Aku Bukan Anak Haram - Starla
Kenapa Sekarang
Starla diam di pangkuan Eliza. Tubuhnya kaku, napasnya pendek-pendek.
Eliza, yang sejak bayi memeluk Starla sebagai miliknya sendiri, ikut menahan napas, menunggu reaksi putri kecilnya.
“Kalau Om Saba ayahku…” suaranya lirih, hampir hilang. Ia berhenti. Bibirnya mengatup rapat, lalu terbuka lagi. “… berarti ayah baru inget Starla sekarang?”
Eliza memeluknya. Dada Eliza naik turun, tapi pandangan Starla kosong, bingung.
Beberapa detik kemudian, Starla turun dari pangkuan Eliza. Ia duduk di lantai, memeluk lututnya sendiri. Boneka kesayangannya ditarik ke dada.
“Ibu…” katanya pelan.
Eliza menoleh.
“Ayah itu… rumahnya di mana?”
Eliza menggeleng. "Entah, nanti kita tanya aja."
“Oh.” Starla mengangguk kecil. Tidak bertanya lagi.
Malam itu, Starla bolak-balik membuka mata. Tangannya meraba, mencari ujung baju Eliza. Ketika jemarinya bertemu kain itu, ia mencengkeramnya.
“Ibu…”
“Iya, Nak?”
“Ibu di sini, kan?”
Eliza menggeleng cepat. “Iya.”
Starla memejamkan mata lagi, tapi tangannya tidak melepas cengkramannya.
Pagi harinya, Eliza menepuk bahu kecil itu. “Starla, bangun.”
Starla menggeliat. Wajahnya panas. “Starla nggak mau sekolah,” gumamnya.
“Iya, tapi mandi dulu ya.”
Starla menggeleng, lalu memeluk leher Eliza tiba-tiba, menyembunyikan wajahnya. “Ibu jangan pergi,” bisiknya.
Eliza mengusap punggungnya. “Ibu di sini. Tapi, bentar lagi ibu kerja.”
Starla mengangguk kecil, tapi tidak melepas pelukan.
Sejak itu, Starla lebih sering diam. Ketika Eliza bergerak ke depan, Starla mengikutinya. Ketika Eliza ke kamar mandi, Starla menunggu di depan pintu.
“Ibu,” panggilnya lebih sering.
Dan setiap kali Eliza menoleh, sorot mata Starla menyiratkan kekuatiran seolah berkata, jangan pergi.
*
Eliza bersiap berangkat kerja, motor beat karbunya sudah siap meluncur. Tapi, Starla tidak juga beranjak. Ia duduk di kursi kecil dekat jendela, tasnya tergeletak di lantai.
Eliza berhenti di ambang teras. “Kok diem aja, Nak? Ayo berangkat.”
Starla memainkan ujung bajunya.
“Nanti yang nganter siapa?” tanyanya pelan. “Ayah atau ibu.”
Eliza terdiam. “Kita bisa bareng seperti biasa,” katanya akhirnya.
Starla menoleh ke halaman. Beberapa anak seusianya sudah bersiap. Ada yang disuapi sambil berdiri, ada yang digandeng ayahnya, ada juga yang naik motor diapit kedua orang tuanya.
“Ibu masih sedih,” kata Starla tiba-tiba.
Eliza mengernyit. “Nggak, kok."
“Tapi semalem kan habis nangis.”
Eliza menelan ludah.
“Kata ibu,” lanjut Starla, “aku punya ayah.”
Eliza duduk di depan Starla. Tidak langsung bicara. Dia menatap wajah mungil yang menunduk sambil memanyunkan bibirnya.
“Om Saba itu bukan ayah kan, Bu?” Starla mengangkat wajahnya. “Om ya Om.”
Eliza mengusap rambutnya pelan. Ia duduk di belakang Starla, mulai mengepang rambutnya pelan. Bocah ini kadang perasaannya terlalu dewasa untuk seusianya. “Starla bingung?”
Starla mengangguk. “Kok ibu baru bilang aku punya ayah? Kan aku udah sering nanya."
Deg.
Eliza menarik napas panjang. “Ibu juga baru tahu, Nak.”
Starla menunduk. “Ayah ke mana? Ayah nyari aku tapi baru ketemu sekarang?” Ia mendongak. “Ibu punya hape. Kenapa ayah nggak nelepon?”
Eliza tidak langsung menjawab. Malah menghela napas panjang. “Starla seneng nggak punya ayah?” tanya Eliza pelan.
Starla terdiam. Jemarinya meremas ujung rok seragamnya.
Beberapa detik berlalu dalam sunyi. Dan Starla tetap duduk di tempatnya.
Eliza merapikan kaus kaki kecil itu sambil berkata, “Kalau Starla nggak mau sekolah hari ini, nggak apa-apa,” kata Eliza akhirnya, pelan. “Ibu izin berangkat kerja, ya.”
