Aku Bukan Anak Haram - Starla

Idola Atelier

"El."

Eliza menoleh. "Ya?"

"Sudah lihat Instagram Cafe?"

Eliza menggeleng. “Belum.”

Arka menyodorkan layar ponselnya. Feed itu rapi. Dominan cokelat gelap, hitam, putih. Foto-foto kopi diambil dengan jarak yang presisi. Close-up tekstur crema. Sudut meja kayu dengan cahaya jatuh miring. Potret panggung kecil dengan gitar di tengahnya.

Seninya kuat sekali. Caption di setiap postingannya pendek dan tegas.

Eliza menggeser pelan layar itu. Jumlah likes-nya ribuan. Komentar dari akun-akun perempuan yang jelas bukan sekadar pelanggan.

“Semua konsep saya pegang sendiri,” kata Arka singkat. “Branding itu penting. Orang datang bukan cuma buat minum.”

Eliza mengangguk pelan, baru mengerti. Atelier 28 bukan sekadar café, tapi warung kopi yang dibangun dengan identitas. Dan Arka menjadi pusat perhatiannya.

Eliza mengembalikan ponsel itu. Ada sesuatu yang berbeda di dalam dadanya. Rasa ingin tahu.

Arka menyimpan ponselnya kembali ke saku apron.

“Besok saya ada di sini lagi. Biasanya kalau saya jaga, agak ramai,” ucapnya datar, seolah itu informasi biasa.

Eliza mengangguk. Arka menutup cafe setelah semua karyawan berkumpul dan berdoa bersamanya.

***

Eliza baru mengerti maksud “ramai” keesokan harinya.

Jam belum menunjukkan pukul lima sore, tapi meja dekat bar sudah penuh. Dua mahasiswi duduk terlalu dekat dengan area kerja. Salah satunya sengaja memesan manual brew yang prosesnya lama.

“Mas Arka sendiri yang buat ya?” tanyanya, senyumnya lebar, terkesan dipaksakan.

Arka tidak menanggapi berlebihan. “Semua pesanan tetap saya buat.” Nada suaranya netral dan profesional.

Eliza berdiri di kasir, mencatat pesanan. Ia bisa merasakan mata-mata itu lebih sering menatap ke balik bar daripada ke menu. Beberapa pelanggan bahkan memotret diam-diam saat Arka sedang menuang latte art.

“Mas, nanti malam perform kan?” seru yang lain dari meja tengah.

Arka hanya mengangguk singkat. Café memang miliknya. Wajar jika orang datang karena dia.

Tapi ketika satu perempuan berdiri terlalu dekat, bersandar di meja bar sambil tertawa kecil pada sesuatu yang bahkan tidak lucu, Eliza merasa itu hal memalukan.

“Americano satu,” suara Arka memotong lamunannya.

Eliza tersentak. “Ya.”

Ia mengambil cangkir terlalu cepat. Hampir saja menumpahkan sedikit kopi ke tatakan.

Perempuan di depan bar itu meliriknya sekilas. Senyumnya tipis, seolah meremehkan.

Malam semakin padat. Pesanan menumpuk. Salah satu meja komplain karena minuman datang lebih lama dari biasanya.

“Biasanya cepat, kok hari ini lama?” kata seorang pelanggan pria dengan nada tak sabar.

Eliza menelan ludah. “Maaf, Kak. Sedang full.”

Arka keluar dari balik bar, mengambil alih situasi. “Maaf menunggu. Kami prioritaskan sesuai antrean,” katanya tegas, tapi tetap sopan.

Nada itu cukup untuk membuat pelanggan tersebut diam. Namun setelahnya, Arka berbalik pada Eliza.

“Tadi kamu salah input satu pesanan. Makanya antrian jadi mundur semua."

Kalimatnya sederhana. Tapi cukup membuat wajah Eliza panas. “Oh… maaf.”

“Fokus,” lanjutnya singkat. “Kalau panik, ritmemu rusak.”

Eliza mengangguk. Tangannya terasa dingin.

Di sisi lain ruangan, dua perempuan yang tadi masih tertawa kini memperhatikannya. Ada bisik kecil juga lirikan yang sulit diartikan positif.

Eliza menarik napas dalam, dirinya hanya kasir. Tapi ia merasa harus membuktikan sesuatu pada Arka, dan entah kenapa, itu terasa lebih berat.

