Aku Bukan Anak Haram - Starla
Pertanyaan si Kecil
Eliza menatap layar ponselnya lama. Nomor asing.
"Eliza, kan?"
Degup di dadanya meningkat. Jarinya kaku, tapi akhirnya membalas singkat. "Iya. Ini siapa?"
Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.
Eliza melirik ke arah mobil. Saba sudah duduk di belakang stir, memakaikan sabuk pengaman pada Starla dengan sabar. Tangannya cekatan, memastikan Starla aman dan nyaman.
Ponselnya bergetar lagi.
"Kita pernah ketemu."
Napas Eliza tertahan. Jari-jarinya terasa dingin.
"Oh..," balas Eliza singkat, "ada perlu apa denganku?"
Balasan datang cepat, "Tidak ada, hanya memastikan bahwa ini kau!'
Eliza menelan ludah. Pandangannya mengabur sesaat. Tangannya mencengkeram ponsel lebih erat.
Di dalam mobil, Starla menoleh ke arahnya.
“Ibuu,” panggilnya ceria. “di sana memang ada balon banyak?”
Eliza tersenyum, mengangguk pelan sambil mencondongkan badannya sedikit. “Iya, duduk yang manis, ya.”
Mobil mulai bergerak pelan. Eliza masih menatap layar ponsel, menunggu pesan lanjutan dari si nomer asing.
Angin AC mobil dingin menyentuh kulitnya. Dalam kepalanya, suara dari mimpi semalam kembali terngiang, “Dia tidak akan pernah jadi milikmu.” Eliza menutup mata, menarik napas panjang tanpa sadar.
Saba melihatnya dari spion dalam. "Kenapa, El?"
"Nggak apa-apa," jawabnya lirih masih memejam, kepalanya bersandar di headband, lalu memalingkan wajahnya menatap ke arah jalan.
Saba memerhatikan, sesekali mencuri pandang dari spion dalam. Starla sibuk menyentuh semua ornamen di mobil Saba, tawanya terdengar saat jemarinya berada di lubang pendingin.
Starla juga kerap bertanya pada Saba. ini dan itu fungsinya apa. Panggilannya masih berubah-ubah, kadang Om, ayah atau bahkan tanpa menyebut apapun.
Pagi itu udara masih ramah di kulit. Matahari belum tinggi, cahaya kuningnya jatuh lembut di sepanjang jalan CFD yang mulai ramai.
Saba berjalan pelan, satu tangan menggenggam tangan kecil di sampingnya. Langkah mereka tidak seirama—yang satu panjang, yang satu meloncat-loncat kecil—tapi anehnya terasa pas.
“Pelan, Ayah,” Starla mengingatkan sambil tertawa kecil.
Saba menoleh, pura-pura kaget. “Loh, kok ayah yang diminta pelan?”
Starla berhenti mendadak. “Soalnya ayah jalannya panjang.” Ia menengadah, lalu menunjuk kaki Saba. “Kaki ayah tinggi.”
Saba tertawa lepas. Ia jongkok, menyamakan tinggi badan. “Kalau gitu ayah pendekin.”
Ia berjalan setengah membungkuk, membuat Starla cekikikan. Beberapa orang yang lewat melirik sambil tersenyum.
Di belakang mereka, Eliza mengikuti dengan jarak satu langkah. Tangannya menyilang di depan, tas kecil diselempangkan seadanya. Ia memperhatikan dua sosok itu, tanpa sadar memperlambat langkah. Seolah tak ingin mengganggu pemandangan yang… terasa utuh.
“Bu!” Starla tiba-tiba menoleh. “Lihat! Ada balon!”
Eliza tersenyum kecil. “Iya. Warna apa yang kamu suka?”
Starla berpikir sebentar. “Pink.”
Saba melirik Eliza sambil tersenyum tipis. “Udah kuduga.”
Eliza pura-pura tidak mendengar. Ia mengalihkan pandangan, tapi sudut bibirnya bergerak naik.
Mereka berhenti di pedagang balon. Saba merogoh dompet, Starla memegang erat tali balon itu begitu diterima.
“Pegang yang kencang,” pesan Saba.
“Kalau terbang gimana?” Starla panik kecil.
Saba menunduk, berbisik konspiratif. “Kalau terbang, ayah kejar. Tapi ayah cuma bisa kejar kalau Starla ikut lari juga.”
Starla langsung berlari kecil, balonnya ikut melayang, menari di udara. Saba mengejar sesekali tertawa, sementara Eliza terkekeh melihat tingkah mereka.
Mereka lantas duduk di tepi trotoar, membeli susu kotak dan roti kecil. Starla duduk di antara mereka, kakinya menggantung, tangannya sibuk membuka sedotan.
“Bu,” katanya tiba-tiba, menoleh ke Eliza. “Starla senang ke sini.”
Eliza terdiam sepersekian detik. “Hmm?”
