”
Eliza mengerjap. “Hah?”
“Me time,” kata Arka santai. “Sebulan lebih kerja tanpa jeda.”
Eliza ragu. “Boleh?”
Arka mengangkat satu alis tipis. “Anda punya izin eksklusif, Nona Eliza.”
Eliza langsung kikuk. Tangannya refleks naik ke pelipis, menggaruk pelan. “O-ok… terima kasih, Pak.”
Arka menahan senyum.
Belum sempat suasana kembali netral, suara lain menyambar dari samping. “Libur ya?”
Ia muncul entah dari mana, berdiri dengan tangan menyilang santai. Tatapannya langsung mengarah ke Eliza, lalu ke Arka.
“Mau ke mana, El? Nyalon?” lanjutnya ringan.
Arka menoleh malas. “Kak…”
“Kenapa mukamu gitu?” Arsyira menaikkan alis, jelas menikmati reaksi adiknya.
Eliza hanya diam di tempat. Bingung harus berdiri, duduk, atau menghilang sekalian. Sementara Arka menghela napas pendek, menatap kakaknya dengan ekspresi datar.
Arsyira menarik kursi di samping Eliza tanpa diminta, duduk dengan santai seolah itu memang tempatnya sejak awal.
“Tapi sebelum itu,” katanya, menoleh ke Eliza, “makasih ya.”
Eliza sedikit kaget. “Eh… untuk apa, Kak?”
“Acara ulang tahun bulan kemarin,” jawab Arsyira ringan. “Anak-anaknya happy. Orang tuanya juga nggak komplain. Itu jarang.” Ia tersenyum tipis. “Kamu sigap.”
Eliza menunduk sedikit. “Alhamdulillah… tim juga bantu, Kak.”
Arsyira mengangguk, lalu ia beralih ke Arka.
“Dan kamu,” katanya sambil menyandarkan punggung, “akhirnya cafe ini berguna juga."
Arka mendengus pelan. “Kalau cuma buat bilang gitu, nggak usah datang.”
Arsyira terkekeh. “Sensitif banget.” ia berkata masih dengan nada santai, “Aku mau pakai tempat ini lagi.”
Eliza yang tadi sudah mulai tenang langsung menoleh. “Eh?”
Arka juga mengangkat pandangannya, kali ini benar-benar fokus. “Buat?”
“Launching,” jawab Arsyira singkat.
“Hah?” kali ini keluar hampir bersamaan dari Eliza dan Arka.
Arsyira mengangkat alis, menikmati kebingungan itu. “Launching baju baru aku.”
Eliza berkedip. “Di… café?”
Arka menyandarkan siku di meja, jarinya mulai mengetuk pelan. “Kak. Kamu gila? Mana cocok!”
“Nyambung, kok,” potong Arsyira cepat, seolah sudah siap dengan pembelaannya. “Tema koleksi aku itu Mahogany. Warna-warna earthy. Cokelat tua, burnt orange, cream. Kayak kopi.” Ia melirik sekeliling café. “Ambience sini tuh dapet banget.”
Eliza otomatis ikut melihat sekeliling. Kayu gelap, cahaya hangat, bayangan lembut di sudut ruangan. Benar juga, pikirnya.
“Lagian,” lanjut Arsyira santai, “nggak akan ubah konsep Atelier. Justru aku numpang vibe-nya.”
Arka berhenti mengetuk meja. Ia menatap kakaknya beberapa detik, ekspresinya sulit ditebak.
“Berapa orang?” tanya Arka akhirnya.
Arsyira tersenyum tipis. “Lebih kecil dari kemarin. Undangan terbatas.”
“Runway?” Arka langsung ke inti.
“Mini,” jawab Arsyira cepat. “Nggak lebay. Model nanti jalan dari pintu, muter, selesai. Intimate.”
Arka menghela napas pendek. Tangannya kembali mengetuk meja sekali, dua kali, lalu berhenti. Dia harus geser layout sementara agar space ruang lebih lega.
“El.”
Eliza refleks menoleh. “Iya?”
“Kamu denger,” kata Arka singkat.
Eliza mengangguk pelan.
Arsyira mencondongkan tubuh sedikit ke depan, kini benar-benar mengarah ke Eliza. “Aku ingin yang pegang acaraku ini adalah orang-orang flow. Tamu datang, duduk, minum, lalu show mulai. Jangan sampai chaos.”
Eliza menelan ludah. “Iya, Kak… nanti saya susun alurnya dulu.”
“Good,” jawab Arsyira cepat.
Arka memperhatikan interaksi itu tanpa menyela. Tatapannya berpindah dari Eliza ke Arsyira, lalu kembali lagi.
“Jangan ganggu operasional,” ucapnya akhirnya, tegas.