Eliza menunduk sebentar di balik meja kasir.

Ia menarik napas pelan. Mengembuskannya lebih lama.

Ritme. Kata itu terngiang.

Ia mulai memperlambat gerakannya. Tidak lagi terburu-buru menekan layar POS. Membaca ulang pesanan sebelum meng-input. Menyebutkan kembali total harga dengan suara lebih stabil.

Tangannya tidak lagi gemetar. Di balik bar, Arka melirik sekilas. Hanya sepersekian detik. Tapi cukup untuk melihat perubahan itu.

Menjelang pukul delapan, café penuh. Lampu sorot memantul di permukaan meja. Uap kopi naik tipis. Obrolan bercampur dengan suara grinder dan denting sendok.

Perempuan yang tadi berdiri terlalu dekat kini masih di tempat yang sama. Ia memainkan rambutnya sambil bertanya, “Mas Arka sibuk banget ya. Single kan?”

Eliza mendengarnya jelas. Arka tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan latte art-nya dulu, meletakkan cangkir dengan presisi, baru kemudian menatap pelanggan itu.

“Saya kerja,” katanya singkat.

Bukan jawaban iya atau tidak. Perempuan itu tertawa, sedikit canggung.

Tapi konflik kecil belum selesai. Sekitar pukul sembilan, satu pesanan take away tertukar. Pelanggan kembali ke kasir dengan wajah kesal.

“Ini bukan punya saya.”

Eliza memeriksa struk. Nomor meja benar. Tapi nama minuman berbeda.

Ia terdiam sepersekian detik terlalu lama. Arka sudah berdiri di sampingnya.

“Cek ulang sebelum kasih ke customer,” ucapnya pelan, cukup untuk didengar Eliza saja. Tidak mempermalukan, tapi tetap tegas.

Eliza mengangguk cepat. “Maaf, Kak. Saya ganti sekarang.” Ia bergerak lebih hati-hati. Tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.

Malam semakin larut. Beberapa pelanggan mulai pulang. Kursi-kursi kosong bertambah. Hanya tersisa meja-meja yang memang sengaja bertahan karena tahu Arka akan perform.

Sekitar pukul setengah sebelas, Arka membuka apron-nya. Ia mengambil gitar dari sudut panggung. Lampu diredupkan sedikit.

Suasana berubah. Eliza berdiri di balik kasir, kini tidak terlalu sibuk. Ia bisa melihat lebih jelas.

Arka memetik satu nada panjang. Obrolan pelan mereda.

Perempuan-perempuan yang tadi cekikikan kini diam, menatap tanpa suara.

Eliza tidak melihat Arka sebagai pusat perhatian yang dikejar banyak orang. Ia melihat seorang lelaki yang serius dengan dunianya.

Nada demi nada mengalun. Tidak tergesa-gesa, ada jeda di antara petikan yang terasa matang.

Eliza tanpa sadar berhenti bergerak. Arka membuka mata di tengah permainan. Tatapannya menyapu ruangan. Berhenti sepersekian detik di arah kasir.

Deg.

Bukan tatapan panjang. Hanya cukup untuk membuat jantung Eliza kembali salah degup.

Lagu selesai. Tepuk tangan terdengar. Arka kembali ke balik bar seperti biasa. Seolah barusan bukan apa-apa.

Eliza menunduk, pura-pura merapikan struk saat langkah Arka mendekat.

“El.”

Eliza mendongak. “Ya?”

Arka tidak langsung bicara. Ia berdiri di sisi meja kasir, jarak mereka lebih dekat dari biasanya. Cahaya lampu membuat bayangan wajahnya terlihat lebih tegas.

Eliza terdiam sepersekian detik, membuat tatapan Arka tidak berpindah.

Tapi sebelum berbalik, Arka berkata pelan, “Kalau kamu kerja di sini, saya perlu tahu satu hal.”

Eliza menahan napas. Arka menatapnya lurus.

“Kamu bawa masalah ke dalam café… atau tidak?”

Sunyi.

Jarinya perlahan meremas kertas itu sampai sudutnya kusut. Eliza menunduk sebentar, menarik napas, lalu mengangkat wajahnya lagi. "Saya..."

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!