3 Duyung Cantik
Undangan Ulang Tahun
"Ray, lo emang my best friend gue udah jagain dia, nolongin dia juga." Astrid mengacungkan ibu jarinya kepada Ratu serta mengedipkan sebelah matanya dia merasa beruntung memiliki teman sepertinya.
"Iya gak apa-apa," sahut Ratu dengan terkekeh. "Lagian lain kali hati-hati dong!" Ratu merangkul Tomi sembari tertawa bersama yang lainnya.
"Ya udah makasih ya, muachh!" Astrid memberikan Ratu kiss dari jauh. "Dadah!" Dia melambaikan tangannya sembari merangkul adiknya untuk membawanya kembali pulang.
"Dah gue jugamau pulang," ujar Ara kepada Ratu karena dia datang hanya untuk mengantarkan Astrid menjemput adiknya.
"Hey udah sini," seru Ratu menarik tangan Ara untuk tidak pergi.
"Heheheh lain kali aja gue main." Ara tertawa begitu tangannya ditarik Ratu.
"Dadah, hati-hati ya!" Ratu melambaikan tangannya kepada ke dua sahabatnya.
Di rumah Ara kembali datang ke kolam renang dia merasakan panas pada tubuhnya untuk segera berenang. "Semenjak berubah menjadi duyung gini rasanya pengen berenang mulu jadi candu tapi ya udahlah gak gunanya juga buat ngeluh terus," gumamnya dalam hati lalu dia pun langsung nyebur ke kolam renangnya.
Di dalam air dia bisa melatih kecepatan berenangnya dan dengan bebas dia menikmati air yang begitu menyegarkan, begitu Ara berenang ke ujung dia melihat ada Bu Maya di depannya semakin dekat sosok Bu Maya nampak nyata dan ternyata itu benar Bu Maya ratu duyungnya dia pun memunculkan kepalanya ke permukaan yang diikuti oleh Bu Maya.
"Bu Maya, ngagetin aku aja ada apa Bu?" pekik Ara menatap Bu Maya dengan penasaran.
"Saya terpaksa menemui kamu untuk memberi peringatan," sahut Bu Maya.
Ara terkejut. "Hah, peringati memangnya ada apa Bu?" tanyanya semakin penasaran.
"Sebentar lagi akan ada bulan purnama kamu jangan pernah sekali-kali melihat tampilannya atau pun bayangannya karena itu akan sangat berbahaya," jelas Bu Maya memberi peringatan kepada Ara serta ke dua sahabatnya yang lain.
"Bahaya bagaimana Bu?" Ara tidak mengerti bahaya apa yang dimaksud oleh Bu Maya.
Namun bukannya menjawab Bu Maya malah pergi begitu saja menyisakan tanda tanya yang belum terjawab.
"Ahh!!" jerit Ara begitu kaget dia terbangun dari tidurnya. Dia mencoba mengatur napasnya yang terasa sesak. "Cuma mimpi," ujarnya sembari mengusap wajahnya. "Tapi apa yang arti mimpi itu?" Dia kembali kepikiran tentang mimpi itu.
Begitu dia menoleh Ara langsung beranjak dari ranjangnya dan menghampiri jendela kamarnya kau membuka gorden jendela terlihat bulan di atas sana lalu dia pun menutup kembali gordennya. "Hati-hati terhadap sinar bulan purnama," gumamnya ingat akan peringatan Bu Maya dalam mimpinya itu.
Di sekolah Ara menceritakan soal mimpinya kepada ke dua sahabatnya karena dia merasa bahwa itu memang nyata dan ada sesuatu dibalik mimpi itu yang dia tidak tahu.
"Udahla Dah, gak Udah terlalu dipikirin mimpi itu palingan juga kaya mimpi-mimpi biasanya," sahut Ratu menenangkan Ara.
"Ray, gimana gue gak mau mikirin orang besok kan ultahnya Nyokap gue, gue gak mau nanti ada masalah," terang Ara dia khawatir jika mimpinya itu benar dan bisa merusak acara Nyokapnya.
Astrid dan Ratu nampak berpikir mencari tahu kebenarannya.
Ratu pun membunyikan jarinya, "Ah bagaimana kalau kita ke ruangan Guru dan kita tanya saja sama Bu Maya," usulnya.
"Hah?" Ara kaget begitu mendengar bahwa mereka akan menemui Bu Maya.
