Aku Bukan Anak Haram - Starla
Pindah
Saba menatap wajah putrinya yang mulai lelah oleh tangis.
“Kita video call ibu dulu, ya,” bisiknya lembut. “Habis itu kalau masih mau pulang… ayah antar.”
Starla mengangguk pelan. Saba duduk di tepi ranjang, memangku Starla, lalu menekan tombol panggilan
Tak lama, wajah Eliza muncul di layar. Lelah, tapi langsung berubah lembut saat melihat mereka.
“Ibu…” suara Starla bergetar.
“Iya, Sayang. Sudah sampai rumah ayah?”
Starla mengangguk kecil. Bibirnya masih cemberut. “Kamar Starla gede banget,” lapornya pelan.
Eliza tersenyum. “Wah, enak dong. Bisa taruh boneka banyak.”
Starla memeluk beruang cokelatnya lebih erat. “Tapi… nggak ada ibu.”
Kalimat itu membuat Saba terdiam. Eliza tidak langsung menjawab, dia mendekatkan wajahnya ke kamera. “Ibu ada di sini. Lihat?”
Starla menyentuh layar ponsel, beberapa detik.
“Ibu kerja dulu. Besok ketemu lagi. Malam ini bobok sama ayah, ya.”
Starla menoleh ke Saba, memastikan.
“Iya,” bisik Saba. “Ayah peluk.”
Eliza mulai bersenandung pelan. Lagu yang biasa ia nyanyikan sebelum Starla tidur. Baru dua bait, napas Starla mulai teratur. Tangannya yang tadi mencengkeram kaos Saba perlahan mengendur.
“Ibu…” gumamnya lirih.
“Iya, Sayang…”
Tidak ada jawaban lagi. Starla sudah tertidur di dada Saba.
Eliza tersenyum kecil di layar. “Udah tidur?”
Saba mengangguk pelan, nyaris berbisik. “Iya.”
“Selamat istirahat,” ucap Eliza lembut.
Panggilan berakhir. Saba bersandar ke kepala ranjang, masih memeluk tubuh kecil itu. Awalnya hanya ingin memejamkan mata sebentar. Tanpa sadar, ia ikut tertidur.
***
Pagi datang bersama suara yang bergema di lantai bawah.
“Jadi ini maksudnya?”
Suara perempuan memecah sunyi rumah yang penghuninya masih di kamar. Saba kaget terbangun. Starla masih terlelap di sampingnya.
Ia mengenali suara itu bahkan sebelum membuka pintu kamar. Saba gegas turun ke lantai bawah.
Julia berdiri di ambang pintu kamarnya, ponsel di tangan, wajahnya tegang dengan sorot mata menyala.
“Oh, bagus,” katanya sinis begitu melihat Saba. “Mungut anak tanpa persetujuanku. Sekalian mau kawinin gadis panti itu juga?”
Saba mengeraskan rahangnya. “Jangan mulai.”
Julia mengangkat ponselnya, memperlihatkan layar. Foto-foto di CFD. Di mal. Saba menggandeng Starla lalu mengantar Eliza kerja.
“Kamu pikir aku nggak akan tahu?” lanjutnya. “Kamu pikir bisa sembunyi?”
“Pelankan suaramu,” desis Saba. “Starla dan Mama masih tidur.”
“Starla?” Julia tertawa pendek. “Kenapa harus anak itu sih!”
“Dia anakku.”
Julia mendekat. “Tepatnya ... Anak harammu. Dan beraninya bawa dia tanpa bicara padaku?”
Saba menahan diri. “Ini bukan urusan kamu.”
“Bukan?” Julia meninggikan suara. “Kita masih suami istri, Saba! Semua yang kamu lakukan masih ada hubungannya denganku!”
Suara keras itu sampai ke lantai atas. Terdengar langkah kecil tergesa. “Julia!” seru Hasnawati melihat ke bawah.
Tangis Starla terdengar, Hasnawati memanggil putranya agar menenangkan Starla.
Saba langsung berbalik hendak naik, tapi Julia lebih cepat melangkah ke arah tangga, mencegahnya.
“Minggir,” tegas Saba.
Julia lantas berkata keras, cukup agar terdengar ke atas, “Awas kau, Saba! Kalau gara-gara anak itu hidupku berantakan—”
Tangis Starla makin keras.
Saba mendorong bahu Julia agar menjauh dari tangga. “Sudah kubilang, diam!” Ia berlari naik.
Starla berdiri di ambang kamar, wajahnya pucat, boneka tergantung lemas di tangannya. “Ayah…” suaranya gemetar. “Ibu mana?”
Saba langsung memeluknya. “Nggak apa-apa. Ayah di sini.”
Di bawah, Julia masih mengomel dengan suara lantang. Saba menutup telinga Starla.
“Ayah… takut…”
Saba mengangkatnya dan membawa kembali ke kamar. Menutup pintu rapat. “Lihat ayah,” katanya lembut tapi tegas. “Nggak ada yang marah sama Starla. Nggak ada yang boleh bentak kamu. Dengar?”
Starla menangis di bahunya. Beberapa menit kemudian, suara Julia di bawah mereda. Pintu kamar dibanting keras.
Sunyi.
Saba menarik napas panjang. “Sekolah yuk,” bisiknya lembut. “Ayah antar.”
