Akhir Seorang Penjudi
Cerita dari Larno
Wa allaysa lil insaa ni illaa maa sa’aa
(Dan, bahwa manusia hanya memperoleh apa yang diusahakannya. QS. An-Najm:39)
Aku menutup mushaf Quran yang kubaca, benar! Setiap orang memang akan mendapatkan apa yang diusahakannya. Ketika dia menanam kebaikan, maka kebaikan yang lebih besar akan dipanennya. Dan, apapun keburukan yang ditanam. Hal itu pula yang akan didapatkannya. Itulah, Maha Adillnya Allah swt.
Astaghfirullahal ’adhim.
Aku beristighfar untuk beberapa kalinya, mendengarkan cerita dari mbah Remo yang miris. Menjadi pelajaran bagi siapapun yang mendengar kisahnya. Selama mudanya, mbah Remo selalu bermain judi dan ketagihan, bahkan dia tak mengurusi anak-anaknya dan sibuk bermain judi. Anak-anaknya terlantar, dan isteri dari mbah Remo harus menghidupi anak-anaknya sendirian.
Anak-anak mbah Remo pada akhirnya tidak diurus oleh mbah Remo, mereka pun membalas perbuatan mbah Remo hingga sekarang. Mereka juga tak peduli dengan mbah Remo. Mereka sebenarnya mau mengurus bapaknya, yaitu mbah Remo tersebut. Namun, mbah Remo tidak mau di rumah dan hanya berkeliling dan mencari uang dengan meminta-minta kepada siapapun yang ditemuinya.
Siapapun yang diminta dan memberi uang pada mbah Remo, maka dia akan kembali lagi ke rumah itu dan mendapatkan uang setiap harinya.
Mirisnya, uang yang didapatkan itu selalu digunakan mbah Remo untuk memasang nomor togel. Berbeda dengan judi zaman dulu. Sekarang, judi sangat dilarang dan juga akan digerebek ketika bermain judi kartu ataupun gaple. Sekarang, para penjudi menggunakan cara dengan membeli nomor togel dengan seorang bandar.
Mbah Remo setiap hari hanya puas ketika sudah datang kepada penjual nomor togel, atau bandar togel di sebelah desa, sebelum ke arah pasar. Dia sudah merasa puas saat mendapatkan uang yang dikumpulkan dan diberikan kepada bandar togel tersebut.
Mbah Remo akan memesan nomor togel dan memberikan uang, seberapa pun uang yang didapatkannya. Dia tak peduli apakah akan menang atau tidak, dia hanya bahagia ketika sudah membeli nomor togel. Setelah itu, dia akan kembali dan berkeliling desa lagi.
Bagi mbah Remo, mungkin dengan memasang togel itu dia merasakan bahagia. Kebahagiaan yang semu dan salah, tapi dia terus melakukan hal itu.
Astaghfirullahal ’adhim.
Siang tadi, aku penasaran dan mengikuti mbah Remo saat memesan nomor togel pada bandar togel. Suara pelan mbah Remo memesan nomor pada bandar tersebut, menyerahkan uang dan pergi lagi.
Aku penasaran dan mendekati bandar togel itu setelah mbah Remo pergi cukup jauh.
”Apa anda tidak kasihan pada mbah Remo?” tanyaku langsung pada bandar togel tersebut.
Bandar togel itu bernama, Larno. Dia sudah bekerja cukup lama menjual nomor togel, selain itu pekerjaan utamanya adalah tukang parkir. Dia melayani siapapun yang ingin membeli nomor togel. Mbah Remo sudah menjadi langganan nomor togelnya, setelah sering ada penggerebekan perjudian kartu dan sabung ayam.
Mereka yang suka bermain judi, akan membeli togel pada Larno dengan diam-diam.
”Sebenarnya ...” pandangan Larno sedikit menyipit, dia sedang membayangkan sesuatu saat melihat langit.
”Aku kasihan pada mbah Remo. Makanya, uang yang selalu dia berikan, besar atau kecil. Tidak pernah aku belikan nomor togel. Aku menabungnya dan menyimpannya dengan baik.”
Aku cukup kaget mendengarkan penjelasan Larno. Jadi, meskipun dia adalah seorang penjual nomor togel. Dia tetaplah seorang muslim, dia tahu bahwa judi itu haram. Namun, dia belum bisa meninggalkan perjudian. Maka, melihat mbah Remo. Dia selalu menyimpan uang lelaki tua itu. Dia kasihan. Dia tak pernah membelikan nomor untuk mbah Remo.
Katanya, dia akan mengumpulkan uang itu untuk digunakan mendoakan mbah Remo ketika sudah meninggal nantinya. Uang itu disimpan dan akan diberikan Larno pada keluarga mbah Remo nantinya.
Aku cukup kaget mendengar hal itu.
”Aku sudah memperingatkan mbah Remo untuk berhenti. Dia lebih baik di rumah saja dan menikmati hari tuanya. Tak usah mengurusi togel lagi.”
Aku mendengarkan cerita Larno baik-baik. Namun, mbah Remo tidak peduli. Dia hanya ingin membeli nomor togel. Dia tak peduli lagi apakah akan menang atau tidak. Dia hanya akan puas ketika sudah membeli nomor togel.
Hanya itu kepuasan yang bisa membuat mbah Remo tenang.
Astaghfirullah ...
Aku mengakhiri dzikirku, jika teringat akan kisah mbah Remo dari Larno. Maka, aku mengambil pelajaran agar selalu bahagia ketika melakukan kebaikan. Aku akan membiasakan melakukan kebaikan dan bahagia melakukannya. Meskipun awalnya terpaksa, suatu saat akan menjadi terbiasa.
Bahagia melakukan kebaikan, adalah cara terbaik untuk bertemu dengan Allah swt.
Nasib mbah Remo, dia benar-benar tergantung hidupnya pada kebiasaan buruknya. Semoga Allah memberinya hidayah, amin. Aku sungguh-sungguh berdoa untuknya.
Kasihan mbah Remo.