Aku Anak yang Tak diharapkan

Ibu wanita hebat

"Iya buk ..." aku menjawabnya singkat, dengan air mata yang terus menetes.
 
Ibu bangun dari duduknya, dan menarik tanganku. Di dudukkannya aku di kursi makan.
 
"Er ... tunggu ya ibu mau masakkan kau sesuatu." Ucap ibu tersenyum.
 
Masya Allah senyuman itu sangat cantik, senyuman yang sudah lama tak pernah kulihat. Kini senyuman itu untukku! Semoga saja ibu benar-benar menerimaku dan berdamai dengan masa lalunya. 
 
Kucium wangi masakan ibu, bisa kutebak ini pasti sop bakso kesukaanku. Aku yakin itu! Aku tersenyum-senyum sendiri, melihat perlakuan ibu sangat manis padaku. Memasakkan, masakan kesukaanku. Dan menyediakan makanan di meja. Rasanya ini seperti mimpi!
 
"Nah udah jadi Er ... kita makan yuk," ajak ibu sambil menyediakan makananku. 
 
Aku hanya tersenyum malu, melihat tingkah ibu. Aku kaku dan salah tingkah. Dan ada perasaan takut, jika aku melakukan kesalahan, ibu akan marah lagi. Dengan itu aku menjaga sikapku di depan ibu. Berusaha semanis mungkin ... aku tak mau dengan kecerobohanku. Aku merusak suasana yang luar biasa ini.
 
Kusantap sop ini dengan pelan, jangan tanya lagi bagaimana rasanya. Sop ini terasa sangat lezat! Di tambah lagi dengan hatiku yang sedang berbunga-bunga. Lengkaplah sudah ...
 
"Semoga saja ... bentar lagi ibu menawarkan diri, untuk menyuapiku! Uhhhh ... membayangkannya saja aku udah seneng" batinku berharap.
 
Namun kutunggu 5 menit, 10 menit. Ibu tak menawarkan diri juga. Kutatap wajah ibu dengan penuh harapan. Ibu balik menatapku dengan heran. 
 
"Kau kenapa Er? Sopnya nggak enak?" Tanya ibu pelan
 
"Heee ... nggak buk, Erni pengen di suapin ibuk ... boleh?" Jawabku tersipu malu.
 
Ibu mulai menyuapiku. Jantungku berdetak sangat kencang. Aku sangat kaku! Salah tingkah! Dan juga ingin menangis sekencang-kencangnya! Bertahun-tahun lamanya, inilah yang kuharapkan.
 
"Nah sudah habis" ucap ibu tersenyum. 
 
Aku langsung beranjak dari duduk. Dan membereskan meja, mencuci piring seperti biasanya ...
 
"Nggak usah Er ... biar ibu aja nanti" ucap ibu 
 
"Nggak apa-apa buk" jawabku pelan, suasana ini benar-benar  membuatku merasa berbeda. 
 
Degh! 
 
Jam 01:00, aku harus berpamitan untuk pulang. Meski sebenarnya aku masih ingin bersama dengan ibu. Namun kutakut nenek akan khawatir.
 
"Buk ... Erni pulang ya,"
 
"Nggak minep Er?"
 
"Nggak buk, soalnya belum pamit sama nenek." 
 
"Ya sudah, nih ... Ntar kalo ada waktu, ibu kesana ya." Jawab ibu sambil menyodorkan uang ketanganku.
 
Aku hanya tersenyum, melangkah keluar. Ibu melambaikan tangannya, kubalas lambaian itu. Kutatap wajah ibu dengan dalam. Berat rasanya meninggalkan wanita hebat itu.
 
Jika ada yang berfikir, aku membenci ibu karena sikapnya dulu terhadapku . Mereka salah! Aku sedikitpun tak pernah membencinya! Karena kutahu ibu akan berubah. Dan sekarang aku melihat perubahan itu. Apalagi saat kutahu masa lalu ibu dengan bapak. Rasanya aku bangga telah lahir dari wanita sehebat itu.
 
Semoga harapanku untuk berkumpul di tengah-tengah orang tuaku, segera terwujud. Aku yakin! Amin ...
 
~~~~
 
"Assalammualaikum, nek ..." 
 
"Walaikumsalam, kok baru pulang Er? Dari mana? Nenek liat temenmu udah pada pulang dari tadi." 
 
"Emmm ... anu nek, aku dari tempat ibuk" 
 
Mata nenek membulat, seperti ingin marah namun tertahan ...
 
"Er, nenek kan udah bilang ... jangan ke rumah ibumu, tanpa nenek."
 
"Nek ... ibuk udah berubah nek." Ucapku menahan air mata
 
Aku menjelaskan secara detail perihal kejadian tadi. Aku menangis dengan tersenyum. Aku meluapkan perasaanku pada nenek. Menunjukkan, bahwa aku lega dengan semuanya.
 
