Aku Bukan Anak Haram - Starla

Kenalan dengan Nenek

Pagi itu, Starla berdiri di depan gerbang sekolah sambil menggoyang-goyangkan tas kecilnya. Rambutnya dikuncir dua, pita merahnya sedikit miring karena tadi buru-buru dipasang Eliza.

Saba sudah menunggu di dalam mobil. Tangannya mengetuk-ngetuk setir pelan, matanya mengamati jalanan, Eliza belum muncul.

Di kursi sebelahnya, Hasnawati duduk tegak.

“Itu Starla datang,” seru Hasnawati, pelan.

“Iya, Ma,” jawab Saba tanpa mengalihkan pandangan.

Hasnawati mengangguk kecil. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya saat melihat gadis kecil itu tertawa menyapa temannya saat baru turun dari motor.

Gerakannya lincah, suaranya nyaring, matanya… persis Saba waktu kecil.

Bel sekolah berbunyi. Anak-anak mulai masuk satu per satu.

Saba menarik napas panjang, lalu membuka pintu mobil.

“Ma tunggu sebentar ya.”

Hasnawati hanya mengangguk. Starla baru saja menaruh sepatu di rak ketika melihat sosok Saba mendekat. Matanya langsung berbinar.

“Ommm!”

Ia berlari kecil, hampir terpeleset karena lantai licin. Saba reflek menunduk, menahan tubuh kecil itu.

“Hati-hati, Sayang,” gumamnya, mengusap punggung Starla.

Starla tertawa, lalu menengadah. “Om kok telat?”

“Nggak kok, daritadi liatin Starla dari sana.”

Starla menyeringai lebar, menunjuk ke arah luar gerbang. Dia melirik Eliza yang ada di parkiran.

Saba melihat ke arah mobil, lalu kembali menatap Starla. Tangannya menggenggam jemari kecil itu perlahan.

“Starla mau kenalan sama seseorang?”

Starla mengangguk antusias. Saba minta izin ke gurunya mengajak Starla keluar sebentar . Dia menggandengnya menuju mobil.

Pintu sisi kiri terbuka pelan. Hasnawati keluar dengan langkah anggun, senyum tipis tersungging di bibirnya.

Starla mendongak. Kepalanya sedikit miring, mengamati wajah perempuan itu lama.

“Halo, Starla,” sapa Hasnawati lembut.

Starla menatap Saba sebentar, seperti memastikan. Lalu kembali melihat Hasnawati.

“Ini… neneknya Starla,” kata Saba pelan.

Hasnawati berlutut sedikit agar sejajar dengan Starla. Tangannya tidak langsung menyentuh, hanya diletakkan di lututnya sendiri.

“Boleh Nenek kenalan?”

Starla mengangguk malu-malu. Hasnawati tersenyum. Matanya melembut tanpa sadar. “Namanya siapa, Cantik?"

“Starla.”

“MasyaAllah… bagus sekali namanya.”

Starla tersipu. Ia menggoyang-goyangkan roknya.

Hasnawati menelan ludah tipis. Ada rasa hangat menjalar di dadanya. Ia ingin memeluk, tapi menahan diri.

“Starla sekolah yang rajin ya,” katanya pelan.

Starla mengangguk mantap. Saba lantas mengajak Starla kembali, melambaikan tangan padanya lalu pamit. Dia membungkuk ke arah Eliza yang bersedekap di samping motornya.

***

Siang harinya, Saba menatap layar ponsel cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol panggil. Telepon tersambung setelah beberapa dering.

“Halo,” suara Eliza datar.

Saba mengusap dagu. “El… aku mau izin jemput Starla siang ini.”

Hening beberapa detik.

“Untuk apa?” tanya Eliza singkat.

“Aku bawa ke kantor. Bentar aja. Nanti video call sama kamu.”

Eliza tidak langsung menjawab. Ia menatap buku catatan di pangkuannya, jari-jarinya mengetuk pelan. “Kenapa harus ke kantor?”

“Karena aku masih ada kerjaan,” jawab Saba jujur. “Eliza…” suaranya melunak, “aku cuma pengen spend time sebentar.”

Eliza menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak entah kenapa. “Jangan lama-lama,” katanya akhirnya.

Senyum Saba langsung mengembang. “Makasih, El.”

Eliza langsung memutus sambungan tanpa balas.

Saba menatap layar ponselnya, lalu terkekeh kecil. Ia tahu nada Eliza barusan… bukan setuju sepenuhnya. Lebih ke terpaksa. Tapi tetap saja membuat dadanya hangat.

Starla duduk di sofa ruang kerja Saba, kaki kecilnya mengayun-ayun. Boneka kelinci baru terjepit di pelukannya.

