Aku Bukan Anak Haram - Starla
Saba Ragu
Starla mulai bercerita tentang sekolah, gambar yang ditempel, temannya yang suka pinjam crayon, juga Bu Guru yang wangi. Eliza hanya diam, mendengarkan dari dekat, jari-jarinya masih menyisir rambut Starla perlahan.
“Om kenapa nggak antar aku lagi?” tanya Starla tiba-tiba.
Deg.
Eliza berhenti mengusap sejenak.
“Oh,” Saba terdengar tersenyum, “Starla mau diantar lagi?”
“Mau.”
“Sama nenek mau juga?”
Starla berpikir. “Nenek? Nek Gendhis?”
“Bukan,” jawab Saba cepat. Dia mencuri kesempatan mengenalkan ibunya ke Starla. “Nenek satu lagi. Nanti Starla kenalan ya. Mau, nggak?”
“Mau,” jawab Starla ringan, tanpa beban.
Eliza menelan ludah. Tangannya kembali bergerak, tapi kali ini mengusap lebih pelan.
“Sudah minum susu?”
“Sudah, sama Nek Gendhis.”
“Pinternya anak ayah.”
Deg.
Kata itu terucap begitu saja oleh Saba. Eliza menatap langit-langit. Dadanya menegang, dia tahu Saba juga menyadarinya, karena setelah itu suasana mendadak canggung.
Cepat-cepat, Saba mengalihkan topik. Dia tak enak pada Eliza, meski dalam hati kecilnya ingin menyebut dirinya sendiri sebagai ayah.
“Besok mau dibawain bekal apa, sayang?”
Starla menoleh ke Eliza. “Ibu… aku boleh minta buah potong? Kayak temanku?”
“Tanya aja,” jawab Eliza singkat. “Repot nggak.”
“Nggak repot kok, Bu,” jawab Saba cepat, mendengar suara Eliza di seberang.
Starla tersenyum puas. “Nggak repot katanya, Bu.”
Eliza terkekeh kecil. Saba juga. Mereka tertawa bersamaan, padahal tidak saling menatap. Percakapan mereka di loudspeaker oleh Eliza sejak awal, menggema di udara kamar kos yang sempit.
“Sayang bobok ya,” suara Saba kini lebih pelan. “Udah malam. Ibu juga capek.”
“Ok. Dadah, Om.”
“Dadah, sayang. Baca doa yaaa.”
“Iya.”
“Kiss,” pinta Saba.
Starla langsung menoleh. “Ibu, boleh kiss?”
Eliza menguap kecil. “Iya.”
Starla mengerucutkan bibirnya, mengecup speaker ponsel beberapa kali sambil terkekeh. “Mmuah.”
Di seberang, suara Saba terdengar hangat. “Met bobok, bintang kecil kami. Sehat ya. Salihah.”
“Aamiin,” jawab Eliza lirih, diikuti Starla. “Dadaaaah.”
Eliza lantas meraih ponsel untuk mengakhiri panggilan, tapi suara Saba menahannya.
“Ibu… makasih ya,” katanya pelan, meniru cara Starla memangginya. “Sudah buka blokiran dan izinkan Starla telepon aku.”
Eliza tidak menjawab. Ia menatap wajah Starla yang mulai terlelap, kelopak matanya turun perlahan.
Ia mematikan ponsel. Lalu memeluk anak itu lebih dekat. “Mari bobok,” bisiknya.
***
Saba masih berdiri di ruang kerjanya. Memandangi ponselnya, menunggu balasan Eliza.
"Ckk, dia itu, selalu judes. Balas apa kek, bisa-bisanya aku diginiin," gerutu Saba saat melihat layar gawainya gelap.
Lampu meja sudah mati, tapi ruang kerja Saba tidak sepenuhnya gelap. Ada cahaya dari lorong yang menyusup lewat celah pintu.
Dia tidak langsung keluar ruangan. Tangannya bertumpu di sandaran kursi, kepalanya sedikit menunduk.
“Ibu…” gumamnya pelan.
Kata itu terngiang lagi. Tadi ia sengaja memancing ikut memanggil Eliza dengan sebutan yang dipakai Starla.
"Apa itu salah?" pikirnya.
Ia hanya ingin dekat agar Eliza merasa tidak sendirian. Bahwa dia tidak sedang diserang dari semua arah. Tapi mungkin caranya keliru.
Saba mengusap tengkuk. Capek yang dari tadi ditahan baru terasa sekarang.
“Apa harus begitu biar dia luluh?” gumamnya lagi. “Atau justru bikin dia makin kesal sama aku?”
Ia berjalan ke rak kecil di sudut ruangan. Di sana ada satu foto lama. Wulan. Senyumnya manis, rambut diikat asal, wajahnya masih sangat muda.
"Dua puluh empat tahun." Saba menghela napas pelan.
