Aku Bukan Anak Haram - Starla
Dipecat
Eliza dipanggil seniornya di kasir. Bulan ramadhan sudah dekat, banyak orang mencari produk murah untuk parcel.
Toko selalu ramai sejak pintu rolling dibuka. Lampu putih memantul di lantai keramik yang licin. Suara troli bergeser, plastik bergesek, mesin kasir berbunyi pendek. Eliza sangat sibuk hari ini.
Haus, lapar ditahannya agar display rapi. Tangannya gemetar saat menyusun botol saus di rak promosi. Botol itu terlepas satu karena kardus kecil tersenggol lututnya.
Suara kaca retak terdengar nyaring, saus merah menyebar di lantai seperti darah.
Beberapa seniornya menoleh.
“Makanya fokus kalau kerja.” Berkomentar pedas, bukan membantu Eliza.
“Dari dulu katanya dia itu memang ceroboh.” Bisik-bisik yang tidak lagi dibisikkan, Eliza mendengarnya.
Eliza berlutut. Tangannya memungut pecahan kaca dengan tisu tipis. Saus merembes ke sela jarinya.
Ia tidak membalas atau menjawab. Hanya menarik napas pelan, lalu menghembuskannya agar air matanya tidak runtuh.
Sore itu setelah pulang kerja, tiba-tiba namanya muncul di sebuah unggahan. Akun kenalan lama men-tag.
[“Eliza yang ini, kan?”]
Foto itu diambil dari sudut yang sengaja dibuat salah tafsir. Videonya sengaja dipotong. Narasi dibuat lebay, penuh kebohongan.
DM masuk satu per satu. Awalnya hanya tiga. Lalu puluhan, memaki Eliza.
"Gundik. Perusak rumah tangga. Perempuan murahan."
Eliza menatap layar tanpa ekspresi. Jemarinya sempat mengetik balasan. Lalu dihapus. Diketik lagi. Dihapus lagi. Akhirnya ia meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah.
Ia memilih mencuci piring. Menyapu lantai kos. Mengerjakan tugas kuliah, berusaha mengabaikan berita miring itu meski isi otaknya penuh.
Tekanan itu tidak hanya di akun sosial media saja. Suatu pagi, motornya terasa berat. Ia turun, memeriksa. Ban belakang kempes total. Seperti sengaja ditusuk.
Hari berikutnya, saat ia keluar toko, tomat busuk dilemparkan ke arahnya. Bau asam menempel di seragamnya.
Eliza diam, hanya menyeka pipinya yang terkena cipratan tomat, lalu motornya dia stater lagi.
Puncaknya, sebuah spanduk terpasang di depan toko. Hurufnya besar, kalimatnya kasar.
GUNDlK.
Wajah Eliza tercetak di sana. Orang-orang berhenti. Memotret. Berbisik mencari tahu seolah menunggu Eliza untuk dihujat. Eliza berdiri beberapa meter dari spanduk itu, menatap lama lalu masuk ke dalam toko seperti biasa.
Atasan memanggilnya ke ruangan siang itu. Kursi di hadapannya terasa dingin. Kata “dipecat” sudah hampir keluar, sampai Indra datang tergesa. Nafasnya belum stabil, rambutnya sedikit berantakan. Ia membela Eliza. Menjamin dan meyakinkan kepala toko.
Eliza duduk tegak. Tangannya saling menggenggam di atas paha. “Tidak perlu dibelain, Pak,” suaranya pelan tapi rata. “Kalau memang harus keluar, saya terima.”
Eliza malas drama, lelahnya sudah menumpuk seperti debu yang tak sempat dibersihkan. Keputusan akhirnya tetap sama.
Ia diberhentikan.
Sore itu ia membereskan loker kecilnya. Buku catatan, botol minum dan satu foto Starla yang di pigura kecil.
Ia pamit ke pegawai toko satu per satu.
Beberapa menunduk, sebagian pura-pura sibuk atau menanggapi datar.
Indra yang kebetulan datang karena masih area kontrolernya, berdiri paling akhir. Ingin mengatakan sesuatu. Tapi Eliza hanya tersenyum tipis, menunduk hormat sebagai ucapan terima kasih lalu keluar.
Di parkiran, nomor baru yang selama ini ia pakai, kartu SIM-nya dilepas. Dibuang ke tempat sampah kecil di depan minimarket. Hanya satu nomor yang ia simpan. Bu Gendhis.
Ketika mau jalan, ban motornya kembali kempes. Kali ini dua-duanya.
