3 Duyung Cantik
Ara Sedih Tidak Bisa Menemani
Ketika semua orang pergi meninggalkan Ara sendirian di kamar cewek itu akhirnya nekat untuk turun ke bawah dia tengkurap di lantai lalu berusaha menggapai pintu dan membukanya.
Bersamaan di luar ada Dirga yang sedang mencari Ara, acara akan dimulai namun cewek itu malah belum terlihat membuatnya khawatir apalagi tingkah laku Ara kepada tadi membuatnya penasaran apa yang terjadi dengan kekasihnya itu.
"Eh Dirga," seru Ara begitu mendapati Dirga di depan kamarnya saat pintu berhasil terbuka
Dirga menoleh ke belakang dan tidak mendapati siapa pun di sana kecuali cewek itu. "Ara?" pekiknya dengan bingung karena cewek itu tengkurap di lantai.
"Kita ketemu lagi, Dirga sini!" ujar Ara dengan senyum-senyum. Tangannya memangku dagunya memandang cowok yang berada jauh di sana.
Akhirnya Dirga mencoba mendekat ketika dipanggil Ara. "Kenapa sih hah?" tanyanya bingung.
"Sini!" Ara menepuk-nepuk lantai di depannya agar Dirga ikut tengkurap dengannya.
Seketika Dirga kaget melihat bahwa di dalam sana kamar dia jadi merasa gak enak apalagi Ara menyuruhnya untuk berada di dekatnya.
"Dirga sini! seperti ini." Ara kembali menepuk-nepuk lantainya sambil terus tersenyum manis.
Dirga heran namun dia juga penasaran apa yang ingin Ara katakan dengan menyuruhnya mendekat namun sebelumnya dia menoleh ke samping kanan dan kirinya, alisnya terangkat bingung Ara layaknya wanita yang mencoba menggodanya dengan terus memanggil-memanggilnya dan menyuruhnya untuk ikut tengkurap di depan kamar.
"Ada apaan sih orang gak ada juga?" heran Dirga saat dia menoleh ke atas dan sampingnya.
"Kamu itu gemes banget sih." Ara malah mencubit ke dua pipi Dirga dengan gemasnya.
"Hehehehe, kok gak ke sana?" Dirga tersenyum canggung mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ara.
"Gak bisa," sahut Ara sambil tersenyum.
Kedua alis Dirga kembali terangkat mendengarnya. "Gak bisa apanya?"
"Aku gak bisa berdiri," sahut Ara kembali sambil mengulum senyum.
"Kenapa gak bisa berdiri, kaki kamu sakit?" Dirga jadi bingung sendiri.
"Hemm … kasih tahu enggak ya?" pekik Ara layaknya orang sedang berpikir.
"Hahahah." Dirga tertawa dengan renyahnya melihat ekspresi wajah Ara. "Kalau kakinya sakit kenapa nyuruh aku tengkurap begini, bilang dong biar aku bantuin." Dirga bangun begitu mengetahui bahwa Ara tidak hadir ke acara ulang tahun Nyokapnya karena kakinya sedang sakit.
Bertepatan di saat Dirga berdiri mau membantu Ara untuk keluar dari sana Doni datang dan terkejut melihat Dirga yang sedang ngobrol dengan Ara.
"Dirga!" panggil Doni mencoba mencegah cowok itu, dia pun langsung menarik tangan Dirga untuk menjauh dari Ara.
"Apaan sih orang cuma mau bantuin dia doang," celetuk Dirga merasa terusik dikira dia mau masuk kamar Ara kali pikirnya mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Doni.
Ara hanya tersenyum-senyum melihat dua orang laki-laki itu.
"Tapi Dirga acara-nya Tante Melly mau di-mulai jadi kita harus ke sana," ujar Doni berusaha mencoba menjauhkan Dirga dari Ara.
Dirga terdiam lalu mengabaikan Doni dia malah mengulurkan tangannya kepada Ara. "Ayo sini Ara," katanya mencoba membantu Ara untuk berdiri dan keluar dari sana.
"Dirga, tadi Tante Melly nyariin Lo." Doni berkata bohong.
Ke dua alis Dirga mengkerut, "Nyariin gue? Masa sih?"
"Iyah Tante Melly bilang kalau dia gak potong kue sebelum ada Lo Dirga," terang Doni masih terus membujuk Dirga untuk pergi.
"Iyahh Dirga ini kan kamar cewek," celetuk Ara sambil senyum-senyum.
Dirga kembali menoleh pada Ara, "Hehehe iya, ya udah deh gue pergi dulu yah!"
"Iyah buruan sana!" kata Doni yang hampir berhasil menjauhkan Dirga.
"Dadah Dirga! Dahh." Ara melambaikan tangannya kepada Dirga dengan tersenyum.
Meski merasa ada yang aneh Dirga tetap melanjutkan langkah kakinya untuk pergi ke ruang acara.
Begitu Dirga sudah berhasil pergi Doni menarik kembali pintunya dan menyuruh Ara untuk tetap di kamar.
"Yahh kok pintunya ditutup sih, yahh bukain dong!" pekik Ara nelangsa melihat pintunya kembali tertutup dan sepertinya akan dikunci dari luar sana. "Hahaha." Dia kembali tertawa tidak jelas.
Di ruang acara Melly masih menanti kedatangan Ara anak pertamanya yang sudah menyiapkan semuanya ini demi dia. "Aduhh Ara ke mana sih? Biasanya kan tiup lilin, potong kue selalu sama-sama." Melly menatap kue ulang tahun dengan sedih lalu dia menoleh pada Amy yang berada di sampingnya.
"Yahh terus bagaimana dong Mah," keluh Amy dia juga merasa bingung kenapa kakaknya tidak hadir dalam acara ini.
