Aku Bukan Anak Haram - Starla
Rindu lagi
Eliza hampir menjatuhkan baki saat sampai di belakang.
Ia meletakkannya terlalu cepat di meja stainless. Gelas-gelas beradu pelan, bunyi dentingnya membuat satu kru menoleh.
“El, kenapa?” tanya salah satu dari mereka.
Eliza diam. Tangannya masih menggantung di atas meja, jemarinya sedikit kaku. Ia menarik napas dalam, lalu menggeleng pelan tanpa menatap siapa pun. “Nggak apa-apa,” ucapnya lesu.
Namun dadanya naik turun tidak beraturan.
Tangan kanannya perlahan naik, menekan bagian tengah dada, seolah berusaha meredam sesuatu yang berdegup terlalu keras di dalam sana.
Dia muncul begitu saja. Eliza menunduk, kelopak matanya terpejam sebentar. Ia berusaha menahan ingatan yang mulai berdesakan.
Suara itu dikenalnya… bahkan tanpa harus melihat.
Di luar café, pintu kaca tertutup pelan di belakang Albana.
Langkahnya sempat terhenti sebelum benar-benar menjauh. Ia menoleh sekilas ke arah dalam, tapi hanya melihat aktivitas biasa. Tidak ada yang mencolok.
Ia melanjutkan langkah menuju mobil, membuka pintu, lalu duduk di kursi kemudi. Namun, mesin tidak langsung dinyalakan.
Tangannya justru mengambil ponsel dari dashboard.
Layar menyala. Beberapa detik ia hanya menatapnya kosong, sebelum membuka catatan lama yang masih tersimpan.
Nama itu masih ada. Nomor yang tidak aktif, kosannya masih dibayar, tapi orangnya tidak ada. Bahkan Bu Gendhis pun tidak tahu nomor barunya. Eliza benar-benar menghapus dirinya sendiri dari semua jalur yang bisa dilacak.
Albana menghela napas pelan. Kepalanya bersandar ke jok, lalu pandangannya kembali terarah ke café melalui kaca depan.
Ia menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
Tidak ada siapa pun yang keluar dengan wajah yang ia cari. Tangannya turun ke kursi sebelah, menyentuh kotak kecil yang tadi ia bawa. Bingkisan dengan pita sederhana, untuk Starla.
“Bukan kali ya…” gumamnya lirih sambil berpikir. “Ke mana anak itu…” lanjutnya makin pelan. “Nona kecil sampai sakit terus…”
Akhirnya ia menyalakan mesin. Suara mobil menyala memutus hening di dalam kabin. Tanpa menoleh lagi, mobilnya perlahan keluar dari pelataran café.
Malamnya, kantor masih menyisakan cahaya.
Beberapa lampu sudah dimatikan, tapi ruang kerja utama tetap terang. Saba duduk di belakang meja, tubuhnya sedikit condong ke depan, satu tangan menopang dagu sementara matanya tertuju pada layar laptop.
Albana masuk tanpa banyak suara. Ia berjalan lurus, perlahan meletakkan bingkisan di atas meja.
“Ini dari Bu Arsyira,” katanya. "buat nona kecil."
Saba mengangkat kepala. Alisnya sedikit berkerut saat membaca tulisan kecil di kartu yang menempel di kado itu.
“Atelier 28?” ulangnya pelan.
“Iya. Anaknya ulang tahun di sana. Katanya café itu punya adiknya.”
Saba menyandarkan punggung ke kursi. Jari-jarinya mulai mengetuk pelan di permukaan meja, ritmenya tidak teratur.
Arsyira. Ia mengenalnya cukup lama.
Mereka pernah berada di lingkar komunitas pengusaha muda yang sering mengadakan acara bersama. Perempuan itu juga yang dulu merekomendasikan butik miliknya ke sang mama, kala bisnisnya masih kecil. Sejak saat itu, mereka sering bersinggungan.
“Arka…” gumam Saba, mengingat. Lalu ia menatap Albana lagi. “Ngapain kamu yang ke sana?”
“Disuruh ibu Anda nganter kado.”
“Oh.”
Saba terdiam. Jarinya berhenti mengetuk. Pandangannya turun ke meja, tepat pada sebuah foto kecil yang terletak di sisi kanan. Ia mengambilnya perlahan.
Wajah kecil itu tersenyum di dalam bingkai foto, tapi kenyataan yang ia lihat beberapa hari terakhir jauh berbeda.
“Starla makin kurus,” ucapnya pelan, berbicara pada dirinya sendiri. “Sering sakit. Nanya ibunya terus.” Tangannya mengusap pinggir foto itu tanpa sadar.
Albana berdiri di seberang meja. Bahunya sedikit tegang. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi tertahan.
Tentang suara tadi. Kemungkinan yang terlalu minim untuk diyakini, tapi terlalu kuat untuk diabaikan.