“Iya,” katanya pelan. “Boleh sering-sering?.”
Saba pura-pura batuk. Dia melirik Eliza saat berkata, ”Setiap pekan ke sini, beli balon lagi maksudnya?"
Starla tertawa lagi. Sambil menyedot susu, dia mengangguk. "Iya. Boleh nggak, Buuu?" Dia menoleh ke Eliza.
Eliza tak langsung menjawab, dia tahu Saba juga menunggu jawabannya. Mata bulat Eliza menatap Starla. "Kalau nggak hujan, kamu sehat dan beliau tak sibuk."
"Nggak sibuk, kan hari libur, Buuu," jawab Saba cepat.
Starla tersenyum lebar, masih menggigit sedotan. Lalu melihat keduanya bergantian.
Ada jeda di antara mereka. Suara orang-orang lalu lalang, langkah kaki yang digesek di trotoar, dan udara pagi, membiarkan mengisi ruang kosong setelah percakapan barusan.
Saba melirik Eliza. “Kerjaanmu masuk jam berapa?”
“Sebentar lagi,” jawab Eliza. “Tapi nggak apa-apa.”
“Bilang yaa kalau mau langsung ke kantor.”
Eliza menggeleng. “Sebentar lagi.”
Saba mengangguk, tidak bertanya lebih jauh. Starla menyandarkan kepalanya ke lengan Eliza tanpa sadar. Matanya setengah terpejam, balon masih ia genggam.
Eliza menoleh. Jantungnya berdegup aneh. Tangannya refleks mengusap rambut itu pelan.
Saba melihatnya. Dia tersenyum melihat pipi Starla yang makin bulat, poninya tertiup angin, mirip Wulan remaja.
Ketiganya lantas melanjutkan jalan ke stand makanan, Saba mengajak sarapan di sana. Dia menyuapi Starla yang duduk di sebelahnya, telaten, bergantian dengan Eliza. Sementara bocah kecil itu asik memainkan tali balon sambil menggoyangkan kaki.
Pagi berjalan seperti keluarga kecil yang… nyaris sempurna.
Di kejauhan, kamera ponsel seseorang terangkat. Klik.
Dan tanpa mereka sadari, kebahagiaan sederhana itu sudah terekam di mata orang lain.
Tiba-tiba. Dengan mulut penuh, mengunyah pelan, Starla bertanya pada Eliza. "Ibu, kenapa Om bisa jadi ayahku?"
Uhuk. Uhuk.
Eliza berhenti sejenak. Ia menatap Starla, lalu melirik Saba sekilas. Bukan ragu menjawab atau ingin membohongi Starla, dia berpikir agar kalimatnya mudah dicerna anak TK.
“Karena… dulu ayah belum tahu kalau ada Starla,” kata Eliza pelan.
Starla mengernyit. “Belum tahu?”
“Iya,” Eliza mengangguk. “Waktu Starla lahir, ayah belum dikasih tahu.”
Starla menoleh ke Saba. Matanya membulat. “Terus ayah tahu dari mana?”
Saba menghela napas kecil, lalu meletakkan sendok dan menatapnya. “Ayah baru tahu belakangan,” katanya jujur. “Setelah tahu, ayah nyari.”
“Nyari Starla?”
“Iya.”
Starla terdiam sebentar. Tangannya masih memegang balon. “Terus… ketemunya gimana?”
Saba tersenyum kecil. “Ketemu. Dibantuin banyak orang.”
Starla menatap Eliza lagi. “Kenapa baru cari sekarang?”
Eliza mengusap rambut Starla pelan. “Karena nyari orang itu nggak selalu cepat, Sayang. Tapi kalau udah ketemu… ya dijagain.”
Starla berpikir lama. Lalu mengangguk kecil, seolah masuk akal di kepalanya. “Oh…” Ia menoleh ke Saba. “Berarti ayah telat.”
Saba tertawa kecil, ada rasa bersalah di sana. “Iya. Telat.”
Starla mengangkat bahu kecilnya, sambil menepuk pelan lengan Saba. “Nggak apa-apa."
Kalimat itu ringan, terdengar lucu dengan tingkahnya tapi menyentil dada Saba pelan.
Starla berpikir sebentar. Lalu wajahnya ceria, menatap Saba lagi. “Berarti Om sayang Starla?”
Saba tak ragu kali ini. “Iya.”
Starla tersenyum puas. “Kalau gitu… Om boleh jadi ayah Starla.”
Eliza menunduk, dadanya terasa sesak. Saba terdiam, senyumnya muncul pelan.
Namun, sepertinya pertanyaan dari Starla belum tuntas. Dia mendongak lagi. “Terus… ayah dikasih tahu sama siapa?”
Deg.
Dan di saat yang sama, dari kejauhan, sebuah ponsel kembali terangkat. Klik.
.
.