Aku Anak yang Tak diharapkan

Sekolah Baru

Darah banyak mengalir keluar dari dalam mulutku, kulihat ibu terduduk seperti menyesal apa yang telah ibu perbuat.
 
"Sudahlah ... bangun kau, sekarang mandi. Kau akan ke sekolah, maafkan ibu ... ibu khilaf. " Ucap ibu yang berlalu pergi meninggalkanku.
 
Kuusap darah yang keluar, terasa perih rasanya ... kepalaku sakit, dan pusing ntahlah bagaimana rasanya aku tak bisa menjelaskanya. Yang kurasakan hanyalah sakit dan pusing. Dan langit langit di dalam mulutku robek ... 
 
Brakk ... brak ... 
 
"Cepetan anjing, " suara ayah dengan suara pintu yang di tendang kencang, takut sekali rasanya.
 
Kubuka pintu, terlihat ayah sudah di depan pintu ... dengan tangan yang di lipat ke pinggang sambil melotot.
 
"Dasar anak babi ..." ucapnya pelan sambil mendorong badanku.
 
Aku terjatuh, dan langsung buru buru ke kamar ... aku takut sekali dengan ayah baruku ini, meskipun ayah tak pernah memukul namun ketakutanku besar sekali rasanya. Ntah mengapa aku pun tak tau ...
 
"Buk ... aku mau ke sekolah, ibuk nganterin aku kan ... " Rayuku
 
"Ibuk gak bisa ... kamu berangkat sendiri ke sekolah, terus keruangan kantor, bilang kau anak baru. Kalo ada yang nanya ... ibu kemana, jawab saja ibu sakit. "
 
"Tapi buk ... aku nggak tau jalan ke sekolah, " 
 
"Ya Tuhan Erni ... kau ini emang bener bener persis bapakmu ya ... idiot!" Jawab ibu dengan nada tinggi.
 
Aku sebenarnya benci dan marah, saat ibu selalu berkata bapakku idiot ... bapakku tolol, bapakku orang gila. Perasaanku hancur, dia tetap bapakku ... dia tetap orang tua ku.
 
"Aku kangen bapak ..." ucapku dalam hati yang selalu merindukan bapak, saat ibu membicarakan bapak.
 
"Tapi buk ... ayuk buk, anterin Erni ... Erni takut kesasar "
 
"Ya sudahlah Er, kau ibuk antar."
 
Senang rasanya, akhirnya aku bisa di antar ibuk ke sekolah, meskipun harus jalan kaki juga tak apa ...
 
"Nih Er ... gendong adekmu, ibuk capek ... kenapa sih kau terus saja merepotkan ibuk, " ucap ibu sambil menyerahkan kenzo adikku
 
"Ya maaf buk ... Erni kan, baru ke sekolah ini ... jadi Erni belum tau jalan ke sekolah. " jawabku sambil meraih tangan ibu untuk bergandengan.
 
 
 
"Apaan sih kamu ... jalan itu sendiri, gausah manja ..."  ucap ibu yang menepiskan tanganku dari tangannya 
 
 
 
Sesampainya di sekolah, ibu tak mau masuk ...
 
"Ibu sampai sini saja ya, kau ke ruang kantor ... bilang kau murid pindahan kelas 2, ingat jika gurumu tanya ibu, bilang saja ibu repot. " 
 
"Iya buk ... "
 
"Oh iya nih uang jajan untukmu, jangan lupa sisanya di tabung" ucap ibu dan berlalu pergi 
 
 
 
Kulihat uang yang di berikan ibu tadi, hanya 500 rupiah! Uang bergambarkan monyet ... 
 
"Ya ampun ini mah boro boro untuk nabung buk, beli nasi uduk aja nggak minum. " ucapku dalam hati.
 
 
 
Kulirik kesana kesini, tulisan ruang kantor pun tak kunjung Terlihat ... apalagi dengan besarnya sekolah ini, makin membuatku kesulitan untuk mencarinya.
 
 
 
Aku terus mencarinya ... sampai akhirnya aku menemukan, Ruang Kantor. Tulisan itu terpampang jelas di depanku ...
 
 
 
"Assalammualaikum buk ..." 
 