Eliza tidak lagi terkejut. Ia hanya berdiri sebentar, menarik napas lalu mendorong.
Aspal sore itu panas. Nafasnya mulai pendek setelah seratus meter. Tangannya memerah karena menahan setang.
Dua ratus meter. Tiga ratus.
Dada terasa sesak, bukan karena capek saja. Ada sesak yang menekan dari dalam.
Empat ratus meter. Air matanya jatuh tanpa suara.
Di trotoar, ia berhenti. Menunduk. Bahunya bergetar pelan. Tidak ada yang bertanya padanya. Hanya suara kendaraan lalu lalang. Eliza memeluk dirinya sendiri, mengusap lengannya pelan naik turun.
Setelah beberapa menit, ia menyeka wajahnya dengan punggung tangan, membuang ingus. Lalu mengambil ponsel dari tasnya dan memesan ojol.
Saat pengemudi datang, Eliza bertanya apakah mau membantu mendorong motor sampai bengkel lima ratus meter di depan. Mungkin ojol itu kasihan, dia pun mengangguk.
Eliza duduk di bangku kayu bengkel, menatap lantai yang penuh oli kering.
Istri pemilik bengkel, wanita setengah baya memerhatikan sejak Eliza tiba. Dengan nada pelan, dia bertanya, “Neng… kenapa?”
Eliza mengangkat wajah. Matanya sembab. Bibir pun sempat bergetar tipis, ingin menjawab tapi suaranya tertahan di tenggorokan.
Air matanya langsung jatuh, sesenggukan tanpa suara. Bahu kurusnya naik turun tak beraturan, napasnya tersengal, seperti kehabisan udara.
Istri pemilik bengkel mendekat pelan, duduk di sampingnya tanpa banyak tanya. Tangannya yang hangat mengusap punggung Eliza perlahan, seperti menenangkan anak kecil yang tersesat.
“Neng… minum dulu.”
Segelas air diselipkan ke tangannya yang gemetar. Airnya sedikit tumpah karena jemarinya tak cukup kuat menggenggam. Eliza menunduk, memaksakan diri meneguk. Air itu terasa pahit di tenggorokan yang penuh tangis.
Beberapa menit kemudian, tangisnya mereda. Hanya tersisa napas berat dan mata bengkak.
“Makasih…” suaranya nyaris tak terdengar. Tanpa menjelaskan apa yang terjadi padanya.
Ia membayar biaya tambal ban, mengangguk kecil pada pasangan sepuh itu, lalu berjalan keluar bengkel. Motor kembali bisa dinaiki, tapi dadanya belum sepenuhnya lega. Ada sesak, harga dirinya diinjak-injak.
Malam itu juga, tanpa berpikir panjang, Eliza mencari kos baru. Ia tak ingin kembali ke tempat lama.
Kos barunya berada di pinggir kawasan ruko dan gudang. Bangunan baru. Penghuninya kebanyakan pekerja pabrik dan karyawan toko. Orang-orang yang pulang malam dan bangun pagi tanpa sempat mengurusi hidup orang lain.
Pemiliknya sepasang suami istri sepuh. Wajah mereka teduh, tidak banyak tanya ke Eliza. Hanya mencatat nama dan nomor KTP, lalu menyerahkan kunci kamar.
Eliza masuk ke kamar kecil itu. Dindingnya polos. Lantainya masih mengilap. Ia membuka tas ransel dan kardus kecilnya. Tidak banyak yang harus dibereskan. Beberapa pakaian, buku kuliah, dokumen, dan satu foto kecil Starla yang di pigura.
Ia duduk sebentar di tepi kasur. Tangannya terkulai di paha. Tubuhnya lelah bukan hanya karena bekerja, tapi karena dihantam fitnah.
Lampu dimatikan. Eliza tak makan malam, dan langsung tertidur.
***
Keesokan pagi, Eliza bangun dengan kepala berat. Namun hidup tak memberi waktu untuk sedih berlarut-larut. Ia mencuci muka, mengenakan pakaian paling rapi yang ia punya, lalu keluar mencari lowongan kerja. Ia menyusuri papan-papan pengumuman kecil di minimarket, toko bangunan, hingga kios percetakan.
Siang menjelang, ia kembali ke kos dengan deru motor yang melambat. Ibu kos yang sedang menyapu halaman menoleh. “Oh, kamu lagi cari kerja?”
Eliza berhenti. Mengangguk kecil. “Iya, Bu.” Nada suaranya datar, tapi matanya masih menyimpan sisa lelah yang belum selesai.
"Boleh liat CVmu?"
Deg.
.
.