~~~~
 
Ke esokkan harinya ibu ke rumah bersama Kenzo, rasanya sangat senang! Perasaanku di ambang awan-awan saat kudengar ibu merindukanku. Ibu ke kamarku mengelus punggungku. Lalu tiba-tiba ibu berdiri, berjalan ke arah tasku yang tergantung di paku tembok.
 
"Er ... ini tasmu? Kok bolong?" Tanya ibu
 
"Iya buk ... kata nenek, nanti kalo udah ada duit baru beli tas"
 
"Ikut ibuk yuk ke pasar, tapi ibuk gak ada duit kita jalan kaki aja ya ... nanti kenzo ibuk titip dengan nenek." ajak ibu.
 
Aku pun mengiyakan. Kebetulan pasar di desa tak jauh dari rumah, hanya sekitar 500 meter dari rumah nenek. Aku berjalan, bergandengan dengan manja. Ohhh ...Tuhan ... aku tersipu malu sendiri, sepanjang jalan.
 
Sesampainya di pasar. Ibu menyuruhku untuk memilih tas yang kusuka. 
 
Bukankah ibu bilang tak punya uang? 
 
Lalu nanti ibu akan bayar pakai apa? 
 
Ntahlah yang jelas aku turuti saja perintahnya, aku takut jika ibu marah lagi. Pokoknya aku harus hati-hati! Aku tak mau melakukan kesalahan apapun, yang membuat ibu marah.
 
"Buk ... yang ini," ucapku dengan memilih tas selempang, bergambarkan terngkorak, warna putih.
 
"Bang ini berapa?" Tanya ibu ke penjual.
 
"30 ribu buk" jawab penjual itu
 
"Gak bisa kurang bang?" 
 
"Nggak buk. Harga pas" 
 
Ibu pun merangkul bahuku. Di bawanya aku keluar pasar. Ibu melirik kesana kemari, seolah sedang mencari sesuatu. Ibu terus berjalan, dan berhenti di depan ruko bakso. Aku hanya memperhatikan ibu dengan heran.
 
"Er ... ibuk masuk dulu ya." 
 
Aku mengangguk, kulihat ibu menawarkan sesuatu ke salah satu wanita berhijab lebar, yang sedang menikmati baksonya.
 
"Buk ... ibuk mau beli hape saya gak?" 
 
"Hape apa ya?" Jawab wanita itu dengan heran.
 
"Hape ceria buk, 32 ribu aja. Buat beliin tas anak saya." Jawab ibu memohon
 
Degh! 
 
Hatiku sakit mendengarnya! Air mataku terjatuh tak tertahan, lalu kusembunyikan. Aku tak mau ibu tahu aku menangis. 
 
"Terimakasih bu ... kau memang wanita hebat." Lagi-lagi ucapan itu, ku ucap.
 
Ibu keluar dengan wajah senang, dan menarik tanganku ke dalam pasar ...
 
"Bang, tas yang tadi ya." Panggil ibu dengan menunjuk tas yang kupilih tadi.
 
Ibu langsung membayarkan tas itu, dan memberikannya padaku. Aku menatap ibu nanar ... hatiku benar-benar terenyuh dengan sikap ibu.
 
"Buk, harusnya ibuk nggak perlu kaya gini ..." 
 
"Er ... ibuk kan nggak pernah ngebeliin kamu sesuatu. Anggep aja ini hadiah untukmu, dari ibuk ya" ucap ibu tersenyum
 
Lagi-lagi aku sangat senang, melihat senyuman itu ... 
 