Ia membuka mulut sedikit… lalu menutupnya lagi. “…”
Sebagai gantinya, ia menggeser satu gelas ke arah meja. “Saya dibawain kopi,” imbuh Albana. “Dari sana.”
Saba melirik sekilas.
“Kopinya enak, Bos.”
Saba masih menatap foto itu beberapa detik, lalu perlahan meletakkannya kembali di tempat semula. Pandangannya kosong sejenak.
“Nanti saya ke sana,” sahut Saba.
Albana sedikit mengangkat alis. “Ke café itu?”
Saba mengangguk kecil. Tangannya kini kembali bertumpu di meja. “Sekalian ngucapin, nggak enak sama Arsyira,” lanjutnya datar.
***
Di sisi lain kota.
Eliza berdiri di belakang café, punggungnya bersandar ringan ke dinding dekat dapur. Tangannya sudah tidak terlalu gemetar. Tapi jari-jarinya masih dingin.
Ia menatap lantai beberapa detik, lalu mengangkat wajahnya perlahan. Suara itu masih tertinggal di kepalanya. Nyaris menyentuh masa lalu yang ia coba tinggalkan.
Eliza menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
Malam itu, setelah lampu cafe satu per satu dipadamkan, Eliza pulang dengan tubuh yang terasa lebih berat dari biasanya.
Jalanan tidak terlalu ramai. Angin malam menyapu wajahnya saat motor melaju, tapi tidak cukup untuk mengusir sesak yang sejak tadi mengendap di dada.
Ia sampai di kamar kosnya, membuka pintu pelan. Ruangan kecil itu menyambut dengan keheningan yang mulai akrab.
Eliza menutup pintu, menyandarkan punggung sebentar, lalu berjalan pelan ke arah meja kecil di dekat ranjang. Tangannya meraih satu pigura yang sudah mulai pudar di bagian pinggirnya.
Jari Eliza menyentuh permukaan kaca, mengusap pelan wajah kecil itu seolah bisa benar-benar merasakan hangatnya.
Napasnya mulai bergetar, “Kamu lagi apa ya…” suaranya pecah, “Sehat nggak, Nak…”
Matanya mulai basah. Ia duduk di tepi ranjang, memeluk pigura itu ke dadanya. Erat. Seolah itu satu-satunya cara untuk menahan sesuatu yang hampir runtuh di dalam dirinya.
“Kamu kubesarkan…” lanjutnya pelan, suaranya tersendat. “Dengan tangan ini… dengan semua yang aku punya…”
Air mata jatuh tanpa ditahan lagi. “Bahagia ya, Sayang… di mana pun kamu sekarang…”
Eliza menunduk, wajahnya menempel di pigura itu. Tangisnya tidak lantang, tapi dalam. Sampai akhirnya, lelah mengambil alih.
Tubuhnya perlahan rebah ke samping, masih memeluk pigura itu. Air matanya mengering tanpa disadari. Eliza tertidur dalam posisi itu. Dengan rindu yang tak tersampaikan.
Cahaya pagi masuk dari celah jendela, jatuh tipis di lantai. Eliza membuka mata perlahan. Kepalanya terasa berat.
Pigura itu masih ada di pelukannya. Ia menatapnya sebentar, lalu menghela napas pelan sebelum bangkit.
Rutinitas kembali berjalan. Sekarang hidupnya punya jeda.
Café buka sore hingga malam. Pagi hari Eliza duduk di depan laptop, mengikuti kuliah online dengan rambut masih setengah basah. Sesekali mencatat, berhenti untuk mencuci baju atau sekadar menyeduh teh.
Dulu, semuanya berantakan.
Kuliah dikejar malam, tugas dikerjakan di sela kerja, badan bergerak tanpa sempat berhenti. Sekarang… ritmenya lebih manusiawi.
Gajinya memang belum penuh. Tapi cukup untuk makan, bayar kos, dan bertahan satu bulan tanpa harus terlalu irit.
Eliza membuka kontak di ponselnya. Nama “Bu Gendhis” masih ada di sana. Jempolnya menggantung di atas layar, ingin menghubungi. Tapi bayangan lain muncul.
Jika… tanpa sengaja… Bu Gendhis keceplosan, jejaknya bakal ditemukan.
Eliza menarik napas panjang, lalu perlahan menutup layar ponselnya. “Belum…” gumamnya pelan. “Belum waktunya.”
Semua ia atur hati-hati. Uang kos dikirim bukan dari rekening pribadi, melainkan lewat e-wallet orang lain yang ia isi secara terpisah. Agar tidak mudah dilacak. Barang-barang pun sebagian masih di sana.
Pekan berganti. Hari berjalan tanpa kejadian berarti.
Sampai suatu sore... Arka tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan.
Sudah hampir sebulan sejak terakhir ia benar-benar berada di sana. Kali ini, ia tidak langsung ke bar. Langkahnya berhenti di area kasir.
“El.”
Eliza yang sedang mengecek laporan langsung menoleh. “Iya, Pak.”
“Report.”
Deg.
.
.