Eliza mengasuh Starla saat usianya masih bocah. Baru lulus sekolah, langsung kerja. Dan baru mikir mau kuliah. Dan di usia segitu pula, ia menemukan Starla—bayi merah yang tidak paham apapun.
“Eliza Dwipayana…” Saba menggeleng pelan. Tersenyum tipis.
Tapi cara dia mengurus Starla, membuatnya kagum. Saba sudah lihat sendiri dari cerita-cerita kecil, dari kebiasaan Starla yang tak dibuat-buat.
Sopan. Tahu terima kasih, minta izin dan cara beribadah, apalagi berdoa.
“Starla, didoain dulu sama Eliza sebelum masuk kelas, Sayang,” gumam Saba lirih, masih memandang foto Wulan. Dia teringat tangan Eliza mengusap dada Starla saat di halaman sekolah.
"Kamu doa apa, ya, Wulan?" Saba termenung. "sampai anak kita bertemu dan diasuh Eliza?"
Ia duduk di tepi meja, menatap foto itu lama. Bayangan Eliza muncul di kepalanya—bukan yang marah di jalan, tapi yang tadi diam saat bertelepon dengan Starla.
Saba membayangkan Eliza mengusap rambut Starla pelan sambil mendengarkan percakapan mereka. Itu kebiasaan lembut seorang ibu.
“Aku ngerti kamu, El,” katanya pelan, seolah Eliza ada di sana. “Ngurus dari bayi. Dari Starla nggak bisa apa-apa. Gimana nggak takut kehilangan?”
Saba memejamkan mata sejenak. Lalu membukanya lagi, menatap kosong ke depan.
Dan Mamanya…
Ia tahu Hasnawati bukan ingin berbuat jahat. Hanya ingin cepat-cepat agar Starla “kembali” ke keluarga besarnya.
“Starla darah dagingku,” ucapnya lirih. “Tapi Eliza… dia yang berdarah-darah ngurusin.”
Saba berdiri lagi. Mengambil napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Dadanya terasa penuh.
“Aku harus tetap pakai cara smooth,” katanya pada dirinya sendiri. “Mama juga harus belajar sabar.”
Ia mengambil ponselnya, menatap layar yang gelap. Foto Wulan diletakkan di tempat semula lalu keluar ruangan, sekedar ingin mandi agar tubuhnya rileks.
Lampu ruang tengah masih menyala ketika Saba menutup pintu ruang kerjanya.
Hasnawati berdiri di anak tangga, sorot matanya tajam memandang putranya.
“Kamu mau ke mana?” tanyanya datar.
Saba menoleh. “Ma—”
“Duduk,” potong Hasnawati.
Nada itu membuat Saba reflek menurunkan bahu. Ia duduk pelan, jas diletakkan sembarang di meja. Hasnawati ikut duduk di sofa seberang, menyilangkan kaki, punggungnya tegak.
“Kamu kelihatan gelisah sejak sore,” kata Hasnawati. “Karena perempuan itu?”
Saba menghela napas. “Eliza bukan sembarang perempuan, Ma. Dia yang—”
“Yang mengasuh Starla, iya. Mama tahu.” Hasnawati mengangguk pelan. “Dan Mama tidak pernah menutup mata soal itu.” Ia mencondongkan badan sedikit. “Tapi jangan sampai kamu jadi lembek, Saba.”
“Lembek?” Saba mengerutkan dahi.
“Kamu ayah biologis Starla,” lanjut Hasnawati, tenang tapi tegas. “Darah dagingmu. Secara hukum dan nasab, kamu lebih berhak.”
Saba menelan ludah. Tangannya saling mengunci di atas meja. “Aku cuma nggak mau Starla merasa ditarik sana sini.”
“Justru karena itu,” Hasnawati menatapnya lurus, “kamu harus tegas, bukan ragu-ragu begini.”
Saba terdiam. Di kepalanya, wajah Eliza muncul. Dia selalu mendahulukan anak itu sebelum dirinya sendiri.
“Ma,” suara Saba lebih rendah sekarang, “Eliza bukan tipe orang yang bisa ditekan.”
Hasnawati tersenyum tipis. “Tidak ada yang minta kamu menekan. Tapi jangan membiarkan dia mengendalikanmu."
Ia bangkit, merapikan cardigan-nya. “Perempuan itu boleh menyayangi Starla. Tapi jangan sampai dia lupa, siapa ayahnya.”
Langkah Hasnawati terhenti di depan anak tangga. “Satu lagi,” katanya tanpa menoleh. “Jangan pakai perasaan untuk mengambil keputusan besar. Itu kelemahan.”
Saba duduk membeku. Kalimat terakhir ibunya menggema di kepalanya.
Jangan pakai perasaan.
Ia menunduk, menatap tangannya sendiri. Saba ragu. Haknya atau perasaan Eliza?
.
.