Albana berdiri di dekat meja, memegang kantong belanja. “Ini baju ganti Nona, Bos,” katanya.

Saba mengangguk sambil menandatangani berkas. “Thanks, Ban.”

Starla sibuk memainkan telinga bonekanya, sesekali mengajaknya bicara sendiri.

Tak lama, kepalanya mulai terkulai. Boneka masih dipeluk, tubuhnya miring ke sandaran sofa.

Saba yang baru selesai menandatangani berkas-berkas, menoleh. Dia bangkit saat melihat Starla tertidur.

Ia mendekat pelan, berlutut di samping sofa. Tangannya mengusap pipi Starla lembut. “Sayang…”

Starla mengerjap pelan. “Engh…”

“Mau mandi dulu nggak? Habis ini kita video call Ibu.”

Starla langsung bangun setengah duduk. Wajahnya masih kusut karena kantuk. “Mandi… sama Nek Gendhis.”

Saba menghela napas kecil, menahan senyum. “Nek Gendhis kan nggak ada di sini."

Starla menggeleng cepat. “Sama Ibu aja.”

“Ibu lagi kerja, Sayang.”

Bibir Starla mulai maju. Matanya berkaca-kaca. “Gamau…”

Saba menoleh ke Albana, yang langsung pura-pura sibuk melihat ponsel. “Starla… mandi bentar aja ya. Om temenin.”

Starla menggeleng makin kuat. Tangannya memeluk boneka erat. “Gamau. Takut.”

Saba mengusap tengkuknya sendiri, mulai panik. Ia berdiri, lalu jongkok lagi di depan Starla.

“Kalau Om nyanyi gimana?” tawarnya.

Starla berhenti menggeleng. Ia menatap Saba curiga. “Nyanyi apa?”

Saba berpikir keras. Albana menunduk menahan tawa.

Saba akhirnya menghela napas, pasrah. “Lagu apa yang Starla suka?”

Starla menimbang sebentar. “Yang ibu suka nyanyi.”

Saba terdiam. “Yang mana?” tanyanya lirih.

Starla mulai bersenandung pelan, suara kecilnya fals. Lagu pengantar tidur yang sederhana. Lagu yang bahkan Saba belum pernah dengar sebelumnya.

Saba menelan ludah. Ia mencoba mengikuti nadanya, suaranya ragu-ragu.

Starla memandangnya lama. “Om salah.”

Albana langsung membalik badan, bahunya bergetar menahan tawa. Saba menghembuskan napas panjang, menyerah. 

“Yaudah… kita video call Ibu dulu, boleh?”

Starla berpikir, lalu mengangguk pelan. Saba meraih ponsel, menekan nomor Eliza.

Panggilan tersambung.

Wajah Eliza muncul di layar. Rambutnya masih terikat rapi, tapi ekspresinya langsung berubah saat melihat latar belakang kantor.

“Anda beneran bawa dia ke kantor?” suaranya meninggi.

Saba menyandarkan tubuh di sofa, tersenyum santai. “Kan aku bilang tadi.”

“Starla capek, Tuan Sabaaaa.”

Starla tiba-tiba mendekat ke layar. “Ibu!”

Nada marah Eliza langsung runtuh. “Iya, Sayang… sudah makan belum?”

“Sudah. Tapi aku gamau mandi sama Om.”

Eliza memejamkan mata sejenak. Lalu menatap Saba tajam.

“Makanya jangan sok sibuk bawa anak orang ke kantor kalau nggak siap ngurusinnya,” omelnya panjang.

Saba hanya tersenyum. Bahkan matanya terlihat makin lembut. “Iya, Bu,” jawabnya ringan.

Eliza makin kesal. “Jangan senyum-senyum! Ini serius!”

Saba menahan tawa. Bahunya sampai bergetar kecil. “Iya, serius kok,” katanya, tidak meyakinkan.

Eliza mendengus pelan.

Starla menarik baju Saba. “Om… aku mau mandi… tapi ditemani ibu.”

Saba membeku. Eliza juga. Beberapa detik mereka hanya saling menatap lewat layar. Lalu Eliza menghela napas panjang.

“Bawa dia ke kamar mandi,” katanya pelan.

Saba menatap Starla, lalu mengangguk.

Ia menggendong anak itu perlahan, melangkah ke arah kamar mandi kantor, ponsel masih menyala di tangannya.

Starla menyandarkan kepala di bahu Saba, matanya setengah terpejam. “Ibu jemput aku kan nanti…”

Eliza menatap layar. Dadanya terasa aneh melihat Starla bersandar nyaman di bahu pria itu.

"Ibuuuu...."

Deg.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!