“Please,” Arsyira mengangkat tangan sedikit. “Aku juga nggak mau brand aku kelihatan ribet.”
Sunyi.
Lalu Arka berdiri, merapikan posisi jam di pergelangan tangannya. “Brief lengkap kirim ke Eliza,” katanya.
Arsyira menyeringai. “Tuh kan. Diserahin lagi ke dia.”
Arka tidak menanggapi. Ia hanya melirik Eliza sekilas. “Bisa?”
Eliza mengangguk, meski jantungnya mulai berdetak lebih cepat. “Saya coba, Pak.”
Arka mengangguk sekali. “Kerjain pelan. Jangan rusak ritme kerja Atelier.”
Arsyira berdiri, merapikan tasnya. “Oke. Berarti deal.” Ia menepuk ringan bahu Eliza. “Aku kirim konsepnya nanti malam.” Lalu ia melirik Arka. “Jangan jutek banget. Ini potensial.”
Arka hanya mendengus pelan. Arsyira berjalan pergi, meninggalkan mereka berdua lagi di meja itu.
Beberapa detik hening.
Eliza masih memegang map di tangannya, tapi pikirannya sudah melompat ke mana-mana. Ulang tahun, masih bisa ia kendalikan. Lah, launching? Dengan orang-orang yang mungkin… lebih “besar dan penting."
“El.”
Eliza tersentak. “Iya?”
Arka sudah berdiri di samping meja. Tatapannya turun sedikit, memastikan Eliza benar-benar fokus.
“Kalau kamu bilang bisa,” katanya pelan, “jangan setengah-setengah.”
Deg.
Eliza mengangguk. “Iya.”
Arka ke balik bar, mengambil apron hitamnya, memasangnya dan mengikat rapi. "El!"
Eliza yang masih berdiri dekat meja langsung menoleh ketika dipanggil.
“Pulang."
Eliza masih sempat ragu satu detik, sebelum akhirnya mengangguk. Namun, saat ia berbalik hendak menuju loker, Arka memanggil lagi.
Arka mengambil sesuatu dari bawah meja bar, lalu menyodorkan satu amplop kecil ke arahnya.
Eliza menerimanya dengan hati-hati. “Pak… ini apa?”
“Ambil aja,” jawab Arka singkat, sudah kembali fokus ke mesin kopi.
Eliza tidak banyak tanya, hanya mengangguk pelan. “Terima kasih, Pak.”
Senyum kecil muncul saat berjalan ke belakang. Ia membuka loker kecilnya. Tas diambil, lalu amplop itu ia masukkan sebentar sebelum akhirnya rasa penasaran menang.
Dua lembar seratus ribu.
Eliza terdiam sepersekian detik… lalu matanya langsung berbinar. “Serius…” gumamnya pelan, nyaris seperti anak kecil yang baru dapat hadiah tak terduga.
Senyumnya melebar tanpa bisa ditahan. Ia menutup amplop itu cepat-cepat, memasukkannya kembali ke tas, lalu buru-buru keluar.
Di perjalanan pulang, sebelum sampai kos, Eliza berhenti di sebuah minimarket.
Hari ini terasa seperti hadiah kecil untuk dirinya sendiri. Ia berhenti sejenak di depan rak cokelat. Tangannya ragu mengambil, “Sekali-kali…” gumamnya, tersenyum sendiri.
Sementara itu, di café—“Ting.” Pintu berdenting pelan.
“Selamat sore,” sapa salah satu karyawan.
Arka masih menunduk, fokus pada mesin kopi. Tangannya menekan portafilter, memastikan tekanan pas sebelum menarik tuas.
Baru ketika bayangan mereka jatuh di lantai dekat bar, Arka mengangkat kepala. Dahinya langsung mengernyit tipis. “Ehm?”
Pria itu berhenti di depan kasir, satu tangan masih menggenggam tangan anak kecil di sampingnya.
“Bu Arsyira sudah ke sini?” tanyanya.
Arka sedikit kikuk. “Oh, barusan pergi, Pak. Maaf… saya sedikit lupa nama Anda…”
Pria itu tersenyum tipis. Anak kecil di sampingnya berdiri diam, matanya menyapu ruangan dengan rasa asing yang kentara.
Arka meletakkan portafilter pelan, lalu mengelap tangannya dengan kain. “Perlu sesuatu?” tanyanya datar, sebab pertanyaan awal tadi tidak dijawabnya.
Dia mengangguk sedikit. “Saya cuma mau nitip ini,” katanya, mengangkat sedikit kantong kecil yang ia bawa. “Untuk Shabira.”
Arka tidak langsung mengambilnya. Tatapannya turun sekilas ke anak kecil itu lalu kembali ke sang pria.
“Ada perlu lain?” tanyanya lagi.
.
.