"Er, ada sisa 2 ribu. Kita naek angkot aja ya" 
 
Aku hanya mengangguk, dengan curi-curi kutatap wajah ibu. Melihat wajah itu. Rasanya .... sakit yang dulu pernah kurasakan, karena siksaan ibu. Hilang sudah!
 
~~~~~
 
Hari demi hari berlalu, kini aku sudah duduk di kelas 3 SMP. Hubunganku dengan ibu semakin membaik ... adikku yang kedua pun lelaki, sekarang berumur 2 tahun, mereka sangat manis. Dan Kenzo sudah duduk di sekolah dasar. 
 
Jangan tanya bagaimana hubunganku dengan bapak. Masih seperti dulu. Sangat dingin. Es pun jika tau sikap bapak padaku, langsung mencair! Karena minder. Kalah dinginnya dengan sikap bapak! 
 
Akupun tak tau bapak mengakui aku anak atau tidak! Dan mbah tetap dengan mulutnya yang luar biasa ... hahhh ... ntah lah. Aku hanya bisa berdoa. Semoga bapak bisa berubah seperti ibu.
 
Dan di rumah nenek, aku semakin tak betah. Dengan sikap pamanku yang terkadang kasar. Meskipun katanya demi kebaikanku. Namun ntah mengapa aku tak suka perlakuannya. Apalagi di tambah akhir- akhir ini selalu ada yang masuk ke kamarku di setiap malam. Aku sangat takut dia seperti hantu bagiku ... namun lebih mengerikan dari hantu! 
 
Paman membuka rental PS di ruang L yang mengarah ke dapur. Di setiap malam ramai akan teman-temannya. Ada salah satu teman paman, yang sangat dekat dengan orang di rumah. Sampai seisi rumah pun sangat mempercayainya! Namun tidak denganku! Aku sangat takut dengannya! Dia suka menyelinap ke kamarku. Hampir setiap malam! Kamarku memang hanya di tutup dengan pintu kayu yang buruk. Tak ada kuncinya.
 
Dia duduk di samping divanku, dengan tangannya yang masuk ke kelambuku mengelus-elus kakiku. Aku terbangun kaget! Dan dia keluar. Begitulah di setiap harinya. Aku tau dia pasti sangat takut dengan kakek yang terkenal sangat galak di desa! Namun ntah mengapa aku juga sangat takut untuk mengadu. 
 
Sampai suatu malam, aku berteriak ketakutan ... dia berlari keluar. Seisi rumah panik. aku sudah gemetaran tak bisa berkata-kata, aku sudah sangat stres. Aku sangat takut! Tapi tak bisa mengadu! 
 
Mulai hari itu, aku di anggap gila! Jika ada yang bertanya, aku hanya menjawab. "Aku melihat setan!"
 
Hari-hariku sudah tak lagi nyaman. Aku menjadi anak yang pendiam di rumah. Namun di luar rumah atau di sekolah aku nyaman, aku menjadi diriku sendiri. Tertawa riang tak ada beban.
 
Sepulang sekolah, aku pamit dengan paman untuk bermain kerumah sebelah, rumah adik bapak. Aku bermain bersama anaknya. Anaknya perempuan, lebih tua 3 tahun dariku.
 
"Kamu boleh maen. Asal jangan jauh-jauh ya!" Ucap paman tegas.
 
"Iya" jawabku singkat 
 
Kulihat mbak Citra sudah berdandan cantik, seperti mau pergi ke sesuatu tempat.
 
"Mau kemana mbak?"
 
"Kebetulan kamu dateng Er. Aku mau kencan. Tapi aku takut ketahuan abi, kamu tolongin aku ya" 
 
"Tolong apa mbak?" 
 
"Aku mau pamit dengan abi, nonton kuda kepang dengan kamu."
 
"Terus nanti aku gimana?" 
 
"Ya kamu kerumah temenmu Er,"
 
"Enggaklah mbak. Aku takut." 
 
"Ayolah ..." jawab mbak Citra memaksa.
 
Akupun mengiyakan kata-katanya. Kami pergi menggunakan motor. Dan aku turun di rumah temanku, belakang rumah nenek. Aku hanya duduk di sana sambil menunggu mbak Citra pulang ... 
 
"Er, kamu di cariin pamanmu tuh. Kayanya kena marah!" Ucap bocah laki-laki seumuranku
 
Degh! 
 
Aku memutuskan untuk pulang saat itu juga. Paman sudah menungguku di depan pintu. Dia sangat marah! 
 
"Kan udah di bilang jangan maen jauh-jauh! Kamu malah nonton kuda kepang!" 
 
Aku menjelaskan dengan sangat detail. Namun tetap di anggap berbohong! Aku di tarik paman ke pohon nangka dan di ikatnya di pohon itu. Wajahku di tinju ... lenganku pun di pukul dengan tinjuan. 
 
Aku hanya menangis menahan sakitnya, belum lagi menahan gatal nya tubuhku, karena di kerumuni semut rangrang. Istri paman hanya mengintipku dari balik jendela kamar nya. 
 
Panasnya terik matahari membuatku sangat lemas, aku hanya berharap kakek akan segera pulang dengan cepat. Karena kakek harapanku. Nenek tak mungkin pulang. Nenek dan bibi sedang menginap di rumah adik nenek. Sedang ada hajatan di sana.
 
"Assalammualaikum"
 
Terdengar suara dari arah depan rumah. Suara itu kukenal. Itu suara kakek! Aku menjerit sangat kencang ... 
 
"Kakek! ... kakek! ..." 
 
Kakek menghampiriku, dan membua ikatan talinya satu persatu. Tatapan kakek nanar melihat tubuhku sudah penuh dengan memar biru.
 
Di tuntunnya aku masuk ke dalam rumah. Kulirik jam sudah sore rupanya pantas tubuhku sangat lemas. Bentar lagi magrib. Kakek memanggil paman dan istrinya. Mereka di sidang oleh kakek termasuk aku.
 
Paman menjelaskan menurut kebenarannya. Dan aku menjelaskan dengan sangat singkat. Kakek terlihat sangat marah. Istrinya pun di salahkan karena tak bisa mencegah paman.
 
Aku hanya bisa tidur, dari sore sampai malam. Tubuhku sangat lemas. Dan lagi-lagi pria itu menyelinap ke kamarku. Aku terbangun kaget ... aku hanya melototkan mataku lalu dia keluar! 
 
Sangat bodoh bukan?
 
Dia seperti ada kelainan! Ntahlah yang jelas aku juga sangat takut. Aku seperti di teror berhari-hari. Aku semakin tak nyaman.
 