"Walaikumsalam ... ada perlu apa ya" ucap salah satu guru 
 
"Hee ... anu buk, aku Erni murid baru pindahan kelas 2. " ucapku cengengesan
 
"Loh anak baru, ibunya mana ... kok nggak di anter ibunya. "
 
"Tadi ibu nganter kok buk, cuma nyampek depan gerbang aja ... kata ibuk, kalo ada ibu guru nanya ... bilang saja ibu repot. " ucapku dengan benar.
 
 
 
"Oalah ... ya sudah nggak apa apa, " jawab ibu itu sambil tertawa kecil 
 
"Yuk ikut ibuk ..." 
 
Aku mengikuti guru itu, mengikuti nya sampai ke ruang kelas 2b ... aku pernah dengar ruang kelas A itu untuk anak pintar, ruang B untuk anak biasa biasa saja, ruang C untuk anak yang di bawah biasa saja ... 
 
"Berarti aku ... biasa biasa saja, huh nggak apa lah ... dari pada di tempatkan di kelas C, semakin nanti aku di bilang ibu idiot ... "gumamku dalam hati
 
"Anak anak ... ibuk ada kabar gembira untuk kalian, kalian ada teman baru, pindahan dari SDN 02 Sari Rejo ... ayuk nak perkenalkan namamu" ucap ibu itu 
 
"Assalammualaikum ... namaku Erni Nurhayati, biasa di panggil Erni. " ucapku dengan serius, dan semua anak anak menatapku, malu sekali rasanya aku ...
 
"Ya sudah Erni ... cari bangku yang kosong ya ..." 
 
Aku pun mulai mencari bangku, yang ingin kududuki ...
 
"Erni ... Erni ... sini, duduk di sampingku, " ucap anak perempuan, aku pun berjalan menghampirinya ... dan duduk di sampingnya 
 
"Hay ... Er namaku Tri, " sapa teman baruku ini
 
"Halo Tri ... senang rasanya bisa berkenalan denganmu. " Sahutku
 
    Pelajaran pun di mulai ... betapa kagetnya aku, pelajaran yang aku pelajari sebelumnya jauh tertinggal, umpamanya bab, sekolahanku yang dulu masih bab 12 mereka sudah bab 88 ...
 
"Alamak ... bagaimana ini, mana matematika ... mau nyontek aku malu, masa anak baru sudah mencontek ... nggak nyontek, aku nggak tau sama sekali. Ya sudahlah, aku isi asal asalan saja ... "
 
"Yang sudah selesai ... kumpulkan ke depan ya, " ucap guru kami 
 
Aku maju untuk mengumpulkan bukuku ke depan, semua mata mereka menatapku penuh dengan ke kaguman ... bagaimana mereka tak kagum, belum ada 10 menit kami di beri tugas, tugasku sudah selesai ...
 
"Kayanya anak baru ini ... pintar ya " ucap salah satu teman laki laki 
 
"Iya pinter banget ..." jawab teman di sampingnya 
 
Aku hanya tersenyum malu, sambil berjalan ke arah bangku.
 
Ting ... ting ...
 
Bunyi bel, tandanya semua anak segera keluar ruangan, untuk beristrahat.
 
"Ayo anak anak ... selesai tidak selesai, kumpulkan sekarang."  Ucap guru kami sambil mengecek buku.
 
"Er ... keluar bareng yuk. " ucap tri 
 
 
 
Kami berdua pun bergandengan tangan, menuju kantin ... Tri mulai mengambil beraneka ragam jajanan, cilok, ciki Love, sukiaki, turbo, lidi lidian dan tak lupa es bungkus. Jangan tanya aku jajan apa ... aku hanya bisa jajan nasi uduk, tanpa minum.
 
"Ya ampun ... seret juga tak minum," gumamku dalam hati
 
"Tri, aku ke toilet sebentar ya ... " Teriakku
 
"Aku antar yaa ... " 
 
Akhirnya tri ikut bersamaku ... kami berdua berjalan, namun kali ini kami tak bergandengan, karena tangan Tri penuh dengan jajanan.
 