Di mobil, Starla masih diam. Biasanya cerewet. Hari ini tidak. Saba menggenggam tangan kecil itu di atas konsol.
Sampai di depan sekolah, Starla bergeming, enggan keluar mobil. Saba turun dulu, lalu membukakan pintu. “Lihat ayah,” katanya lagi.
Starla menatapnya. “Apapun yang orang dewasa ributkan, kamu tetap anak ayah. Dan ayah nggak ke mana-mana.”
Perlahan, Starla turun. Sebelum masuk gerbang, ia berbalik dan memeluk Saba sekali lagi.
*
Pintu rumah dibuka kencang. “Julia!” panggil Saba dari ruang tamu.
Sepi.
Ia naik ke kamar utama. Kosong. Lemari terbuka, tapi tidak ada koper yang hilang. Ponselnya dihubungi—tidak aktif.
Rahang Saba mengeras. Ia menekan sebuah nomor. “Cari dia,” katanya singkat saat panggilan terangkat. “Sekarang. Lapor tiap pergerakan.”
Suara di seberang mengiyakan. Itu orang lama yang dulu pernah ia percaya untuk mengumpulkan bukti soal Julia dan pencarian Starla.
Saba memutus sambungan, dan keluar kamar. Di ruang makan, Hasnawati berdiri dengan wajah cemas.
“Sekolah Starla terlalu terbuka,” katanya tanpa basa-basi. “Tadi Julia bisa teriak-teriak sampai atas. Kalau dia datang ke sekolah, gimana?”
Saba tidak menjawab.
“Pindah sekolah aja,” lanjut Hasnawati. “yang pengamanannya lebih ketat. Driver khusus. Akses terbatas.”
Saba menatap kosong beberapa detik. Menimbang banyak hal. Tetiba, ponselnya bergetar.
Suara tegang Albana terdengar, memintanya segera ke kantor. Ada hal mendesak yang memerlukan kehadirannya.
“Aku lagi—"
“Sekarang.”
Panggilan terputus.
Saba menoleh ke Hasnawati. “Ma, tolong urusin Starla dulu. Aku kudu ke kantor.”
“Pergi saja,” jawab Hasnawati tegas. “Mama urus.”
Saba ragu sepersekian detik, lalu mengambil kunci mobil dan pergi. Begitu mobil Saba keluar dari gerbang, Hasnawati langsung bergerak.
Ia mengambil tas, KTP, kartu keluarga, dokumen penetapan pengadilan yang baru saja mengesahkan Saba sebagai ayah biologis Starla. Dengan bantuan kuasa hukum dan jalur cepat, penetapan keluar dalam waktu singkat.
Ia menuju sebuah sekolah swasta yang pernah direkomendasikan koleganya—dengan sistem keamanan ketat dan akses kartu tamu.
Di ruang administrasi, ia meminta formulir. Petugas menjelaskan prosedur biasa : observasi, waktu tunggu, jadwal masuk bulan depan.
Tapi Hasnawati meminta segera masuk, dia menyebut nama perusahaan suaminya dan semua langsung diproses dengan cepat.
Siang harinya, Hasnawati datang ke sekolah Starla. Kepala sekolah menyambut dengan wajah bingung.
“Pindah? Mendadak sekali, Nyonya.”
“Keamanan cucu saya paling utama,” jawab Hasnawati tenang. “Ada situasi keluarga.”
“Kami harus konfirmasi ke walinya, Bu Eliza—”
“Kami sudah bicara secara kekeluargaan,” potong Hasnawati, menatap lurus. “Saya nenek kandungnya.” Ia menyerahkan dokumen pendukung. “Jika terjadi sesuatu pada anak itu karena kelalaian sistem keamanan sekolah ini,” lanjutnya pelan namun tajam, “Anda akan berurusan dengan hukum.”
Kepala sekolah terdiam. Satu jam kemudian, surat pindah ditandatangani. Starla resmi keluar hari itu juga.
Saat bel pulang berbunyi, Starla keluar kelas dengan tas ransel di punggung. Ia bingung melihat Hasnawati.
“Ayah?”
Hasnawati berusaha tersenyum ceria. “Nanti kita ke ayah.”
Starla menoleh ke belakang, mencari. “Ibu mana?”
Pertanyaan itu membuat Hasnawati terdiam sepersekian detik. Ia melihat wajah polos itu. “Nanti kita bicara dengan ibu,” jawabnya tersenyum.
Starla langsung menggeleng. “Nggak mau. Mau ibu.”
Hasnawati berusaha tetap tenang. “Starla, jangan rewel. Ayah kerja, ibu kerja. Sama Nenek dulu.”
Starla mundur satu langkah. “Nggak mau…” suaranya mulai pecah. “Ibuuuu…”
Beberapa orang tua mulai menoleh. Hasnawati menggenggam tangan kecil itu, tidak kasar tapi tegas. “Starla.”
Tangisnya mulai muncul. “Ibuuuuuu!”
Hasnawati memeluknya cepat sebelum tangis Starla berubah histeris. “Shhh… ayo masuk mobil dulu.”
Starla meronta kecil, tapi tenaganya tidak seberapa. Di dalam mobil, tangis itu belum berhenti. Hasnawati menutup pintu dan duduk di sebelahnya. "Halo."
.
.