~~~~
 
Esok harinya aku berpamitan ke sekolah, namun sudah kusiapkan seluruh pakaianku di tas. Aku sudah membulatkan tekad untuk kabur dari rumah. Aku sudah tak tahan! 
 
Aku sekolah seperti biasanya. Aku menceritakan ke melati sahabatku, perihal kejadian kemarin aku di siksa oleh paman. Namun tak kuceritakan, tentang kejadian yang setiap malam aku di ganggu. Padahal itulah penyebab utamaku untuk kabur dari rumah. 
 
Aku meminta tolong, menginap di rumahnya untuk beberapa waktu. Melati menyetujuinya, dan saat pulang sekolah aku tak lagi pulang kerumah.
 
Karena mungkin khawatir denganku yang tak pulang-pulang. Malam harinya paman kerumah melati. Aku tak tau bagaimana paman tau aku di sini. Yang jelas aku sudah memohon dengan Melati, agar tak melaporkan tentang keberadaanku.
 
Aku mengintip di celah-celah rumah Melati, yang hanya beranyaman bambu itu. Kuperhatikan bagaimana tertekannya Melati, saat di tanya tentang diriku. Namun Melati berhasil meyakinkan mereka.
 
"Huh" aku menghela napas saat kulihat paman pergi dengan motornya.
 
Lalu kudengar, sepertinya ayah Melati sedang menasihatinya. Dan Melati masuk ke kamar dengan wajah yang bingung ...
 
"Er ... kamu pulang ya, aku kena marah ayah" 
 
"Iya Mel, makasih ya untuk tumpangannya" aku menjawab dengan tersenyum.
 
Aku keluar dari rumahnya, namun tidak untuk pulang ke rumah nenek. Tujuanku satu-satunya hanya rumah ibu. Aku berjalan melewati persawahan. Aku memilih jalan lewat belakang desa. 
 
Meskipun kutahu jalannya sangat gelap dan menakutkan. Namun aman bagiku. Dibanding lewat depan, pasti akan ketahuan dengan teman-teman paman. Karena kebetulan rumah Melati masih satu desa denganku.
 
Aku berlari melewati persawahan, dengan banyak nya pohon bambu di sisi jalannya. Aku berlari sekencang mungkin saat keluar dari persawahan, menuju kebun kelapa yang di tengah tengah nya kuburan. Tak kuhiraukan rasa takut itu. Aku terus berlari sampai bertemu jalan perkampungan.
 
Aku berjalan sambil memikirkan, bentar lagi kebun sawitan yang sangat lebar. Jangankan malam hari. Sore hari pun kebun sawit itu terlihat gelap hanya sedikit cahaya yang menembus dikebun itu. Aku berjalan terus-menerus sampai terlihat kebun sawit yang kufikirkan itu.
 
Degh! 
 
Jalanku terhenti ...
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!