"Kau tunggu bentar ya Tri. " 
 
Aku pun berlalu masuk kedalam toilet ... kuminum air dari dalam keran, lumayan untuk mengobati rasa serat dan perih di tenggorokanku.
 
"Yuk Tri ... " ajakku
 
Kami memasuki kelas dan Tri tak lupa memasukkan semua makanannya di kolong mejanya ...
 
"Kau kok hanya makan nasi uduk Er?"
 
"Uangku hanya cukup untuk beli nasi uduk ... " Sahutku
 
"Ya ampun Er ... mau jajananku" tanya Tri 
 
"Nggak usah Tri ... " jawabku, padahal aku mau.
 
 
 
Ting ... ting ... 
 
Bel masuk berbunyi, guru pun datang memberi kami tugas pelajaran.
 
"Buka buku IPA halaman 270 bab 2 ya tolong di kerjakan" 
 
"Astaghfirullah ... lagi lagi aku tertinggal jauh ... " Aku sekarang benar benar idiot rasanya.
 
Buku cetak kami memang sama, namun sepertinya cara belajar kami berbeda. aku mengisi asal asalan lagi dan mengumpulkannya kedepan, sama halnya dengan kejadian tadi, semua anak menatapku penuh ke kaguman.
 
terlihat guruku sibuk mengecek buku kami ... 
 
"Erni ... kau boleh pulang, ini bukumu. " panggil guruku
 
Akupun mengambil buku itu, dan bersalaman dengan guru untuk berpamitan pulang. Saat di perjalanan ku buka ke dua buku tadi ... Matematika nilainya Nol! IPA nilainya juga Nol.
 
"Ya Tuhan ... yakin aku pasti ibu marah. " Aku menggrenyitkan dahi
 
Namun ntahlah, semoga ibu tak mngecek bukuku. Kalau tidak aku tak tau apa yang akan terjadi ... panas nya terik matahari membuatku kehausan, kuberlari untuk mempercepat sampai di rumah.
 
"Assalammualaikum" 
 
"Walaikumsalam" sahut ibuku dari dalam 
 
"Gimana Er sekolahnya? Oh iya pelajaran tadi gimana ... sama saja kan, coba sini ibu lihat bukunya. " 
 
Degh ... !!
 
"Bagaimana ini ... ibu pasti akan marah, jika tau aku dapat nilai Nol!"
 
"Mana!" Bentak ibu
 
"Ini buk ... " jawabku pelan dengan memberi 2 buku itu 
 
"Hah! Kau ponten Nol semua ... kau ini benar benar anak idiot ya Er, apa kepalamu belum cukup kubenturkan, agar kau bisa pintar. Tak seperti bapakmu!" Ucap ibu sambil memukul piring di kepalaku, 
 
"Ampun buk ..." aku berlari masuk ke kamar, namun di ikuti dengan ibuk dengan melemparkan anak batu ulek, yang biasa di pakai mengulek sambal.  Batu itu mengenai punggungku.
 
"Ampun buk ... sakit" rintih ku 
 
"Kau jangan cuma minta ampun Er, kau jangan terlalu bodoh. Seperti bapakmu! Kau harus pintar!" Ucap ibu dengan tangannya yang menjambak rambutku sambil di tarik nya ke dapur.
 
"Sebagai hukumannya ... kau timba air ini, isi bak mandi sampai penuh, besok kau ponten Nol lagi ... ku tambah lagi hukumanmu Er ... " bentak ibu
 
"Iya buk ... " aku menuruti ibuk, rasa hausku sudah hilang dengan air mataku ... aku tak pernah membenci ibuku, Aku yakin ibu sangat sayang ke padaku, aku yakin itu ... 
 
Dan akupun yakin bapak yang ibu sebutkan selama ini juga pasti menyayangiku. Meskipun aku tak tau bapak ada dimana ... 
 
aku  takut bertanya dengan ibu, karena sepertinya ibu sangat membenci bapak ... aku pernah bertanya dengan nenek, nenek hanya berkata tanya ibuku ... seolah nenek tau aku tak akan sanggup menanyakan tentang bapak ke ibu.
 
Bapak aku kangen ... semoga baik baik di sana, di manapun bapak berada, Erni yakin suatu saat. Erni akan bertemu dengan bapak.
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!