Akhir Seorang Penjudi

Terjatuh di Selokan

”Firman! Tolong Bapak! Cepat!”

Aku sedang mengetik sms, dan terdengar suara Bapakku memanggil dengan keras. Ada apa gerangan? Aku menaruh Hp di meja, keluar kamar dan berlari keluar. Suara Bapak yang berteriak dari arah jalan raya. Bapak tahu pamitan mau keluar ke tempat Kepala Dusun. Namun, baru beberapa detik sudah berteriak padaku.

Aku berlari, menuju ke arah jalan. Aku melihat Bapak, di pinggir selokan. Apakah Bapak terjatuh?

Aku melihat Bapak berada di dalam selokan yang cukup dalam, motornya di pinggir jalan. Apa yang terjadi?

”Ada apa Pak?” tanyaku pada Bapak sambil mendekat.

Dan, Bapak sedang mencoba mengangkat seseorang, yang berada di dalam parit dan terjebak di dalamnya.

”Cepat bantu Bapak, mbah Remo jatuh di selokan.”

”Masyaallah!”

Mbah Remo berjalan terlalu ke pinggir di sebelah kiri, mungkin kaget ketika ada motor yang lewat dan membunyikan klakson. Mbah Remo kaget dan terpeleset hingga masuk ke parit, Bapak yang melihat menghentikan motor dan berteriak.

Aku dan Bapak mencoba menarik tubuh renta mbah Remo. Tubuhnya tipis, hal itu karena dagingnya sudah sulit untuk ditemukan. Hanya kulit yang membalut tulang mbak Remo, tubuhnya jangkung tinggi dan tak berdaya. Dia benar-benar masuk ke dalam parit. Aku mengangkat bagian bawah dan Bapak mengangkat bagian atas.

Kami pun mampu mengangkat tubuh mbah Remo. Lelaki tua renta itu hanya mendengus beberapa kali, tak berdaya pada tubuhnya, tak bersuara dan hanya pasrah. Mungkin, dia sudah merasa bahwa hidupnya tak lagi memiliki kenikmatan. Dia pasrah begitu saja ketika di dalam parit, bahkan terkesan diam saja dan rela jika harus mati.

”Bantu Bapak mengantarkan Mbah Remo ke rumahnya,” kata Bapak. Aku mengiyakan. Mbah Remo duduk di tengah, Bapak yang menjaganya. Aku menyetir motor. Kami menuju rumah mbah Remo yang hanya terdengar dengusan suaranya yang mendesah.

Haaahh! Haaahh! Haaahh!

Aku mendengarnya dengan cukup baik, mulut lelaki tua itu berada dekat di belakang telingaku.

”Kali... ini ..., Aku pasti ... menang!”

Suara pelan dari lelaki tua itu. Dia masih memikirkan tentang judi?

***

Kami mengantar mbah Remo ke rumah anaknya yang paling bungsu. Sekaligus, itu adalah rumah tabon, atau rumah mbah Remo dulu. Isteri mbah Remo sudah lama meninggal, anak-anaknya sudah menikah dan punya rumah sendiri-sendiri. Dan, rumah mbah Remo kini ditempati anaknya yang bungsu.

”Pulang, pulang! Hanya menyusahkan!” kata wanita yang sedang menggendong anaknya yang masih kecil. Dia adalah ana bungsu yang menempati rumbah tabon.

”Astaghfirullahal ’adhim!” aku mengucap istighfar begitu saja. Bahkan, aku dan Bapak yang mendudukan mbah Remo di kursi kayu. Anaknya sendiri bahkan terkesan malas mengurusi mbah Remo. Namun, dia akhirnya menaruh anaknya dan mengambil celana kolor dan mengganti celana mbah Remo yang kotor.

Terlihat, wanita itu cukup kesal. Apakah seperti itu perlakukan seorang anak pada ayahnya? Aku menghirup udara cukup dalam. Menantu mbah Remo masih di sawah, lelaki tua renta itu pun hanya mendesah dalam.

”Makanya, di rumah saja! Gak usah jalan-jalan terus, hidup kok cuma untuk main judi!”

Sekali lagi, suara umpatan dari wanita itu membuatku terenyuh. Kami pun pamitan pulang, aku membonceng bapak. Dan, saat sedang menghidupkan motor, aku masih mendengar suara sang anak yang terus mengomel kepada mbah Remo.

Dan, mbah Remo tak mengatakan apapun dan hanya diam. Pikirannya  melayang, seperti jiwanya tidak lagi di dalam tubuh renta itu. Entah kemana pikirannya pergi.

”Mbok gek mati wae pak, Pak!”

Suara terakhir dari wanita yang merupakan puteri mbak Remo yang aku dengar. Sepahit itukah hidup mbah Remo? Hinggga, dia didoakan mati dan anak-anaknya tidak mau mengurusinya dengan layak.

Apa yang sudah dilakukan mbah Remo sebenarnya, hingga anak-anaknya demikian tak peduli! Semua itu memang menjadi cerita dalam kehidupan ini. Setiap cerita membuat kita harus belajar dari setiap pengalaman orang lain.

Astaghfirullahal ’adhim.

”Begitulah hidup Le,” kata Bapak di belakang motor saat kami sudah jalan, ”Setiap orang hanya memetik apa yang dia tanam. Karena, setiap perbuatan selalu menghasilkan buah yang dinikmatinya di kemudian hari.”

Benar kata Bapak.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!