Ratu mencoba menenangkan Nyokapnya Ara, "Tante tenang aja ya, Ara sudah memberi wish kok buat Tante." Ratu menunjukan kertas surat itu sembari tersenyum. "Tapi karena Aranya berhalangan jadi Ratu deh yang baca Tante," katanya.
"Iyah Tante," sahut Astrid sambil tersenyum.
Sedangkan Melly mengembuskan napasnya dengan gusar tetap saja dia berharap bahwa semua anak-anaknya bisa kumpul di sampingnya menjalani semua kegiatan di acara ulang tahun ini.
"Tante Melly, Ara bilang selamat ulang tahun Mah, dia bersyukur banget punya Mamah seperti Tante Melly," ujar Ratu yang mulai membacakan surat dari Ara dia menatap Nyokapnya Ara, terlihat Dirga yang menatap Ratu mendengarkan apa isi surat dari cewek itu.
"Karena semua orang tidak seberuntung Ara, masih punya Mamah yang selalu menyayanginya, memeluk dia di saat lagi sedih, gak semua orang seberuntung Ara yang masih bisa melihat senyum Ara Mamahnya di pagi hari, Tante Melly sangat berarti bagi hidup Ara, Tante adalah pelangi untuk Ara, kebahagian Tante adalah tujuan hidup Ara, setiap hal kecil apapun yang Tante lakukan buat Ara itu tidak akan tergantikan." Ratu menyampaikan semuanya dengan begitu dalam sampai dia terhanyut terbawa suasana haru dan sedih.
Semua orang ikut merasa sedih mendengarkan wish dari Ara, Astrid dan Dirga menatap Ratu dengan tersenyum, sedangkan Tante Melly, Amy dan Om Verry menatapnya sedang sedih.
"Selamat ulang tahun Mah," ujar Ratu melanjutkan surat tadi.
Semuanya mengulum senyum penuh haru Ratu pun mengusap air matanya yang menetes tertawa suasana hatinya.
"Ya udah yuk kita mulai saja acaranya Tante," seru Ratu.
Melly menatap Amy. "Yuk kita mulai," ujarnya mengajak agar Amy ikut bersenandung bersama
Surat itu memang Ratu yang buat dalam keadaan kepepet dia membuatnya untuk menenangkan Melly.
"Sebelumnya Tante mau make wish dulu ya," seru Melly dia memejamkan matanya untuk mulai berdoa di hari ulang tahunnya ini.
"Andai aku juga punya Mamah seperti Tante Melly," gumam Ratu dalam hatinya mengingat kepergian Nyokapnya sendiri.
Di sisi lain Ara baru saja berhasil keluar dari kamar ternyata pintunya tidak dikunci sama Doni membuat Ara bisa membukanya.
"Happy, happy malam ini harus happy hahaha," seru Ara sambil terus berjalan dengan ekornya.
"Ketemu Mamah, Mamahku yang cantik hahaha." Ara terus berusaha berjalan dengan ekornya menghampiri pesta ulang tahun Mamahnya yang sudah dimulai.
"Happy birthday to you, Happy birthday to you." Terdengar lagu ulang tahun yang menggema di seluruh rumah Ara.
"Tiup lilinnya! Tiup lilinnya!" seru Astrid dengan antusias.
Begitu Ara sampai di ruang acara itu dia menatap Mamahnya dan Amy dengan haru mereka sedang tiup lilin bersama tanpa kehadiran dirinya, dia menatapnya dengan nelangsa matanya terasa perih.
"Potong kuenya, potong kuenya!"
Melly pun langsung mengambil pisaunya lalu memotongnya. "Biasanya potongan pertama selalu dikasih buat Ara," lirihnya
Astrid terkejut mendengarnya, Dirga menoleh ke atas karena Ara ada di kamarnya, Ara yang menyaksikannya dari jauh merasa sedih karena tidak ada di samping Mamahnya mengikuti semua kegiatan di acara ulang tahunnya, tidak terasa air matanya menetes membasahi pipinya.
"Ya udah sekarang potongan pertamanya Mamah kasih buat Amy," tukas Melly sembari merapihkan kuenya.
"Serius Mamah?" Amy tersenyum senang bisa mendapatkan kue potongan pertamanya.
"Serius," sahut Melly sambil tersenyum.
"Ya udah buruan Aa." Amy sudah siap dia membuka mulutnya dengan lebar.
"Kurang besar Amy mulutnya!" pekik Melly membuat semua orang terkekeh.
Semua orang pun bertepuk tangan dengan meriahnya namun begitu Ratu menoleh ke belakangnya dia kaget melihat ada Ara di sana yang sedang menyaksikan ulang tahun Nyokapnya.
Lalu Ratu menepuk Astrid dan memberitahu dengan menunjukan Ara dengan dagunya, Astrid langsung menoleh dan melotot terkejut melihat Ara.
"Yuk, yuk!" seru Astrid mengajak Ratu untuk menghampiri Ara.
Mereka pun pergi dengan diam-diam agar di saat semua orang sedang terpokus melihat Tante Melly dan Amy.
"Aku harus nyamperin Mamah," ujar Ara hendak berjalan kembali.
Namun untung Ratu dan Astrid langsung mencegahnya, "Ya ampun Ara kenapa ke sini sih?" pekik Astrid.
"Aku mau bertemu Mamah," sahut Ara.
Namun Ratu membukam mulut Ara kembali yang hendak berteriak dan tertawa tidak jelas ketika Astrid mengangkat Ara.
"Yuk buruan!" Ratu dan Astrid pun menarik tangan Ara membawa cewek itu kembali ke kamarnya.
Bu Maya terkejut melihat dari cermin ajaibnya bahwa ketiga anak-anaknya itu sedang kesulitan dan dalam bahaya.