"Iya benar," sahut Astrid setuju dengan usulan Ratu dia menoleh kepada Ara menunggu jawaban darinya.
Ara dan ke dua sahabatnya pun berlari saat melihat seorang Guru yang baru saja turun dari tangga. "Eh Bu maaf, di ruang Guru ada Bu Maya tidak ya?" tanya Ara berhasil menghentikan Guru sains.
"Lah bukannya Bu Maya sedang cuti hari ini karena ada acara keluarga," jawab Bu Guru itu memberitahu.
"Hah?" Mereka kaget mendengar kalau Bu Maya ternyata tidak masuk hari ini.
"Kita gak tahu Bu," seru Ara menggelengkan kepalanya. "Oh ya udah makasih banyak Bu."
"Ya udah Ibu permisi duluan ya!" ujar Bu Guru berlalu pergi.
"Iyah Bu."
Ara menjadi bingung dia menoleh kepada Ratu "Aduh gimana dong gays?"
"Ya sudah biar gue coba telepon saja deh." Ratu langsung merogoh kantong bajunya mengambil ponselnya di dalam sana.
"Aduh gak bisa juga Ra, gimana dong?" tukas Ratu ketika panggilan tidak terjawab dia menatap Ara bingung.
Ara menyela rambutnya membawanya ke belakang. "Ya sudah deh yuk!" Mereka pun kembali pergi.
"Kira-kira Bu Maya pergi ke mana ya?" Ratu masih memikirkan ketidak hadiran Bu Maya hari ini yang katanya izin.
"Gue juga gak tahu," sahut Ara sambil terus berjalan melewati koridor sekolah.
Begitu sampai di depan nampak Astrid yang berlari mengejarnya. "Woy kalian dari mana sih gue cariin juga," gerutu Astrid.
"Yeah," desis Ratu dia sudah mengira bahwa Astrid pasti akan mencarinya.
Tiba-tiba terlihat mobil Dirga di depan mereka, membuat ketiga sahabat itu berhenti bicara dan melihat ke arah cowok itu.
"Ketemu lagi," seru Dirga menatap ke tiga cewek cantik di depannya.
Ara tersenyum. "Hay!"
"Eh tunggu sebentar!" Dirga beranjak turun dari mobilnya dan mendekati Ara.
"Mau gue anterin pulang?" tawar Dirga, "Tapi seperti biasanya ya kita gak langsung pulang, mau makan di mana itu terserah lo, Lo yang pilih!" terang Dirga menatap Ara.
"Duh sorry ya." Ucapan Ara terlalu terhenti karena Dirga selalu memotongnya.
"Yah anggap aja yang waktu itu kan kita gagal," lanjut Dirga dengan tersenyum.
Ara jadi bingung harus ngomong apa, "Aduh maaf ya Dirga gue gak bisa, gue harus nyiapin pesta ulang tahun Nyokap gue soalnya," sahut Ara menjelaskan sembari menyempitkan rambutnya ke belakang telinga.
"Oh ya?" Dirga nampak berpikir lalu dia memandang ponselnya. "Gak ada undangan," gumamnya.
"Oh sorry gue lupa ngundang lo ya!" Ara terkekeh begitu menyadari ada yang terlewatkan.
"Au nih Ra, masa gak diundang." Astrid menyenggol lengan Ara dia bahwa Dirga adalah orang yang spesial bagi sahabatnya ini.
"Ya sudah hari ini gue undang, datang yah!" kata Ara sambil tersenyum.
Dirga tersenyum melihat tingkah laku Ara, "Pasti," sahutnya.
"Ya sudah, kita cabut dulu!" Ara menyuruh kepada sahabat-sahabatnya untuk pergi. "Ayo pergi!" katanya lagi begitu mereka ingin menanggapi ucapan Dirga.
"By Dirga," seru Astrid sembari melambaikan tangannya sebelum benar-benar pergi bersama Ara.
"Maksudnya gue akan datang buat Nyokap Lo," seru Dirga dengan tersenyum dia ingat akan perkataannya waktu itu untuk datang menemui Nyokapnya Ara namun dilarang oleh cewek itu.
Ara menoleh yang teringat akan keinginan Dirga yang meminta untuk bertemu dengan Nyokapnya. "Okey," kata Ara sambil mengulum senyuman.
Dirga pun menatap kepergian Ara cewek yang ditaksirnya itu sampai benar-benar menghilang, entahlah rasanya dia sangat ingin berada di dekat Ara terus.