Starla menoleh cepat. “Ibu pulang sore?”
“Nanti siang izin jemput Starla.”
Starla diam sebentar. Lalu bangkit, mengambil tasnya sendiri. Disampirkannya ke bahu. “Ayo, Bu, berangkat.”
Eliza tersenyum kecil. Ia membantu merapikan rambut Starla, mencium keningnya sebentar. Lalu menggenggam tangan mungilnya ke motor.
Di jalan, Starla tidak banyak bicara. Tangannya mencekal ujung baju Eliza. Saat sampai gerbang sekolah, motor berhenti. Dia pun turun. “Ibu jemput, kan?” tanyanya.
“Iya.”
“Bener?”
“Iya.”
Starla mengangguk. Baru setelah itu ia mau masuk kelas. Melambaikan tangan ke Eliza dengan senyum lebar.
Eliza memutar motornya, menuju tempat kerja. Di sana, dia mulai berkomunikasi dengan Saba. Ia mengirim pesan singkat lebih dulu.
"Aku sudah memberitahu Starla bahwa Anda ayahnya."
Tidak lama, layar ponselnya menyala. Saba menelepon. Eliza menarik napas sebelum mengangkatnya.
“Halo, El.” Suara Saba terdengar ringan. Eliza bisa membayangkan wajah itu. Mata berbinar, senyum merekah, seperti orang yang baru saja menemukan sesuatu yang lama hilang. “Terus gimana?” tanya Saba.
Eliza terdiam sebentar. “Ya… terserah Anda,” jawabnya pelan.
Di seberang sana, Saba tidak langsung bicara. Lalu, dengan nada hati-hati tapi penuh semangat, ia berkata, “Aku rencananya mau ajak Starla ketemu mama lusa.”
Eliza menelan ludah. “Nanti aku coba bicarakan sama Starla.”
“Hmm.” Jeda. Lalu suara Saba melembut. “El…"
“Iya?”
“Kamu ikut, kok.”
Hening.
Eliza menatap meja kerjanya. Tangannya menggenggam ponsel erat-erat. “Iya,” katanya akhirnya. “Makasih.”
Panggilan ditutup.
Layar ponsel menghitam, tapi Eliza masih menatapnya lama. Dadanya terasa penuh tapi bukan bahagia.
Ia kembali ke pekerjaannya, menatap layar komputer tanpa benar-benar membaca tulisan di sana. Pikirannya melayang jauh.
Kapan hari itu benar-benar datang? Hari ketika ia pulang tanpa Starla.
Barang-barang kecil itu akan bagaimana? Baju-baju yang dibelinya sedikit demi sedikit. Sepatu diskonan. Boneka lusuh yang selalu dipeluk Starla saat tidur.
Kalau disimpan, ia akan terus rindu. Jika dibuang, hatinya tak sanggup. Dan Saba… ia tahu tidak akan membawa barang-barang itu.
“Mbak."
Eliza tersentak. “Iya, Pak?” sahutnya cepat. Pelanggan berdiri di depan mejanya.
“Bayar pake Qris bisa?”
Eliza mengangguk pelan. “Bisa.”
Sambil melayani pembeli, pikirannya kembali mengelana. Dia tidak ingin banyak orang ikut campur. Eliza malas menjelaskan, itu hanya membuat perasaannya semakin kusut. Nasihat Bu Gendhis terngiang di kepalanya—tentang menerima, tentang melepas dengan ikhlas.
Tapi hari itu, hatinya mulai serakah. Ia ingin Starla tetap di sisinya. Dirinya takut… bahwa ikhlas adalah hal paling berat yang harus ia jalani.
Eliza menepati janji jemput Starla pulang sekolah.
Menjelang petang, dia pulang. Starla sedang duduk di lantai, kertas gambar terbentang di depannya. Krayon warna-warni berserakan. Tangannya bergerak pelan, wajahnya serius.
Eliza tidak langsung menyapa. Ia melepas sepatu perlahan, menggantung tas, lalu berdiri di ambang pintu, menutup pelan. Ia takut suaranya akan mengganggu Starla yang mungkin sedang malas bicara dengannya.
Di kertas itu ada gambar rumah. Dua orang dewasa di kanan kiri. Satu anak kecil di tengah. Garisnya tidak rapi, tapi Eliza tahu siapa saja yang dimaksud.
Beberapa detik berlalu dalam diam. Lalu, tanpa menoleh, Starla bertanya pelan, “Ibu…”
“Iya, Nak?”
"Kalau ayah sayang aku…” Starla berhenti, krayonnya menggantung di udara. “… apa ayah juga sayang ibu?”
Deg.
Hai. Ini sekuel judul Rahasia Starla Bayi di Teras Kos. Boleh baca itu dulu biar makin berasa emosinya. Tapi, judul ini bisa dibaca langsung kok, tanpa baca judul awalnya... Enjoyed, Bestie. Terima kasih.